Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Bom Yang Dijatuhkan


__ADS_3

...Terkadang kejujuran itu terasa bagai pil pahit yang harus ditelan....


...Diterima atau tidak....


.......


.......


.......


Gabriel terdiam dengan sebelah tangan yang masih memegang segelas air di dapur saat mendengar pertanyaan Joshua.


Berusaha mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat biasa saja, dia berbalik menatap sahabatnya itu.


"Apa maksud ucapanmu?"


Joshua menatapnya dalam diam sebelum menghela, "Maafkan aku jika terkesan terlalu ikut campur akan hal ini. Aku tidak bisa mengabaikan semua hal ganjil yang terjadi dalam hidup Agatha."


Gabriel masih diam tanpa respon apapun, menyandarkan dirinya pada meja makan. Menunggu Joshua melanjutkan kalimatnya.


"Aku tidak berniat untuk meributkan hal ini tapi aku merasakan ada yang aneh pada Christ. Aku sudah lama merasakannya namun berusaha kuabaikan karena Christ tidak tampak akan melakukan hal buruk pada Agatha."


Joshua mengatur napasnya kembali, "Aku sendiri telah berulang kali memastikan dan menyelidiki namun hasilnya sama."


"Apa tepatnya yang kau selidiki dari Christ?" tanya Gabriel pada akhirnya dengan suara pelan.


"Informasi masa mudanya membingungkan. Ada dua orang dekat yang sangat bisa kupercaya mengatakan hal yang sama sekali berbeda tentang Christ. Aku sudah memastikannya sendiri dan dia menyembunyikan sesuatu dengan masa lalunya—"


Joshua menghentikan ucapannya sontak menatap tajam pada sosok Gabriel yang terduduk dengan gelas yang sudah kosong ditangannya.


"Gab?" panggilnya dengan hati-hati dan entah kenapa tidak nyaman.


"Ya?" Gabriel menoleh dengan tatapan yang sama sekali berbeda dari yang diharapkan oleh Joshua.


"Kau sama sekali tidak terkejut dengan apa yang kukatakan?" tanyanya ragu karena Gabriel sejak tadi hanya diam, padahal dia menceritakan sesuatu yang janggal tentang Christ.


Ini hanya perasaannya atau memang Gabriel tampak biasa saja?


 Gabriel menghela panjang sebelum akhirnya menatap dalam pada Joshua. Tentu saja sorot pandangan mereka berdua sama sekali bertolak belakang.


"Aku sudah mengetahui hal itu, Josh. Maaf tidak memberitahumu sebelumnya."


Mendengar itu Joshua tentu terkejut, jadi Gabriel sudah tahu apa yang akan di sampaikannya?


"Kau tahu semuanya?" tanyanya sekali lagi memastikan dan Gabriel mengangguk pelan. "Sejak kapan?"


"Josh, bisakah aku memintamu untuk mendengarkan penjelasan dariku terlebih dulu? Dengarkan tanpa menyela, okay?" ucapnya pelan dengan seulas senyuman getir tersemat di ujung bibirnya.

__ADS_1


Joshua merasakan keanehan dari sikap Gabriel. Tidak biasanya sang sahabat bereaksi seperti ini jika menyangkut tentang Agatha, adik kesayangannya. Namun sikap Gabriel juga tak bisa dikatakan biasa saja karena meski diam wajahnya tampak tegang. Apapun itu sepertinya ini bukan sesuatu yang baik dan Joshua semakin tidak tenang.


"Seperti yang kau tahu, aku dan Arthur sudah bersahabat sejak lama. Aku mengenalnya dengan baik begitupun dengan keluarganya. Hanya saja kami sempat tidak saling menghubungi sejak sama-sama sibuk dengan pekerjaan."


"Dan saat kami sama-sama tidak saling berkabar itulah Arthur kembali datang menemuiku. Saat itu aku sama sekali tidak menduga dia akan datang dengan kabar buruk di saat yang paling buruk dalam hidupku."


Gabriel menghela panjang sekali lagi dengan pandangan menerawang.


"Kau bilang ada hal ganjil tentang masa muda Christ, kan? Kau sudah mendapatkan jawabannya?" kali ini Gabriel melempar pertanyaan pada Joshua yang masih diam menatap lurus padanya.


"Tidak ada yang kutemukan. Tapi aku yakin pada satu hal yang salah namun dikatakan sebagai kebenaran. Christopher Winston tidak pernah menghabiskan masa mudanya di Skotlandia."


Gabriel mengangguk perlahan namun tak mengatakan apapun.


"Tapi aku cukup kaget dengan fakta bahwa Christ mendapatkan pendidikannya di universitas yang sama denganku dan Agatha di tahun yang sama. Dan yang lebih mengejutkan adalah fakta bahwa kami pernah berada di komunitas sosial yang sama."


Joshua mengucapkannya dengan tenang namun keseriusan dalam suaranya sangat kentara. Begitupun sorot matanya yang tak lagi menatap ramah dan menjadi lebih dingin.


Hal yang ditakutkan oleh Gabriel daripada harus bertengkar dengan Joshua secara fisik.


"Kau sudah tahu hal itu rupanya," tukas Joshua saat dilihatnya sikap Gabriel tetap tenang tanpa ada perubahan emosi.


"Ya, aku sudah mengetahuinya."


"Apa alasannya?"


"Kenapa data pribadinya disembunyikan dan dipalsukan?"


Pertanyaan inilah yang ditunggu dan diantisipasi oleh Gabriel.


"Karena ada masalah pribadi yang tidak bisa dan tidak boleh diketahui oleh publik. Keluarga Winston menghapus riwayat masa lalu itu dan menggantinya dengan fakta lain."


"Dan apa tepatnya masalah yang membuat mereka melegalkan cara penipuan publik seperti ini?" tukas Joshua dingin.


Sebagai seseorang dengan latar belakang keluarga yang mengerti hukum dan mengelola firma hukum, Joshua tidak bisa membenarkan fakta bahwa data pribadi seseorang yang dengan sengaja disebarkan adalah palsu karena itu artinya penipuan dan melanggar hukum. Apalagi data pribadi palsu ini digunakan oleh Christ hampir disemua pendataan tertulis pada setiap dokumen resmi negara sebagai catatan pribadinya.


Gabriel tidak langsung menjawab, justru melangkahkan kakinya untuk kembali mengisi gelasnya dengan air es sebelum kembali pada posisinya.


"Kau ingat tadi aku mengatakan bahwa Arthur mendatangiku setelah lama kami berpisah?"


Gabriel menatap dalam manik kelam Joshua karena dia tahu sahabatnya itu tidak akan menjawab.


"Dia datang di saat aku berada dalam masa tersulit hidupku. Aku yakin kau tahu apa yang menjadi masa sulit untukku, Josh."


"Arthur datang saat aku mati-matian mempertahankan hidup Agatha yang hancur. Saat Agatha memilih untuk menghancurkan hidupnya sendiri karena kehilangan Mikael. Saat itu aku tidak tahu harus melakukan apa selain  panik dan tak bisa memikirkan hal lainnya. Aku ingat dengan jelas bahwa kala itu kedatangan Arthur justru memperparah keadaanku."


Joshua masih diam mendengar tanpa berniat menyela.

__ADS_1


Dia bisa merasakan apapun yang hendak dikatakan oleh Gabriel bukanlah sesuatu yang baik.


"Arthur datang karena mendengar kejadian yang terjadi pada Agatha. Menanyakan padaku apakah aku baik-baik saja. Tentu saja jawabanku saat itu tidak. Siapa yang bisa tetap waras jika melihat orang yang disayanginya hancur."


Tersenyum getir Gabriel kemudian menenggak air dingin dari gelasnya.


"Kau tahu apa yang kubenci dari takdir? Ikatan yang diciptakannya saling membelit dan rumit sampai aku terjebak di dalamnya. Dan itu terbukti dengan kedatangan Arthur yang meminta maaf padaku atas apa yang terjadi pada Agatha."


Joshua memicingkan mata mendengar ucapan Gabriel hingga tanpa sadar dia memajukan tubuhnya dengan tangan mengepal di atas meja.


"Apa maksudmu? Kenapa Arthur meminta maaf karena Agatha?" cercanya menuntut.


"Arthur datang untuk meminta maaf karena secara tidak langsung perbuatan adiknya menyebabkan kehancuran pada Agatha yang harus kehilangan orang yang dicintainya."


"Tunggu! Maksudmu—penyebab Agatha kehilangan...?"


Sungguh apapun itu Joshua berusaha menghentikan pikiran buruk dari kepalanya. Karena saat kejadian naas itu terjadi dia tidak ada di sana, dia tidak tahu persisnya.


"Kau sudah menyadari bahwa kau dan Agatha berada di komunitas sosial yang sama dengan Christ kan?"


Joshua tidak menjawab dan hanya menatap Gabriel dengan napas yang tak lagi pelan.


"Saat kecelakaan naas itu terjadi, Christ ada di sana dalan kegiatan sosial itu. Dan yang tidak pernah diketahui orang adalah penyebab pasti kecelakaan malam itu. Kejadian yang ditutup sebagai kecelakaan biasa meski itu bukan sebenarnya."


Dan demi apapun sekarang jantung Joshua berdetak lebih cepat mengantisipasi setiap kalimat dari mulut Gabriel.


"Penyebab kecelakaan malam itu yang membuat Mikael kehilangan nyawanya adalah Christopher Winston. Dia yang mendorong Mikael terjatuh ke danau."


Dan Joshua tidak lagi bisa menahan keterkejutannya karena sontak dia bangkit dari duduknya hingga kursi yang do duduki olehnya jatuh. Satu tangannya menutup mulutnya yang terbuka saking terkejutnya dan satu tangan lainnya mengepal erat di atas meja.


Dia tidak salah dengar kan?


Gabriel tidak sedang bercanda kan?


Apa lagi ini?


Christ...?


Pria itu penyebab kematian Mikael?


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2