Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Kesengajaan


__ADS_3

...Sepertinya aku harus belajar lagi tentang arti kata 'sempurna' darimu....


...-Agatha-...


.......


.......


.......


"Siapa?"


Tanya Joshua ketiga kalinya pada gadis di sampingnya yang kini sibuk membolak balik buku di pangkuannya. Keduanya sedang di berada di perjalanan pulang ke kediaman Anderson.


"Jika kau tidak mau menjawab maka akan kuturunkan kau disini," Joshua sudah bersiap untuk menginjak rem ketika melihat ekspresi sahabatnya.


Agatha menghela dan menatap Joshua, "Jahat sekali," gumamnya masih tidak mau menjawab pertanyaan awal sahabatnya itu.


"Kau yang menyebalkan, aku sudah bertanya tapi kau tidak mau menjawab."


"Bukan siapa-siapa."


"Tidak seperti itu kelihatannya dan kau mengulurkan tangan padanya lebih dulu tadi."


Agatha menghela kembali, percuma menyembunyikan sesuatu dari Joshua karena sahabatnya ini pasti akan mencari informasi sendiri jika dia tidak mendapatkannya darinya sekarang.


Agatha kemudian menceritakan awal ketidaksengajaan pertemuannya dengan pemuda tuna wicara yang ternyata satu universitas dengan mereka itu dan lebih mengejutkan karena laki-laki itu berada di Medical Department yang sepertinya sulit untuk ditempuh seseorang dengan 'kekurangan' sepertinya.


Ah, tidak bermaksud menilai rendah seseorang tapi kesan pertama yang didapatkannya seperti itu. Jika laki-laki itu sekarang mampu berada di sana maka sudah pasti tidak perlu diragukan kapasitas dan kemampuannya kan?


"Jadi apa yang kau lakukan sekarang?"


"Apanya?"


"Kenapa tiba-tiba ingin berteman dengannya? Tidak seperti Agatha yang kukenal."


Agatha termenung sebentar mendengar ucapan Joshua. Benar ini tidak seperti dirinya yang sulit didekati, sulit berteman dan tidak mau berteman.


Selama ini orang-orang mendekatinya dengan maksud dan niat tertentu, tidak tulus dan hanya memanfaatkannya karena dia seorang 'Anderson' karena itulah Agatha tidak suka bersosialisasi. Dia sudah cukup muak melihat orang-orang berwajah dua di hadapannya.


Tapi Mikael berbeda, laki-laki itu bahkan tidak tahu siapa dirinya bahkan setelah beberapa kali pertemuan mereka. Dan sepertinya itu bukan pura-pura karena Agatha melihat kepolosan dan kejujuran di mata Mikael.


"Entahlah, dia tidak seperti yang lain," jawabnya pada pertanyaan Joshua.


"Karena dia tidak bisa bicara?"


"Josh, jangan membuat penilaian berdasarkan keadaan seseorang secara sepintas yang bahkan belum kau ketahui."


"Maaf."


Keduanya terdiam sesaat, Agatha bukannya marah atau tersinggung namun dia diajarkan untuk tidak menilai orang lain berdasarkan fisik atau keadaan yang sepintas. Harus berdasarkan fakta yang benar untuk mendapatkan informasi yang sesungguhnya.


"Jadi apa selanjutnya?"


"Entahlah, menarik bisa mengenal Mikael. Dia benar-benar berbeda dalam artian yang sesungguhnya."


"Baiklah, biarkan aku menemuinya juga besok."


"Hmm."


.


.


.

__ADS_1


Agatha tidak datang ke perpustakaan keesokan harinya, karena memang jadwalnya hanya sekali di sore hari. Namun itu tidak menghentikan keinginan Agatha untuk sekedar berjalan jalan melewati gedung Medical Department yang jaraknya cukup jauh sebelum dia menjemput Joshua di gedung departemen hukum. Padahal biasanya Agatha lebih memilih menunggu di cafe atau tempat lain yang nyaman untuk menjemput sahabatnya daripada mengunjungi departemen hukum.


Dan meski jarak yang cukup jauh, Agatha berjalan dengan ringan di area Medical Department sembari sesekali melihat sekelilingnya.


Dia tidak pernah berjalan di area gedung kampus kecuali kawasan gedung departemennya sendiri.


Dia tahu universitas ini luas bahkan beberapa gedung letaknya terpisah dan dia tidak pernah mau benar-benar memastikannya sendiri.


Lalu di salah satu jalan setapak taman yang berada di tengah persimpangan gedung dia melihat seseorang yang kini familier di matanya itu.


Mikael.


Pemuda itu tampak sedang berjongkok di sebelah bangku taman. Tangannya sibuk memberi makanan pada seekor kucing di hadapannya.


Laki-laki itu tersenyum pada kucing di hadapannya dan meski pemandangan itu mungkin tidak penting bagi sebagian orang namun bagi Agatha itu adalah pemandangan yang langka hingga tanpa sadar diraihnya ponsel dalam sakunya dan mengabadikan potret indah sore itu.


Kemudian dilihatnya Mikael berdiri setelah memastikan kucing itu memakan snack darinya. Mengelus dan melambai pada kucing lucu itu.


Ah tidak, laki-laki itu bahkan lebih lucu dan menggemaskan dari kucingnya.


Mikael melangkahkan kakinya kembali menyusuri jalan setapak taman yang tampak lebih indah dengan sinar senja yang turun menyirami dedaunan musim gugur.


Dan Agatha tanpa sadar melangkahkan kakinya mengikuti langkah Mikael.


Sampai di undakan batu tiba-tiba beberapa mahasiswa yang sedang ribut bercanda menabrak Mikael hingga pemuda itu terjatuh dari tangga.


Tanpa minta maaf segerombolan anak itu berlalu begitu saja meninggalkan Mikael yang tampak kesakitan.


Tentu saja Agatha segera berlari ke arah pemuda itu tanpa sadar.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya setelah berada di hadapan Mikael, membantunya berdiri.


Mikael tampak terkejut melihat kemunculan Agatha yang tiba-tiba. Dia bahkan menatap sekelilingnya seolah memastikan dia berada di tempat yang benar.


'Kau sedang apa disini?' tulisnya. 'Apa kau juga dari Medical Department?'


Agatha tentu tidak menyangka akan ditanyai begitu dan apa dia harus bilang kalau dia sudah membuntuti Mikael tanpa sadar?


"Aku kebetulan lewat dan melihatmu terjatuh tadi," jawabnya sedikit ragu karena berbohong.


'Tadi aku menunggumu di perpustakaan meski kau tidak ada, senang bertemu kau disini.'


Lagi-lagi Agatha hanya bisa tertegun membaca tulisan Mikael. Dilihatnya laki-laki di hadapannya itu menggosok lengan kanannya yang sepertinya terluka akibat jatuh tadi.


"Apa perlu ke rumah sakit?" tawar Agatha setelah melihat memar di bagian atas siku Mikael.


'Tidak perlu, aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil dan aku tidak berdarah.'


"Tapi itu memar."


Mikael menggeleng dan tersenyum berusaha membuat Agatha mengerti bahwa dia baik-baik saja karena gadis itu masih mengernyit tidak yakin.


Keduanya lagi-lagi terdiam.


"Agatha! Astaga!"


Keduanya menoleh dan mendapati Joshua berjalan tergesa ke arah mereka.


"Apa yang kau lakukan disini? Dua puluh menit yang lalu kau memintaku cepat selesai karena kau tidak mau menunggu lama tapi saat aku keluar kau bahkan tidak ada dimana-mana!" Joshua terlihat tenang dan tidak meledak-ledak namun sorot matanya yang kesal tidak bisa disembunyikan saat mengomel pada Agatha.


"Maaf, ada sesuatu terjadi tiba-tiba."


Mata Joshua mengernyit tidak suka kemudian menatap lelaki disamping Agatha yang sepertinya juga kaget dengan kehadirannya.


Merasa tak enak dengan sosok yang sepertinya familier ini, Joshua mengangguk sebagai ucapan maaf dan sapaan.

__ADS_1


"Jadi apa yang terjadi sampai kau mengabaikan teleponku dan menghilang begitu saja?" tanya Joshua yang masih kesal.


"Aku sudah minta maaf, jangan marah-marah," Agatha tampak merasa bersalah sekarang.


Tadi untuk sesaat dia benar-benar lupa tujuan awalnya untuk menemui Joshua. Agatha melirik Mikael yang berdiri di sampingnya, lelaki itu tampak sedikit gugup sekarang.


"Nanti saja marah-marahnya, sekarang antarkan kami ke rumah sakit," Agatha menunjuk lengan Mikael yang memar pada Joshua.


"Kau memukul orang?" desisnya tidak percaya pada Agatha.


"Bukan! Tadi dia jatuh dari undakan." jelasnya. "Segerombolan anak tidak sopan menabraknya hingga jatuh."


Kali ini rasanya Joshua hampir memutar matanya mendengar penjelasan sahabatnya itu.


Karena bagaimanapun ini salah satu hal aneh.


Agatha peduli pada orang lain di tempat umum?


Sejak kapan?


Agatha tidak pernah mau ikut campur urusan orang lain. Baginya itu hal merepotkan yang sia-sia.


Pemikiran Joshua terputus ketika Mikael menginterupsi dengan catatan kecilnya.


'Aku sungguh minta maaf. Aku baik-baik saja jadi tidak perlu ke rumah sakit.'


Kemudian dia menulis lagi, 'Maaf tapi aku harus segera pergi. Terimakasih dan sampai jumpa.'


Setelah mengangguk berpamitan, Mikael berbalik dan mulai berjalan pergi sampai Agatha melangkahkan kakinya menyusul laki-laki itu.


"Kau mau kemana? Boleh kuantar?" tawar gadis itu berharap semua kesempatan kebetulannya belum habis untuk mereka bertemu lagi.


Menimbang sejenak ucapan gadis di hadapannya, Mikael menulis kembali.


'Aku akan pulang karena sudah berjanji pada saudaraku.'


"Oh, begitu," Agatha sedikit kecewa karena sepertinya laki-laki itu menolaknya secara tidak langsung.


'Kau suka anak-anak?' tanya Mikael kemudian.


Agatha yang bingung kemudian hanya mengangguk pelan. Kenapa Mikael menanyakan sesuatu yang aneh tiba-tiba?


'Baiklah, kau boleh ikut.'


Manik coklat Agatha melebar tidak percaya namun sejurus kemudian tampak berbinar dan mengangguk senang dengan jawaban Mikael.


Agatha menoleh pada Joshua yang masih diam terpaku menatap mereka. Mengajak sahabatnya itu pergi bersama yang kemudian hanya di jawab dengan helaan napas dan langkah ragu mengikuti mereka.


Benarkah gadis dihadapannya ini adalah Agathanya?


Ada apa dengan sahabatnya ini?


Tiba-tiba berubah drastis pada seseorang yang baru dikenalnya, dan lagi sosok itu tidak biasa?


Ini bukan hanya karena rasa kasihan atau penasaran kan?


Manik kelam Joshua bergantian menatap dua orang yang berjalan beriringan di depannya itu. Tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti dan hanya berharap jika ini bukan sekedar rasa keingintahuan sahabatnya saja.


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2