Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Perbedaan Bentuk Kasih Sayang


__ADS_3

...Siapa yang bisa kupercaya dalam hal ini?...


...Seperti berlari di dalam sebuah labirin, aku hanya mengikuti lorong-lorong yang mungkin akan membawaku keluar dari kerumitan ini....


...Namun labirin tetaplah labirin, sejauh apapun aku berlari keluar pada akhirnya aku akan tersesat semakin dalam....


.......


.......


.......


Gabriel masih terpaku di tempatnya menatap Joshua yang sepertinya nyaris menggila.


Sahabatnya itu menghela napasnya kasar kemudian tertawa sarkas. Begitu terus selama beberapa menit berulang sejak dia mengatakan fakta pahit itu.


Joshua sudah tidak lagi tenang karena langkah mondar mandir juga tangan yang memijat pelipisnya pelan itu sudah menunjukkan betapa terguncang dirinya.


Gabriel tidak berani bergerak atau mengatakan apa-apa. Tidak sampai Joshua kembali tenang.


"Gab. Kau sudah tahu hal ini sejak awal kan?" tanyanya kemudian pada Gabriel dengan sorot mata yang bisa membunuh siapapun karena tajamnya.


"... ya."


"Kenapa Christ melakukan hal itu pada Mikael?"


"Christ sudah menyukai Agatha sejak kalian berada di tahun kedua. Dia tidak bisa mendekati Agatha karena status pertunangannya dengan wanita yang tidak disukainya. Dia merasa cemburu dan tidak adil melihat Agatha yang memilih bersama Mikael saat itu. Karena kecemburuan itulah dia bertindak impulsif dan menghilangkan nyawa orang lain." 


"Membunuh seorang disabilitas, bukankah dia disebut psikopat? Membunuh orang yang jelas lebih lemah darinya."


"Dia tidak melakukannya dengan sengaja, Josh.


"Kenapa kau melakukan ini pada Agatha, kenapa kau tega mempermainkan hidupnya dan menikahkannya dengan pembunuh?"


"Aku melakukannya demi kebaikan Agatha. Dan lagi aku tidak mempunyai pilihan lain. Arthur meminta maaf dan juga memohon padaku agar membantunya mendapatkan pengampunan dari Agatha untuk Christ. Aku tidak bisa melihat orang lain juga mengalami apa yang kurasakan apalagi dia adalah sahabatku! Josh, kau juga harus memikirkan bahwa Christ tidak sengaja melakukan hal itu, bukannya sengaja melakukan pembunuhan."


"Jadi kau memaklumi perbuatannya karena dia saudara sahabatmu?" sarkasnya yang tidak melihat kenapa dia harus mengabaikan kejahatan Christ.


"Bukan begitu. Aku hanya berusaha memahami dari posisi yang kualami. Kami berdua sama-sama kakak dari dua orang yang hancur. Kami berdua hanya ingin melakukan yang terbaik untuk orang yang kami sayangi."


"Dengan memaklumi tindakan kriminalnya yang bahkan sama sekali tidak tersentuh hukum?"


"Joshie, aku tahu ini sulit diterima tapi itulah keputusan terbaik saat itu."


Joshua memejamkan mata dengan tangan memijit keningnya pusing. Semuanya tidak masuk akal bahkan sikap Gabriel yang memaklumi semuanya.

__ADS_1


"Kenapa dia tidak menyerahkan diri dan melaporkan hal itu alih-alih menutupi faktanya selama ini? Lalu bukankah itu artinya dia tahu dan mengenal siapa Agatha sebenarnya sebelum mereka menikah? Dia membohongi Agatha?" nada suara Joshua tidak lagi bisa tenang, pria itu sudah meledak dengan emosinya.


"Christ ada dalam keadaan psikologis terganggu setelah kejadian itu sehingga  keluarga Winston harus menutup kasus itu. Dia dan Agatha mengalami hal buruk yang mempengaruhi kejiwaan mereka. Hal itu membuatku memaklumi tindakan yang diambil keluarga Winston."


"Mereka melakukan kejahatan, Gab. Membunuh, menghilangkan bukti, kabur, memalsukan identitas dan menyebarluaskannya lalu sekarang menipu sebuah pernikahan?"


Gabriel hanya terdiam tanpa bisa membalas ucapan sahabatnya itu. Semua yang dikatakan oleh Joshua adalah benar, dia tidak menyangkalnya. Namun semua sudah terjadi dan yang dilakukannya selama ini hanyalah berusaha melakukan yang terbaik untuk adiknya dan juga Christ.


"Maafkan aku, Joshie. Aku hanya ingin Agatha bahagia."


"Agatha tahu hal ini?"


Gabriel terdiam. Tentu saja adiknya itu tidak tahu sama sekali.


"Gab, aku tanya apa Agatha tahu masalah ini?"


"Tidak. Dan kau tidak boleh memberitahunya, Josh."


"Dan membiarkan dia hidup dalam kebohongan? Kalaupun dia bahagia maka itu hanya ilusi karena kalian lah yang merencanakan semuanya. Menurutmu bagaimana perasaan Agatha jika dia mengetahuinya?" sentak Joshua marah, dia sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Dia menjaga Agatha selama ini sama seperti hidupnya sendiri. Bukankah sebagai seorang kakak seharusnya perasaan Gabriel lebih dari itu? Kenapa justru sahabatnya ini yang mencurangi kebahagiaan Agatha sejak awal?


Joshua meraih ponselnya dan berniat menghubungi Agatha.


"Apa yang kau lakukan?" sergah Gabriel saat melihat niat Joshua.


"Jangan lakukan itu, Josh!"


"Aku harus melakukannya! Aku tidak ingin Agatha hidup dalam skenario kalian."


"JOSHUA SANDERS! Aku melarangmu sebagai kakaknya dan aku tahu apa yang terbaik untuknya!" teriak Gabriel pada akhirnya, dia sungguh tidak mengharap pertengkaran seperti ini dengan Joshua. Dia hanya ingin sahabatnya itu memahaminya.


"Jika kau benar-benar menyayanginya sebagai kakak, harusnya kau tidak mengkhianatinya!" balas Joshua menatap tajam dan dingin pada Gabriel. Tepat saat itulah ponsel dalam genggaman Joshua bergetar menandakan panggilan masuk.


Dari Agatha.


Kedua pria itu saling menatap dengan Gabriel yang menggeleng dan meminta Joshua untuk tidak melakukan apapun tapi Joshua tidak bisa, dia menggerakkan jemarinya pada tombol jawab.


"... Agatha?" jawabnya berusaha terdengar normal sekalipun napas dan debaran jantungnya melakukan sebaliknya.


'Joshie? Ada apa, kenapa napasmu terdengar begitu? Kau baik-baik saja?' tanya wanita itu khawatir dari seberang sana.


"Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya baru saja mimpi buruk. Kau jadi datang kemari?"


'Ah, ya aku menelpon untuk itu. Maaf tapi sepertinya aku tidak jadi mengunjungimu. Christ sepertinya sedang sakit jadi aku harus pulang untuk memeriksa keadaannya.' jelas Agatha merasa tidak enak, 'Maaf, aku akan mengirimkan makanan dan beberapa vitamin ke apartemenmu.'

__ADS_1


"Tidak apa-apa, terimakasih kau masih memperhatikanku."


'Tentu saja, jika bukan aku memangnya siapa yang akan mengurusmu?' tanya wanita itu dengan suara angkuhnya. 'Aku akan segera menjengukmu nanti, kau ambil cuti saja.'


"Agatha, tunggu!" panggil Joshua ketika sahabatnya itu sudah akan mengakhiri panggilan.


'Ya? Ada apa?'


Joshua terdiam menatap Gabriel yang terlihat pasrah di hadapannya. Bahkan Joshua melihat ada sorot penyesalan dalam tatapan Gabriel.


"Tidak apa-apa, sampaikan salamku pada Christ."


'Baiklah. Kau juga istirahatlah.'


Panggilan itu berakhir dan Gabriel menghembuskan napasnya panjang. Tubuhnya merosot dan terduduk di lantai dapur. Tenaganya serasa terkuras habis dalam beberapa saat barusan.


Dan tanpa disangka pria itu terisak dengan kepala tertunduk, Joshua tentu saja terkejut dan refleks berjongkok memeriksa keadaan Gabriel yang berantakan itu. Dia tidak tahu bagaimana semua perasaan dalam hatinya kini bercampur menjadi satu dan membuatnya pusing.


"Aku tahu telah melakukan kesalahan besar dan tak termaafkan dalam hidup Agatha dan aku sangat menyesalkan semua itu karena aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku bahagia ada kau yang juga sangat menyayangi Agatha, Josh. Tapi aku mohon padamu untuk kali ini saja bantu aku membuat Agatha bahagia. Aku mohon..."


Ucapan Gabriel terdengar begitu putus asa dan menyakitkan bagi Joshua.


"Gab, aku menghormatimu sebagai sahabat juga sebagai seorang kakak. Aku tidak bisa begitu saja memaafkan alasanmu namun aku akan mencoba untuk mengerti dan memahami semuanya." jawab Joshua kemudian.


"Benarkah? Kau janji tidak akan memberitahu Agatha?"


"Aku tidak bisa menjanjikannya hanya saja untuk saat ini aku tidak akan memberitahu Agatha. Hanya saja aku harap kalian semua mempertimbangkan perasaannya karena dia berhak, ini hidupnya, Gabriel."


Gabriel hanya mengangguk sebelum merangkul sahabatnya itu erat, "Terimakasih Josh. Dan maaf untuk semuanya."


"Kau harus minta maaf pada Agatha."


"Iya. Maaf tadi berteriak padamu."


"Aku mengerti. Jangan pernah menyakiti Agatha karena meskipun itu kau, Gab. Aku tidak akan pernah tinggal diam."


Kedua pria yang sama-sama berarti bagi Agatha. Dua orang yang sama-sama menyayangi Agatha lebih dari hidup mereka dan akan melakukan apapun demi Agatha.


Dua orang yang memiliki cara yang berbeda untuk melindungi orang-orang yang mereka sayangi.


.


.


.

__ADS_1


Riexx1323.


__ADS_2