Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Decision (END)


__ADS_3

...Aku bersedia menukar apapun yang kumiliki asal kau kembali hidup dalam jarak yang bisa ku pandang sekalipun aku harus melihatmu dari sudut paling jauh....


.......


.......


.......


Langkah kakinya berderap menggema di sepanjang lorong rumah sakit. Membuat beberapa orang mengalihkan tatap padanya saat dia melintas.


Christ tidak peduli.


Kabar dari Gabriel beberapa saat yang lalu membuatnya meninggalkan Leon di tengah rapat bulanan dengan pihak markering perusahaan. Dan dia tidak peduli.


Agatha sudah sadarkan diri.


Agatha-nya sudah kembali.


Dengan napas memburu dan kaki gemetar akibat berlari, kini Christ mengatur napasnya di depan pintu kamar rawat istrinya.


Berdoa dalam hati tentang segala hal terbaik yang mungkin, juga hal buruk yang harus siap dia hadapi.


Matanya terpaku pada sosok lemah yang duduk bersandar pada bantal-bantal, dan jelas dia melihat rasa sakit yang tersirat dalam manik coklat beningnya.


"Agatha..."


Hanya itu yang mampu Christ katakan dalam bisikan lirih, hatinya terasa berat dan ujung matanya yang tiba-tiba memanas. Bahkan dia tidak bisa melangkah lebih jauh dari tempatnya berdiri di ambang pintu.


Joshua dan Gabriel yang melihat kedatangannya, kemudian beranjak dari sisi kanan dan kiri Agatha. Keduanya melangkah keluar untuk memberi sepasang manusia penuh rasa sakit ini berdua. Memberi waktu.


"Masuklah," ucap Gabriel saat melewati Christ sembari menepuk pelan bahu adik iparnya itu.


Sementara Joshua masih enggan untuk mengatakan apapun dan memilih berlalu begitu saja.


Keheningan menyusul setelah kedua pria itu menutup pintu.


Christ masih tidak beranjak dari tempatnya dan Agatha yang memilih untuk mengalihkan tatapannya dari pria itu.


5 menit.


10 menit.


15 menit.


Tak satu pun dari mereka yang mencoba untuk memulai. Dan keheningan itu terasa menyesakkan.


"Aku bahagia kau mau kembali," bisik Christ pelan diiringi langkahnya yang mendekat ke arah ranjang pasien.


Agatha masih memilih untuk menatap jendela kaca yang menghadirkan pemandangan gedung-gedung di sekitar rumah sakit.


"Agatha, aku minta maaf."


Christ berhenti melangkah saat jarak di antara mereka terpaut satu setengah meter.


"Aku tahu kata maaf dariku tidak akan pernah cukup untuk mendapatkan pengampunan darimu."


Bahkan bicara pada Agatha menjadi terasa sesulit ini bagi Christ.


"Tapi aku benar-benar tulus, Agatha. Aku menyesali semua hal yang pernah ku lakukan. Semua kebodohan dan kesalahanku di masa lalu. Aku dan semua hal yang telah ku lakukan. Aku benar-benar menyesal."


"Bahkan, jika aku bisa mengulang waktu maka aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan kembali ke waktu dimana aku mengikutinya malam itu, kembali pada keputusanku untuk tak ikut acara malam itu. Aku akan melakukan segalanya jika itu membuatmu bahagia. Bahkan jika aku harus melepasmu untuk bersamanya."


"Aku tahu semua penyesalanku tidak ada gunanya sekarang. Semuanya tidak ada artinya lagi."


Dalam diamnya, Christ jelas melihat air bening turun mengalir dari mata indah Agatha. Dan hatinya begitu sakit saat melihat hal itu.


"Aku tidak bisa memaafkanmu, Christ. Aku tidak bisa," lirih Agatha tanpa mau menatap Christ.


Tentu saja hati Christ semakin berdenyut sakit mendengar ucapan Agatha, dan dia harus menerimanya.


"Aku menerima semua keputusan yang akan kau ambil, Agatha."


"Kita berpisah."


Tanpa sadar Christ menahan napasnya mendengar itu. Wajahnya tertunduk tanpa kekuatan untuk menatap Agatha.


"Dan anak ini..."

__ADS_1


"Agatha, kumohon. Kau bisa melakukan apapun tapi jangan sakiti anak kita. Aku mohon..." Christ mengiba, dia tidak mau anak yang ada di kandungan Agatha menjadi korban atas kesalahannya.


"Kau tidak mau aku menyakiti anak ini? Kau tidak tega pada anak yang bahkan belum lahir ke dunia tapi kau tega menghabisi nyawa seseorang yang tak berdosa?!"


Tidak ada jawaban. Christ hanya bisa menangis dalam diam atas apa yang dikatakan istrinya itu.


"Tapi aku bukan orang sepertimu, Christ. Aku tidak akan menyakiti anak ini demi membalasmu. Aku tidak seburuk dirimu."


Sakit. Rasanya begitu sakit di dada — batin Christ.


"Kau menghancurkanku, Christ. Kau berhasil membuatku menyesal telah jatuh cinta padamu."


"Agatha, aku minta maaf. Ini memang sudah terlambat dan aku akan menerima semuanya, maafkan aku," pasrah Christ yang memang merasa tidak berhak membantah.


.


.


.


Waktu selalu bisa menyembuhksn seseorang meski akan butuh rentang yang panjang.


"Mommy Mommy!"


Suara lantang mungil yang memanggil ibunya itu membuat wanita dengan rambut coklat itu menoleh dan tersenyum.


"Hai, Sayang."


Diulurkannya kedua tangan untuk menyambut sosok anak laki-laki kecil dalam gendongan pria bermata dengan senyum manis itu.


"Kalian sudah kembali?"


"Hah, aku lelah sekali dan aku baru sadar jika Ellion mirip sekali denganmu, cerewet," keluh si pria setelah menyerahkan si anak pada ibunya.


"El, kau membuat uncle Joshie kelelahan. Padahal kau janji untuk tidak nakal pada ibu."


"No Mommy, no. Ell tidak nakal. Uncle bohong," suara kecil itu membantah dengan bibir mengerucut lucu.


"Baiklah kalau begitu beri ibu satu kecupan agar ibu percaya," canda sang ibu gemas.


"Muah muah, sudahh~"


Iya, Ellion Everald Winston.


Putra tunggalnya yang kini berusia dua tahun namun bicaranya sudah begitu lancar dan menggemaskan.


Sudah dua tahun berlalu tanpa terasa sejak Ellion lahir dan Agatha begitu menikmati perannya sebagai ibu. Hal yang tidak pernah dibayangkannya akan terjadi.


"Kalau begitu beri uncle satu ciuman juga," Joshua tersenyum dan memajukan pipinya ke arah Ellion.


"No no no, uncle sudah bohong. Ell tidak mau cium," anak itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan menolak mencium Joshua.


"Curang, padahal uncle sudah mengajakmu keliling taman hari ini. Uncle jadi sedih," Joshua menunduk berpura-pura bersedih dan membuat Ellion panik karena merasa bersalah.


"Uncle Joshie tidak boleh bersedih, maafkan Ell," rengeknya.


Joshua tersenyum lalu menarik ibu dan anak itu dalam pelukannya.


"Kalau begitu uncle yang cium Ell dan Mommy," ucapnya kemudian mencuri sebuah kecupan di pipi Ellion dan mengecup kening Agatha singkat.


Ketiganya tertawa, siapapun yang melihat pasti sudah berpikir mereka adalah keluarga yang sempurna jika Ellion tidak memanggil Joshua dengan sebutan uncle.


"Kau mau pergi sekarang?" tanya Agatha mendongak menatap Joshua.


"Iya, aku harus ke rumah papa untuk makan malam bersama."


"Baiklah, terimakasih untuk hari ini Joshie. Sampaikan salamku pada Errelly, aku akan mengunjunginya nanti."


"Tentu, akan kusampaikan. Dia sangat menyukai Ell dan berharap anak kami akan menggemaskan seperti putramu," Joshua tertawa ringan membayangkan betapa istrinya setiap hari memintanya membawa Ellion ke rumah mereka.


Joshua sudah menikah satu tahun yang lalu dengan wanita cantik bernama Errelly, seorang pengacara muda berbakat yang bekerja di bawah naungan firma hukum papanya. Dan Errelly sekarang sedang hamil.


"Baiklah, aku pergi sekarang. Sampai jumpa besok, Ell."


Dengan gemas Joshua mengusak rambut coklat Ellion sebelum berbalik dan melangkah pergi.


Tepat saat itu seorang pria dengan tatapan tajam dalam balutan kemeja biru muda berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


"Daddy!"


Seruan itu membuat si pria tersenyum dan melambai.


"Kau sudah akan pergi Joshua?" tanya Christ pada Joshua.


"Ya."


"Baiklah, terimakasih sudah mengantar Ellion."


Joshua mengangguk sebagai jawaban dan setelah menepuk bahu Christ sekali, Joshua berlalu meninggalkan mereka.


"Daddy! Daddy!"


Ellion sudah ribut menjulurkan badannya minta digendong oleh sang papa.


Christ menyambut tubuh kecil itu kemudian mengangkatnya tinggi ke udara membuat putranya itu tertawa senang.


"Kau tidak rindu pada Dad?" tanyanya sembari menciumi Ellion gemas.


"Rindu, Ell sangat rindu Daddy!"


"Benarkah?"


"Iya! Ell rindu sekali!"


Agatha yang sejak tadi hanya diam, tersenyum melihat interaksi keduanya.


"Hai," sapa Christ yang kemudian mengecup keningnya sekilas dan tersenyum.


"Hai juga, aku pikir kau tidak jadi datang. Leon mengatakan padaku kau sedang berada di tempat proyek yang baru."


"Iya, aku baru kembali dari sana."


"Kita pergi sekarang?"


"Ya, ayah pasti sudah menunggu."


Ketiganya melangkah meninggalkan taman menuju tempat parkir mobil.


Hari ini hari ulang tahun ayah dan mereka berjanji untuk makan malam bersama. Karena itulah Christ menjemput mereka di sini untuk berangkat bersama.


Ya, setelah kelahiran Ellion satu tahun yang lalu mereka berdua memutuskan untuk bercerai.


Perasaan Agatha yang terlanjur terluka parah itu butuh waktu untuk kembali sembuh. Dan sekalipun keputusannya saat itu menyakiti banyak pihak namun tak ada yang bisa menolak.


Agatha tidak munafik bahwa dia masih menghargai Christ namun perasaannya tak lagi tumbuh sebagai seorang istri karena rasa kecewanya jauh lebih besar. Dan baik Christ maupun Agatha memutuskan untuk menamai hubungan mereka sebagai teman.


Meski Christ masih sangat mencintai Agatha dan akan menunggu wanita itu bisa menerimanya kembali suatu hari nanti.


Keduanya tetap menjalin hubungan baik terutama mengenai pola asuh Ellion. Keduanya memainkan peran sempurna sebagai ayah dan ibu bagi Ellion hingga anaknya itu tak merasakan kurangnya kasih sayang.


"Mommy, apakah kita akan menginap di rumah kakek?" tanya Ellion antusias.


"Iya, kita menginap."


"Daddy juga kan?"


"Mm, maaf Sayang. Daddy ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Jadi Daddy tidak bisa menginap," jawab Christ penuh penyesalan.


Dia dan Agatha tinggal terpisah setelah bercerai namun akhir-akhir ini setelah Ellion beranjak besar, mereka sering menginap bersama di apartemen mereka hanya untuk membuat Ellion senang dan melihat bahwa orangtuanya baik-baik saja.


Mungkin terdengar aneh, mereka bukan lagi pasangan namun kadang tinggal bersama hanya untuk menyenangkan buah hati mereka.


Dan mungkin suatu hari nanti jika takdir mengijinkan, Christ berharap wanita yang menjadi hidupnya itu bisa sembuh dari luka yang digoreskannya. Berharap suatu hari nanti Agatha menerimanya kembali. Karena demu apapun dia akan menebus dosanya di masa lalu hanya untuk menbahagiakan Agatha dan Ellion.


Apa yang terjadi di masa lalu memang tak bisa diubah kembali.


Tapi masa depan selalu bisa berubah dengan apa yang kita usahakan hari ini.


Semoga suatu saat nanti itu segera tiba.


Semoga...


—END—


.

__ADS_1


Riexx1323.


__ADS_2