Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Yang Pertama Bagi Mereka


__ADS_3

..."Well I found a woman, stronger than anyone I know. She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home."...


..."Perfect" — Ed Sheeran...


.


.


.


Ada orang-orang yang terbisa mengekspresikan diri begitu mudah seolah itu bukan masalah besar jika mereka melakukannya. Dan ada juga orang yang begitu sulit mengekspresikan diri sekalipun itu pada sebuah tindakan kecil, apalagi mengenai hal-hal yang menyangkut privasi hati dan perasaan. 


Bagi Christ dan Agatha yang ekspresif dan selalu tegas dalam lingkungan bisnis dan pekerjaan nyatanya merasakan kesulitan saat menghadapi perasaan dan keputusan masing-masing. Tidak semudah keputusan besar yang selalu mereka ambil selama ini yang konteks dan visinya jelas bisa mereka prediksi dan pastikan.


Tapi untuk perasaan?


Mereka berdua sama sekali buta untuk melihat arah dan masa depan terkait hal itu. Kebimbangan yang menjadikan mereka seketika tampak bodoh di hadapan urusan yang disebut hati dan perasaan.


Pukul 02.35 dan dua manusia yang merebahkan diri saling membelakangi itu sama-sama masih terjaga. Setelah pembicaraan yang cukup berat sebelumnya, mereka kembali saling mendiamkan dalam perjalanan pulang entah kali ini dengan alasan apa lagi.


Tanpa kata-kata keduanya seolah sepakat untuk saling memberi waktu, lagi.


Debaran di hati masing-masing terasa seperti berbunyi nyaring sehingga keduanya memeluk bantal seerat mungkin untuk menyembunyikan. 


Aku yakin kalian merasa mereka kekanakan dan bodoh. Tapi seperti itulah yang terjadi dengan mereka. Tidak berani menetapkan keputusan satu sama lain.


Christ sudah berulang kali mengatur napasnya agar detak jantungnya kembali normal tapi sia-sia, semakin berpikir maka debaran itu semakin cepat. Dia senang karena Agatha sudah memilih untuk menerima hubungan mereka selangkah lebih dalam, namun dia tidak mau terlihat mengharap dan memaksa istrinya itu. Dia ingin Agatha sendiri memutuskan tanpa paksaan.


Sial.


Aku tidak bisa berhenti berpikir dan berharap. Tapi tidak baik jika aku menanyakannya kembali, terasa seperti memaksa kan? — batin Christ.


Memutar tubuhnya perlahan, dia menatap punggung Agatha yang naik turun seirama dengan napasnya.


Aku harus bagaimana?


Tiba-tiba saja wanita yang disangkanya sedang tertidur lelap itu membalikkan badan sehingga posisi mereka sekarang saling berhadapan.


"Sunshine, kau belum tidur?" pertanyaan basa basi yang justru membuat debaran jantungnya semakin cepat.


"Kau sendiri belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur."


"Karena pernyataanku tadi?" tanpa peduli pria di hadapannya ini menahan diri mati-matian justru dia menanyakan hal yang menjadi sumber pikiran.


"... iya."


Jarak wajah mereka yang hanya satu jengkal membuat kecanggungan itu terasa dekat.


"Aku tahu ini egois, mengenai pernyataanku tadi bisakah aku meminta sebuah kesepakatan lagi?" kali ini suara Agatha lebih pelan dan tampaknya wanita itu juga berusaha mengendalikan kegugupannya.


Kesepakatan...?


Apa Agatha ingin membatalkan ucapannya tadi? — batin Christ cemas dan sedikit menciut kecewa.


"Kesepakatan apa?" suaranya kembali terdengar seolah dia tidak apa-apa.


"Kita bisa 'melakukannya' tapi aku tidak mau hamil," kalimat itu akhirnya tersampaikan meski terasa berat bagai keputusan hidup dan mati.


Sedikit banyak hati Christ terasa sakit saat mendengarnya. Kebahagiaan yang sebelumnya sempat hadir di hatinya kini sedikit tergerus.


"Kau tidak mau hamil?" paraunya membuat Agatha kini balas menatapnya dengan tatapan sendu meminta maaf.


"Bukan begitu, hanya saja aku butuh waktu. Aku tahu selama ini aku selalu mengatakannya, meminta waktu padamu terus menerus tanpa memikirkan perasaanmu. Tapi semua ini sulit untukku Christ... apa yang ada dalam hatiku begitu rumit sehingga sejak awal aku menjaga jarak karena aku sendiri tidak yakin. Aku harus melalui banyak waktu untuk sedikit demi sedikit bisa menerima semuanya," jelas Agatha panjang lebar kemudian menghela napas panjang.

__ADS_1


"Maafkan aku, meski ini tidak adil kuharap kau mau mengerti," pada akhirnya dia akan selalu menyakiti Christ.


Meski sakit dan kecewa, Christ berusaha tersenyum dan membelai lembut wajah istrinya itu.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku senang kau mau membuka diri padaku, meski awalnya aku memaksa tapi aku juga tidak ingin menyakiti perasaanmu."


Seulas senyum tipis terukir di bibir Agatha, sekarang dia menyadari bahwa Christ yang dulu amat sangat tidak disukainya ternyata adalah pria yang begitu baik. Memang mungkin benar apa yang dikatakan Joshua bahwa dia layak kembali merasa bahagia.


Pria ini menghadapinya dengan penuh kesabaran dengan waktu yang panjang. Memangnya pria mana yang bisa menjadi suami tanpa menyentuh dan berhubungan badan dengan istrinya selama lebih dari satu tahun?


Kesadaran itu membawa rasa hangat pada hati Agatha, membuatnya tanpa sadar mengikis jarak diantara mereka dan dengan perlahan mengecup bibir suaminya itu pelan.


Christ yang 'diserang' tiba-tiba masih terdiam dalam keterkejutannya hingga saat kesadaran kembali menyapanya pria itu sudah membalas ciuman istrinya itu dengan lembut.


"Terimakasih."


Bersamaan keduanya mengucapkan kalimat yang sama di sela-sela moment yang tercipta, membuat mereka saling tersenyum dan kembali menciptakan moment baru yang menjadi awal bagi mereka.


Benar, sebuah awal.


Karena di waktu hampir menjelang pagi ini akhirnya mereka melakukan hal yang seharusnya sebagai sepasang suami istri. Saling memberi dan menerima meski masih dengan sebuah kesepakatan. Namun inilah waktu yang ditunggu setelah sekian lama.


Inilah hari pertama yang juga menjadi malam pertama bagi mereka.


Tidak ada kata terlambat dari sebuah hubungan ketika masing-masing masih saling menunggu kan?


.


.


.


Joshua sedikit kesal karena sejak tadi dia menghubungi Agatha namun sahabatnya itu tidak menjawab.


Ada pertemuan penting dengan perusahaan yang akan menjadi partner baru mereka dalam produk fashion dan kosmetik, dan sebelumnya Agatha sudah setuju untuk menghadirinya secara langsung.


"Oh, come on Agatha. Jangan membuatku khawatir setelah apa yang kau katakan padaku kemarin."


Dia mengkhwatirkan sahabatnya yang mungkin saja bertengkar dengan Christ mengingat sikapnya yang keras kepala. Dan sebenarnya Joshua sudah menghubungi Christ juga namun sama saja pria itu tidak bisa dihubungi.


"Harusnya aku khawatir karena pekerjaan, bukan karena hubungan rumah tangga kalian," keluhnya kesal.


Satu-satunya jalan yang bisa dilakukannya adalah menghubungi Leon dan berharap pria itu tahu keberadaan sepupunya.


"Hai, Leon. Maaf mengganggu waktumu pagi-pagi begini," sapanya setelah panggilan teleponnya dijawab pada deringan kedua.


'Tidak masalah, Josh. Ada apa?'


"Em, apa kau tahu dimana Christ? Aku tidak bisa menghubunginya dan juga Agatha."


'Oh! Ternyata sama! Aku juga sedang mencari Christ karena sejak tadi aku tidak bisa menghubunginya. Padahal ada dokumen penting yang harus ditandatangani olehnya sekarang.'


"Hahhh... kuharap tidak terjadi hal buruk karena sepertinya semalam keadaan mereka tidak baik-baik saja."


'Oh, kau tahu itu? Semalam Christ memang sedang dalam suasana hati buruk. Dia terburu-buru meninggalkanku untuk menjemput Agatha.'


"Benar. Aku khawatir sekarang. Kuharap mereka baik-baik saja."


Dan di waktu yang bersamaan dua pria itu dikejutkan oleh sebuah pesan di ponsel masing-masing.


'Tunggu, Josh... Christ baru saja mengirimiku pesan!'


"Ini membuat merinding tapi Agatha juga baru saja mengirimiku pesan. Aku tutup dulu teleponnya, thanks."


Joshua buru-buru membuka pesan dari wanita yang membuatnya khawatir itu.

__ADS_1


^^^Joshie, maafkan aku.^^^


^^^Kau menghubungiku 23 kali karena khawatir..?^^^


^^^Aku tidak bisa ke kantor hari ini.^^^


^^^Bisakah kau mengambil tanggungjawab untuk meeting hari ini?^^^


^^^Sampaikan maafku dan katakan saja aku ada urusan mendadak.^^^


Alis Joshua mengernyit bingung membaca pesan sahabatnya itu.


Ada apa?


Apa terjadi sesuatu?


Kau tidak apa-apa kan?


^^^Ya aku tidak apa-apa^^^


Lalu kenapa?


^^^Tubuhku sakit semua.^^^


^^^Kurasa aku harus beristirahat hari ini.^^^


Kau sakit?


^^^Tidak, bukan sakit yang seperti itu.^^^


^^^Another pain... oh, come on Joshie^^^


^^^You know what I mean.^^^


Joshua semakin mengernyit bingung namun sejurus kemudian pemahaman besar muncul di kepalanya dan membuatnya berdehem dan tersenyum lebar.


Jawaban atas kebingunganmu semalam?


^^^Em... bisa dikatakan begitu.^^^


^^^Sudah ya, aku mau tidur.^^^


Dan cara Agatha menutup pembicaraan mereka membuatnya tertawa geli. Sahabatnya itu sudah memulai perubahan yang lebih baik dalam hidupnya.


Sementara di lain tempat Leon sudah tertawa lebar mendapati pesan yang dikirim oleh sepupunya.


^^^Jangan menggangguku hari ini.^^^


^^^Aku tidak akan ke kantor.^^^


^^^Kirim saja dokumen pentingnya ke apartemen.^^^


^^^Ehem... dan lagi, aku sudah mendapat jawaban yang kuinginkan dari apa yang kukatakan padamu semalam.^^^


^^^Sudah mengerti kan?^^^


^^^Jangan mengangguku, okey?^^^


Seperti itulah pagi itu diawali oleh sedikit tawa dan kebahagiaan dari orang-orang yang dekat dengan mereka.


Sementara kedua orang yang bersangkutan masih menjeda kegiatan mereka untuk saling memberi kabar, sebelum melanjutkan kembali kegiatan mereka yang entah sudah berapa jam namun masih akan berlanjut lagi beberapa jam kedepan sebagai ganti penantian panjang selama enam belas bulan pernikahan mereka.


.


.

__ADS_1


.


Riexx1323.


__ADS_2