
...Tak ada yang salah dengan masa laluku. Semua hal yang kulalui adalah memori indah yang akan selalu menjadi film pendek dalam kepalaku....
...Dan bukan salah masa lalu jika aku masih berdiri diam menatapnya yang telah berlalu. Aku. Hanya aku yang bersalah disini karena terlalu enggan melepas semua kenangan itu....
...— Agatha —...
.......
.......
.......
Christ membuka matanya perlahan menatap langit-langit kamarnya dan merasakan kepalanya yang berat dan pusing. Napasnya juga berat seolah tertindih oleh sesuatu yang besar, lambat-lambat dia ingat sudah menghabiskan dua botol wiski milik Leon sendirian. Lengannya juga terasa kebas.
Apakah dia jatuh saat pulang dalam keadaan tidak sadar semalam?
Dia tidak ingat apapun selain emosi yang diluapkannya pada sepupunya kemarin.
"Good morning."
Suara halus yang menyapa telinganya membuat Christ menunduk dan mendapati Agatha sedang menatapnya dengan seulas senyum samar khas bangun pagi.
Mengerjapkan matanya beberapa kali, Christ menatap sosok yang bergelung dalam dekapannya itu. Sepertinya masih ada sisa-sisa dari ketidaksadarannya semalam dan membuatnya berhalusinasi. Namun pemikiran itu terpatahkan ketika sebuah kecupan ringan menyentuh bibirnya.
"Masih belum sepenuhnya sadar ya?"
"... Agatha?"
"Hm?"
Terkejut dengan kesadaran yang sepenuhnya sudah kembali, Christ buru-buru merubah posisinya setengah bersandar untuk melihat jelas apakah dia tidak sedang berkhayal.
"Sunshine, kau—apa yang terjadi? Bagaimana aku pulang semalam?" tanya Christ bingutng.
Tentu saja bingung karena semalam kekacauan hatinya berakhir dengan minuman beralkohol. Lalu bagaimana mungkin dia terbangun dengan Agatha dalam pelukannya ditambah istrinya itu tiba-tiba bersikap romantis dan sedikit manja begini?
Agatha kembali menyamankan dirinya dalam pelukan Christ yang balas memeluk meski dia masih bingung. Karena sejujurnya Agatha sendiri merasa malu maka dia memilih untuk tidak memandang suaminya itu dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Christ.
Agatha bisa merasakan jantung Christ berdetak dengan cepat berpacu dengan miliknya sendiri. Entah saling berpikir atau merasa malu mereka berdua diam beberapa saat lamanya. Merasakan ketenangan dalam peluk masing-masing.
"Em, Sunshine. Apa aku melakukan sesuatu...?" tanyanya ragu.
"Tidak. Leon susah payah mengantarmu pulang semalam, kau harus membalas kebaikannya," ucap Agatha.
Bukan itu maksud dari pertanyaan Christ. Apa yang terjadi semalam sampai dia terbangun dengan semua hal bahagia ini? Intinya adalah perubahan sikap istrinya.
"Agatha... kau tidak apa-apa kan?" tanyanya pelan penuh kehati-hatian.
"Tidak. Memangnya kenapa?"
"Em, kenapa—tiba-tiba begini? Maksudku bukannya aku tidak suka hanya saja, kau bersikap seperti ini..."
"I will try..."
"Apa?"
"I will try to love you, Christ."
Telinga Christ serasa berdengung mendengar kalimat Agatha barusan. Suara dunia seolah lenyap hanya menyisakan suara Agatha yang bergaung dalam kepalanya.
__ADS_1
Dia benar-benar tidak mimpi atau halusinasi kan?
Kalimat yang begitu ingin didengarnya selama ini.
Kalimat yang sempat dipikirnya akan mustahil diucapkan oleh Agatha kini didengarnya.
Christ tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan semua rasa senang dan bahagia dalam dirinya yang membuncah tinggi. Ribuan kupu-kupu serasa mengepakkan sayap mereka dalam dirinya dan menerbangkannya tinggi. Jangan tanya bagaimana dengan jantungnya. Serasa berdetak ribuan kali lebih cepat hingga napasnya ikut terasa sesak.
"Christ? Apa aku sudah terlambat mengatakannya?"
Agatha mendongak untuk menatap suaminya yang hanya terdiam.
Kedua manik mereka beradu dan dalam sepersekian detik Christ sudah memangkas jarak diantara mereka. Membalas pernyataan istrinya itu dengan kecupan-kecupan ringan berkali-kali.
"Tidak Sunshine, kau tidak terlambat. Kau tidak akan pernah terlambat karena sampai kapanpum aku akan selalu menunggumu," bisiknya disela-sela mengatur napas.
"Thank you, Agatha."
Dan Agatha tidak menyangka pria dihadapannya itu kini meneteskan air mata.
"Why are you crying, Christ?"
"Aku tidak tahu, aku hanya merasa sangat bahagia." jawabnya malu seraya mengusap sudut matanya. Rasa bahagianya begitu meluap.
Mendengar itu Agatha tersenyum, "I said give it a try to love you and you're already crying. Bahkan belum seratus persen meyakinkan bahwa aku akan mencintaimu."
"I don't care. Aku tahu kau pasti akan mencintaiku."
Agatha tertawa kecil melihat Christ yang tiba-tiba terlihat kekanakan. Entah kenapa setelah mengucapkan setengah pernyataan cinta itu, Agatha merasakan sedikit kelegaan dalam dirinya seolah sebuah beban diangkat dari hatinya. Mungkin memang benar bahwa selama ini dia sendiri yang mengikat hatinya pada beban yang besar dan memaksakan untuk tertahan disana.
Masih terlalu awal menyebutnya benar-benar mencintai Christ sekarang, tapi dia akan benar-benar mencoba untuk mencintai suaminya itu.
Keduanya tersenyum, kembali mengeratkan pelukan dan menyandarkan rasa satu sama lain. Dari sekian hari yang berlalu tampaknya hari ini akan menjadi satu hari yang paling diingat oleh keduanya.
"Tidak."
"Aku jadi tak ingin pergi ke kantor. Bagaimana denganmu?" tanya Christ masih dengan senyuman hangat di bibirnya.
"Tidak bisa. Aku ada meeting yang tidak bisa diwakilkan dan aku sudah ada janji dengan Joshua pergi ke Senna Rod."
Christ tampak kecewa mendengar penuturan Agatha, tapi kemudian kembali tersenyum.
"Berangkat lebih siang ya? Atau pulang lebih cepat?" tawarnya.
"Tidak bisa."
"Kenapa rasanya seperti kau menjatuhkanku setelah menerbangkanku ke langit?" gerutu pria itu.
"Jangan kekanakan. Kau juga harus bekerja dan temui Leon untuk berterimakasih."
"Baiklah, sepertinya memang harus begitu. Istriku sangat sibuk sepertinya."
"Kau satu-satunya CEO pemalas yang kukenal sering membolos."
Christ tertawa mendengarnya, "Itu kulakukan untukmu, Sunshine."
Tepat saat itu ponsel milik Christ yang ada diatas nakas bergetar menandakan panggilan masuk.
Dari Leon.
__ADS_1
Christ segera meraih benda pintar itu sementara Agatha beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap.
"Hm, ada apa?"
'Wah wah, lihat siapa yang mengangkat telepon dengan sapaan yang angkuh seperti itu? Tidak ingat dengan perbuatanmu semalam?' omel Leon di seberang sana.
"Iya iya maaf, bukan begitu maksudku. Ada apa?"
'Kau sudah mengecek pesan di ponselmu?' tanya Leon.
Christ mengernyit bingung, "Belum, kau mengirim pesan penting?"
Terdengar helaan napas tidak sabar dari Leon.
'Maaf, aku tidak bermaksud mengintip atau apa. Tapi semalam aku tidak sengaja membaca notifikasi pesanmu.'
"Lalu?"
'Kau benar-benar tidak membuka ponsel ya? Ada pesan dari Neona.'
Seketika fokus Christ berubah, dengan cepat dibukanya kotak pesan. Benar ada pesan dari wanita itu.
'Sudah lihat?'
"Ya."
'Lalu yang ingin kukatakan adalah wanita itu datang ke kantor. Dia bilang mau menunggumu.'
"Apa?" seru Christ tanpa sadar karena apapun yang berkaitan dengan Neona hanya membuat emosinya terpancing.
"Apa dia sudah gila? Katakan saja aku tidak akan datang ke kantor." gusarnya.
'Sudah kukatakan seperti itu. Tapi dia justru bilang akan menemui Agatha.'
"Tidak!" teriak Christ yang langsung beranjak dari tempat tidurnya. "Leon, lakukan apapun agar wanita sinting itu tidak menemui Agatha!" ucapnya penuh penekanan karena dia tidak mau Agatha mendengarnya.
'Dia bilang jika kau mau menuruti permintaannya maka dia akan diam. Intinya dia tidak suka kau mengabaikan pesan darinya.'
"Fucking ****!"
'Aku tidak tahu bagaimana kesepakatan kalian tapi sebaiknya kau segera datang. Atau Arthur akan tahu.'
Mereka menutup pembicaraan dengan Christ yang menahan diri untuk tidak kembali hilang kendali saat bersama Agatha dirumah.
Apapun itu dia tidak mau Neona bersinggungan dengan Agatha secara langsung. Dan dia akan melakukan apapun untuk mencegahnya.
Bahkan jika harus mengorbankan perasaannya untuk menuruti keinginan Neona.
Kenapa harus serumit ini?
Dia baru saja berbunga dan bahagia dengan Agatha, dan belum berselang beberapa jam kebahagiaan itu sudah terancam rusak.
Ini adalah salahnya.
Kesalahannya dari masa lalu yang mungkin akan terus mengejarnya.
.
.
__ADS_1
.
Riexx1323.