
...Mencintainya sama seperti melukis kembali warna warna dalam hidup....
...Indah......
...-Agatha-...
.
.
.
Joshua membolak balik dokumen di tangannya, memastikan apa yang baru saja di bacanya adalah sesuatu yang valid.
Dokumen pribadi dari Mikael Dean Olivander.
Seseorang yang hampir tiga bulan ini dekat dengan sahabatnya, Agatha.
Dan sudah menjadi kebiasaannya untuk menyelidiki siapapun yang mendekati Agatha, bukannya apa-apa hanya bentuk dari penjagaannya akan sahabatnya itu.
Mikael bukan seseorang dengan status tinggi, dia tinggal di sebuah rumah panti sosial. Tidak diketahui siapa orangtua kandungnya, hanya secara hukum diangkat menjadi anak madam Anna sejak ditemukan saat bayi.
Bukan tuna wicara sejak lahir, saat kecil dia masih bisa bersuara hanya saja saat berusia tiga tahun dia mengalami kecelakaan lalu lintas bersama madam Anna yang melukai pita suaranya dan membuatnya kehilangan kemampuan bicara.
Meski memiliki kekurangan namun Mikael merupakan anak dengan kecerdasan luar biasa sehingga mampu menutupi kekurangannya itu.
Hal itu juga yang membuat Mikael dapat memasuki Medical department yang tergolong sulit.
Memiliki saudara angkat yang juga berada di department yang sama.
Mikael bekerja paruh waktu di sebuah florist disela-sela kuliahnya dan juga tugasnya menjaga adik-adik angkatnya membantu madam Anna.
Reputasi yang cukup baik di mata Joshua dan juga tidak berbahaya. Namun Joshua ragu dengan tujuan sesungguhnya dari Agatha.
Sahabatnya itu tidak pernah sekalipun tertarik dengan hubungan sosial apalagi memulai pertemanan. Dan sepertinya dalam kasus Mikael merupakan pengecualian.
Ponselnya yang berada di atas meja bergetar menampilkan sebuah notifikasi pesan dari Agatha.
'Nanti jemput aku di rumah madam Anna ya.'
'Aku dan Mikael masih mengerjakan tugas dari madam Anna.'
__ADS_1
Joshua menghela, lihat saja bahkan sekarang Agatha lebih sering meluangkan waktu untuk Mikael. Agatha kadang pergi ke rumah asuh dengannya ketika Mikael sibuk dengan kegiatannya.
Meraih kunci mobilnya Joshua beranjak pergi menuju rumah madam Anna karena dia sendiri merasa cukup nyaman berada di sana.
.
.
.
"Kau tidak apa-apa membawa itu sendirian? Aku bisa membantumu," tanya Agatha saat Mikael membawa kardus berisi buku-buku yang baru mereka beli untuk anak-anak di rumah panti.
Mikael tersenyum dan menggeleng. Ada kegiatan amal yang dilakukan oleh rumah asuh madam Anna setiap bulan yaitu menyumbangkan buku-buku keperluan anak-anak kepada rumah asuh lain yang membutuhkan.
Mungkin terdengar aneh karena mereka sendiri merupakan panti asuh. Tapi keadaan rumah asuh madam Anna tidak seperti rumah asuh lain yang membutuhkan dana sosial sebagai faktor pendukung pengoperasiannya, rumah asuh madam Anna tidak seperti itu.
Rumah ini sangat berkecukupan karena semua usaha madam Anna sebagai pemiliknya. Dia merawat dan membesarkan sembilan anak asuhnya seperti anak sendiri. Bahkan dari luar mereka tidak akan terlihat seperti anak-anak rumah panti asuh lainnya. Madam Anna adalah seorang psikolog di samping sebagai pemilik rumah asuh. Madam Anna juga memiliki sebuah toko roti yang dikelolanya untuk menunjang pemasukan mereka. Semua kebaikannya untuk mendirikan sebuah rumah asuh adalah murni karena kebaikan hatinya dan juga ketertarikannya pada anak-anak kecil yang kurang beruntung.
Dan di rumah panti itu sekarang ada tiga anak yang sudah dewasa yaitu Anggie yang sudah bekerja di sebuah perusahaan real estate namun masih memilih tinggal dan membantu di rumah panti juga Mikael dan Felix yang kebetulan seumuran, tiga yang lain masih berusia 14 tahun, dua orang berusia 10 tahun dan seorang lagi masih balita.
Karena itulah ketika Anggie masih sibuk bekerja maka Mikael dan felix lah yang akan bertugas membantu madam Anna.
Akhirnya Mikael mengeluarkan catatannya setelah sejak tadi dia menahan diri untuk bicara dengan Agatha dengan kedua tangannya yang membawa kardus.
'Apa kau tidak apa-apa sering mengikutiku begini?' tanyanya melalui catatan yang disodorkannya pada Agatha.
"Tidak, kenapa? Kau merasa terganggu?"
Laki-laki itu buru-buru menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Agatha kemudian kembali menulis, 'Aku senang dengan bantuanmu. Terimakasih.'
'Tapi aku khawatir menyita banyak waktumu, karena kegiatan rumah kami begitu banyak. Kau pasti sibuk kan?'
"Aku tidak apa-apa, kenapa kau khawatir sementara aku tidak keberatan? Aku juga senang bersama saudara-saudaramu yang lain."
'Aku takut Joshua aka marah.'
"Joshua? Kenapa dia harus marah?"
"Karena sepertinya aku mengambil banyak waktumu darinya,' jawab Mikael yang membuat Agatha terheran. Bagaimana mungkin laki-laki ini sampai berpikir seperti itu? Kemudian Agatha tertawa ringan membuat Mikael menatapnya bertanya.
"Astaga Mikael, kau mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. Overthinking tidak bagus untuk kesehatanmu," jawabnya masih dengan tawa kecil.
__ADS_1
Laki-laki itu mengernyit kesal namun kemudian ikut tersenyum. Tangannya kembali sibuk menulis pada catatannya lagi.
'Kau tahu Agatha? Kau adalah gadis dengan kepribadian paling menyenangkan yang pernah kutemui. Kau baik hati dan juga suka melakukan hal-hal yang berbeda dari sebagian gadis pada umumnya.'
"Maksudmu aku suka berdebat dan mengomel? Salahkan Joshua kalau begitu karena dia yang mengajarkan padaku semuanya."
'Bukan begitu, emm... mungkin itu salah satunya tapi kau berbeda. Kau dengan segala pesonamu itu berbeda Agatha. Aku menyukainya.'
Dan Agatha merasakan panas mengalir di kedua pipinya mebaca deret tulisan dari laki-laki di sebelahnya itu. Oh ayolah, itu hanya sebuah pujian kenapa dia merasa malu begini? Joshua sering memujinya juga kan?
"Ehem, jadi kau suka pesonaku? Atau kau suka padaku?" tanyanya kemudian dengan nada yang di usahakannya terdengar sedingin mungkin. Bahkan bagian dalam dirinya menjerit karena merasa malu.
Tertegun sejenak Mikael menatap kedua manik coklat Agatha, kemudian segaris senyum terukir di bibirnya. Kali ini dia meletakkan buku catatannya dan mulai menggerakkan tangannya.
'Aku menyukaimu. Segala hal tentang dirimu, Agatha' jawabnya menggunakan bahasa isyarat sementara Agatha memandanginya dengan tatapan bertanya.
"Ah, apa artinya? Aku masih tidak bisa bahasa isyarat," ucap gadis itu mengeluh karena curang sekali jika Mikael menggunakan bahasa isyarat alih-alih menuliskannya. Apakah itu artinya sesuatu yang tidak baik?
Kini laki-laki itu tertawa hingga manik matanya yang selalu berbinar itu tampak menyipit. Memang tidak ada suara yang terdengar, namun Agatha bisa merasakan indahnya suara yang mengiringi paras tampan di sampingnya itu. Dan untuk sesaat Agatha merasa ruang udara di sekitarnya menyempit namun ada perasaan lain yang menyeruak dan memberi energi padanya.
Mikael.
Seseorang yang tidak terduga dalam hidupnya.
Seseorang yang memiliki magnet menarik dan membuatnya ingin tahu.
Seseorang yang memiliki dunia berbeda dengannya namun jauh lebih indah dan sederhana.
Segala hal tentang Mikael adalah hal baru.
Segala sesuatu yang menarik.
Dan Agatha yakin bahwa kini dia tidak bisa lagi berada jauh dari laki-laki ini.
.
.
.
Riexx1323.
__ADS_1