
...Kau adalah manusia paling sempurna di dunia ini. Setidaknya bagiku kau adalah dunia itu sendiri....
.......
.......
.......
Hari ini hujan.
Agatha sedang dalam perjalanan menuju kantornya dan entah kenapa dia tidak ingin cepat-cepat sampai.
Dibukanya sedikit jendela dan percikan air tentu saja menyembur mengenainya membuat driver-nya panik dan memintanya untuk kembali menutup jendela.
Agatha tidak peduli bahkan dia meminta driver-nya untuk mengurangi kecepatan. Untung saja hari ini dia berangkat lebih pagi.
Pethricor.
Agatha menyukainya.
Perasaan familiar yang selalu datang ketika turun hujan dan membuatnya tenang.
Lagi.
Ingatnya kini menerawang seolah baru kemarin dia hujan-hujanan ditemani oleh seseorang yang mengejarnya demi memaksanya menggunakan payung.
Agatha tersenyum.
Getaran ponsel dalam tasnya membawanya kembali ke kenyataan.
"Selamat pagi Sunshine."
Sebuah sapaan yang akhir-akhir ini sering dia dengarkan meski enggan.
"Selamat pagi, Christ. Ada apa?"
"Aku menjemputmu tapi kau tidak ada. Bersama Joshua?"
"Tidak, dia tidak bisa menjemputku hari ini. Aku dalam perjalanan."
"Baiklah, padahal aku ingin sekali mengantarmu. Kalau begitu nanti kujemput?"
Agatha menjauhkan ponselnya sebentar untuk menghela, sungguh Christopher Winston adalah orang yang gigih dan keras kepala.
Bagaimana mungkin pria ini masih bersikap baik padanya setelah semua perlakuan dingin yang diberikannya pada pria itu?
"Terserah padamu."
"Baiklah, sampai nanti Sunshine."
Tanpa menjawab Agatha mematikan ponselnya setelah yakin pria itu selesai bicara.
Setelah pertunangan mereka kini Christopher lebih sering tiba-tiba muncul di sekitarnya. Dan mau tidak mau Agatha harus menerimanya karena tidak ingin kesepakatan mereka terbongkar.
__ADS_1
Dan mengenai kerjasama mereka sebelumnya, hasilnya menunjukkan delapan puluh persen keberhasilan. Namun karena beberapa hal dari Senna Rod yang terjadi kemudian membuat Agatha tidak bisa begitu saja memutus kerjasama itu sekarang.
Christopher Winston adalah pria yang baik dan Agatha mengakui itu. Hanya saja untuk menerima kebaikan itu sebagai sesuatu yang lebih, Agatha tidak yakin bisa.
.......
.......
.......
Joshua datang ke kantor menjelang makan siang karena sejak pagi tadi dia memang pergi bertemu klien penting. Dan kini dia melihat Agatha sedang sibuk diantara tumpukan berkas sementara dia baru akan mengajaknya makan siang bersama.
"Oh kau sudah kembali? Bagaimana tadi?" tanya Agatha begitu Joshua duduk di hadapannya.
"Berjalan dengan lancar, tapi sepertinya pihak mereka ingin menambahkan beberapa hal lagi sebelum agreement sign."
"Kenapa jadi banyak pihak yang menjadi lebih rumit akhir-akhir ini. Padahal sebelumnya mereka semua hanya menerima."
"Yah, pertunanganmu mempengaruhi beberapa hal dalam pekerjaan kita Agatha. Beberapa investor sepertinya terkejut dengan hubungan ini."
"Tidak akan ada merger atau akuisisi dalam hal ini, apa yang mereka ributkan?"
"Tidak ada yang tahu kan? Mereka berasumsi dan tentu saja mereka mulai meributkannya."
Agatha sendiri bahkan tidak ingin berpikir tentang kemungkinan apapun di masa depan karena dia tidak seratus persen ada dalam hubungan serius dengan Christopher Winston. Hubungan mereka hanya sebuah kerjasama dan tidak akan lama.
Seseorang mengetuk pintunya dan tak lama seorang staff masuk setelah mendengar ijin dari Agatha, staff itu membawa sebuah buket bunga mawar putih dan juga set makan siang dalam porsi besar.
"Apa ini?"
Dan setelah staff itu pergi, Joshua berdehem kecil melirik Agatha yang sekarang tampak sedikit kesal. Dia tidak suka kejutan dalam bentuk apapun.
"Dia pria yang keras kepala rupanya, sikap dinginmu tidak bisa menghentikannya untuk memberimu perhatian,"
Agatha hanya mendengus kecil mendengar itu.
"Padahal aku datang untuk mengajakmu makan siang bersama," ujar Joshua sedikit kecewa.
"Kalau begitu kita bisa pergi sekarang."
"Tapi makanan ini? Jangan membuang makanan dan tidak menghargai pemberiannya."
"Aku hanya mau menuruti keinginanmu Josh."
Pada akhirnya Joshua memilih untuk memesan beberapa menu lagi untuk mereka makan bersama. Pria itu suka sekali bertindak tiba-tiba, jangankan Agatha bahkan Joshua pun sering terkejut melihat sikap pria itu.
Padahal sebelumnya Joshua menilai bahwa pria itu arogan melihat sikapnya saat pertemuan pertama mereka. Nyatanya Christopher Winston memiliki sisi yang cukup kekanakan saat berkaitan dengan Agatha akhir-akhir ini. Dan itu cukup menghibur Joshua.
"Aku teringat pada 'nya' lagi kemarin, I miss him so bad," ujar Agatha pelan dan memilih untuk tidak menatap Joshua.
"Aku baru mengunjungi Senna Rod dan bertemu Felix, kurasa itu membuatku kembali mengingatnya."
"Bukankah sudah kubilang agar pergi bersamaku jika kau ingin kesana?"
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, sungguh. Hanya saja rasanya tetap sama seperti kemarin seolah tahun-tahun yang kulewati tanpanya itu tidak pernah ada," kali ini Joshua mendengar suara sahabatnya itu sedikit pelan dan sorot mata sayu itu terlihat lagi.
"Oh, dan aku tidak berniat memberitahunya tapi Felix melihat cincin di jariku."
Joshua meletakkan sendoknya dan menatap Agatha, "And now he already knows about your engagement?"
"Hm, and he look a little surprised. I don't know..."
"Kurasa dia tidak bisa terlalu senang mendengarnya tapi tidak menunjukkannya secara terang-terangan padamu," Joshua kembali memikirkan sosok Felix di ingatannya, pria yang juga dikenalnya cukup lama. Nice person and perfect brother.
"Aku tahu, dia pasti tidak terlalu senang. Pertunangan ini bukan keinginanku dan tidak akan menjadi sebuah pernikahan. Dia tidak perlu khawatir."
Joshua terdiam, jika sesuatu mengenai perasaan Agatha bersama-nya, dia tidak bisa memaksa. Memang dia ingin sahabatnya ini bahagia kembali seperti dulu namun Joshua tahu luka itu terlalu dalam hingga dalam waktu beberapa tahun ini tidak pernah sembuh seperti semula.
Dan jauh dari hatinya dia berharap kehadiran Christopher Winston bisa mengobati luka Agatha. Bukan untuk menggantikan keberadaan seseorang hanya saja sahabatnya ini butuh sosok baru yang bisa membawa kebahagiaan dalam hidupnya kembali.
.......
.......
.......
Seperti apa yang diucapkannya pagi tadi, sore itu Christooher menjemput Agatha di kantornya. Mereka kembali lebih dulu setelah sebelumnya meninggalkan Joshua yang masih harus mengerjakan tugasnya di kantor. Dan sepertinya keberadaan Christopher di kantornya sudah tidak asing lagi karena beberapa pegawai tampak menyapanya dalam perjalanan mereka menuju lobi. Agatha tidak peduli dan berjalan dua langkah lebih cepat di depan pria itu.
"Kita ke rumahku ya?" ucap Christopher begitu mereka di dalam mobil. Agatha jelas menatapnya dengan tatapan dingin tanpa ekspresinya.
"Kenapa?"
"Ibu ingin bertemu denganmu. Aku tidak bohong," ujarnya ketika mendapati tatapan curiga dari wanita di sampingnya.
Agatha diam dan menatap pria itu beberapa saat tanpa perubahan ekspresi, kemudian menghela kecil.
"Aku tidak pandai basa basi."
"Tidak perlu, aku yakin ibu menyukaimu meski kau hanya diam saja," Christopher tersenyum kecil.
"Terserah."
"Kau tidak menolak?"
"Untuk apa? Kau pasti akan memaksa kan?"
Christopher tersenyum mendengar jawaban Agatha. Sekalipun wanita itu dingin tapi dia bukan seseorang yang benar-benar acuh, setidaknya dia memperhatikan detail kecil seperti itu.
Keduanya melaju menuju rumah keluarga Winston yang baru kali ini akan dilihat oleh Agatha. Wanita itu tidak masalah untuk bertemu Ny. Winston lagi hanya saja dia sudah berjanji untuk membatasi diri berhubungan terlalu dalam dengan keluarga Winston.
Rumah yang cukup besar dan Agatha dapat merasakan kehangatan dari suasana rumah itu. Dan saat Christopher membawanya turun dari mobil lalu menaiki tangga batu menuju pintu depan, wanita dengan senyum hangat itu sudah menunggu di depan pintu.
"Welcome home, my dear Agatha."
.
.
__ADS_1
.
Riexx1323.