
...Rencana, harapan atau apapun di masa depan bisa berubah dalam hitungan detik oleh munculnya variabel tak terduga....
.......
.......
.......
"Ada sesuatu yang terjadi?" Joshua menatap sahabatnya yang beberapa kali tidak fokus dalam rapat internal tadi. Keduanya kini berjalan kembali menuju ruangan Agatha.
Yang ditanya hanya menoleh dan tersenyum tipis, merasakan perubahan suasana hatinya beberapa hari ini setelah kejadian bersama ibunya di mansion Winston. Dia ingin sekali menceritakan semua keluh kesahnya pada Joshua seperti dulu tapi sekarang sahabatnya itu tidak tahu sama sekali.
"Agatha?" Joshua menghentikan langkah mereka dengan menahan lengan Agatha membuat sahabatnya itu berdiri berhadapan dengannya. "Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Katakan padaku, kenapa?"
Seulas senyum tipis kembali hadir di bibir Agatha, dia sangat tahu kepekaan sahabatnya ini pada dirinya tidak dapat diragukan lagi. Tapi bagaimana cara mengatakannya tanpa mendapat amukan dari Joshua?
"Jadi sekarang kau tidak mau bicara denganku lagi? Setelah menikah kau meninggalkanku begitu? Baiklah aku paham karena kau sudah memiliki orang lain yang bisa kau andalkan selain aku, tapi jangan membuatku khawatir seperti ini," bahkan sebelum Agatha bicara pun, Joshua sudah mengeluarkan omelan-omelannya dengan wajah merengut kesal.
Agatha menarik bagian depan kemeja Joshua lalu menyandarkan kepalanya di sana. Dia lelah karena merasa terjebak pada rencananya sendiri. Semuanya akan lebih mudah dilakukan tanpa perasaan namun faktor lain seperti keberadaan ayah dan ibunya membuatnya berpikir semuanya salah sejak awal. Harusnya dia memikirkan konsekuensi menyakiti hati kedua orangtua mereka.
"Aku lelah, Joshie."
"Ada apa, kau sedang bertengkar dengan Christ?" tanya Joshua seraya memberi tepuka-tepukan kecil di bahu sahabatnya itu. Wanita yang masih menunduk dan menyandarkan kepala di dadanya itu menggeleng pelan sebelum mengangkat wajahnya.
"Sepertinya perhitunganku kali ini tidak tepat," gumamnya kemudian melepaskan diri dan menggandeng tangan Joshua kembali berjalan menuju ruangan.
Terkadang tanpa kata-katapun Joshua cukup berada di sisi Agatha saat sahabatnya itu membutuhkannya dan penjelasan maupun cerita akan mengikuti nanti jika Agatha sudah siap bercerita.
Tidak menghiraukan tatapan beberapa pegawai ke arah mereka, keduanya berlalu dengan menyamankan diri pada kehadiran masing-masing.
.......
.......
.......
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan Agatha masih membenamkan diri pada pekerjaannya. Seperti ini sejak beberapa hari karena dia sibuk menghindari Christ, karena setiap kali mereka bertemu maka pembicaraan itu akan muncul dan Agatha tidak yakin pada jawabannya. Sepertinya pria itu juga sedang melakukan hal yang sama karena beberapa waktu ini Christ tidak menjemputnya dengan alasan sibuk dan hanya mengirimkan sopir untuknya.
Tapi sampai kapan mereka akan saling menghindar?
Tadi siang pada akhirnya dia tidak jadi menceritakan kekusutan kepalanya pada Joshua meskipun dia sangat butuh saran sahabatnya itu.
Ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk, diraihnya benda itu. Pesan dari Christ.
^^^'Sunshine, kau pulang jam berapa? Aku akan meminta sopir kesana sekarang. Maaf aku belum bisa menjemput karena pekerjaanku masih banyak.'^^^
"Tidak apa-apa. Hari ini aku pulang bersama Joshua saja. Tidak perlu menjemput."
^^^"Ah, baiklah. Sekali lagi aku minta maaf.'^^^
"Tidak apa-apa."
^^^'Jangan lupa makan malam. lalu jangan pulang terlalu malam, cepat istirahat. Tidak perlu menungguku.'^^^
Entah kenapa membaca kalimat terakhir pesan dari Christ membuat perasaan Agatha sedikit tercubit. Tidak perlu menungguku—katanya.
Seharusnya itu biasa saja kan, kenapa rasanya sedikit kesal.
Memangnya siapa yang akan menunggu?
__ADS_1
Menghela kasar wanita itu menutup ponselnya seraya menyandarkan punggungnya pada kursi. Tepat saat itu Joshua masuk ke ruangannya.
"Jadi apa yang membuatmu terlihat begitu depresi? Kau benar-benar tidak mau cerita ya?" pria itu berjalan menghampirinya lalu duduk dihadapannya dengan tatapan kesal. Tentu saja Joshua merasa begitu karena sahabatnya ini memang sekeras kepala itu jika menyimpan masalah sendirian.
"Apa menurutmu sekarang aku yang tidak punya pacar dan belum menikah ini tidak bisa membantu permasalahanmu? Menurutmu salah siapa aku tidak punya pacar sampai sekarang?" terbalik justru pria itu yang kini tampak kesal.
"Bukan begitu. Kenapa jadi marah padaku? Aku hanya tidak tahu bagaimana memulai ceritanya padamu."
"Katakan saja seperti biasa, apa sulitnya?"
Sulit karena aku menyimpannya darimu.
"Aku lapar, ayo makan malam," Agatha meraih ponsel dan juga tasnya kemudian beranjak sementara Joshua mendelik kesal padanya yang tanpa konteks mengalihkan pembicaraan begitu saja.
"Agatha! Kau ini ya! Tunggu!" beranjak dari duduknya Joshua mengikuti sahabatnya itu keluar.
Memang butuh kesabaran menghadapi Agatha dan untung saja Joshua sudah kebal selama bertahun-tahun.
.......
.......
.......
Dibalik meja hitam yang penuh dengan berkas-berkas yang sudah disusun rapi itu, sosok Christ tampak duduk dengan satu tangan mengetuk-ngetuk meja sementara tangan satunya dijadikannya sandaran kepala.
Sebenarnya pekerjaannya sudah selesai sejak tadi hanya saja dia memang tidak ingin pulang. Sejujurnya dia ingin sekali pulang menemui Agatha dan memeluk istrinya itu melepas lelahnya seharian. Namun hal itu beberapa hari ini tidak bisa dilakukannya sejak pembicaraan mereka tentang keturunan.
Sebagai seorang suami dan pria yang tulus mencintai istrinya, dia telah begitu banyak bersabar, mengalah dan tetap mencintai sekalipun Agatha belum sepenuhnya jadi miliknya.
Dia tidak akan memungkiri jika dalam hatinya dia ingin dan selalu membayangkan keluarga sempurna dengan istri dan kehadiran seorang anak. Tapi itu tidak bisa terwujud sebelum istrinya itu menerimanya.
Hatinya tidak lelah dan tidak akan pernah lelah mencintai Agatha.
Tapi bagaimana jika sampai batas waktu yang mereka tetapkan habis dia tidak bisa mendapatkan cinta Agatha?
Dia tidak mau berpisah.
"Christ?"
Leon yang melongokkan kepalanya dari balik pintu memangilnya untuk memastikan.
"Ada apa?" jawabnya berat.
"Masih belum pulang? Pekerjaanmu sudah selesai kan?" berjalan pelan Leon mendekat dan berdiri di hadapannya.
"Kau ada masalah apa sih? Bertengkar dengan Agatha?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau selalu menunda pulang? Aku diam saja tapi aku selalu memperhatikanmu."
Christ menatap sepupunya itu dalam-dalam menimbang apakah dia harus menceritakan masalahnya pada Leon? Pasti sepupunya itu akan bereaksi berlebihan dan berujung menceramahinya.
"Apa aku ini terlalu bodoh?" gumamnya.
"Apa konteksnya? Kau tidak bodoh jika sampai di tahap menguasai hampir separuh bidang industri di usia sekarang dan menjadi orang termuda dalam lingkaran dunia bisnis. Tapi aku yakin bukan itu maksudmu."
"Kenapa kau justru mengocehkan hal yang seperti itu?"
__ADS_1
"Kau yang tidak bicara dengan jelas Christ. Jangan salahkan aku jika mengartikannya secara luas."
"Maksudku dalam sebuah hubungan apakah aku ini begitu bodoh?"
"Oh... soal itu, menurutku memang kau bodoh soal itu. Kau terlalu buta pada cintamu."
Mendengar jawaban menyebalkan yang diucapkan dengan santai oleh sepupunya itu membuat Christ menatap Leon kesal. Sepupunya itu tidak akan banyak membantu.
"Kenapa menatapku begitu? Memang benar kan?"
"Hahh, sepertinya percuma aku bicara padamu."
"Katakan dengan jelas agar aku mengerti. Jangan mengataiku begitu, memangnya siapa yang selalu disampingmu selama ini kalau bukan aku?" sungut Leon tidak terima.
"Baiklah, iya iya. Maafkan aku."
"Baiklah, jadi apa masalahnya? Sampai-sampai kau terlihat seperti gagal mendapat kesepakatan besar saja."
"Sepertinya ini lebih besar dari itu dan aku tidak bisa mendapatkannya."
Memicingkan mata penasaran, Leon mendekatkan diri pada sepupunya itu.
"Apa yang tidak bisa kau dapatkan? Mana mungkin seorang Christopher Winston tidak bisa memiliki sesuatu?"
"Ada. Hal ini tak bisa kudapatkan sekalipun aku punya banyak uang."
"Ayolah Christ, jangan bertele-tele bicara."
Menghela napasnya panjang, Christ kembali menatap sepupunya itu.
"Ibu dan ayah memintaku segera mempunyai anak."
Kalimat itu berhasil membuat Leon melongo tidak percaya. Sepupunya ini tidak sedang bercanda kan?
"Lalu apa masalahnya? Itu bukan hal yang sulit dilakukan, apa susahnya membuat anak?" dan pertanyaan itu dijawab Christ dengan tendangan kecil dibawah meja pada tulang kering sepupunya itu.
"Sakit! Apa yang salah dari ucapanku?" tuntut Leon tidak terima sembari mengelus kakinya.
Tentu saja salah. Aku dan Agatha tidak pernah 'tidur' bersama!
"Kau pikir bisa semudah itu?"
"Tentu saja mudah. Kalian bercinta lalu menghasilkan anak. Mudah kan? Aww—sakit Christ!" pekik Leon setelah Christ melemparnya dengan pulpen.
"Jaga mulutnu itu agar tidak sembarangan bicara."
Bagi sebagian besar orang, itu memang hal yang sangat biasa.
Tapi bagiku itu sulit sekali.
Aku selalu siap menunggu keajaiban itu terjadi.
.
.
.
Riexx1323.
__ADS_1