
...Tentang sebuah keyakinan yang dibangun dengan susah payah namun runtuh dalam sekejap....
.......
.......
.
Agatha sedang bersiap pagi itu ketika melihat Christ terburu-buru keluar dari kamar dengan raut wajah yang tegang. Tidak biasanya Christ begitu.
"Ada apa?"
"Aku ada urusan mendadak, maaf sepertinya aku tidak bisa mengantarmu ke kantor lebih dulu, Sunshine."
"Tidak masalah."
Christ berhenti sejenak di depan pintu kamar menoleh menatap Agatha yang sedang sibuk di depan kaca. Langkah kakinya mendekat membawanya kini tepat berada di belakang wanita itu dan memeluknya erat.
Tentu saja yang dipeluk terkejut namun bukan Agatha namanya jika yang ditampilkan hanya ekspresi datar.
"Kenapa?" tanyanya menatap pantulan Christ dari cermin.
"Tidak, aku hanya merasa sangat rindu padamu," bisik pria itu sembari menenggelamkan wajahnya di bahu sang wanita dan mengecup lehernya pelan.
Agatha memutar bola matanya jengah, "Kita beru saja tidur bersama dan menghabiskan banyak waktu bersama disini. Jangan katakan hal-hal menggelikan seperti itu Christ."
"Tapi aku benar-benar rindu padamu."
"Urusan mendesakmu sudah menunggu, cepatlah pergi."
Tersenyum lalu mengecup sekilas bibir Agatha, Christ kemudian benar-benar beranjak pergi meninggalkan Agatha yang masih diam dengan rona merah di pipinya.
Sebenarnya banyak hal yang ingin ditanyakannya pada Christ seusai pertemuannya dengan Neona beberapa hari yang lalu. Namun Agatha belum menemukan waktu yang tepat karena kesibukannya dan lagi akhir-akhir ini Christ sering pulang larut malam.
Agatha bukan seseorang yang mudah terhasut sekalipun dia sudah mendengar dari Neona namun dia perlu memastikanya sendiri dengan Christ nanti. Dia tidak ingin berburuk sangka apalagi setelah dengan susah payah dia mulai percaya dengan pria itu. Mengingat satu tahun awal-awal pernikahan mereka Agatha sama sekali belum bisa meletakkan kepercayaan itu pada Christ. Kepercayaannya tidak boleh rusak sekarang kan?
Melihat jam di tangannya yang menunjukkan waktu 09.17 pagi, Agatha kemudian beranjak dan bersiap pergi untuk menjemput sahabatnya. Hari ini seharusnya Joshua sudah kembali dari RedSky dan dia ingin menyambut sahabatnya itu. Tiga hari tanpa Joshua di sampingnya terasa membosankan. Agatha sebenarnya agak heran karena sehari kemarin Joshua sama sekali tidak menghubunginya dan tidak menjawab pesan atau panggilannya. Tidak biasanya Joshua pergi tanpa kabar apapun.
.
.
.
Agatha baru menghentikan mobil ketika Joshua dilihatnya sudah berjalan keluar dari area bandara. Tentu saja sahabatnya itu akan memilih untuk menggunakan transportasi umum daripada memanggil sopir. Untung saja Agatha sudah hapal dengan sifat Joshua itu karenanya dia ada di sini sekarang. Dibunyikannya klakson tiga kali membuat pria tampan dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya itu menoleh. Dan saat menyadari mobil BMW i8 Roadster berwarna putih berjalan pelan di sampingnya, Joshua langsung berhenti untuk mengetuk kacanya.
"Sedang apa sih di sini?" tanyanya saat kaca mobil terbuka menampakkan wanita cantik dengan rambut coklatnya tengah menatapnya datar.
"Masuk."
Satu kata yang langsung dituruti oleh Joshua karena pria itu langsung duduk di samping kemudi. Membiarkan wanita cantik itu melajukan mobilnya kembali.
"Aku bahkan tidak memberitahumu kapan aku pulang."
"Sudah jelas kan? Kau pasti pulang dengan penerbangan pertama. Sekalipun tidak kau katakan aku sudah tahu," Agatha melirik kearah sahabatnya itu yang tidak seperti biasanya.
"Apa terjadi sesuatu di sana? Aku tidak mendapat laporan apapun," tanyanya heran.
__ADS_1
"Tidak ada. Semuanya berjalan dengan baik di sana."
"Lalu kenapa wajahmu begitu?"
Joshua tersenyum mendengar sahabatnya itu menggerutu, " aku hanya sedikit lelah."
Bohong.
Sejak mengetahui fakta yang sebenarnya tentang Christ, Joshua sedikit tidak nyaman untuk berhadapan dengan sang sahabat. Itulah sebabnya dia tidak menghubungi Agatha sama sekali sejak kemarin. Dia sendiri terlalu rumit pada kemungkinan-kemungkinan yang bisa bermunculan dalam pikirannya.
"Padahal aku sengaja menjemputmu karena aku sudah sangat rindu padamu. Tapi sepertinya aku harus membiarkanmu istirahat hari ini. Apa aku ikut istirahat juga ya di apartemenmu?"
"Mana ada bos seperti itu? Tidak bisa. Kau harus pergi ke kantor. Kasihanilah Carren yang terus-terusan menyesuaikan penggantian jadwalmu selama aku tidak ada."
"Aku bisa melakukan apapun yang kumau. Lagipula mana ada bos yang menjemput asistennya seperti aku ini?" gerutunya tidak terima.
"Jadi sekarang aku hanya asisten bagimu?"
Agatha menoleh cepat untuk membantah, "Tidak! Tentu saja kau akan selalu menjadi Joshuaku! Bukan begitu maksudku."
"Iya iya, aku tahu," Joshua tertawa kecil dengan satu tangan terulur untuk mengusak surai coklat itu membuat si pemilik mencebik kesal namun membiarkannya.
"... Agatha?" panggil joshua pelan.
"Hm?"
"Kau percaya bahwa aku sangat menyayangimu kan? Kau percaya padaku kan?" tanyanya yang mendapat tatapan heran dari sang sahabat.
"Kenapa masih bertanya, tentu saja."
"Nanti siang aku akan datang, " ucap Agatha setelah Joshua turun, dan setelah melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Joshua, kini Agatha jadi berpikir tentang banyak hal.
Kenapa banyak hal yang tiba-tiba mengganggu pikirannya?
Ini tidak seperti dirinya yang dulu.
Christ dan Joshua.
Ada apa dengan mereka berdua?
.
.
.
Joshua menghempaskan dirinya di sofa ruang tengahnya setelah meninggalksn kopernya begitu saja di depan pintu kamarnya.
Dia tidak tahu bagaimana mulai bicara pada Agatha tentang masalah ini. Dia tidak ingin dicap sebagai seseorang yang merusak hubungan rumah tangga sahabatnya sendiri. Sebenarnya ada satu hal yang ingin dia lakukan yaitu menemui Christ secara langsung dan meminta penjelasan dari pria itu.
Meraih ponselnya di atas meja Joshua berniat menghubungi Christ untuk bertemu dan meminta peenjelasan.
Tepat sebelum jarinya menekan panggilan pada Christ, ada panggilan lain yang masuk ke ponselnya.
Dari Gabriel.
Ah, apa seharusnya bilang dulu pada Gabriel ya? — batinnya.
__ADS_1
"Hai, Gab."
'Hei Josh. Kau sudah kembali?'
"Ya, baru saja. Kau menghubungiku untuk menanyakan itu?"
'Aku ini khawatir padamu, kau sudah melakukan banyak hal dan seharusnya kau mendapatkan cuti.'
"Hahaha... aku sedang cuti hari ini."
'Ah... kau sudah bertemu Agatha?'
"Sudah, tadi dia menjemput."
Gabriel diam sesaat setelah mendengar jawaban Joshua.
'Kalian masih bersama sekarang?'
"Tidak. Aku menyuruhnya segera pergi setelah mengantar. Ada apa?"
'Tidak. Kukira kalian bersama.'
Ada jeda yang canggung diantara mereka yang sama-sama terdiam.
"Gabriel..."
'Ya?'
"Bisakah kita bertemu hari ini?"
'Oh–tentu. Tapi kau bilang sebelumnya sedang istirahat.'
"Tidak apa-apa. Ada yang harus kubicarakan denganmu."
'Ah, baiklah. Aku akan datang ke apartemenmu.'
"Baiklah."
'Sampai nanti, Josh.'
Setelah telepon itu terputus, kedua orang di ujung sambungan sama-sama diam.
Joshua tahu keputusan ini cukup beresiko karena pembahasan ini cukup dalam dan berat. Bicara pada Gabriel mungkin tidak mudah tanpa membuat sahabatnya itu berpikir buruk atau malah menudingnya sebagai perusak hubungan adiknya. Tapi penting bagi Joshua untuk mencari kebenaran dan klarifikasi. Semuanya untuk Agatha. Demi kebahagiaan sahabat tercintanya.
Dan di sisi lain Gabriel tahu apa yang akan dibicarakan oleh Joshua. Suara Joshua terdengar serius dan berbeda. Sahabatnya itu sudah pasti akan membicarakan tentang masa lalu Christ. Dan dia tidak punya jawaban seandainya Joshua meledak dalam kemarahan karena dalam kasus ini dia ikut terlibat.
Sama-sama menanggung perasaan tidak nyaman kedua pria itu memantapkan hati untuk saling bertemu sebentar lagi.
Apapun itu cepat atau lambat harus dihadapi dan diselesaikan, bukan?
.
.
.
Riexx1323.
__ADS_1