
...Ketika kotak pandora itu terbuka....
.......
.......
.......
Agatha menatap betapa cekatan ibu mertuanya menangani Christ yang tidak bisa memberontak atau menolak ketika sang ibu memaksanya menelan beberapa obat penenang.
Sebenarnya Agatha heran karena bukannya memberi Christ obat penurun demam justru ibunya memberi obat penenang. Ibunya tidak salah kan?
Setelah memastikan Christ ada dalam pengaruh obat, Agatha mendekati ibunya.
"Kenapa Ibu memberi Christ obat penenang?"
Ny. Cassandra tersenyum sendu sebelum menggandeng lengan putrinya itu menuju ruang tengah. Setelah duduk bersisian, wanita itu mengelus pelan puncak kepala Agatha.
"Christ sering mengalami demam seperti ini sebelumnya. Biasanya dia mengalami itu saat sedang dalam keadaan stres. Bukan demam karena virus atau yang lain. Karena itulah aku memberinya obat penenang, Sayang," jelas sang ibu dengan tenang.
"Sering mengalaminya karena sedang stres?" tanya Agatha cukup terkejut dan tidak menduga keadaan Christ yang seperti itu.
"Ya, dulu dia sering begitu."
"Bukankah itu sangat mengkhawatirkan?" tanya Agatha lagi dengan alis berkerut cemas.
"Ya dan aku juga sudah membawanya ke dokter. Dia harus lebih tenang dan rileks."
Agatha terdiam, sungguh tak menyangka Christ yang sering bersikap menyebalkan itu bisa mengalami hal ini.
"Karena itu ibu minta tetaplah ada di samping Christ, Sayang."
Sekali lagi wanita itu memeluk Agatha dengan lembut dan hangat. Mengusap pelan punggung Agatha dengan penuh kasih.
"Ibu sangat bahagia saat Christ memilihmu menjadi istrinya. Dan ibu yakin kau adalah satu-satunya wanita yang pantas dan bisa menyayangi Christ," ujar wanita itu kemudian mengecup kening putrinya.
"Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan Christ ya? Berjanjilah pada ibu."
Agatha membalas ucapan itu dengan sebuah senyum yang tulus dan sebuah anggukan.
Agatha merasa sangat terharu dengan semua perlakuan dan sikap hangat yang diberikan mertuanya itu padanya. Dia yang telah kehilangan sang ibu sejak kecil telah lama tidak merasakan kasih sayang seorang ibu yang tulus seperti ini.
Jika terus begini, bolehkah Agatha berharap untuk terus mendapatkan kasih sayang ibunya?
Dan soal perjanjiannya dengan Christ, dia tidak yakin bagaimana mengakhirinya jika itu hanya melukai ibu dan ayahnya nanti. Agatha menyadari perbedaan perasaannya saat memulai perjanjian itu dan sekarang. Dia berusaha berdamai dengan hati dan pilihannya.
.
.
.
Agatha sedang membereskan meja bekas makan malam.
Tidak bukan dia yang memasak.
Tadi ibunya sudah memasak dan menyiapkan makanan untuknya dan Christ.
Ibunya sudah pulang sejak sore karena harus kembali ke rumah sakit. Dan Agatha telah melewati tiga jam menunggu Christ terbangun namun sampai sekarang pria itu belum membuka mata.
Demamnya sudah turun meski belum pada suhu tubuh normal. Namun pria itu sudah tak sepucat tadi dan tidak lagi berkeringat dingin.
Melangkahkan kaki kembali ke kamar, Agatha kemudian duduk di pinggiran ranjang di samping Christ. Memandangi pria yang tidak sadarkan diri itu dan mengelus surainya pelan.
Hal apa yang membuat Christ merasa stres sampai begini?
Usapan pelannya membuat Christ akhirnya terbangun. Pria itu tampak bingung dengan keadaan sebelum kedua netranya beradu tatap dengan manik coklat Agatha.
"Sudah bangun?"
"... Agatha?"
"Hm, bagaimana keadaanmu? Sudah merasa lebih baik?"
Bukannya menjawab pria itu justru menggeser tubuhnya ke pangkuan Agatha. Membenamkan wajah ke perut istrinya dan memeluk pinggang Agatha erat.
"Merasa pusing?" tanya Agatha lagi.
Christ hanya menggeleng, "Jangan pergi, jangan tinggalkan aku."
Lagi.
Christ mengucapkan hal yang sama.
__ADS_1
"Iya. Aku tidak akan kemana-mana."
Setelahnya Agatha menyamankan posisinya untuk ikut berbaring sementara Christ sudah beralih menyandarkan kepalanya di dada sang istri. Merasakan kehangatan dan mendengar degup jantung wanitanya membuat Christ memejamkan kedua matanya lagi.
"Christ..."
"Hm."
"Boleh aku bertanya?"
Christ hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa kau mengalami demam tiba-tiba? Ibu sudah menjelaskan alasannya padaku tapi aku ingin mendengarnya langsung darimu."
Pada akhirnya Christ membuka mata dan mendongak menatap istrinya, ada kecemasan yang tercermin di sana.
"Aku hanya sedang banyak pikiran. Tapi aku tidak apa-apa, Sunshine. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan " bohongnya.
Seulas senyum samar tersemat di bibir pria yang kini sudah kembali merebahkan kepalanya lagi. Dia tidak bisa mengatakan bahwa sumber kecemasannya adalah Agatha dan segala masa lalunya kan? Bukan sekarang waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Dia hanya ingin tenang dan bahagia sekarang.
"Ibu bilang dulu kau sering mengalaminya. Boleh aku tahu kenapa?"
Christ terdiam, apa yang harus dia katakan jika Agatha seperti ini? Tanpa sadar dia mengeratkan pelukannya pada tubuh Agatha.
"Christ..."
"Dulu aku sering mengkhawatirkan segala sesuatu secara berlebihan tanpa sadar. Dan ya itu menjadi penyebab aku sering mengalaminya. Tapi aku sudah belajar mengendalikan diri."
Ya, tidak sepenuhnya penjelasan itu bohong. Dia memang berusaha untuk tidak memikirkan masa lalunya yang sangat kelam, berusaha untuk tidak terjebak di sana dan berusaha untuk menebusnya sekarang.
Agatha menyadari bahwa dalam perkataannya Christ tidak menjelaskan secara gamblang dan sekalipun dia sangat ingin tahu, Agatha menghormati Christ yang mungkin tidak nyaman mengatakan sejujurnya.
"Baiklah. Aku mengerti, tapi kuharap kau tidak lagi memikirkan sesuatu secara berlebihan sampai seperti ini."
"Apa kau khawatir padaku, Sunshine?"
Pertanyaan dengan nada penuh harap itu kembali, membuat Agatha yakin suaminya itu sudah kembali seperti biasa.
"Tidak. Aku tidak khawatir hanya sedikit terkejut," elaknya kemudian melempar pandang agar tak menatap prianya.
Namun Christ adalah Christ yang sudah terkikik geli melihat perubahan ekspresi istrinya. Hanya dengan Agatha di sisinya sudah bisa membuatnya sedikit tenang.
"Apa aku perlu sakit parah agar kau khawatir?"
"Manisnya istriku saat sedang malu begini."
"Diam, Christ."
Tanpa aba-aba Christ mendekat dan memperpendek jarak diantara mereka. Menyatukan bibirnya dengan bibir tipis yang menjadi candunya. Memastikan bahwa wanita yang ada dalam rengkuhannya itu benar-benar miliknya. Meyakinkan dirinya bahwa ssmua ini akan dimilikinya selamanya.
Dan malam itu Agatha kembali jatuh.
Jatuh dalam setiap sentuhan Christ padanya, terbius oleh bisikan lembut di telinganya dan Agatha tidak bisa melawan dirinya sendiri yang telah menyerahkan diri seutuhnya pada suaminya. Dia yang telah meyakinkan diri membuka hatinya untuk kehadiran suaminya dan ya, dia berdamai dengan hatinya.
Dan malam itu deraian rintik hujan mengiringi keduanya jatuh begitu dalam pada pesona dan perasaan masing-masing.
.
.
.
Agatha mengeliat pelan saat getaran di atas nakas berhasil mengganggu tidurnya.
Masih pukul 03.17 dini hari. Siapa yang menelepon pagi buta begini?
Beringsut pelan menyingkirkan lengan Christ yang memeluknya, Agatha meraih ponsel yang ternyata milik Christ.
Dari Leon.
Ada apa?
Menatap Christ yang terlelap, Agatha memutuskan untuk menjawabnya.
"Hai, Leon."
'Christ! Eh—Agatha...?'
"Ya ini aku, ada apa?"
'Agatha, maaf mengganggu di pagi buta seperti ini. Bisakah aku bicara dengan Christ?'
"Baiklah, sebentar."
__ADS_1
Agatha mengguncang pelan tubuh prianya yang masih sama-sama polos dalan balutan selimut itu. Namun Christ tidak mau membuka mata.
"Leon, maaf tapi dia tidak mau terbangun. Aku akan menyampaikannya nanti jika kau tidak keberatan."
'Ah, bagaimana ini? Aku menelepon di jam ini karena ada keadaan mendesak. Ada file penting dari perusahaan Haneda yang harus dirubah segera. Tapi masalahnya aku lupa memintanya dari Christ tadi sementara aku harus mengirimkan datanya sekarang untuk meeting esok pagi.'
"Tunggu sebentar."
Agatha mencoba membangunkan Christ namun hasilnya pria itu tetap tidak terbangun.
"Maaf Leon, Christ tidak bisa dibangunkan."
Terdengar helaan napas putus asa dari seberang sana.
'Agatha, bisakah kau menolongku?'
"Tentu jika aku bisa melakukannya."
'Oh, God! Thank you Agatha!' seru Leon bersuka cita.
'Bisakah kau saja yang mengirimkan data padaku? Aku yakin Christ menyimpannya di diska lepas. Kau bisa mencari di ruang kerjanya,' saran Leon.
Menatap suaminya yang sama sekali tidak terganggu itu, kemudian Agatha meraih jubah tidurnya yang terserak di lantai sebelum berjalan menuju ruang kerja Christ.
Sesuai arahan Leon, Agatha mencari diska lepas yang di maksud di ruang kerja. Setelah sepuluh menit mencari akhirnya diska lepas itu ketemu di dalam laci. Maka dengan segera dibukanya lalu dikirimkannya pada Leon yang sedang menunggu.
'Thank you, Agatha! Aku janji akan mentraktirmu nanti. Kututup dulu ya, aku harus mengerjakan ini secepatnya.'
Dan setelahnya Leon memutus sambungan telepon itu.
Agatha bermaksud mengembalikan diska itu ke dalam laci saat netranya menangkap sebuah gambar yang tak asing. Diambilnya potret yang tersimpan dalam laci di bawah berkas-berkas itu.
Bukankah ini foto kegiatan amal yang pernah diikutinya semasa kuliah dulu?
Foto bersama teman-temannya di depan undakan batu di kampus.
Kenapa ada di sini?
Ada tanda pulpen merah di atas beberapa orang.
Tunggu—
Bukankah itu potret dirinya dan Mikael yang berdiri di ujung kiri dengan tanda silang merah di atas kepalanya?
Kenapa?
Lalu netranya beralih pada tanda lain di atas potret pemuda yang berdiri di ujung kanan.
Tidak asing.
Dan sejurus kemudian netranya membola saat menyadari sosok lain itu.
Christ...?
Benarkah ini Christ?
Ini... apa ini?
Belum sempat berpikir lebih jauh, netranya sudah cepat membaca deret kalimat kecil yang tertulis di bawah foto itu.
Sejauh itu jarak antara kau dan aku.
Selalu seperti itu.
Kadang aku berpikir, 'apakah menyingkirkan si bisu dari sisimu bisa membuatku dekat denganmu?'
Agatha menjatuhkan potret itu karena tangannya yang kini gemetar.
A-apa ini...?
Apa maksud tulisan dalam potret itu?
Kenapa ada semua ini?
Christ...
.
.
.
Riexx1323.
__ADS_1