Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Seculil Kisah Awal Yang Kelam


__ADS_3

...Jika boleh memilih, maka tidak ada manusia yang ingin mengotori tangannya dengan dosa. Apalagi membelenggu hidupnya dalam rantai ingatan yang menyakitkan....


.......


.......


.......


Christ terduduk diam di pojok kamar yang kini sepenuhnya sunyi itu, sudah satu jam sejak Arthur meninggalkannya.


Ruangan bernuansa kayu itu harusnya memberikan kesan hangat namun bagi Christ justru sebaliknya. Ruangan itu adalah tempatnya menikmati hari-hari penuh kesakitan selama beberapa tahun silam.


Segala sesuatunya sulit dijelaskan sekarang dan dia tidak tahu bagaimana mengatakannya pada kalian. Tapi Christ tidak boleh membuat kalian salah paham seterusnya kan?


Baiklah, sebaiknya kalian tidak berpikir buruk sebelum Christ selesai menceritakan kisah masa lalunya. Kisah dengan luka yang akan terus membekas dalam ingatannya, menjadi dosa seumur hidupnya.


Christ seorang pemuda yang cukup dikenal saat dia muda. Dia pintar, ramah dan tentu saja reputasinya sebagai putra dari dua dokter bedah ternama membuatnya mendapatkan perhatian kemanapun dia pergi.


Dia tidak menggunakan semua hal istimewa itu untuk bertindak di luar batas seperti kebanyakan anak-anak keluarga terpandang yang lainnya. Tentu saja itu juga karena keberadaan sang kakak yang selalu menjadi teladan dan perbandingan untuknya.


Intinya, Christ adalah pemuda yang baik. Hingga sebuah hal tak terduga menodai semua kebaikan itu.


Christ ingat saat pertama kali dalam hidupnya dia merasakan sesuatu yang disebut jatuh cinta.


Itu adalah tahun keduanya di Oxgard dan dia bertemu seorang gadis yang istimewa. Seorang gadis yang berbeda dari para gadis umumnya, berbeda.


Gadis itu bernama Agatha.


Entah darimana tapi nama gadis itu sering dibicarakan oleh beberapa teman di fakultasnya. Bahkan beberapa teman dekatnya pun membicarakan gadis itu tidak sekali dua kali. Awalnya Christ berpikir mungkin saja itu hanyalah salah satu dari gadis-gadis kupu-kupu yang ada di kampus.


Hingga suatu saat dia bertemu dengan gadis yang menjadi perbincangan itu ketika dia menghampiri Leon di gedung fakultas hukum. Dia menunggu Leon keluar dari kelasnya dan memperhatikan interaksi kedua orang yang mencuri perhatiannya.


Gadis itu ada di sana sedang menempel pada seorang pemuda yang sepertinya sedang mengerjakan sesuatu dengan buku-bukunya. Keduanya tampak seperti berdebat tapi anehnya orang-orang justru menatap mereka dengan tatapan dan senyum yang menurut Christ malah aneh.


Bukankah seharusnya orang-orang ini terganggu?


"Hai, maaf lama menunggu," sapa Leon yang muncul dari kelasnya.


"It's okay, tapi Leon apa kau tahu siapa mereka?" tanyanya yang kemudian diikuti oleh Leon kearah matanya menatap.


"Joshua dan Agatha."


"Ha?"


"Mereka yang sering menjadi perbincangan antar anak-anak dikampus kan."

__ADS_1


"Ah, yang itu ya. Mereka sepasang kekasih?"


"Bukan. Rumor yang kudengar mereka hanya sahabat, tapi jika melihat interaksi mereka sepertinya lebih dari itu."


Christ mengangguk tampak mencerna informasi dari Leon. "Begitu ya. Mereka satu fakultas denganmu ya?"


"Tidak. Ah, maksudku adalah iya Joshua satu fakultas tapi Agatha tidak. Dia selalu kemari untuk menjemput Joshua."


Christ kembali mengangguk namun netranya masih fokus pada dua orang itu. Terutama pada si gadis yang dilihatnya masih ribut.


Gadis itu cantik dan tidak berhias seperti yang lain. Sepertinya rumor yang beredar adalah benar setelah dia melihatnya sendiri.


Dan sejak saat itu Christ sering bertemu mereka entah sengaja atau tidak. Keseringan itu bahkan membuatnya mengetahui betapa banyak pemuda yang sebenarnya juga menyukai Agatha namun tidak berani mendekat secara langsung karena keberadaan Joshua. Sekalipun kabarnya mereka hanyalah sahabat tapi yang terlihat lebih dari itu sehingga para pemuda pemuja Agatha itu harus mundur dari zona abu-abu.


"Kau sekarang tertarik padanya?" tanya Leon ketika untuk kesekian kalinya Christ datang menemuinya, padahal jarak gedung mereka terpisah cukup jauh.


Christ hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.


"Kau mau mencoba untuk mendekatinya?"


"Ha?"


"Apanya yang 'ha'? Terlihat jelas kau tertarik padanya sampai kau rela datang menemuiku begini. Kenapa tidak ke fakultas Agatha saja sih?"


"Aku tidak segila itu untuk mendatanginya, Leon."


"Tapi, Christ. Seperti yang kau lihat, mereka memiliki dunia sendiri yang tak pernah bisa dimasuki orang lain. Semacam menolak kehadiran orang asing."


Memang Agatha - Joshua tampak mencolok karena kedekatan dan juga sikap mereka yang seolah menolak dunia sekitarnya.


"Harus kuakui dia adalah objek yang mudah menarik perhatian," gumamnya pelan.


Karena sungguh ini pertama kalinya dia merasa sepenasaran itu dengan orang lain. Dan anehnya jantungnya yang berdetak lebih cepat setiap kali dia melihat Agatha. Hanya melihat saja.


Christ diam-diam mengamati Agatha dari jauh dan menyadari bahwa gadis itu istimewa dengan segala hal yang dimilikinya. Sayangnya seperti ucapan Leon bahwa Agatha membatasi dirinya dari dunia dan hanya terikat oleh Joshua saja.


Christ merasa seharusnya dengan reputasinya maka gadis mana yang tidak menyukainya? Bisa saja Agatha juga seperti itu.


Tapi pemikiran itu selalu dipukul mundur oleh kedekatan dua orang sahabat yang kebenarannya tidak diketahui siapapun selain mereka.


"Sampai kapan kau akan begini? Aku saja muak melihatmu, kenapa tidak langsung saja sih?" sungut Leon suatu hari ketika lagi-lagi mendapati Christ sedang menatap Agatha dari jauh.


"Dia bahkan tidak tahu kau siapa. Kenapa tidak maju saja minimal memperkenalkan diri padanya. Bukannya memandangi diam-diam saat tidak sengaja bertemu seperti ini."


"Aku tidak mau menjadi gosip."

__ADS_1


"Astaga! Kau masih sempat memikirkan hal itu saat jatuh cinta? Wah... kau benar-benar ya, Christ!"


"Aku juga punya reputasi yang harus kujaga, Leon. Aku tidak mau sia-sia mempermalukan diri jika aku nekat padanya."


"Tapi sampai kapan?"


"Entahlah, mungkin sampai dia bisa menjauh dari Joshua," jawabnya tidak yakin.


"Itu artinya tidak ada kesempatan bagimu. TIDAK ADA."


"Kenapa kau bilang begitu?"


"Karena Agatha tidak mungkin berpaling dari Joshua," jawab Leon kesal, sepupunya ini bodoh sekali. Jika itu dia maka sudah dipastikan dia akan mendekati Agatha dengan cara apapun.


Dasar Christ.


Sebenarnya pertimbangan Christ bukan hanya itu namun sekarang ini statusnya adalah tunangan dari Neona Walker. Gadis yang mengejarnya dengan segala cara sejak tiga tahun yang lalu.


Dia tidak mau membawa masalah-masalah lain di kemudian hari. Dia ingin memutuskan pertunangannya lebih dulu. Baru setelah itu dia akan mendekati Agatha langsung.


Tapi sayangnya pemikiran Christ harus pupus lebih cepat karena beberapa hari setelahnya dia melihat Agatha bersama pemuda lain. Pemuda yang tampaknya jauh lebih sederhana.


Siapa?


Dan kelihatanya justru Agatha yang berusaha mendekati pemuda itu. Bahkan Joshua terlihat mendukung apapun yang Agatha inginkan.


Christ berusaha mencari tahu tentang pemuda yang muncul tiba-tiba itu. Dan saat dia mendapatkan informasi yang diinginkannya, alisnya berkerut heran karena demi apapun pemuda ini amat sangat jauh dari statusnya maupun Agatha.


Pemuda itu bernama Mikael Olivander dan di tunawicara.


Christ bahkan memastikan kebenaran hal ini. Tapi semua memberikan informasi yang sama.


Kenapa si Mikael ini tiba-tiba muncul dan membuat Agatha bersikap seperti itu padamya?


Christ tidak bisa menerima namun tidak bisa berbuat apa karena memang dia hanya salah satu pemuda pemuja Agatha.


Tapi secuil rasa di sudut hatinya merasa tidak terima. Kenapa dia harus kalah dengan seorang pemuda tunawicara?


Jika pemuda itu bisa dekat dengan Agatha, bukankah dia seharusnya juga jauh lebih bisa melakukannya...


.


.


.

__ADS_1


Riexx1323.


__ADS_2