Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Pagi itu


__ADS_3

Aku tidak suka mengakrabkan diri dengan orang asing. Karena itu menjauhlah dariku.


.


.


.


Agatha bergerak pelan saat dirasa kakinya terasa kebas. Dengan cepat dia menyadari dirinya tertidur dalam mobil-oh astaga, dia masih di mobil Christopher Winston!


Agatha melirik jam di pergelangan tangannya dan matanya terbelalak menyadari kebodohannya.


"Oh ****!" umpatnya yang kemudian bergegas keluar dari mobil.


"Kau sudah bangun?"


Agatha menoleh ke arah sumber suara dan mendapati pria itu tengah berdiri bersandar pada bagian belakang mobilnya sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Kau! Bukankah aku sudah jelas mengatakan untuk mengantarku pulang tuan Winston?"


"Aku memang mengantarmu pulang, lihat," ucapnya melayangkan tangan menunjukkan bahwa memang sekarang mereka berada di area parkir basement apartemen Agatha.


"You're fucking ****! Bukankah seharusnya kau membangunkanku? Bukan malah membiarkanku tidur di dalam mobilmu seperti itu!" sembur Agatha kesal dan malu.


"Astaga, Agatha. Kenapa kau harus semarah ini? Aku tidak tega membangunkanmu yang tidur begitu nyenyak, aku bisa saja menggendongmu dan membawamu naik karena aku juga bisa masuk ke dalam dengan akses pribadiku. Aku hanya menghormati keinginanmu untuk tidak sembarangan menerobos privasimu. Aku hanya mencoba menuruti dan memahamimu Agatha."


Sementara Christopher Winston menjelaskan panjang lebar, Agatha diam sembari mengurut keningnya yang pusing dengan situasi sialan yang terjadi. Dia merutuki dirinya sendiri yang malah tertidur nyenyak hingga pagi dalam mobil Winston. Tanpa mengatakan apapun lagi, Agatha berbalik untuk masuk.


"Tidak mau menawariku secangkir kopi pagi? Aku sangat butuh asupan kafein karena semalaman mengemudi dan tidak tidur."


Agatha menghela napasnya kasar kemudian menoleh menatap pria yang kini balas menatapnya dengan tatapan innocent, lalu memberi isyarat pada pria itu untuk mengikutinya masuk.


Dan seulas senyum penuh kemenangan terukir di bibir Christopher yang melangkahkan kakinya menyusul Agatha memasuki lift.


Kini Agatha sedang sibuk di dapurnya membuat secangkir kopi. Dia tidak habis pikir kenapa dirinya berada di situasi tak masuk akal ini, kenapa dia sekarang malah mengajak pria yang sudah membobol masuk rumahnya di pertemuan pertama mereka ini masuk.


Winston lebih gigih dalam usahanya yang sudah jelas ditolak olehnya dan harusnya pria itu sudah pergi karena tersinggung dengan sikap buruk yang sengaja dia tunjukkan. Namun kenyataaannya Winston masih berusaha mendekatinya bahkan terang-terangan meyakini bahwa Agatha adalah calon istrinya.


Terdengar bunyi kunci password pada pintu yang kemudian terbuka, membuat keduanya menoleh kearah pintu.


"Good morning, Agatha. Aku membawakanmu sandwich spesial buatanku untuk sarap-an..." ucap Joshua memelan ketika dirinya masuk dan melihat pemandangan tak terduga dari dua orang yang tidak mungkin bersama di jam sepagi ini.


"Emm, am I interrupt something?" tanyanya pelan masih berdiri di antara dapur dan ruang tengah. Keningnya mengernyit penuh tanya dan merasakan suasana hening yang tidak menyenangkan.


"Morning, Joshie. Kau tidak mengganggu apapun yang sedang kau pikirkan di dalam kepalamu itu," jawab Agatha memecah keheningan, sementara Christopher tertawa kecil mendengarnya.


Agatha memberikan kopinya pada Winston sementara Joshua melihat interaksi kedua orang itu dengan bingung. Dia mengeluarkan sandwich yang dibuatnya dan menatanya di meja makan.


"Kalian yakin aku tidak mengganggu?" tanya Joshua lagi dengan ragu.


"Tidak. There's nothing happened between us dan berhentilah berpikir macam-macam, aku lapar," sungut Agatha.


"Untung aku membawa beberapa potong sandwich, aku tidak tahu kalau tuan Winston ada disini. Harusnya kau memberitahuku Agatha."

__ADS_1


"Untuk apa? Dia tidak sengaja berada disini dan akan segera pergi setelah menghabiskan kopinya," tukas Agatha.


"Kau tidak ingin menawariku sarapan bersama, Agatha? Sepertinya sandwich buatan tuan Sanders sangat enak."


"Kuharap kau segera pergi tuan Winston dan aku tidak mau berbagi sandwichku denganmu," mendengar itu kedua pria itu sontak terkekeh geli, tidak menyangka mendengar hal kekanakan itu dari seorang Agatha sekalipun dia mengatakannya


dengan ketus.


"Aku membawa lebih jika tuan Winston mau bergabung untuk sarapan pagi," tawar Joshua.


"Tidak boleh."


"Baiklah, aku mengerti dan sepertinya aku juga harus segera pulang mengingat semalaman aku terjaga. Terimakasih untuk kopinya dan juga untuk semalam," ucap Winston dengan nada ambigu membuat wanita itu mendelik tajam ke arahnya.


Menggoda Agatha adalah sesuatu yang cukup menyenangkan baginya. Sepertinya ini akan jadi hobi baru untuknya.


Setelah kepergian Winston, Agatha mendapat tatapan menyelidik tajam dari Joshua.


"Jadi ada yang ingin kau jelaskan padaku Agatha?"


Yang ditanya hanya mendengus kesal kemudian mulai menyantap sandwich di hadapannya.


"Agatha Anderson."


"Oh God, Joshie tak bisakah kau biarkan aku menikmati sarapanku sebentar? Aku sangat lapar," rengeknya ketus tapi manja, sisi dirinya yang hanya dia tunjukkan di hadapan Joshua, Gabriel dan ayahnya.


Joshua menghela napasnya kemudian menyodorkan segelas air putih dan susu di hadapan sahabatnya itu. Sudah lama dia tidak melihat seorang Agatha


"Kau tidak makan?"


"Aku sudah sarapan tadi dirumah, dan aku sengaja membawa sandwich ini memang untukmu," Joshua beranjak untuk membuat kopi untuk dirinya sendiri.


Jangan heran jika Joshua bebas keluar masuk dan melakukan ini itu di rumah Agatha karena ini semua sudah menjadi kebiasaannya mengurus Agatha sejak keduanya masih mahasiswa bahkan saat dulu Agatha masih tinggal di mansion keluarga Anderson.


"Semalam terjadi kecelakaan kecil."


"Kalian mabuk dan tidur bersama?" tanya Joshua yang kini mengendusi Agatha mencari bau alkohol namun nihil. "Kau tidak mabuk dan tidak ada bau parfum pria di tubuhmu."


"Brengsek! Berhenti mencurigaiku begitu, Josh!"


"Kau kenapa?" Joshua kini berbalik dan menatap sahabatnya itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Siapa yang kecelakaan?"


"Ban mobilku kempis tepat 15 menit setelah aku menyuruhmu pulang."


"Kenapa tidak menghubungiku?"


"Itu hal pertama yang terlintas di kepalaku tapi aku juga tidak tega harus memanggilmu kembali."


"Lalu?"


"Dia tiba-tiba datang dan menawariku tumpangan," Agatha kini sudah menghabiskan dua sandwich buatan Joshua dan sedang meminum


susunya.

__ADS_1


"Kau begitu saja menerima tawarannya? Setelah semua hal yang dia lakukan akhir-akhir ini, kau tidak curiga dia membuntutimu dan


sengaja menolongmu dengan maksud tertentu?" Joshua membawa kopinya dan duduk di samping Agatha, menatap heran sahabatnya yang bersikap tidak biasa.


"Aku sempat berpikir dia sengaja membuntutiku tapi aku sangat yakin jika aku sendirian di sepanjang jalan, dan dia datang setelah hampir beberapa saat aku disana. Aku tidak ingin menerima bantuannya tapi itu sudah lewat tengah malam dan aku tidak ingin menghubungi Gabriel hanya untuk mendapatkan omelannya."


"Jadi kau memilih menerima tawaran tuan Winston?"


"Tidak ada pilihan lain saat itu," mendengar jawaban Agatha, Joshua menaikkan alisnya dan kemudian beranjak untuk membereskan bekas kopi dan sarapan mereka.


"Dan hal menyebalkan lain adalah perutku berbunyi kelaparan yang membuatnya memaksaku pergi ke sebuah restoran."


"Hah?" Joshua yang sudah menuju dapur kini menghentikan langkahnya untuk menatap Agatha, "Dia membawamu kemana?"


Agatha memutar bola matanya melihat reaksi Joshua yang sebenarnya sudah bisa diprediksinya. "Dia membawaku ke sebuah restoran yang buka 24 jam milik salah satu kenalannya."


"Oh, aku belum pernah dengar ada restoran seperti itu disini."


"Letaknya berada di pinggiran kota dan sepertinya hanya populer untuk kelompok tertentu."


"Dan kau mau ikut begitu saja mengikutinya ditengah malam? Astaga Agatha! apa yang terjadi dalam semalam? Ini tidak seperti dirimu."


"Aku terpaksa mengikutinya, TERPAKSA. Dan apakah aku ada pilihan lain pada lewat tengah malam?" balas Agatha yang tidak terima dituduh seperti itu oleh sahabatnya.


"Baiklah baiklah, kau terpaksa mengikutinya, lalu kalian pulang jam berapa?" ujar Joshua yang akhirnya mengalah, tidak ingin berdebat dengan Agatha sepagi ini.


"Mungkin hampir setengah tiga pagi? Aku sendiri tidak yakin karena aku sudah sangat lelah dan kau tahu bagian terburuknya? Aku tertidur di mobilnya sampai pagi tadi."


"APA?! Kau sudah gila Agatha?! Ini bukan dirimu sama sekali, oh tidak—" Joshua kini menatap sahabatnya itu dengan tidak percaya.


Seorang Agatha yang tidak mudah luluh dengan kebaikan atau sikap manis dari orang lain khususnya yang baru dikenalnya mau begitu saja menerima bantuan dan lengah sampai tertidur?!


"Kau yakin kalian tidak melakukan apapun?" tuntut Joshua dengan pandangan curiga.


"TIDAK! Hentikan pikiranmu yang sembarangan itu Josh! Aku hanya tertidur kemudian terbangun dalam keadaan utuh tanpa kurang apapun. Dan lagi aku bukan wanita bodoh yang tidak menyadari jika terjadi hal buruk pada diriku sendiri," sungut Agatha kesal, dia menyesal sudah menceritakan hal menyebalkan ini pada Joshua.


"Jadi itu sebabnya dia ada dirumahmu pagi ini?"


"Hmm, secangkir kopi terimakasih katanya," Agatha menghela napas, meletakkan kepala diatas lengan.


Joshua berangkat ke kantor lebih dulu. Dan saat ponselnya bergetar diatas meja Agatha kembali terkejut, itu pesan dari Christopher Winston mengatakan bahwa mobilnya akan diantar nanti oleh orang suruhannya setelah diperbaiki bannya.


Sekali lagi Agatha menghela napas panjang. Sejauh apa pria ini berusaha memasuki hidupnya?


Christopher Winston bukan orang sembarangan yang bisa begitu saja disingkirkannya.


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2