
...Jika aku bisa bertaruh untuk segala hal di dunia ini, ...
...maka akan kupertaruhkan ...
...segala yang kumiliki ...
...untuk mengulang kembali waktu....
.......
.......
.......
Dia tidak pernah memikirkan bahwa dirinya akan terseret dalam penyesalan seumur hidup hanya karena tindakan impulsifnya.
Dia tidak pernah melakukan hal-hal yang melanggar nilai-nilai kebaikan sebelum ini dan tidak pernah berpikir untuk melakukan itu dalam hidupnya.
Christ terkejut karena dorongannya membuat Mikael terjatuh ke danau. Dia tidak bermaksud begitu hanya saja rasa kecemburuan, iri, dan juga kekesalan itu menumpuk dalam hatinya.
Dilihatnya Mikael berusaha untuk menggapai-gapai permukaan air namun bukannya mengulurkan tangan untuk membantu pemuda itu, Christ justru melangkah mundur.
Seharusnya air danau ini tidak dalam kan?
Danau ini dekat dengan rumah panti yang dihuni anak-anak, seharusnya tidak berbahaya kan?
Dengan pikiran itu bercampur dengan emosi dan keterkejutan, Christ melangkahkan kakinya meninggalkan jalan setapak yang ada di tengah danau, mengabaikan Mikael yang sedang berusaha keluar dari air.
Christ berlari dengan perasaan yang bercampur aduk. Dia tidak tahu kenapa dia malah berlari seperti ini?
Langkah kakinya tiba-tiba terhenti karena tarikan pada lengannya membuatnya berbalik dengan jantung berdebar kencang.
"Kau! Apa-apaan meninggalkannya sendirian tanpa menolongnya?" Neona bertanya dengan suara tertahan.
"K-kau! Apa yang kau lakukan di sini?" Christ terbelalak kaget dan dengan segera menolehkan kepalanya pada sekeliling memastikan tidak ada orang lain di sana selain mereka.
"Aku mengikutimu sejak tadi," suara gadis itu sedikit bergetar sementara kepalanya menoleh ke belakang. "Bukankah kita harus kembali untuk menolongnya?" tanyanya takut.
Christ membuka bibirnya untuk mengatakan sesuatu namun tak ada kata yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa kau mengikutiku? Kau melihat semuanya?" tanyanya mulai panik dan takut karena Neona melihatnya.
"Aku hanya penasaran kenapa kau pergi diam-diam tadi jadi aku mengikutimu sampai di danau dan—"
Kalimat Neona terputus karena tangan Christ sudah menutup mulutnya. Tentu saja gadis itu terkejut dan ketakutan tapi Christ tidak melepaskannya.
"Kau harus diam. Lupakan apapun yang kau lihat. Lagipula danaunya tidak dalam jadi dia pasti tidak apa-apa," bisiknya serius kemudian melepaskan tangannya agar gadis itu bisa bernapas.
"T-tapi bukankah kita tetap harus menolongnya? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya?" Neona menatap dengan ketakutan hingga air matanya menggenang.
"Kau hanya perlu diam! Semuanya akan baik-baik saja. Ingat! Kau harus diam dan bersikap tidak tahu apa-apa," ancam Christ yang kemudian menarik lengan Neona untuk pergi dari sana.
__ADS_1
Keduanya diam dalam pelarian mereka dan berusaha menenangkan rasa panik, ketakutan dalam diri masing-masing.
Yang tidak disadari oleh Christ adalah sekalipun ini di penghujung musim tapi suhu masih terasa dingin bahkan lebih dingin dalam air.
Christ dan Neona kembali ke rumah panti dan bergabung dengan yang lain, dan tepat saat itu Agatha yang sudah kembali pun tengah sibuk mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Jantung Christ terasa akan melompat keluar melihat Agatha yang berjalan kesana kemari.
Gadis itu pasti mencari Mikael.
Dengan napas yang berusaha diaturnya agar terlihat normal, Christ memperhatikan Agatha yang terlihat panik. Ada perasaan berat yang kini dirasakannya dan kebimbangan apakah dia harus kembali ke danau dan menolong Mikael.
Neona menarik lengannya, "Christ, sepertinya kita harus kembali dan menolongnya. Aku takut terjadi hal buruk padanya," bisik Neona ketakutan.
"Diam Neona, jangan bicara macam-macam," balasnya berbisik dan mengancam.
Tangannya kini menggandeng tangan Neona erat, takut jika gadis itu akan kabur dan mengatakan kejadian yang baru dilihatnya. Lagipula dia yakin tidak akan terjadi apa-apa. Mikael hanya perlu sedikit menepi untuk keluar dari sana.
Ya, dia hanya perlu menepi. Pemuda itu tidak bodoh kan?
Tangannya tanpa sadar meremat jemari Neona keras karena kekhawatirannya yang justru meningkat.
Jika pemuda itu keluar dan mengadu, tak akan ada yang percaya kan? Christ hanya perlu mengatakan dia tidak sengaja. Benar hanya seperti itu.
Setelah 30 menit berlalu Agatha tampak sangat khawatir dan melapor pada pemilik panti yang kemudian meminta semua orang untuk ikut membantu mencari Mikael.
Agatha sudah tidak bisa tenang, gadis itu tampak beberapa kali melakukan panggilan telepon dengan kepanikan jelas terpatri di wajahnya.
"Christ, kita harus memberitahu mereka. Setidaknya mereka tidak akan mencari selama ini."
"Kau ingat perkataanku kan? Kau sebaiknya diam saja," bisiknya mengancam dan bisa dirasakannya tangan Neona gemetar dalam ge
nggamannya.
Semua orang mencari Mikael dan tidak bisa menemukannya. Christ sebenarnya ingin sekali berteriak dan memberitahu pada mereka namun mulutnya diam seolah terkunci rapat.
Christ merasa sesak melihat Agatha kesana kemari mencari Mikael.
Neona terlihat sudah seperti akan menangis di sampingnya, gadis itu ketakutan.
"Apa tidak ada satupun dari kalian yang melihatnya? Tak ada satupun dari kalian yang memperhatikannya?" tanya Agatha putus asa pada teman-temannya.
Dia tadi sedang menghubungi Joshua yang sedang berlibur dengan kekasihnya, Emelie. Dan Agatha tidak menduga dalam waktu yang hanya sebentar itu dia kehilangan Mikael.
Teman-temannya pun terlihat cemas karena tak bisa menemukan Mikael hingga pemilik panti akhirnya menghubungi polisi setelah satu jam lebih melakukan pencarian.
Tentu saja hal itu membuat Christ dan Neona diam dengan rasa takut yang luar biasa. Mereka tidak bergerak dari tempat mereka duduk sekarang.
Christ merasa tangannya mati rasa karena rasa dingin oleh rasa takut yang dirasakannya.
Tidak mungkinkan...?
__ADS_1
Bagaimana ini?
Polisi yang datang segera melakukan pencarian setelah menanyai semua orang. Dan Christ melihat semua itu dengan perasaan yang tidak karuan. Jantungnya sudah tidak bisa lagi berdetak dalam kecepatan normal. Sementara Neona terus msnerus merengek di sampingnya, gadis itu menangis diam-diam.
Christ merasa mati rasa, semua isi kepalanya terasa kosong dan dia tidak bisa berpikir.
Bagaimana ini?
Kemudian seseorang yang dikenali Christ sebagai teman dekat Mikael datang dan langsung menghampiri Agatha. Gadis itu menjelaskan situasinya pada pemuda itu yang kemudian langsung pergi untuk mencari.
Sungguh demi apapun, Christ hanya berharap pemuda itu tidak apa-apa. Dia yakin pemuda itu tidak kunjung kembali karena mungkin masih ada di danau dan sibuk memotret seperti tadi.
Tapi ini sudah hampir dua jam.
Mereka semua menunggu di dalam rumah karena cuaca semakin dingin. Sesekali dilihatnya Agatha mondar-mandir dengan gelisah. Dia tidak pernah melihat Agatha bersedih selama ini dan kali ini Christ benar-benar menyadari perasaan Agatha untuk Mikael adalah nyata.
Beberapa orang yang sebelumnya mencari juga sudah kembali bersama polisi. Mereka menanyakan pada pemilik panti apakah danau di tengah hutan itu tidak ada pengawasan di sekitarnya?
Pemilik panti menjelaskan bahwa danau itu memang tidak memiliki batas keamanan apapun karena anak-anak di sana sudah banyak mengetahuinya.
Seorang polisi kembali datang dengan tergesa menyampaikan bahwa Mikael sudah ditemukan.
Semua orang bernapas lega begitupun Agatha.
Christ merasa seolah beban itu hilang.
"Maaf, tapi kami menemukannya dalam keadaan tidak bernapas. Pemuda itu tenggelam dalam air danau yang dingin dan nyaris membekukan," jelas polisi itu yang seketika membuat ruangan itu mendadak sunyi.
"Apa maksud anda?" bahkan suara Agatha kini bergetar, gadis itu dengan cepat keluar diikuti oleh yamg lainnya sementara Christ dan Neona terpaku di sana.
"Christ... Bagaimana ini?" Neona bahkan kini menangis.
Sementara Christ membeku dengan tatapan kosong.
Apa ini?
Dia... tenggelam?
Tidak.
Tidak mungkin begitu.
Tidak mungkin...
Dan selanjutnya yang Christ ingat adalah raungan tangis suara Agatha dari halaman.
.
.
.
__ADS_1
Riexx1323.