
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi menjatuhkan hati.
.
.
^^^Dan aku sudah berjanji untuk mencintaimu.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
.......
.......
.......
Ramai dan sibuknya orang-orang yang kini menjadi latar belakangnya sama sekali tidak mengganggu wanita itu untuk menyesap pelan batang rokok diantara jemari lentiknya.
Dihembuskannya pelan sebelum kemudian dia mengambil napas panjang dan mendesah frustasi. Dia sangat berusaha mengatur emosinya untuk tidak meluap.
Berulang kali helaan napas kasar terdengar dari bibir indahnya.
Agatha berdiri di balkon Diamond Hall tempat dimana besok pernikahannya dengan Christopher akan digelar.
Ya, dia akan menikah besok.
B E S O K.
Ingin sekali dia meyakinkan dirinya bahwa ini hanya mimpi buruknya, namun sayang sekali semua hal di sekitarnya justru meyakinkannya bahwa semua ini nyata.
Memikirkannya membuat Agatha frustasi dan depresi, namun tidak tahu kenapa kepalanya sama sekali tidak bisa menemukan jalan untuk membalikkan keadaan ini.
Apa yang terjadi jika aku melompat dari sini? – batinnya saat menatap ke bawah dari lantai tiga tempatnya berdiri sekarang.
Agatha ingin sekali menangis melampiaskan emosinya sekarang, tapi sayangnya dia tidak bisa melakukan itu dan hanya membuat dadanya semakin terasa sesak.
Ingatannya kembali melayang pada kejadian satu minggu yang lalu, saat dia menemui ayahnya di rumah sakit.
Saat sang ayah memintanya untuk menikah dan juga penolakkannya yang membuat sang ayah kembali dalam kondisi buruk.
....
Kita akan menikah. Agatha Dwyne Anderson, aku akan menikahimu.'
Itulah kalimat yang dikatakan oleh Chtistopher dan berhasil membuat Agatha membeku tanpa ekspresi. Hatinya sudah meneriakkan dengan lantang kata TIDAK, namun bibirnya tidak bisa mengucapkannya.
Dari sudut matanya terlihat dokter yang mengambil tindakan pada ayahnya, sementara sang kakak tampak lelah dan sama frustasinya.
Aku harus bagaimana... Ayah?
Letupan emosi yang ditahannya sejak tadi membuatnya tak bisa bernapas, sungguh menyesakkan hingga bulir kristal bening menyeruak jatuh dari mata indahnya. Dan ketika dia tak lagi bisa membendungnya, air matanya mengalir deras menuruni wajahnya yang tertunduk.
__ADS_1
Tangan besar Christ menyeka lembut air matanya dan merengkuh tubuhnya dalam dekapan hangatnya.
Agatha hanya menangis dalam diam, jika keadaan biasanya dia pasti sudah mendorong pria yang tiba-tiba memeluknya ini namun saat ini dia tidak punya tenaga untuk itu.
Dan saat ayahnya sudah dalam kondisi yang lebih baik beberapa jam kemudian, di hadapan sang ayah dan kakaknya, Christopher menyatakan akan menikahinya.
....
"Sedang apa? Aku mencarimu kemana-mana, mau kembali ke kantor sekarang?" Joshua mendatanginya dengan tersenyum, menatap wajah Agatha yang masih linglung.
"Hm."
"Jangan banyak berpikir yang macam-macam, karena menurutku kau sudah mengambil keputusan yang benar. Terkadang takdir memberikan jalannya sendiri. Dan aku percaya ini akan menjadi akhir yang indah untukmu, Agatha."
"Tapi keputusan ini bukan dari hati, Joshie. Aku tidak mau menyakiti Christ dan yang lain."
"Aku tahu, tapi ini demi ayahmu dan percayalah ini adalah waktu yang tepat bagimu untuk kembali seperti Agatha yang dulu."
Agatha menghela, memandang tangannya yang masih memegang kotak rokoknya. Kenapa kali ini rokok tidak bisa menghiburnya?
Getaran ponsel dalam genggamannya membuatnya kembali tersadar, panggilan dari Christ.
"Aku ke kantormu tapi kau tidak ada."
"Aku di Hall bersama Joshua."
"Perlu ku jemput?"
"Tidak usah, aku akan kembali sekarang," mematikan sambungan ponselnya, Agatha berbalik dan mengajak Joshua kembali.
"Hm, ya?"
"Aku ingin mengunjungi Mikael sebelum hari pernikahanku. Kau mau menemaniku?"
"Tentu saja, aku akan menemanimu."
Sesampainya di kantor, Christ sudah menunggu di dalam ruangan bersama Leon yang tumben sekali ikut datang. Agatha merasa kehadiran Christ membuat perasaannya kembali bercampur aduk.
"Hai Christ, Hai Leon. Kalian lama menunggu?" sapa Joshua pada kedua tamunya sementara Agatha yang tidak berniat menyapa kemudian duduk diikuti oleh Joshua di sebelahnya.
"Kenapa tidak bilang mau ke Hall, aku bisa menemanimu."
"Aku hanya mengecek sebentar di sana, tidak ada hal yang penting. Ada apa tiba-tiba kemari?"
Pertanyaan yang terlontar dari bibir Agatha membuat keheningan yang tidak nyaman, Christ tampaknya masih memproses jawaban ketika Joshua menyela.
"Agatha, tidak bisakah kau bersikap lebih hangat pada Christ? Kalian akan menikah besok! Haruskah ada kecanggungan seperti ini? Kenapa kalian tidak bersikap selayaknya pasangan lain yang akan menikah?" tanya Joshua dengan kesabaran yang berusaha dipertahankan.
"Josh, tidak apa-apa. Jangan marah pada Agatha," sahut Christ tenang.
"Aku tidak marah Christ, hanya saja aku tidak bisa melihat kalian seperti ini. Terutama kau Agatha. Aku harus mengatakan apa lagi agar kau mau mendengarkanku?"
"Aku mendengarkanmu, Joshie."
__ADS_1
"Sepertinya kalian berdua harus bicara lebih lama, Joshua ikutlah denganku. Kita harus ke butik untuk last fitting," ucap Leon menginterupsi dengan senyum di bibirnya kemudian beranjak mengajak Joshua dan meninggalkan sepasang calon pengantin yang terlihat sepert dua orang asing.
"Agatha."
"Maaf Christ, aku tahu kau tersinggung dengan sikapku. Aku hanya tidak terbiasa dan aku belum bisa menerima sepenuhnya pernikahan ini," ucap Agatha cepat, dia menyadari bahwa sikapnya keterlaluan.
"Aku mengerti."
"Christ... kau yakin untuk menikahiku? Maksudku—kau sadar kan seberapa sering kukatakan padamu bahwa aku tidak mencintaimu? Aku tidak ingin melukaimu nantinya."
"Aku tahu dan aku sadar atas semua yang coba kau tunjukkan padaku Agatha, tapi perasaan tidak bisa diatur seperti itu kan? Perasaanku padamu jauh lebih besar dari yang kuinginkan, sekalipun aku berusaha menyadarkan diri karena kau menolakku. Tapi kenyataannya justru aku semakin jatuh cinta padamu," Christ tampak begitu sungguh-sungguh mengucapkannya hingga Agatha tidak sanggup menatap dalam pria itu.
"Tapi aku hanya akan menyakitimu nanti."
"Aku tidak keberatan jika kau menyakitiku, tapi kupastikan untuk membuatmu mencintaiku juga Agatha. Kau hanya tidak mau membuka hatimu, aku tahu kau terluka karena suatu hal di masa lalu tapi kau harus keluar dari rasa takut dan sakit itu."
"Christ aku—"
"Kau bukannya tidak bisa jatuh cinta, Agatha. Kau tidak mau jatuh cinta."
Agatha terdiam, mungkin yang dikatakan oleh pria di hadapannya ini benar. Namun dia juga tidak bisa mengendalikan kekosongan dalam hatinya yang sudah terlalu menganga lebar. Tidak semudah perkataan orang untuk membuka hati dan menerima hadirnya cinta yang lain. Hatinya menolak.
"Aku berjanji untuk membuatmu mencintaiku Agatha. Take my word."
"Christ, jangan seperti ini. Kau terlalu baik untuk hal ini, meski sebelumnya kau sangat menyebalkan dan membuatku kesal tapi aku berterimakasih atas semua bantuan yang kau berikan padaku," tutur Agatha dengan seulas senyum samar tersungging di sudut bibirnya.
"Tidak, aku akan membuktikannya. Jadi percayalah padaku juga pernikahan yang akan kita jalani." ucap Christ dengan tatapan yang entah kenapa sedikit membuat Agatha sendiri ragu, haruskah dia bertahan mengikuti egonya atau mengikuti pria di hadapannya ini?
"Baiklah, aku tidak ingin merusak keyakinanmu Christ tapi izinkan aku memberikan syarat untuk pernikahan kita."
"Syarat apa, Agatha?"
"Kau boleh mengusahakan apapun agar aku jatuh cinta padamu, tapi hanya untuk dua tahun. Jika sampai tenggat waktunya tiba dan aku tidak bisa mencintaimu maka lepaskan aku."
Christopher menatap wanita di hadapannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan, namun tersirat sedikit luka di dalamnya. Terjadi lagi seperti sebelumnya ketika Agatha menetapkan syarat untuk pertunangan mereka atas dasar kerjasama namun takdir membawa mereka sampai pada sebuah pernikahan. Jadi haruskah kali ini dia menerima lagi syarat dari Agatha meski itu artinya ketulusan cintanya akan tersakiti pada akhirnya jika kenyataan tak sesuai harapannya?
Cinta yang dipertaruhkan ya?
Menghembuskan napasnya perlahan Christopher kemudian tersenyum menatap wanita yang dicintainya itu. Jika memang ini pertaruhan maka dia akan melakukannya dan berharap agar takdir membantunya lagi.
"Baiklah, aku menerima syarat darimu. Dua tahun untuk membuatmu jatuh cinta dan saat itu terjadi maka aku tidak akan pernah melepaskanmu. Dan kita tidak akan pernah bercerai."
"Aku menyetujuinya."
Masing-masing menatap dalam diam dengan harapan masing-masing. Apapun itu dalam waktu yang telah mereka sepakati biarkan takdir yang menunjukkan kebenaran jalannya nanti. Mereka hanya berlu mengusahakan dan semesta yang akan menjawab hasilnya.
Seulas senyum tersemat pada bibir masing-masing, karena mereka sadar bahwa pernikahan ini tidak akan mudah.
.
.
.
__ADS_1
Riexx1323.