Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson — Rasa Sakit Yang Berulang


__ADS_3

..."Tell me how to be in this world. Tell me how to breathe in and feel no hurt. Tell me how could i believe in something. I believe in us."...


...- Us, James Bay -...


.......


.......


.......


Felix sedang membuat secangkir kopi ketika pintu ruangannya terbuka menampilkan sosok Agatha yang melangkah masuk dengan keanggunan yang tegas seperti biasanya.


"Oh, sudah datang?" sapa Felix tersenyum. "Mau kopi?"


"Tidak, terimakasih," Agatha berjalan mendekati Felix, "Dimana Joshie?"


"Aku belum bertemu dengannya, kukira kalian datang bersama," ujar Felix heran, memang dia baru kembali dari mengunjungi para pasien tapi dia tidak bertemu Joshua.


"Aku memintanya untuk menungguku dan menemuimu," kemudian Agatha mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sahabatnya itu.


'Hai, kau sudah selesai?' tanya Joshua langsung begitu menjawab panggilan Agatha.


"Sudah dan aku sedang bersama Felix. Kau dimana?"


'Ah, maafkan aku. Sepertinya terlalu asik menemani anak-anak di taman belakang.'


"Kau di sana sekarang?"


'Hm, aku akan segera kembali.'


"Baiklah."


Mematikan sambungan teleponnya, Agatha kemudian berjalan bersama Felix menuju ruang tamu.


"Kau masih rutin mengunjungi dokter Helen?"


"Ya begitulah," Agatha mengedikkan bahunya tak acuh, dia berusaha tampak biasa saja tidak mau membuat Felix curiga.


"Kau benar-benar berusaha ya," Felix tersenyum, "Tidak apa-apa Agatha, sepertinya kalian masih punya kesempatan berdua lebih lama. Nikmati saja."


Aku memang menciptakan kesan berdua dan berusaha untuk tidak memiliki keturunan. — batin Agatha.


Tak lama Joshua datang dengan senyum hangatnya menyapa mereka berdua.


"Maaf membuat kalian menunggu, aku sudah lama tidak bertemu anak-anak," ujarnya.


Memang beberapa pasien difabel anak-anak di Senna Rod mendapatkan perawatan dalam jangka waktu panjang karena penyakit yang mereka derita. Senna Rod menanggung penuh perawatan itu selama pasien mau menjalaninya.


"Aku menemui anak-anak di kamarnya tadi sebelum mendatangi Felix. Aku senang bertemu para orangtua yang selalu bersikap positif menemani anak-anak mereka. Dukungan seperti itu sangat berarti dalam penyembuhan."


"Kau benar."

__ADS_1


Kemudian ketiganya berbincang dan mendiskusikan banyak hal. Sudah lama mereka tidak bertemu bertiga seperti ini.


"Kapan kau akan membawa suamimu kesini?" tanya Felix. "Sudah lebih dari satu tahun kalian menikah tapi sama sekali kau tidak membawanya bertemu denganku di sini."


"Maaf, aku sudah sering mengajaknya datang tapi pada akhirnya selalu batal karena jadwal yang berubah," jawab Agatha, memang dia sudah sangat sering mengajak Christ datang namun selalu gagal.


"Kau tidak nyaman mempertemukannya denganku?"


"Bukan begitu, Felix. Waktunya tidak pas saja."


"Baiklah, aku akan menunggu."


Kemudian ketiganya mengunjungi beberapa pasien lagi di Senna Rod, disini lebih banyak pasien lama karena orang-orang berkebutuhan khusus sangat diutamakan dan karena banyak dari mereka yang tidak memiliki keluarga, maka Senna Rod dengan baik hati merawat mereka. Agatha menerima donasi dan bantuan dari beberapa dermawan yang ingin mengucurkan dana mereka untuk kepentingan Senna Rod, sekalipun bagi Agatha uang bukan masalah besar untuk terus mengelola Senna Rod seperti keinginannya.


Tempat yang menjadi bentuk lain dari cintanya kepada Mikael. Bahwa kebaikan yang diajarkan oleh pemuda itu akan selalu diingatnya untuk selalu mengulurkan tangan dan membantu orang-orang kurang beruntung yang membutuhkan bantuan.


"Kalian mau makan malam bersama?" tanya Agatha yang langsung disetujui oleh dua yang lain.


"Mau ke D'Blue Lane Cafe?" tanya Joshua memberi tawaran yang juga langsung diiyakan oleh dua yang lain. Tempat makan favorit mereka berempat dulu bersama Mikael juga.


"Sudah lama kita tidak kesana kan?"


"Iya sudah sangat lama."


.......


.......


.......


Tadi mereka makan siang bersama dan yang mengejutkan adalah pertemuan tidak sengaja dengan Arthur yang sedang meeting di sana. Tentu saja kakaknya itu tidak mengatakan apa-apa di sana selain melemparkan tatapan tajam menusuk padanya dan Neona. Namun setelahnya Arthur mengirimkan pesan yang cukup membuatnya cemas. Arthur menunggunya di kediaman mereka dan tepat sekali ibu mereka sedang ada di rumah sakit sampai malam.


Christ tahu kakaknya itu pasti akan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang kemungkinan akan sulit dijawab olehnya. Dan Arthur pasti akan mengingatkannnya kembali pada masa-masa sulitnya.


"Bagaimana aku bisa bekerja dengan tenang sekarang?" gumamnya sembari mengusap wajahnya kasar. Konsentrasinya sudah hilang sejak tadi tapi dia tetap harus melakukan tanggungjawabnya kan?


Ketukan pada pintu membuatnya mendongak, memunculkan kepala Leon yang memamerkan senyuman lebar.


"Ada apa?" tanyanya dengan tidak bersemangat pada sepupunya itu.


"Kenapa sambutanmu sedingin itu? Padahal aku datang untuk menyemangatimu," Leon melangkahkan kakinya mendekati Christ. "Kau kenapa sih? Wanita itu berbuat apa padamu tadi?"


"Tidak ada, kami hanya makan. Tapi aku bertemu Arthur disana, sial sekali."


Leon tampak terkejut, "Sepertinya Arthur akan segera mengajakmu bicara tentang hal ini."


"Sudah terjadi. Begitu keluar dari sana dia mengirimiku pesan. Aku tidak yakin bagaimana harus mengatakannya. Sekarang dia pasti sedang menungguku di rumah."


Leon menepuk bahu sepupunya itu memberi semangat, "Aku yakin kau bisa menghadapinya, lagipula Arthur sayang padamu. Dia hanya ingin kau bisa mengatasi masa lalumu."


"Tapi aku selalu berakhir menyedihkan di hadapannya," Christ menghela napas panjang dan merengangkan otot tubuhnya yang kaku sejak tadi, kemudian bangit berdiri. "Sebaiknya aku segera pulang."

__ADS_1


"Kau memberitahu Agatha?" tanya Leon yang menngekor di belakangnya.


"Aku hanya bilang ada pekerjaan lembur, jadi pastikan jawabanmu sama denganmu jika dia bertanya."


"Aku harus ikut berbohong?"


"Tentu saja, demi aku kumohon."


"Iya iya, apa sih yang tidak akan kulakukan untuk sepupuku ini?" Leon tersenyum lebar dan merangkul Christ yang lebih tinggi darinya itu. memang Leon akan selalu menuruti keinginan Christ sehingga kerap kali Arthur akan memarahinya karena terlalu memanjakan Christ. Tapi Leon yang anak tunggal sudah menganggap Christ seperti saudara kandungnya sendiri begitu pula dengan Arthur.


"Kapanpun kau membutuhkanku, aku selalu ada untukmu. Okay?" ucapnya sebelum mereka berpisah di basement. "Kau harus bisa menghadapinya kali ini Christ, seperti kau yang akhirnya bisa mendapatkan Agatha."


"Thanks, Leon."


.......


.......


.......


Langkahnya terasa berat sekalipun dia berjalan menuju rumahnya. Bahkan langkah kakinya terdengar nyaring di tengah keheningan kediamannya.


Berkali-kali menghembuskan napas panjang, Christ berusaha menetralkan perasaannya. Tidak apa-apa, dia hanya perlu sedikit menjelaskan pada kakaknya.


Kakinya berhenti di depan pintu kayu yang tampak kokoh dan dingin itu. Pintu yang sebelumnya dirantai dan diberi kunci gembok ganda itu adalah pengingatnya tentang rasa sakit yang sejujurnya memang tidak akan pernah bisa dilupakannya. Dia tidak pernah lagi memasukinya selama bertahun-tahun ini dan jika sekarang harus kesana...


Memejamkan mata dan sekali lagi mengambil napas panjang, dia memberanikan diri membuka pintu kayu itu perlahan.


Dan begitu kakinya memasuki ruangan, segala sesuatunya serasa kembali seperti saat itu.


Rasa takut itu kembali, jantungnya pun berdebar tak karuan saat manik matanya menatap familiar ruangan yang sempat menjadi kamarnya mengurung diri selama dua tahun penuh. Kamar yang masih penuh dengan jejak-jejaknya di masa lalu karena memang sengaja dibiarkan seperti itu dan pemandangan itu membuat napasnya tercekat. Tangannya sudah mulai gemetar menahan rasa takut yang tiba-tiba menyerang.


Aku tidak apa-apa.


Aku akan baik-baik saja.


Semua sudah berlalu...


Dia terus merapalkan kalimat yang sama meski semakin diulang maka jantungnya semakin berdebar lebih cepat. Dan manik hitamnya kemudian sampai pada sosok Arthur yang berdiri membelakanginya tengah menghadap ke jendela kaca yang menampilkan tetesan hujan dari luar sana.


Dan bagi Christ, sosok sang kakak terlihat begitu mengerikan hingga Arthur pun menoleh dan berbalik padanya.


"Sudah datang? Aku menunggumu sejak tadi," ucapnya dingin tanpa emosi apapun, dan justru itu membuat Christ merasa ingin menghilang sekarang juga.


.


.


.


Riexx1323.

__ADS_1


__ADS_2