Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Sandungan Dalam Sebuah Hubungan


__ADS_3

...Aku berusaha untuk berjalan meski kakiku terikat oleh rantai masa lalu yang kejam....


...Karena aku tahu ada dirimu pada setitik cahaya di masa depanku. ...


...- Christ -...


.......


.......


.......


Christ hanya bisa menggertakkan giginya dalam diam saat melihat Neona bersantai menunggunya di ruang kerjanya.


"Hai, Sayang. Kenapa kau mengabaikan pesanku?" tanya wanita itu dengan nada manis mengalun yang memuakkan.


"Aku sibuk Neona, jangan menggangguku dengan hal tidak penting."


Christ berjalan memutar melewati Neona untuk duduk di kursi kerjanya. Dia benar-benar tidak mau dekat dengan wanita itu.


"Tidak penting? Jadi aku tidak penting bagimu? Wah... apa aku jadi penting jika mendekati Agatha?" ancam wanita itu kini berjalan mendekat.


"Diam Neona! Sudah kubilang jangan macam-macam dengan hal itu dan Agatha. Jika kau melakukannya aku tidak akan segan-segan."


"Aku juga sudah bilang padamu bahwa kau harus menuruti keinginanku sebagai imbalannya. Sama-sama menguntungkan bukan?"


"Neona, setelah lama tidak bertemu apa sekarang kau benar-benar sudah gila? Kau tidak berhak mengancamku hanya karena kau tahu masa laluku."


"Aku berhak, Christ. Kau meninggalkanku demi wanita itu. Menurutmu aku akan diam saja?"


"Sudah kubilang kan, aku tidak pernah jatuh cinta padamu Neona. Kau yang memaksakan pertunangan kita, aku bahkan sudah berbaik hati menerima."


"Harusnya kau menerima sampai akhir," tukas wanita itu tidak mau kalah.


"Sinting."


"Aku tidak bisa menerima wanita itu menjadi istrimu. Tidak akan pernah," Neona mendudukkan dirinya di meja kerja Christ, menatap pria itu dengan senyum miringnya.


"Intinya aku sekarang akan diam jika kau menurutiku. Itu saja," Wanita itu mendekatkan wajahnya pada Christ.


"Kau tidak akan rugi apapun, Christ."


Christ hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi selain marah. Dia harus memikirkan cara menyingkirkan Neona secepatnya.


"Kau mau aku melakukan apa?" ucapnya pada akhirnya membuat wanita di hadapannya itu tersenyum lebar.


"Jangan pernah mengabaikan pesan dariku. Dan kapanpun aku ingin menemuimu, kau harus datang."


Neona menyentuh bagian depan kemejanya dan sedikit menarik tubuh Christ mendekat.


"Kapanpun aku menginginkannya," bisiknya sambil menatap dalam-dalam mata Christ yang sejak tadi tidak mau menatapnya.


"Sekarang sebaiknya kita makan siang  Christ. Aku lapar," ujarnya kemudian bangkit lebih dulu dan berjalan ringan menuju pintu.


Christ menghembuskan napas panjang. Dia harus menahan diri sampai menemukan cara menyingkirkan Neona. Untuk sekarang tidak ada jalan lain selain menuruti wanita itu.


Leon yang sejak tadi menunggu cemas di luar ruangan langsung menghadangnya.


"Apa yang dia inginkan?" tanyanya tak sabar.


"Entahlah, dia ingin makan siang denganku sekarang."


"What? Apa dia tidak ada pekerjaan? Lalu kau akan menurutinya?"


"Untuk saat ini ya. Aku harus memikirkan cara untuk membuatnya diam, kau tahu sendiri apa yang akan terjadi jika dia bicara pada Agatha. Aku lebih tidak mau itu terjadi."


Leon memijit keningnya yang seketika pusing dengan masalah sepupunya ini.

__ADS_1


"Leon, tolong aku untuk menjaga semuanya dari Agatha. Setidaknya sampai aku bisa mengatasi Neona."


Christ menepuk pelan bahu sepupunya itu sebelum melangkah pergi menyusul Neona. Dan Leon hanya bisa menatap dengan iba keadaan sepupunya itu.


"Kenapa harus ada masalah rumit seperti ini dalam hidupmu, Christ," gumamnya kemudian berlalu menuju ruangannya sendiri.


.......


.......


.......


Agatha sedang dalam perjalanan meeting keduanya bersama Joshua ketika notifikasi pesan dari Christ datang dari ponselnya.


^^^Sunshine, sudah selesai meetingnya?^^^


^^^Jangan lupa makan siang.^^^


^^^Baru sebentar tapi aku sudah rindu padamu.^^^


Agatha tersenyum membaca pesan suaminya itu. Selama ini Christ selalu rajin mengirim pesan namun selalu diabaikannya.


^^^Ya.^^^


Dan balasan super pendek itu di kirimnya.


"Kenapa tersenyum begitu? Tidak biasanya," Joshua yang sempat melirik itu melihat senyum di bibir Agatha meskipun dia sendiri fokus menyetir.


"Nothing. Hanya Christ," jawabnya pendek sebelum fokus pada jalanan lagi.


"Aku senang melihatmu seperti tersenyum lagi seperti itu. Do you feel happier now?"


"Em... I hope so, masih sedikit sulit tapi aku harus mengatasinya kan? Dan Joshie, kuharap kau tidak lelah menemaniku selama ini."


"Apa ini? Tiba-tiba mengatakan hal yang seperti ini? Oh, come on Agatha..."


Dia ingin sahabatnya juga menemukan cinta dan hidup bahagia tapi dia juga tidak rela jika harus ditinggalkan Joshua.


"Agatha, please listen to me. Aku tidak pernah merasa lelah menemanimu selama ini, TIDAK AKAN PERNAH LELAH."


"Dan aku juga tidak akan pergi kemana-mana, kalaupun aku harus menikah akan kupastikan wanita yang menikah denganku nanti mengerti dan menerima keberadaan hubungan kita."


Agatha tersenyum entah merasa lega atau merasa terharu namun hatinya menghangat mendengar ucapan Joshua.


"And I always beside you. I promise."


Joshua mengulurkan jari kelingkingnya yang kemudian disambut Agatha dengan jari yang sama.


"Thank you, Joshie. You're my best mate I ever had."


"Tapi jangan mencintaiku lebih dari suamimu, aku tidak mau dihajar oleh Christ nanti," Joshua tertawa yang disambut oleh tinjuan kecil Agatha.


.......


.......


.......


Sesuai janji sore itu Agatha dan Joshua pergi ke Senna Rod.


Mereka sudah lama tidak datang dan berkunjung. Tapi agak sedikit berbeda pada agenda kunjungan kali ini. Agatha pergi ke Andreson Hospital lebih dulu dan meminta Joshua untuk menunggunya di Senna Rod.


"Memangnya ada perlu apa di sana? Pekerjaan dari Gabriel?" tanya Joshua penasaran karena saat dia bermaksud menemani Agatha, sahabatnya itu menolak.


"Bukan. Aku harus menemui dokter di sana."


"Kau sakit? Kutemani saja."

__ADS_1


"Tidak perlu. Kau tunggu aku di Senna Rod, Felix ada jadwal jaga sampai malam. Aku sudah bilang padanya akan berkunjung," jelas Agatha.


Sedikit ragu akhirnya Joshua mengiyakan permintaan Agatha dan meninggalkan sahabatnya itu sendirian.


Sebenarnya Agatha ada janji temu dengan dokter kandungan di Anderson Hospital.


Bukan.


Bukan karena dia bersiap untuk hamil atau apa. Justru sebaliknya, sejak dia memutuskan untuk menerima dan berhubungan dengan Christ, seperti kesepakatan yang mereka buat dia tidak mau hamil. Apalagi dengan kondisi perasaannya belum seratus persen.


Agatha secara diam-diam mengunjungi dokter kandungan di Anderson Hospital untuk menjaga rahasianya dan menerima suntikan secara rutin untuk mencegah kehamilan. Mungkin orang-orang akan berpikir dia melakukan perawatan khusus agar bisa hamil setelah waktu yang lama dari pernikahannya. Tidak ada yang tahu hal ini selain dia dan dokternya. Bahkan saat ayahnya mendapat laporan dari Gabriel tentang kunjungan rutinnya, Agatha berbohong menjawab ini adalah usahanya memberi keturunan.


Terdengar egois, tapi Agatha yakin pada semua keputusan yang dipilihnya untuk dirinya sendiri.


"Nona Agatha, ku pikir anda lupa pada jadwal kita karena terlambat 30 menit," ucap dokter Helen ramah saat Agatha memasuki ruangan.


"Maaf. Meeting sebelumnya selesai lebih lama," jawabnya.


"Tidak apa-apa, saya mengerti. Tapi nona, saya merasa tidak nyaman harus berbohong pada ayah anda saat beberapa kali beliau bertanya pada saya."


"Jawab saja seperti yang kukatakan."


"Baik, Nona."


.......


.......


.......


Joshua berjalan menyusuri koridor Senna Rod sambil sesekali berhentu untuk menyapa beberapa pasien lama yang ditemuinya.


Dia membawa beberapa hadiah untuk pasien anak-anak tunarungu dan tunawicara yang menjadi favoritnya. Sama seperti Agatha dia selalu merasa nyaman berada di sekitar anak-anak berkebutuhan khusus. Seperti sudah menjadi dunia yang akrab dengannya. Semua hal baik yang didapatkannya setelah bertemu Mikael.


Ya, Mikael si pemuda baik yang juga membekas dalam ingatannya.


Pernah dulu sekali dia bertanya pada Mikael tentang perasaan pemuda itu pada Agatha setelah tuan Anderson mengetahui hubungan mereka.


Pemuda yang selalu tersenyum hangat itu kemudian menuliskan jawabannya pada buku kecil yang selalu dia bawa.


Aku mengenal Agatha sebagai gadis berkepribadian baik dan hangat.


Aku tidak mendekatinya karena statusnya yang ternyata jauh lebih tinggi dan besar dari yang kubayangkan.


Tapi semua itu tidak merubah caraku menilainya.


Di luar semua itu Agatha hanya seorang gadis biasa yang bisa kusebut hadiah dari Tuhan dalam hidupku yang berbeda.


Aku yakin Agatha melihatku dengan cara yang sama.


Aku tahu kami sangat berbeda.


Dan itu membuat kami bisa saling menerima dan menjalani ini sampai sekarang.


Manusia dilahirkan sama.


Hanya kebaikan hati yang membedakan satu dan lainnya.


Pemuda itu tersenyum lebar saat Joshua selesai membaca. Dan saat itu Joshua menyadari bahwa semua hal yang mereka miliki tidak bisa membeli kebaikan seperti yang dimiliki Mikael.


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2