
...Bertemu denganmu memang sesulit itu. Aku harus berada di persimpangan antara hidup dan mati agar bisa melihatmu....
.......
.......
.......
Sinar terang menyambut begitu Agatha membuka mata. Sedikit menyilaukan sebelum matanya membiasakan diri.
'Dimana? Ah... rumah madam Anna' — batin Agatha saat menyadari keberadaannya.
Sebuah sentuhan lembut di lengannya membuatnya menoleh dari posisinya yang tertidur di ruang tamu.
'Kau sudah bangun?' tanya pemuda pemilik senyum hangat itu dengan gerakan tangannya.
"Mm iya, kenapa tidak membangunkanku? Dimana yang lain?" tanyanya beranjak duduk dengan benar agar si pemuda bisa mengambil tempat di sampingnya.
'Maaf, kau terlihat begitu lelah. Aku tidak tega membangunkanmu. Mereka semua sudah tidur, kata madam Anna kau boleh menginap karena ini sudah terlalu malam,' ucap si pemuda masih dengan wajah lembut yang penuh ketulusan.
"Sekarang pukul berapa?"
'Pukul 10 malam. Kau mau pulang? Aku bisa mengantarmu.'
Agatha terdiam dan menimbang, ya dia berada di rumah ini setelah acara kunjungan kesehatan tadi siang. Dia langsung kemari begitu pulang dari kampus untuk membantu. Dia sangat suka berada di sini yang baginya lebih hidup dan terasa seperti rumah.
"Aku sebenarnya ingin menginap tapi ayah dan Gabriel pasti akan membunuhku nanti, kau tahu kan bagaimana mereka?" tanyanya yang dijawab oleh cengiran lebar pria disampingnya.
'Jangan bicara begitu, itu bukti bahwa mereka sayang padamu dan menjagamu dengan baik.'
"Menjaga apanya? Mengurung sih iya."
'Baiklah, ayo kuantar.'
"Tunggu dulu Mikael, kenapa buru-buru? Lagipula aku akan minta Joshua menjemput saja," ucapnya yang kemudian mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Joshua.
Agatha masih ingin berlama-lama bersama pemuda ini dan rasanya setiap dia bersama Mikael perasaannya selalu menjadi lebih ringan dan tidak khawatir tentang apapun. Seolah keberadaan Mikael adalah perlindungan terbaik.
"Kau tidak tidur?" tanyanya saat pemuda itu kini malah menatapnya.
'Nanti saja, aku belum mengantuk. Aku boleh bertanya sesuatu?'
"Apa?"
Mikael tampak ragu dan setelah menimbang sejenak, pria itu menggerakkan tangannya lagi, 'Kenapa kau mau berteman denganku?' setelah melontarkan pertanyaan itu Mikael tampak tidak nyaman namun melanjutkan.
__ADS_1
'Maksudku kenapa aku? Kau memiliki reputasi yang bagus berdasarkan pengamatanku akhir-akhir ini. Banyak yang bisa menjadi temanmu.'
Agatha tampak berusaha memahami pertanyaan Mikael sebelum memposisikan dirinya duduk menghadap pemuda itu.
"Apa kau tidak suka berteman denganku?" tanyanya pada akhirnya dan dijawab dengan gelengan buru-buru dari Mikael.
'Bukan! Bukan itu maksudku, aku senang berteman denganmu Agatha, hanya saja aku penasaran kenapa gadis sepertimu mau berteman denganku yang... yah kau tahu, aku hanya anak yang dibesarkan di rumah panti dan aku tidak bisa bicara.'
Agatha terdiam, dia tidak pernah membayangkan Mikael akan berpikir seperti itu. Apa pemuda di hadapannya ini sedang merasa insecure? Kenapa? Apa dia tampak tidak tulus selama berada di samping Mikael?
"Kenapa kau berpikir begitu? Aku memilih orang-orang yang menjadi temanku. Dan kalau kau sudah mengamatiku, jumlah orang-orang itu tidak banyak," mendengar itu Mikael tersenyum tipis namun pandangannya kini menunduk menatap pada jemarinya yang saling bertaut.
"Kau termasuk di dalamnya, dan itu artinya kau orang yang spesial."
'Bukan karena kau kasihan padaku? Atau kau tertarik karena latar belakangku yang berbeda?'
Agatha mengerjap, sungguh sepertinya Mikael sedang aneh. Pemuda ini selalu berpikiran postif dan jarang memikirkan persepsi orang lain atas dirinya. Kenapa sekarang dia seperti ini?
"Kenapa kau berpikir begitu, apa aku terlihat tidak tulus padamu?" kali ini Agatha bertanya dengan perasaan sedikit sesak, jika benar Mikael berpikir begitu tentangnya.
'Justru karena kau tulus. Banyak hal yang lebih baik dariku di luar sana, tapi kau justru ada disini bersamaku.'
Mikael kini menatap lurus pada manik coklat Agatha, 'Aku takut berharap lebih pada ketulusanmu, Agatha.'
Dan kalimat yang disampaikan oleh pemuda itu membuat Agatha terperangah. Selama ini yang ditemui Agatha dalam hidupnya adalah orang-orang yang selalu berharap lebih padanya, mengharapkan hasil dan ekspektasi tinggi hanya karena dia seorang Agatha Anderson. Orang-orang yang hanya ingin mendapat keuntungan darinya dan kadang terang-terangan meminta bantuan darinya. Namun pemuda di hadapannya ini justru takut karena berharap padanya?
Pemuda di hadapannya menggeleng pelan, "Itu karena kau berbeda. Berbeda dalam arti yang ribuan kali lebih baik dari mereka semua. Seperti itulah yang kulihat dari dirimu."
'Tapi aku bukan orang seperti itu. Aku hanya pemuda cacat yang kuliah dengan dana beasiswa dan juga tinggal di rumah panti tanpa orangtua. Aku bukan orang spesial seperti pemikiranmu, Agatha.'
"Mikael, kau berpikir begitu? Apa kau tidak percaya bahwa aku tulus padamu? Aku tidak memandangmu dengan cara yang kau katakan sebelumnya."
"Karena di mataku, kau adalah orang yang baik, kau melihatku apa adanya dan kau mengajarkan begitu banyak hal baru tentang kehidupan padaku."
'Seperti itukah kau menilaiku...?'
Agatha mengangguk sebagai jawaban. Matanya menatap lurus pada pemuda di hadapannya yang tampak masih ragu. Mungkin memang banyak orang yang mempertanyakan hubungan mereka yang semakin dekat.
Agatha sadar banyak yang membicarakan dirinya di belakang tanpa sadar bahwa sebenarnya Agatha tahu semua. Jauh sebelum ini, orang-orang itu sudah banyak yang mengkritisi kedekatannya dengan Joshua apalagi sekarang dia dekat dengan Mikael. Pemuda tuna wicara dari sebuah panti asuh dan kuliah dengan ditanggung beasiswa. Pasti semakin banyak yang mengatakan bahwa dia dekat dengan Mikael hanya sebatas rasa kasihan, mencari perhatian melalui pertemanan.
Dan karena rumor-rumor itulah Agatha memilih siapa yang bisa menjadi temannya. Karena kebanyakan dari mereka hanya ingin berteman dengannya untuk mencari keuntungan.
Fake friend, fake people.
Tapi Mikael berbeda dan Agatha menyukainya.
__ADS_1
"Aku bisa janji padamu bahwa aku akan selalu bersamamu Mikael," ucapnya sembari mengulurkan tangannya pada Mikael.
'Janji...?'
"Ya, aku tidak pernah bohong dan selalu menepati janji."
Pemuda itu meraih tangan Agatha dengan lembut namun kemudian meletakkannya kembali di pangkuannya.
'Jika kau mengatakan hal seperti ini, aku justru semakin berharap padamu. Aku hanya takut terluka karena harapanku itu.'
'Jika kau baik padaku... aku takut akan menyukaimu dan jatuh cinta padamu, Agatha.'
'Maaf jika mendengar hal ini membuatmu tidak nyaman padaku. Aku hanya—'
Mikael tidak sempat melanjutkan gerakan tangannya untuk bicara saat tiba-tiba gadis di hadapannya itu memeluknya erat.
"Kau boleh berharap padaku. Kau boleh jatuh cinta padaku," bisik Agatha.
Mikael membeku sesaat, tidak yakin apakah ini nyata atau hanya imajinasinya saja. Namun saat dirasakannya lengan gadis itu semakin erat memeluknya, tangan Mikael perlahan naik dan membalas pelukan itu dengan jantungnya yang berdebar tidak karuan.
Keduanya terdiam cukup lama dengan posisi yang sama. Masing-masing dari mereka sibuk meyakinkan diri.
Agatha lebih dulu melepas pelukannya dan menatap Mikael yang masih sedikit ragu.
"Kau mau jadi satu-satunya orang spesial bagiku?" tanyanya sedikit kaku karena sungguh ini pertama kalinya dia menyukai seseorang hingga menyatakannya seperti ini.
"Bolehkah...?"
Sekali lagi Agatha mengangguk, sebenarnya dia gugup namun dia tidak ingin terlihat begitu dan mengatur ekspresinya agar tetap biasa.
"Aku Agatha Anderson, mulai hari ini adalah kekasih dari Mikael Olivander.
Dan kalimat itu mampu membuat Mikael begitu terkejut, hingga sekali lagi Agatha memeluknya untuk meyakinkan bahwa dia bersungguh-sungguh.
"Kau tahu, aku tidak pernah dekat dengan pria manapun kecuali Joshua. And I think you're my first now."
Tidak bisa membalas dengan bahasa isyarat, Mikael hanya mengangguk sebagai jawaban. Sebuah senyuman yang indah kini terukir di bibir pemuda itu, menyiratkan kebahagiaan yang kini dirasakannya. Dipeluknya erat tubuh gadis yang baru menyatakan cinta padanya itu.
Semoga Tuhan tidak bercanda mengirimkan sosok Agatha untuknya.
.
.
.
__ADS_1
Riexx1323.