Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Kesalahpahaman Di Pagi Itu


__ADS_3

...Mungkin hubungan kita memang diawali dengan urutan yang salah....


...Jadi bisakah kita mulai lagi dari awal sebagai teman?...


.......


.......


.......


Agatha menyeret kopernya menuju lobi dengan langkah yang membuat beberapa orang yang dilewatinya mundur tanpa sadar dan memberinya jalan.


Sungguh aura penuh kekuasaan dari sosoknya akan terasa tanpa perlu dikatakan. Mendominasi.


Berhenti sejenak di lobi depan, Agatha megeluarkan ponselnya dan tampak sedikit ragu untuk menekan kontak sang sahabat. Sebenarnya dia bisa saja langsung menganggu Joshua tapi pasti pria itu justru akan mengomelinya karena dia sudah berjanji untuk tidak menganggunya selama masa honeymoon-nya.


Tapi persetan dengan janjinya, Agatha sudah terlanjur kesal dengan Christ atas ucapannya semalam dan ingin rasanya dia kabur menghubungi Joshua sekarang.


Jarinya bergerak pada tombol panggilan dan menunggu jawaban dari seberang. 


Satu menit berlalu dan sahabatnya itu tidak kunjung mengangkat panggilan darinya. Kemana sebenarnya Joshua? Apa sudah berangkat ke kantor?


Ah, dan selama masa liburnya maka semua pekerjaan Agatha dilimpahkan pada Gabriel dan Joshua. Padahal Agatha sendiri mampu mengerjakannya sekalipun dia sedang 'honeymoon'.


Menghela napas untuk mengatur emosinya, Agatha mencoba sekali lagi untuk menghubungi Joshua ketika seseorang di belakangnya mengambil ponsel dari tangannya.


"Don't call him, Agatha."


"Christ! Kembalikan ponselku!" Agatha berusaha meraih ponselnya namun Christ lebih tinggi  darinya sehingga mampu mengelak dari jangkauannya.


"I'll give it to you but promise me one thing," ujar pria itu masih menjauhkan tangan kanannya dari Agatha.


"Apa lagi? jangan membuatku kesal!"


Tangan kiri Christ yang sejak tadi membawa koper kini dengan cepat beralih menarik Agatha mendekat padanya.


"I'm sorry for being rude about your bestfriend. But I don't mean it to serious Agatha."


Agatha terdiam menatap wajah Christ yang tampak benar-benar menyesal dan yah mungkin itu memang hanya perkataan yang tidak memiliki arti khusus kan? Tapi dia tidak suka.


"Okay, I forgive you but don't dare you to say some fucking things again about Joshua. Or I'll make you regret it," ancamnya yang kemudian mendapat anggukan pelan dari Christ.


"I promise."


"Okay then, lepaskan aku dan kembalikan ponselku. Apa kau tisak malu membuat kita jadi tontonan?" ucap Agatha yang merasa kesal bercampur malu karena perbuatan Chris membuat beberapa orang yang ada di lobi menatap mereka penasaran.

__ADS_1


"Ah, maaf," Christ melepaskan tangannya dari ponggang Agatha juga memgembalikan ponselnya yang langsung disambar secepat kilat.


"Bisakah kuminta padamu untuk tidak menghubungi Joshua setidaknya selama masa 'honeymoon' kita?" pinta Christ yang kini mengambil alih koper Agatha untuk dibawanya.


"Hh, kau banyak permintaan tuan Winston," keluh Agatha yang kemudian memilih untuk menuruti pria itu.


"Ngomong-ngomong bagaimana kita ke bandara? Aku tidak melihat petugas atau orang yang menjemput sama sekali."


"Harusnya sudah datang, ayo," Christ berjalan lebih dulu membawa dua koper keluar dari lobi diikuti oleh Agatha, dan sebuah mobil mewah yang bisa dipastikan milik pria itu sudah terparkir di luar.


"Harusnya Leon sedikit memajukannya," keluh Christ yang sudah membuka pintu dari kunci yang diambilnya dari resepsionis. Setelah memasukkan koper dia membukakan pintu untuk Agatha kemudian berjalan menuju kursi kemudi.


Di sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Agatha untuk pertama kalinya merasa jauh dari Joshua, sahabatnya itu juga tidak menghubunginya kembali. Apa benar-benar sesibuk itu? Tapi kan Joshua tidak pernah seperti ini padanya, dia selalu menjadi prioritas sahabatnya itu apapun yang terjadi. Rasa jauh ini terasa asing dan Agatha tidak menyukainya. Tapi sepertinya sekarang dia harus menghargai kesepakatan yang dia buat dengan Christ kan?


Mobil mereka memasuki bandara dan Christ terus melajukan mobilnya melewati jalur yang biasanya digunakan dan masuk ke gerbang yang ada di bagian kiri menuju lapangan terbang. Dan Agatha tidak terkejut melihat sebuah pesawat pribadi menunggu mereka di sana.


Beberapa orang sudah menunggu dan menyambut kedatangan mereka. Orang-orang itu membantu dan membawakan koper mereka.


"Begini yang dinamakan tidak sombong ya?" ucap Agatha begitu memasuki pesawat. Dia sendiri sebenarnya punya satu yang sering digunakan oleh ayahnya karena faktor keselamatan dan kesehatan sang ayah tentu saja. Agatha sendiri lebih sering menggunakan pesawat umum. Jadi dia tidak menduga Christ akan memakai pesawat pribadi dalam perjalanan mereka.


"Ini disebut pemanfaatan sumber daya yang ada, Agatha. Aku yakin kau juga pasti menggunakannya."


"Tidak juga, aku lebih merakyat," jawabnya kemudian duduk di salah satu kursi.


Dulu dia memang sering menggunakan semua fasilitas dari ayahnya, namun sejak bertemu Mikael semuanya berubah karena Agatha selalu membiasakan diri dengan kesederhanaan pria itu.


Menarik napas panjang beeusaha menetralkan perasaan dan pikirannya lalu mencoba fokus kembali pada pria yang ada di hadapannya sekarang.


"Ada apa? Kau tidak menyukainya?"


"Hm, bukan. Aku tidak apa-apa."


"Katakan saja jika ada hal yang membuatmu tidak nyaman, Agatha."


"Ya."


Tak lama pesawat mereka berangkat mengudara setelah sebelumnya pilot dan co-pilot datang memperkenalkan diri pada mereka.


Setelah itu keduanya kembali terdiam, dan Christ adalah pria yang tidak tahan dengan kecanggungan apalagi diantara mereka.


"Agatha, aku ingin kita berdua tidak secanggung ini."


"Aku tidak canggung."


"Tapi kau lebih sering diam padaku, maksudku adalah kita sudah menikah dan yah... katamu kita harus berteman kan?" Christ mengambil minuman bersoda dari mini bar dan juga jus untuk Agatha.

__ADS_1


Agatha yang semula diam-diam mengecek beberapa pekerjaan pada perangkat pintarnya, kini meletakkan benda itu dan memandang Christ.


"Baiklah, kau mau aku bagaimana?" tanyanya sembari menerima jus dari Christ.


"Apapun agar kita lebih akrab dan tidak canggung."


"Dengar Christ, aku memang tidak pandai berbasa basi atau membicarakan sesuatu yang tiba-tiba. Kau tahu sendiri aku hanya memiliki Joshua sebagai teman dan tidak ada yang lain. Jadi kau bisa menyebutku kurang pergaulan selain hal-hal yang formal," jelasnya yang di angguki oleh Christ.


"Baiklah kalau begitu, apa yang biasa kau lakukan bersama Joshua?"


Agatha tampak berpikir, "Banyak hal, hampir semuanya kulakukan bersamanya."


"Lalu apa yang biasa kalian bicarakan?" lanjut Christ yang kini berusaha membuka obrolan dan membangun hubungan dengan istrinya itu.


"Kami membicarakan banyak hal, apapun itu menjadi sangat menarik jika aku membicarakannya pada Joshua."


"Let's try then."


Agatha memandang Christ dengan tatapan bertanya sementara pria di hadapannya itu menyunggingkan seulas senyum hangat.


"Cobalah bersikap seperti itu padaku, kau bisa membicarakan banyak hal apapun itu padaku, kau bisa mengeluh, marah-marah atau apapun. Jadilah dirimu seperti Agatha yang bersama Joshua."


Ucapan Christ membuat Agatha berpikir bahwa pria ini berusaha keras demi mengakrabkan diri dengannya yang memang bisa disebut anti sosial.


"Baiklah, akan kucoba," jawabnya kemudian yang menimbulkan senyum lebih hangat menghiasi wajah Christ.


"Terimakasih, Agatha. Dan sebaiknya kau beristirahat karena perjalanan kita cukup panjang."


Setiap langkah awal selalu sulit.


Aku bisa melaluinya sebelum ini


dan meskipun terasa berbeda saat kami sudah bersama,


namun aku harus terus berusaha sampai aku bisa merubah arah hatinya.


Agatha...


Kau benar-benar sesulit itu diraih


Lantas apa yang membuatmu jatuh begitu mudah padanya dulu?


.


.

__ADS_1


.


Riexx1323.


__ADS_2