Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Kata Maaf dan Rasa Takut


__ADS_3

...Karena mungkin dalam gersangnya padang di dalam hati yang dipenuhi emosi....


...Satu kata maaf bisa menjadi setetes air atau bahkan menjelma oase yang mengobati sakit karena keringnya hati....


.......


.......


.......


Christ berlari kecil memasuki hotel dengan private restoran yang di alamatkan padanya. Dia tidak ingin melakukannya, sungguh.


Ini masih pagi namun dirinya sudah merasa begitu lelah dengan situasi ini.


Tadi pagi-pagi sekali Neona mengirimkan alamat ini padanya. Dan tentu saja wanita itu memintanya datang. Awalnya Christ ingin mengabaikan namun kalimat terakhir dari pesan Neona membuatnya mau tak mau menuruti keinginan wanita itu lagi.


Mengatur napasnya dan merapikan setelan jasnya, Christ melangkah memasuki restoran. Tidak ada siapa-siapa kecuali pegawai yang bertugas.


Sial, wanita itu pasti akan membuatmya menunggu lagi.


Kesal kemudian Christ duduk di tempat yang sudah di sediakan. Dia bahkan harus berbohong dan meninggalkan  Agatha karena hal ini tapi seenaknya saja Neona membuatnya menunggu.


Sebenarnya akhir-akhir ini Christ menghindari bertemu Agatha. Sejak mengalami mimpi buruk beberapa waktu sebelumnya Christ merasakan rasa bersalah itu kembali lagi.


Merasa jauh dari Agatha dan karena itulah dia merasa sangat merindukan Agatha.


"Kau datang cepat kali ini, Babe."


Neona berjalan menghampirinya dengan santai.


"Neona, katakan saja apa maumu dan aku akan memberikannya. Jangan mengganggu hidupku dan Agatha."


"Mauku?" Neona mengambil duduk dan melirik pria di hadapannya itu sekilas dengan senyum di sudut bibirnya.


"Ayolah Christ, kenapa wajahmu tegang seperti itu?"


"Jelaskan apa maksud dari pesanmu tadi," Christ menghela, "Kau sendiri mengatakan merasa hancur dengan situasi ini. Lalu kenapa kau justru memperpanjang semuanya? Harusnya kau melupakan ini dan melanjutkan hidupmu. Bukan mengangguku seperti ini."


"Melupakan? Mudah sekali kau mengatakan hal itu. Kau adalah pemeran utama dalam masa lalu kelam itu. Aku hanya tidak beruntung karena melihatnya," Neona menatap Christ dengan tatapan yang kini dipenuhi emosi.


"Kau tanya apa mauku kan? Aku mau kembali seperti dulu! Sebelum aku menjadi pendosa karenamu!"


Christ hanya diam mendengar ucapan emosi wanita di hadapannya itu. Karena dirinyalah Neona ikut berada dalam kisah ini. Seingatnya bahkan dia tidak pernah meminta maaf atau mengatakan apapun yang baik pada Neona selain membentak dan menyalahkan Neona saat itu demi menutupi rasa bersalahnya sendiri.


Benar.


Seharusnya dia meminta maaf pada Neona.


Christ mengangkat wajahnya dan menatap Neona, kali ini sorot mata itu berubah menjadi lebih lembut.

__ADS_1


"Neona. Aku minta maaf."


Mengerjapkan matanya dua kali Neona memastikan bahwa pria di hadapannya itu sedang tidak salah bicara.


"Apa yang kau katakan barusan?"


"Aku minta maaf. Seharusnya aku mengatakan ini bertahun-tahun yang lalu padamu," entah kenapa begitu mengucapkannya ada perasaan asing yang mengalir dalam dirinya dan memberinya kekuatan untuk bicara.


"Maaf untuk semua hal buruk yang terjadi padamu. Maaf karenaku kau pun harus mengalami dan menanggung kesulitan. Maaf karena sikapku yang tidak pernah baik padamu. Harusnya aku memahami bahwa saat itu kaupun ketakutan, harusnya aku juga membuatmu tenang," ucap Christ penuh penyesalan.


Tersenyum lembut Christ menatap Neona yang kini justru menatapnya dengan wajah penuh air mata. Wanita itu tidak lagi menahan luapan emosinya, dibiarkannya rasa yang mengendap bertahun-tahun itu luruh dalam bulir kristal dari matanya.


"Maafkan aku, Neona."


Dan dalam setiap kata maaf yang Christ ucapkan, hati Neona serasa diremas dan rasa sesak di hatinya itu luruh dalam buliran kristal bening di ujung matanya.


"... kenapa baru sekarang?" parau Neona, "Kau adalah orang paling jahat yang pernah kutemui Christ..."


Dan suara Neona teredam karena Christ tiba-tiba berdiri dan menariknya dalam pelukan. Menepuk pelan bahu Neona yang justru malah semakin terisak.


Lagi-lagi waktu menyelesaikan segalanya ketika manusia mau berusaha memahami setiap arti dari kejadian yang datang dalam hidup mereka. Dan menjadi dewasa dalam pemahamannya.


Christ dengan segala keegoisannya di masa lalu, kini menyadari bahwa dalam kisahnya ada banyak orang yang terluka. Dan mungkin sebagian akan bisa disembuhkan.


"Kau boleh membenciku dan tidak memberi maafmu. Tapi aku dengan segala kerendahan hati meminta maaf dengan tulus padamu."


"Kenapa aku harus menangis karena kata-katamu, menyebalkan," ucapnya sembari mengusap sisa air matanya.


"Tapi Christ, permintaan maafmu tidak cukup."


Neona kemudian beranjak dari duduknya, "Padahal aku memintamu datang untuk menemani sarapan. Tapi kau mengacaukan pagiku dengan semua air mata menyebalkan ini."


Neona berbalik untuk melangkah pergi meninggalkan Christ yang masih terdiam di tempatnya.


"Kurasa kau harus bersiap Christ. Pembalasan untukmu akan segera datang. Aku sudah mengatakannya pada istrimu."


"Neona–"


"Aku yakin istrimu tidak mudah terhasut dan termakan oleh ucapanku. Tapi cepat atau lambat kurasa dia akan tetap bertanya padamu, jadi sebaiknya kau mempersiapkan diri," peringat Neona dari depan pintu, sudut bibirnya terangkat memberi kesan angkuh yang sempat menghilang beberapa saat lalu.


"Sampai jumpa, Christ."


.


.


.


Gabriel kini duduk dengan cemas di balik kemudi. Dia sudah sampai di parkiran apartemen Joshua sejak 15 menit yang lalu.

__ADS_1


Namun dia belum siap untuk naik dan bertemu sahabatnya itu.


Entah kenapa membayangkan hal-hal buruk yang bisa dilakukan oleh Joshua membuatnya merasa gugup. Tapi dia sudah tidak bisa lagi menghindar.


Dengan penuh keengganan Gabriel memaksa kakinya turun dan keluar dari mobilnya. Menarik napas panjang sebelum menghembuskannya dengan pelan, lalu melangkah dengan berat menuju unit sahabatnya itu.


Dia sudah memikirkan jawaban namun dia tidak yakin apakah dirinya bisa membela alasannya di hadapan Joshua nanti.


Tiba di lantai 7 kakinya masih terasa berat untuk melangkah sampai getaran di ponselnya membuatnya terkejut.


Dari Joshua.


"H-hei, ada apa?" jawabnya gugup.


'Kau jadi datang? Aku sudah menunggumu lama, sudah hampir jam makan siang,' sungut Joshua di seberang sana.


"Ah, aku sudah sampai. Tunggu 5 menit lagi," jawabnya langsung menutup sambungan dan mulai melangkah.


Dan benar, tak sampai 5 menit Gabriel kini berdiri di depan pintu. Ditekannya bel dua kali, dan tak lama Joshua berdiri di hadapannya.


"Kenapa lama?" tanya Joshua heran kemudian berjalan masuk membiarkan Gabriel mengikutinya.


"Aku membawakanmu makan siang," jawab Gabriel yang kemudian berbelok ke dapur untuk meletakkan barang bawaannya dan menatanya ke wadah.


Dia berusaha mengulur agar Joshua tidak langsung bicara serius padanya.


"Gab, letakkan itu nanti saja. Akan kubantu nanti," ucap Joshua dari ruang tengah.


"Tidak apa-apa, akan kusiapkan. Kau lelah kan? Istirahat saja."


"Terserah kau saja," jawab Joshua.


Menghembusksn napas lega Gabriel bergerak pelan dan sesekali melirik kearah sahabatnya itu. Rasanya tidak nyaman harus bersikap seperti ini tapi apa boleh buat.


Baru saja Gabriel merasa sedikit lega, dia dikejutkan oleh suara Joshua tiba-tiba.


"Gabriel, kau tahu masa lalu Christopher?"


Dan Gabriel merasa saatnya tiba untuk menghadapi kenyataan.


Cepat atau lambat.


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2