Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Kecemasan dan Perhatian


__ADS_3

..."You've made a fool of everyone, ...


...well it seems like such fun, Until you lose what you had won"....


...— Look What You've Done — Jet...


.......


.......


.......


Christ mengutuk dirinya dalam perjalanan pulang dari pertemuan dengan Neona. Kepalanya terasa seakan mau meledak karena dia sudah menahan emosinya sejak tadi dengan susah payah, napasnya yang memberat susah payah diaturnya agar normal kembali.


Brengsek.


Kalimat yang terus berulang di dalam kepalanya, membuat usahanya meredam emosi tidak berguna karena bayangan-bayangan buruk berputar di dalam kepalanya.


Bagaimana dia akan menghadapi Agatha setelah ini?


Dia ingin segera pulang menemui istrinya namun dia juga merasa takut jika Agatha curiga. Tapi apakah Agatha akan sepeduli itu padanya? Peduli atau tidak yang jelas ketakutan Christ tentang ancaman Neona tidak main-main. Selama ini dia sudah bersusah payah untuk melupakan masa lalu buruknya, dia sudah merasa tenang sejak Neona pergi dari hidupnya bertahun-tahun yang lalu hingga wanita itu kembali lagi dalam hidupnya.


Kenapa harus sekarang, saat hubungannya dan Agatha mulai membaik.


Frustasi, Christ menghentikan mobilnya di tepi jalan. Menyandarkan kepalanya pada kemudi.


Apakah ini karma untuknya?


Apakah dia tidak boleh merasa bahagia karena telah merebut kebahagiaan orang lain ?


Tangannya perlahan bergerak menghubungi seseorang yang akan selalu jadi tempatnya bersandar dan berkeluh kesah.


"Leon..." seraknya tak bertenaga.


'Christ? Ada apa, kenapa suaramu begitu?'


Ah, sepupunya ini memang selalu bisa diandalkan dalam keadaan apapun. Padahal Christ sengaja tidak memberitahukan masalah kembalinya Neona pada Leon. Tapi pada akhirnya percuma karena dia pasti akan bicara pada Leon seperti sekarang. Christ tidak berani mengeluh pada Arthur karena dia tahu kakaknya itu pasti akan memberikan tindakan tegas padanya seperti sebelumnya. Dan Christ sedang tidak mau dimarahi saat ini.


'Halo? Christ? kau masih ada disana kan?' suara Leon kembali menyadarkan Christ dari lamunannya.


"Ya, aku masih disini... Leon kau ada di apartemen? Aku kesana ya?"


'Kenapa harus bertanya? Kau selalu datang tiba-tiba tanpa peduli aku sedang sibuk atau tidak selama ini.' protes sepupunya itu di seberang sana.


"Hm, aku kesana kalau begitu," lalu Christ kembali melajukan mobilnya menuju apartemen sepupunya itu.


.......


.......


.......


Sudah hampir tiga jam sejak sepupunya itu datang padanya dengan suasana hati berantakan.


Christ sudah menceritakan segalanya, Leon cukup terkejut karena dia sendiri tahu masa lalu sang sepupu yang susah payah dikubur.


Dia mengira setelah pertengkaran hebat mereka dengan Neona dan pembatalan pertunangan, wanita itu tidak akan pernah kembali ke negara ini lagi.


Leon merasa marah saat Christ menceritakan apa yang akan dilakukan oleh Neona dan ancamannya jika Christ tidak mau menurutinya. Wanita itu semakin gila rupanya.


Menatap sedih dan juga khawatir pada Christ yang kini terlelap setelah meminum dua botol wiski, Leon beranjak untuk mengambilkan selimut. Tepat saat itu notifikasi pesan dari ponsel Christ menyala.


Dari Neona.


^^^Datang ke tempat yang kutentukan besok.^^^

__ADS_1


^^^Kau harus menuruti keinginanku kan? See you, Babe.^^^


Leon menggertakkan giginya geram. Bagaimana mungkin wanita itu begitu tidak tahu malu? Dia harusnya tahu Christ sekarang adalah suami orang. Mendecak kesal Leon berniat untuk membicarakan hal ini dengan serius nanti setelah sepupunya itu sadar nanti.


Leon baru melangkahkan kaki ketika ponselnya sendiri berdering.


Dari Agatha.


"Agatha, tidak biasanya kau menghubungiku duluan. Ada apa?"


'Maaf mengganggumu tiba-tiba, Leon. Apa kau tahu Christ ada dimana? Dia tidak membalas atau menjawab panggilanku.'


"Jadi kau khawatir padanya?"


'Tidak juga. Ini sudah hampir tengah malam, aku hanya ingin memastikan keadaannya,' jawab Agatha dengan suara yang diusahakannya terdengar biasa dan acuh.


Leon tersenyum menyadari perhatian Agatha pada sepupunya. Setidaknya Agatha peduli pada Christ.


"Dia ada di apartemenku. Sedang tertidur," jawabnya jujur.


'Oh, baiklah. Jadi dia tidak akan pulang?'


"Sepertinya begitu, lagipula dia dalam keadaan tidak mabuk pasti tidak bisa menyetir."


'Bukankah kau bilang dia tidur? Jadi mana yang benar?'


Leon tertawa kecil, "Dia memang tertidur karena mabuk. Jangan khawatir, dia minum karena pekerjaan kami hari ini sangat melelahkan," jawabnya dengan sedikit berbohong.


'Baiklah kalau begitu,' jawab Agatha yang kemudian terdiam ragu, 'Leon...'


"Ya?"


'Apa aku perlu mengirim sopir kesana?'


'Oh, okay. Thanks Leon.'


Setelah Agatha memutus sambungan telepon, Leon mengurungkan niatnya untuk mengambil selimut.


"Sepertinya istrimu sudah mulai jatuh cinta padamu, Christ."


"Besok kau harus membayar untuk kebaikanku mengantarmu pulang," gumamnya dengan senyum penuh kemenangan.


Dan dengan susah payah Leon membawa tubuh Christ yang lebih besar darinya itu ke lantai bawah dengan bantuan security. Tentu saja Leon tidak mau mati atau pingsan dengan membawa tubuh berat Christ dari lantai 13.


.......


.......


.......


Agatha segera melangkahkan kakinya cepat saat bel pintu apartemennya berbunyi.


"Astaga!" ucapnya terkejut dengan kedatangan Leon yang sudah terlihat kepayahan membopong tubuh Christ.


Agatha menahan satu lengan Christ membantu Leon untuk membawa suaminya itu ke kamar. Setelah berhasil menjatuhkan tubuh Christ di atas tempat tidur, Leon seketika ambruk dengan tangan memegang leher dan pinggangnya.


"Kau tidak apa-apa? Istirahatlah dulu," Agatha beranjak ke dapur untuk mengambilkan minum sementara Leon beranjak ke ruang tengah dan duduk menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa.


"Christ harus membayar mahal untuk ini," gerutunya.


"Leon, ini minum," Agatha menyodorkan segelas air putih pada Leon yang langsung minum dalam sekali tenggak oleh sepupunya itu.


"Thanks, Agatha."


"Ya. Aku tidak menyangka dia setidak sadar itu, harusnya kukirim sopir untuk menjemput. Maaf membuatmu kesulitan."

__ADS_1


"Menurutmu saja Agatha, tubuhnya lebih besar dariku. Rasanya napasku tinggal satu dua helaan saat membawanya."


"Maaf. Aku akan membalas kebaikanmu hari ini, Leon," ucap Agatha merasa tidak enak pada sepupunya yang sudah baik hati mengantar Christ, mungkin seharusnya dia membiarkan suaminya itu menginap di sana.


"Berapa banyak yang dia minum?"


"Dua botol wiski, sendirian."


Agatha tidak menyangka Christ sekuat itu dalam hal minum, ya tentu saja Agatha lebih suka merokok daripada minuman beralkohol.


"Seberat apa masalah pekerjaan kalian sampai membuatnya kacau begitu? Jujur ini pertama kalinya aku melihat Christ semabuk ini," ucap Agatha, karena Christ bilang hanya meminum alkohol saat dia benar-benar dalam keadaan memusingkan.


"Em—masalahnya memang sedikit berat tapi kurasa kami bisa mengatasinya. Baiklah aku sebaiknya juga segera pulang," Leon tersenyum kemudian beranjak menuju pintu.


"Thanks, Leon."


"Sama-sama, Agatha,"


Leon sudah hampir menutup pintu namun langkahnya terhenti dan berbalik, "Agatha?" panggilnya membuat si pemilik nama kembali menoleh padanya.


"Hm?"


"Aku tidak tahu bagaimana hubungan antara kalian tapi aku ingin kau percaya pada ketulusan cinta Christ padamu. Kuharap kalian berdua selalu bahagia," mengatakannya sembari tersenyum kemudian Leon menutup pintu dan berlalu meninggalkan Agatha yang masih terdiam memikirkan apa maksud kalimatnya.


Agatha melangkahkan kaki kembali ke kamarnya dan menatap Christ yang masih terbalut pakaian lengkap. Menimbang apakah dia harus mengganti pakaian suaminya itu atau tidak. Dia tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini sebelumnya, tidak pernah ada yang mabuk sampai tak sadarkan diri diantara Gabriel ataupun Joshua selama ini. Tapi tidak mungkin juga dibiarkannya pria itu beristirahat dalam keadaan begitu.


Menghela napas panjang, Agatha berjalan mendekati suaminya itu kemudian melepaskan sepatu dan kaos kakinya membuat pria itu bergerak dan berbaring menyamping.


"Christ jangan menghadap kesana, bagaimana aku melepas dasimu?" gerutu Agatha mendorong pelan bahu Christ agar kembali terlentang sehingga dia berhasil melepas dasinya. 


 Agatha kesulitan melepaskan jas yang melekat pada tubuh suaminya itu karena tubuh Christ yang besar dan berat jika dia harus sedikit mengangkatnya, belum lagi suaminya itu bergerak tak sadar merubah posisi tidurnya. Dan setelah hampir sepuluh menit akhirnya jas itu terlepas dari tubuh Christ yang langsung dilemparnya ke lantai dengan kesal.


"Begini saja sudah cukup kan?" gumamnya kemudian melepas dua kancing atas kemeja agar pria itu tidak sesak. 


Agatha bermaksud menarik selimut untuk berbaring disamping Christ saat lengannya tiba-tiba ditarik oleh pria itu membuatnya limbung dan jatuh menimpa tubuh Christ.


"Christ?" serunya terkejut dan berusaha bangun.


"... Agatha, jangan pergi..." gumam pria itu tidak sadar, kedua lengannya  memeluk tubuh Agatha erat. Sementara yang dipeluk masih terkejut.


"...Jangan pernah tinggalkan—aku... jangan..." gumamnya pelan.


Agatha hanya terdiam mendengarkan racauan suaminya itu, mendongakkan kepalanya dan menatap sosok yang masih terpejam tak sadarkan diri itu. Menatap lambat-lambat wajah pria yang sudah hampir satu setengah tahun ini hidup bersamanya.


Pria yang selalu sabar menghadapi keegoisannya dan juga kadang sikap tidak ramahnya. Pria yang mau menunggunya selama satu tahun lebih untuk membuka hatinya. Dan Agatha tidak tahu apakah sekarang hatinya sudah terarah pada pria ini sepenuhnya.


Menghela dan tersenyum tipis Agatha perlahan merebahkan kepalanya di atas dada Christ, mendengar debaran jantung dan ritme napasnya perlahan. Tangannya tak lagi mejaga jarak antara tubuh mereka, membalas rengkuhan suaminya itu dengan perlahan.


Mungkin dia memang melangkah dengan begitu pelan.


Dan mungkin segala sesuatunya bisa menjadi terlambat.


Namun bukan berarti dia harus berhenti berjalan kan?


Dan mungkin dalam ritme nya yang pelan itu ada seseorang yang senantiasa sabar menunggunya sembari mengulurkan tangan.


Dan Agatha tahu dia akan meraih uluran tangan itu.


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2