Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Kenyataan Tanpa Sosoknya


__ADS_3

...Untukmu si pemilik senyum indah, yang mengubah hariku yang buruk berubah menjadi cerah....


...—Agatha to Mikael—...


.......


.......


.......


Agatha masih menatap pada Mikael yang kini duduk diam sementara Felix mengambil alih tugasnya memindahkan barang dan hadiah.


"Dia benar-benar saudaramu?" tanya Agatha diam-diam saat Felix berada sedikit jauh dari mereka.


'Iya, dia kakak sekaligus temanku. Kami tinggal dirumah asuh bersama sejak kecil.'


"Oh, tapi aku tidak pernah melihatnya setiap berkunjung ke rumahmu?"


'Felix baru saja kembali dari Minister Lovell bersama teman-temannya. Mereka melakukan beberapa program banding disana.'


Agatha mengangguk sebagai jawaban, dia hanya tidak menduga akan ada orang lain yang dekat dengan Mikael. Dan anehnya Agatha merasa lega setidaknya Mikael tidak sendirian.


'Kenapa?' tanya Mikael tiba-tiba saat gadis di sampingnya itu terdiam.


"Aku kesal pada anak-anak yang menabrakmu tadi, bukankah mereka harusnya minta maaf?" ujar Agatha kesal karena dilihatnya anak-anak itu justru pergi melakukan hal lain.


Sebenarnya Agatha sedikit merasa terusik karena salah satu dari mereka beberapa kali tertangkap mata sedang menatap mereka.


'Sudahlah, aku tidak apa-apa. Jangan kesal, kau semakin terlihat cantik nanti.'


Dan Agatha tidak bisa menanggapi ucapan pemuda dengan senyum indah di hadapannya itu. Untung saja dia sudah belajar bahasa isyarat, jika tidak bagaimana dia mengerti kalimat manis pemuda ini?


Astaga. Mikael tidak baik untuk kesehatan jantungku. - batin Agatha.


'Kenapa merona begitu, aku jadi semakin suka,' lanjut Mikael dengan senyum yang semakin lebar.


"Berhenti mengatakan hal seperti itu!"


'Tapi aku tidak bicara, Agatha.'


Keduanya terdiam lantas tertawa, mungkin di mata orang lain mereka terlihat seperti sepasang anak muda yang aneh. Bicara dengan gerakan tangan, yang satu kadang menanggapi dengan ucapan dan kemudian tertawa bersama meski yang terdengar hanya satu orang.


Joshua yang melihat itu akhirnya memiliki pemahaman dalam hatinya, bahwa sepertinya sang sahabat menemukan kebahagiaannya. Ketimpangan yang ada entah kenapa terlihat sempurna, dan perasaan Joshua ikut bahagia karenanya.


Bahagia itu sederhana jika kau menemukan orang yang tepat.


Tidak perlu gambaran yang luar biasa karena saat yang tepat sudah tiba maka kesempurnaan itu akan mengikutinya.


.


.


.

__ADS_1


'Agatha, kau tahu kenapa malam berbintang selalu membuat perasaan kita menjadi tenang?'


"Tidak, bukankah biasa saja."


Mendengar jawaban si gadis, pemuda itu tersenyum, tangannya terulur untuk menggenggam jemari lentik gadis yang duduk di sebelahnya.


Saat itu keduanya sedang berada di Haris's Florist, toko bunga tempat Mikael bekerja paruh waktu.


'Cobalah untuk melihat langit saat malam penuh bintang dan kau akan menemukan ketenangan disana.'


"Benarkah? Kenapa?"


'Karena mereka menemanimu dalam diam dan tak akan membiarkanmu kesepian.'


Agatha yang masih belum sepenuhnya mengerti hanya menatap Mikael.


'Sama sepertiku yang menemanimu dalam diam. Suatu hari nanti jika kau rindu padaku kau bisa menatap bintang di langit dan kau akan merasakan keberadaanku di sana.'


"Kenapa harus begitu? Aku cukup menemuimu seperti ini jika aku rindu padamu," jawab Agatha, kembali meraih jemari Mikael untuk digenggamnya.


Keduanya kembali terdiam tenggelam dalam perasaan masing-masing.


Mereka hanyalah dua orang yang dipertemukan oleh takdir. Perbedaan tidak menghalangi perasaan mereka satu sama lain, bahkan tidak pernah terlintas dalam kepala mereka bisa bersama seperti ini. Saling menggenggam, berbagi rasa dalam diam.


Agatha bersyukur menemukan sosok Mikael dalam hidupnya yang benar-benar mengajarkan arti kehidupan padanya. Bahwa kekurangan bukan penghalang seseorang untuk meraih apapun keinginan mereka selama mau berusaha. Mikael dengan kekurangannya berusaha membuktikan bahwa dia layak mendapatkan hidup seperti yang lainnya. Bekerja paruh waktu demi mendapatkan uang, belajar keras dan mendapatkan beasiswa demi meraih impiannya, dan juga layak dicintai oleh seseorang. Dan Agatha meyakinkan dirinya selalu ada untuk Mikael.


Dan Mikael, pemuda itu bersyukur telah bertemu dengan Agatha. Gadis yang menurut rumor begitu sulit didekati, gadis yang status sosialnya jauh lebih tinggi darinya, gadis yang kini duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya.


Dan sekarang dia memiliki Agatha, gadis yang menerima segala kekurangan dalam dirinya. Gadis yang tidak pernah disangkanya akan melengkapi hidupnya.


Terimakasih sudah menjadi warna indah dalam hidupku, dan kuharap waktu kita akan berjalan beriringan selamanya - Mikael.


Aku bersyukur menemukanmu. Dan kurasa, aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu - Agatha.


.


.


.


Sunyi menyambut ketika matanya yang berat mulai terbuka, menyesuaikan pendar cahaya menembus manik coklatnya.


Napasnya terasa berat.


"Agatha! Ya Tuhan, akhirnya kau membuka mata."


Suara yang begitu familier membuat Agatha menolehkan kepalanya pelan dan mendapati sosok khawatir Joshua.


Sahabatnya itu buru-buru bangun dari duduknya dan memeluknya lembut.


"Ada apa?" tanya Agatha dengan suara parau, tidak mengerti kenapa Joshua bersikap seolah mereka lama tidak bertemu.


"Aku lega kau membuka mata, kau membuatku khawatir setengah mati," Joshua melepas pelukannya lantas duduk di kursi samping tempat tidur Agatha, masih menggenggam erat tangannya.

__ADS_1


Ah, Agatha baru menyadari kalau tangannya memakai infus dan dia sedang bernapas menggunakan ventilator. Dan suasana ini adalah suasana rumah sakit.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku di sini?"


"Kau tidak ingat? Kau jatuh dari kapal dan tidak sadarkan diri selama tiga hari."


"Aku jatuh dari kapal...?"


Agatha memejamkan matanya berusaha mengingat apa yang terjadi namun justru wajah tersenyum Mikael yang muncul di benaknya.


"Dimana Mikael?"


Joshua mengerjap beberapa kali sebelum meraih tubuh sang sahabat kembali dalam pelukannya.


"Agatha... please don't make me scare. Kenapa harus dia sekarang?"


Di saat bersamaan pintu ruangan terbuka dan Christopher masuk dengan terburu.


"Agatha!" Christ bergegas mendekat dan berdiri bersama Joshua, wajahnya yang tegang, khawatir dan ada sedikit kelegaan juga tersirat disana. "Aku sangat mencemaskanmu, maafkan aku Agatha."


"... Christ?" seolah menyadari orang-orang yang ada di hadapannya, Agatha merasakan kebingungan dan itu membuat kepalanya berputar.


"Agatha!" Joshua dengan cepat menangkap tubuh Agatha yang limbung, "Christ, bisa tolong panggilkan dokter?"


Setengah berlari Christopher keluar ruangan untuk memanggil dokter. Sementara Joshua merasakan kecemasan itu lagi, takut jika Agatha kembali mengalami hal buruk seperti dulu.


"Joshie, kepalaku rasanya sakit... Mikael, dimana dia? Akh... kenapa ada Christ disini?" Agatha menjambak rambutnya erat tampak kesakitan.


"Agatha, jangan seperti ini, kumohon... jangan pikirkan yang lain sekarang fokus padaku. Aku ada disini bersamamu," suara pria itu bahkan kini terdengar parau seolah ikut merasakan sakit. Joshua benar-benar tidak ingin mimpi buruk itu kembali.


Christopher datang bersama dokter yang kemudian memeriksa keadaan Agatha, sementara Christ dan Joshua menunggu di luar dengan wajah cemas.


"Apa yang terjadi Josh? Kenapa Agatha terlihat kesakitan, bukankah terakhir kali kau katakan tidak ada masalah dengan kondisinya?" tanya Christ menatap pada Joshua yang sedari tadi mondar mandir dengan raut wajah kalut.


"Secara fisik tidak ada masalah dengan keadaan Agatha, tapi... aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, ada baiknya kita menunggu penjelasan dari dokter."


"Apa tidak sebaiknya menghubungi Gabriel?"


"Biarkan Gabriel fokus mengurus tuan Anderson. Aku yang akan bertanggung jawab atas keadaan Agatha."


"Kenapa kau bicara seolah-olah kau berhak? Jika keadaannya memang tidak baik, akan lebih baik jika Gabriel tahu."


"Christ, dengarkan aku. Ada banyak hal yang mungkin harus kita bicarakan nanti, aku tidak ingin berdebat dengan siapapun saat ini. Dan jika kau bertanya apakah aku berhak memutuskan di sini maka jawabannya adalah ya. Aku berhak karena aku adalah walinya atas perintah Gabriel."


"Aku tahu kau mencemaskannya, tapi aku akan berterimakasih jika kau bisa bekerjasama denganku untuk menjaganya. Dan sepertinya aku harus menanyakan sesuatu padamu terkait keadaan Agatha yang mungkin terlewat saat kita bicara sebelumnya."


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2