
Aku memang baru sekali merasakan cinta. Dan itu adalah dirimu.
Aku sendiri tidak mengerti kenapa sejak mengenalmu aku bahkan tidak bisa memandang wanita lain dengan cara yang sama seperti aku memandangmu.
- Christopher -
.
.
.
Aku tidak bisa percaya menatap sosok pria dengan setelan rapi dan sempurna dalam pantulan cermin itu.
Ya, cerminan diriku.
Aku yang beberapa jam kedepan akan menikahi wanita yang kucintai meski dia tidak mencintaiku
Menyedihkan?
Maybe yes but I don't care.
Semua jalan yang kutempuh untuk berada di sisinya tidak semudah yang kalian bayangkan.
Rasa cintaku juga bukan sekedar omong kosong. Aku mencintainya selama kurang lebih sepuluh tahun.
Ah...
Apakah kalian berpikir aku baru mengenal Agatha?
Kalian salah.
Aku mengenalnya sejak sepuluh tahun yang lalu meskipun aku yakin Agatha sama sekali tidak mengingatnya.
Ya... dia sama sekali tidak mengenaliku.
Tunggu!
Jangan berpikir aku sudah berbohong. Aku tidak menipunya atau siapapun. Seperti yang berulang kali kukatakan bahwa aku mencintainya dan itu kebenarannya.
Lalu apa yang kulakukan selama ini? Kenapa aku tidak mendatanginya lebih cepat dan menyatakan perasaanku padanya?
Kalian pasti menanyakan hal seperti itu kan?
Maaf, tapi aku belum bisa menjawabnya. Aku punya alasan yang belum bisa kukatakan sekarang.
Yang jelas di hari bahagia yang telah lama kunanti ini, mimpiku untuk memilikinya terwujud.
"Kau sudah selesai? Kita harus segera bersiap," tanya Leon yang muncul di depan pintu.
"Wah, harus kuakui hari ini kau sempurna dan sedikit lebih tampan dariku Christ," selorohnya seperti biasa, bahkan senyum lebar yang membuat wajahnya semakin tampan ikut membuatku ikut tertawa.
"Thanks, brother."
Leon menutup pintu dan melangkah mendekati sepupunya yang masih berdiri di depan kaca.
"Akhirnya obsesimu terwujud?"
"Berapa kali kubilang ini bukan obsesi, Leon."
"Lalu apa? Kau dengan cinta pertamamu?"
__ADS_1
"Kau bisa menyebutnya perjuangan cinta sejati."
Leon tertawa mendengar jawaban dariku, karena sungguh menurutnya aku bisa berubah menjadi bodoh dan konyol jika menyangkut soal Agatha.
"Tapi aku mengagumi semua hal yang kau perjuangkan untuknya, Christ. Kegigihan dan keras kepalamu itu yang tidak berubah selama kurang lebih sepuluh tahun untuk mencintainya. Juga semua rasa sakit yang kau lalui untuk hal itu."
Aku tersenyum tipis, dan Leon menepuk bahuku dua kali sebelum tersenyum lebar memberi semangat.
"Baiklah, kurasa bukan saatnya kita membicarakan hal serius disaat bahagia. Ayo keluar, ibumu sudah mengomeliku sejak tadi."
"Leon."
"Ya?"
"Terimakasih karena selalu ada dan menemaniku. Kau adalah sepupu kesayanganku, saudara yang berharga bagiku."
"Hentikan bicaramu, Arthur akan kesal jika mendengarmu lebih menyanjungku daripada dia," jawab Leon yang membuat mereka kemudian tertawa.
Setelah Leon membawaku menemui ibu dan orangtua Leon, aku melangkahkan kaki menuju ruang pengantin wanita.
Aku membuka pintu perlahan dan melihat wanita yang kucintai di sana, duduk di depan cermin tampak cantik dalam balutan gaun putihnya.
Ku ketuk pintu sebagai tanda kedatanganku, kalian ingat kan kalau Agatha benci orang yang menerobos privasi (sepertiku dulu).
"Kau sudah selesai?" tanyanya menoleh padaku. Dan lagi-lagi aku terpesona olehnya.
"Sudah, apalagi yang harus dipersiapkan untuk pengantin pria yang sudah tampan sepertiku?" candaku yang menghasilkan tatapan mencibir darinya disusul seulas senyum di sudut bibirnya.
"Kau cantik."
"Terimakasih."
Aku memandanginya dari cermin, rasanya hari ini akan menjadi momen terindah dalam hidupku.
"Untuk apa? Kau sudah memuji dirimu sendiri tadi, terlalu banyak dipuji membuatmu besar kepala nanti."
Sekalipun Agatha mengatakannya dengan ketus tapi menurutku itu seperti sebuah pesona tersendiri darinya. Galak, dingin dan kadang kasar.
"Oh, kalian sedang bersama? Christ kau harus menunggu di depan, jangan menemui pengantinmu lebih dulu," tegur Joshua yang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan di depan dada.
"Maaf Josh, aku hanya ingin melihatnya sebentar," jawabku tersenyum dan menepuk bahunya, "Sahabatmu itu terlalu mempesona," bisikku kemudian berlalu keluar meninggalkan mereka.
Yah, jika kalian tanya apakah aku tidak cemburu pada Joshua jawabannya adalah ya aku cemburu.
Tapi itu dulu karena aku menyadari bahwa mereka berdua memang sedekat itu bahkan lebih dekat daripada saudara kandung. Dan aku percaya mereka tidak lebih dari itu karena sampai sekarang status mereka memang hanya sahabat.
Jika mereka memang saling jatuh cinta bukankah seharusnya mereka sudah menjadi sepasang kekasih sejak dulu?
Jadi aku percaya pada mereka berdua.
Kulihat ibuku tersenyum cantik bersama Arthur, Jennie istri Arthur dan Safhira putri kecil mereka. Keluarga kecilku yang kusayangi.
Sejak semalam ibu sudah ribut padaku tentang ini itu dan baru kali ini kulihat senyum lebar ibuku lagi semenjak meninggalnya ayah.
Lalu di sisi lain ada tuan Anderson bersama Gabriel dan keluarga Sanders. Mereka juga tampak bahagia terutama tuan Anderson yang sejak kunyatakan untuk menikahi Agatha, berangsur-angsur kesehatannya membaik meski masih dalam perawatan.
Semua orang bahagia dengan pernikahan kami tanpa mereka tahu ada kesepakatan dalam ikatan ini.
Kuharap kali ini Tuhan tidak lagi memberikan hukuman padaku. Kuharap Tuhan mengizinkanku untuk menebus semua hal di masa lalu.
Ada segores rasa sakit yang menyelinap ketika bayangan seseorang muncul dalam benakku saat melihat seorang pria dengan kacamata minusnya memasuki ruangan. Pria yang tersenyum pada beberapa tamu lain dan duduk tepat di belakang barisan keluarga Agatha. Menyapa Gabriel dan tuan Anderson hingga pandangan matanya tearah padaku.
__ADS_1
Sesaat aku merasakan dingin pada tatapan mata yang hanya sepersekian detik itu sebelum si empunya beralih pada orang lain.
Aku masih mengingatnya.
Aku tidak akan pernah bisa menghapusnya dari ingatanku.
Rasa takut itu ternyata masih ada...
Hei,
Aku tahu kau sedang melihatku sekarang.
Aku tahu kau selalu mengawasiku, maaf karena aku ada disini.
Maaf.
Tapi bisakah kuminta padamu satu hal?
Kau boleh menghukumku sebanyak yang kau mau.
Tapi biarkan aku menjaga dan mencintai Agatha dalam sisa hidupku...
Biarkan Agatha bahagia bersamaku.
Tepat saat aku menghembuskan napas perlahan dalam seutas harapan dan doaku, pintu ruangan kembali terbuka.
Dan Agatha berdiri di sana dengan gaun putihnya.
Tampak cantik, anggun dan sempurna layaknya malaikat dari surga.
Berjalan beriringan dengan Joshua sebagai pendampingnya, Agatha berjalan menuju padaku. Banyak tamu yang menatapnya seakan tersihir oleh kecantikannya. Dan seulas senyum di bibirnya semakin memperindah sosok Agatha.
Dan aku, berdiri di sini menunggunya.
Semua hal yang terjadi sebelum ini, betapa aku mengusahakan diri bersamanya hingga takdir yang sampai di sini, membuat hatiku menghangat dan tanpa kusadari setitik air bening jatuh dari sudut mataku.
Sial, apakah aku satu-satunya pengantin pria yang menangis di depan wanitanya?
Tidak apa-apa, jika itu untuk Agatha.
Ku ulurkan tanganku, menerima tangannya dari Joshua. Dan netra coklat indahnya itu menatapku bersama sebuah senyuman yang baru pertama kali dia tunjukkan untukku.
Agatha Dwyne Anderson.
Aku menerimamu menjadi istriku.
Dan berjanji...
...
Bahkan aku mendengar getar dalam suaraku saat aku mengucapkan sumpah untuknya hingga kalimat terakhir napasku sedikit terengah.
Dan di saat kami secara resmi menjadi sepasang suami istri, aku merasa bisa meledak saat itu juga. Aku merasa tidak bisa menampung semua kebahagiaan ini.
Semoga sumpah yang kuucapkan tidak akan patah karena sebuah perjanjian.
Semoga di waktu yang telah ditetapkan aku bisa mengubah arah hatinya.
.
.
__ADS_1
.
Riexx1323.