Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Deja Vu dalam Bulan Madu


__ADS_3

...Membangun sebuah hubungan itu memang tidak mudah. ...


...Dan suasana yang bagus kadang membantumu dalam prosesnya....


.......


.......


.......


Christopher masih sangat mengantuk saat Agatha dilihatnya sudah bersiap di depan kaca dengan topi lebar di tangannya, tampak menimbang pantulan dirinya di depan cermin.


"Good morning, Sunshine. Mau kemana, masih pagi begini," sapanya dari dalam selimut.


"Oh, selamat pagi Christ. Sudah bangun? Aku mau sarapan dan jalan-jalan ke pasar oleh-oleh. Ini sudah hari ke enam sebelum besok kita kembali. Aku harus membeli sesuatu untuk Joshua dan Gabriel," jawabnya yang kini mulai mengambil tas tangannya dari atas meja rias.


"Tidak mau mengajakku?"


Agatha menatap Christ sebelum mendengus pelan, "Kau belum bersiap dan aku tidak mau menunggu."


"Yakin mau pergi sendirian? Joshua bilang kau mudah tersesat dan tidak bisa membaca arah."


"Ap—dasar Joshua! Kenapa harus memberitahumu hal seperti itu?" kesalnya menatap pada Christ.


"Panduan singkat untuk memahami Agatha, begitu katanya. Karena dia yakin aku akan kesulitan nantinya."


"Wah, kalian sungguh—memangnya aku kenapa? Beraninya kalian berdua! Baiklah, kalau kau mau menemaniku ku beri waktu 10 menit untuk mandi dan bersiap. Lebih dari itu aku akan pergi sendiri," ancamnya acuh.


"Sepuluh menit? Tidakkah itu terlalu sebentar untuk bersiap?" protes pria itu yang kini beranjak dan mulai berjalan menuju kamar mandi.


"Tidak mau ya sudah, aku pergi."


"Iya iya iya, suamimu ini tidak mandi pun sudah tampan jadi tidak apa-apa." godanya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Agatha melirik pintu kamar mandi yang sudah tertutup itu dan mendengus pelan. Bersama Christ beberapa hari ini membuatnya menyadari kalau pria itu suka sekali mengatakan hal-hal menggelikan padanya seperti pujian kecil atau hanya sapaan manis. Dan Agatha teringat pada Mikael yang dulu sering melakukan hal yang sama. Dan sekalipun tanpa suara, setiap ucapan Mikael dalam isyaratnya selalu berhasil membuat Agatha tersenyum bahagia.


Lagi-lagi dia teringat Mikael.


.......


.......


.......


Christ tersenyum setiap kali dia melihat istrinya itu berhenti di satu toko souvenir kemudian beberapa langkah kemudian berhenti di toko yang lain, menimbang antara pilihan satu kemudian pilihan yang lain lalu berpindah lagi. Wanita itu terlihat senang dan sepertinya melupakan kehadirannya yang berada beberapa langkah di belakangnya dengan kantong belanja di tangannya.


"Kenapa belanja sebanyak ini?" tanya Christ pada akhirnya setelah istrinya itu berhenti lagi cukup lama.

__ADS_1


"Hm? Aku akan membagikannya untuk anak-anak di Senna Rod dan beberapa ke rumah madam Anna," jawabnya ringan tanpa menyadari ekspresi membeku yang sekilas nampak di wajah suaminya tapi tak lama kembali biasa.


"Ah, aku belum memberitahumu soal Senna Rod? Kau tahu kan ada tempat khusus yang kukelola di sana sebagai perawatan khusus disabilitas, dan banyak anak-anak di sana. Aku akan mengajakmu kesana nanti,"


Christ tertegun, "Boleh?"


Agatha menoleh dan memandang pria di sampingnya itu dengan heran, "Tentu saja, kenapa tidak?"


Christ tersenyum, "Baiklah, aku menantinya," jawabnya dengan hati ringan, karena setahunya Senna Rod yang dikelola istrinya itu tidak sembarangan bisa dikunjungi sebelum mendapatkan izin dari pihak rumah sakit untuk melindungi pasien khusus mereka. Agatha kini menawarkan padanya untuk ikut, apakah itu artinya ada kemajuan dalam hubungan mereka dan istrinya itu mulai memberi kepercayaan padanya?


Mencoba untuk mengendalikan dirinya agar tidak terlalu senang Christ mengambil napas panjang meski senyuman tidak bisa lepas dari bibirnya.


Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Joshua beberapa waktu yang lalu bahwa Agatha memang bukan wanita yang berhati dingin. Karena selama beberapa hari mereka bersama Christ tahu istrinya itu memiliki sifat yang hangat hanya saja tidak terlalu menunjukkannya.


Dia hanya ingin istrinya itu kembali menjadi Agatha seperti yang dikenalnya sepuluh tahun lalu tanpa luka dan sikap hati-hati yang dibangunnya.


Setelah puas berbelanja mereka memutuskan untuk makan siang di salah satu tempat makan di daerah Kuta yang terkenal dengan seafoodnya. Sebenarnya kemarin mereka hampir mengunjungi banyak tempat makan yang tersebar di Bali karena setelah empat hari pertama sudah mereka habiskan untuk pergi ke semua pantai dan wisata, jadi menurut Agatha hari-hari terakhir mereka haruslah untuk berburu kuliner dan souvenir.


Pada akhirnya Agatha tetap seperti wanita yang lain saat berbelanja perbedaannya hanya saja hampir semua barang yang dibelinya bukan untuk dirinya sendiri namun dibelinya untuk orang lain.


Agatha baru turun dari mobil ketika ada yang menabrak tubuhnya keras hingga sosok kecil itu jatuh terjengkang.


"Oh, maaf! Kau tidak apa-apa?" tanya Agatha yang seketika berjongkok untuk membantu anak kecil yang sepertinya berusia 10 tahun itu.


Anak kecil itu menatap Agatha takut-takut sebelum menggeleng cepat. Tampak telapak tangan kanan dan siku kiri anak itu terluka gores akibat menahan tubuhnya saat jatuh.


"Dia jatuh karena tidak sengaja menabrakku. Sepertinya dia buru-buru," jawab Agatha yang masih memandang gadis kecil di hadapannya yang kini tampak panik melihat bunga di keranjangnya jatuh berserakan.


Gadis kecil itu buru-buru memunguti beberapa bunga yang berserakan dan juga kelopak-kelopak mawar yang rontok. Meringis sakit karena lukanya gadis kecil itu meniup lengannya.


"Kau terluka, bagaimana kalau kita ke rumah sakit?" tawar Agatha tidak tega meskipun dia tidak yakin apakah gadis kecil itu mengerti maksudnya karena jelas bahasa mereka berbeda.


"Apa dia mengerti yang kau katakan? Dimana orangtuanya?" kali ini Christ bertanya sembari menolehkan kepalanya ke sekeliling mencari mungkin ada orangtua dari gadis kecil ini.


Agatha yang tadi cepat mencari pelafalan kata dalam bahasa yang tepat di ponselnya, dia mengucapkannya pelan-pelan pada anak itu. Namun yang terjadi selanjutnya membuat Agatha tertegun dan terdiam.


Gadis kecil itu mengeluarkan catatan kecil dari sakunya dan menuliskan sesuatu disana.


sorry, I can't speak


but i'm okay


no need to go to hospital


Agatha membaca pesan di catatan kecil itu dan desir aneh tiba-tiba terasa di hatinya. Seperti de javu pertemuannya dengan Mikael dulu.


"Kau tidak bisa bicara ya, maaf," ucapnya mengangguk pelan dan tersenyum lembut dengan tatapan sendu.

__ADS_1


Gadis kecil itu mengangguk lantas tatapannya kembali pada bunga-bunga berserakan di keranjangnya. Tampaknya gadis kecil itu khawatir akan sesuatu hal.


"Kalau kau tidak perlu ke rumah sakit, apakah ada hal lain yang bisa kubantu untukmu?" tanya Agatha yang refleks menggerakkan tangannya menggunakan bahasa isyarat meski dia tidak yakin gadis kecil itu akan paham sepenuhnya, karena bagaimanapun ada perbedaan bahasa isyarat di setiap negara.


I have to deliver this flower to the customer's


but the flowers are already broken


my mother will be angry


Gadis kecil itu cepat-cepat menuliskan jawaban pertanyaan Agatha. Dia tidak mengerti sepenuhnya namun garis besarnya dia tahu apa yang dikatakan wanita cantik di hadapannya itu.


Agatha kemudian menegakkan tubuhnya dan menatap Christ yang sejak tadi diam di sampingnya.


"Apakah kau keberatan jika kita membantu gadis kecil ini lebih dulu?" tanya Agatha, dia tidak ingin Christ tidak nyaman karena keputusan mendadaknya untuk membantu si gadis kecil.


"Kita membawanya ke rumah sakit?"


"Tidak, dia menolak meskipun aku khawatir pada lukanya," Agatha menatap sedih pada siku kecil yang berdarah itu. "Dia khawatir ibunya marah karena bunga-bunga yang harus diantarnya pada pelanggan sudah rusak. Apa kau keberatan kita membantunya sebentar?"


"Tenti saja tidak, Sunshine," Christ menjawab dengan pelan dan dalam entah kenapa Agatha dapat mendengar serak pada suara pria itu.


"Aku akan membantumu, kita beli bunga yang baru. Kau tahu toko bunga di sini?" tanya Agatha kemudian yang diangguki oleh gadis kecil itu.


Tersenyum, Agatha mengulurkan tangan kanannya pada gadis kecil itu san memberi isyarat agar si gadis kecil ikut dengan mereka mencari toko bunga.


do you really want to help me?


Gadis kecil itu menulis lagi setelah mereka masuk ke dalam mobil.


Dan dengan senyuman paling tulus dan cantik yang pernah Christ lihat, istrinya itu tersenyum dan menggenggam tangan mungil gadis yang duduk di sampingnya. Kemudian tangannya kembali bergerak menggunakan bahasa isyarat.


"Tentu saja aku akan membantumu."


Jawaban Agatha membuat gadis kecil itu tersenyum lebar dan mengangguk


thankyou


Dan dalam kesunyian perjalanan singkat itu mereka terdiam dengan sebuah rasa perih terselip di hati masing-masing.


Rasa perih oleh alasan yang sama.


.


.


.

__ADS_1


Riexx1323.


__ADS_2