
...Terasa seperti gambaran tidak nyata antara bayang-bayang atau kenyataan. Aku ingin terbangun meski aku yakin aku tidak tertidur....
.......
.......
.......
Agatha mengeratkan genggaman tangannya pada lengan sang sahabat seolah ingin menguatkan diriya sendiri dengan cara itu.
"You can do this, Agatha. Aku tahu ini keputusan yang besar dan kau sudah melakukannya dengan baik. Terimakasih sudah mau berusaha dan aku akan selalu ada untukmu," bisik Joshua dalam langkah mereka menuju ke tempat Christopher yang menunggu di pelaminan.
"I don't know but... sudah terjadi kan?" jawab Agatha masih dengan senyuman indah di bibirnya, meski tidak menyentuh sampai ke hatinya.
"Kau hanya harus percaya, dan merelakan rasa sakitmu tersimpan dalam kenangan. Mikael pasti juga bahagia untukmu."
Matanya memanas mendengar kalimat yang di ucapkan sahabatnya itu, membawanya kembali memorinya saat kemarin sore dia mengunjungi Mikael di pemakaman dan 'rumah putih'.
....
Sore itu sepulang dari kantornya, Agatha meminta Joshua untuk menemaninya ke rumah putih.
Rumah Putih adalah tempat yang dibuat khusus oleh Agatha untuk mengenang Mikael di bangunan sayap kiri mansion Anderson. Tempat dimana semua barang dan kenangan milik Mikael dari rumah madam Anna dipindahkan kesana.
Tempat yang hanya dikunjungi oleh Agatha, Joshua dan kadang Felix jika pria itu merindukan sosok sang adik. Mikael adalah sosok istimewa bagi mereka yang sayang sekali waktunya di dunia tidak lama. Tuhan lebih sayang padanya meski cara untuk memanggilnya pulang meninggalkan bekas luka dalam bagi orang-orang di sekitarnya.
Sebuket lily putih berada dalam pelukan menemani langkah Agatha menuju pintu kayu berwarna putih dengan ukiran indah di bagian luarnya.
"Kau yakin untuk melakukannya sekarang? Maksudku haruskah tepat sehari sebelum kau menikah? Aku hanya takut perasaan dan pikiranmu jadi berantakan lagi," ucap Joshua yang berdiri di sampingnya, keduanya sudah ada di depan pintu.
"Aku harus pamit padanya kan? Setidaknya aku harus mengatakan sesuatu padanya sebelum besok aku menjadi istri pria lain," jawabnya lirih dan berusaha mengatur napasnya yang memberat.
"Tapi kau selalu berakhir dengan perasaan kacau setiap kali keluar dari ruangan ini."
"Karena itulah aku memintamu menemaniku, Joshie."
"...baiklah."
Setelah menarik napas panjang menguatkan diri, Agatha membuka kunci pada pintu kayu itu.
Masih sama.
Atmosfer udara di dalamnya masih sama seperti hari-hari lalu setiap saat Agatha datang kemari.
Mengedarkan pandangan pada sekelilingnya yang masih sama. Sebenarnya ruangan ini lebih tepat disebut kamar dengan luas lima kali lipat pada umumnya.
__ADS_1
Ada sebuah tempat tidur kayu di tengah ruangan, lalu lemari kayu warna putih dimana semua pakaian milik Mikael diletakkan disana, di sebelahnya ada rak berisi tas dan beberapa sepatu. Lalu di sisi lain ruangan ada berbagai piagam dan penghargaan kompetisi milik Mikael selama sekolah yang didapatkan pemuda itu dengan kejeniusannya, lalu ada rak buku dan meja belajar yang tentu dipenuhi oleh buku-buku, dan meja pajangan berisi foto-foto Mikael bersama saudara-saudaranya di rumah asuh, Mikael dan madam Anna, lalu ada banyak juga potret pemuda itu bersama Felix.
Oh iya, Mikael sangat menyukai fotografi. Pemuda itu suka mengabadikan pemandangan indah atau sekedar momen sederhana yang selalu menjadi potret indah jika Mikael mengambil gambarnya.
Kamera tua miliknya juga ada di sana, di rak lain bersama beberapa barang kesayangan pemuda itu. Lalu di dinding banyak sekali potret pemuda itu bersama Agatha yang digantung dengan tali tak beraturan namun terasa mendalam jika dilihat.
Agatha berjalan mendekat dan mengambil sebuah potret yang di ambil di rumah asuh saat mereka kerjasama merenovasi halaman. Dalam potret itu Mikael terlihat bahagia dengan senyum yang juga terpancar dari sinar matanya.
Setitik air mata lolos terjatuh dari sudut mata Agatha.
Aku masih sangat merindukanmu.
Joshua yang melihat itu tidak berkata apa-apa selain mendekat dan mengusap pelan bahu sahabatnya itu.
Agatha membiarkan air matanya jatuh tumpah mewakili perasaan yang tidak bisa diucapkannya.
Semua hal tentang Mikael adalah kenangan dan kerinduan.
Agatha mengabadikan sosok pemuda yang sangat dicintainya itu dalam ruangan ini. Dalam semua hal tentang Mikael yang tidak berubah dan tidak menghilang.
Bahkan Agatha rela memohon pada madam Anna untuk membawa semua ini demi mempertahankan kenangan pemuda itu. Hanya satu yang tidak dibawa olehnya yaitu foto masa kecil Mikael yang menurut madam Anna itu akan menjadi kenangan bagi wanita baik hati itu bahwa Mikael pernah menjadi putranya.
Banyak orang mencintainya.
Itu juga terbukti dari makam Mikael yang tidak pernah sepi dari rangkaian bunga segar di atasnya setiap kali Agatha datang kesana.
Tatapan Agatha beralih pada satu-satunya potret besar Mikael di dinding ruangan itu.
Tersenyum pahit, Agatha melangkah lebih dekat dan memandang wajah dengan senyum indah itu lekat-lekat.
"Hai. Aku datang lagi."
"Kau tidak bosan kan denganku? Jangan berani-berani kau bosan atau aku akan mengamuk dan menyusulmu kesana," lalu tedengar tawa sumbang yang lirih dari bibir Agatha.
"Aku rindu padamu."
Agatha menarik napas panjang untuk menetralkan perasaannya.
"Mikael, kuharap kau tidak membenciku. Hari ini aku datang untuk meminta izin darimu," dan kini lirih suara Agatha terdengar diantara isakan tangisnya.
"Ada seseorang yang akan menikahiku besok. Maaf aku tidak menceritakan ini padamu sebelumnya. Aku—"
Agatha tidak bisa menahan diri lagi, tangisnya pecah bersama derasnya air mata, hatinya terasa begitu sesak dan berat.
Joshua mendekat dan memeluk sahabatnya itu tanpa mengucap apapun karena dia tahu dia tidak berhak bicara saat ini. Hanya keberadaannya yang dibutuhkan Agatha sekarang.
__ADS_1
"Maafkan aku Mikael... Maaf... Aku sungguh tidak ingin mengecewakanmu, hanya saja semua yang terjadi sekarang perlu pengorbanan dariku terutama untuk ayah."
"Kau pernah bilang padaku bahwa sesekali kita harus mengorbankan diri untuk kebaikan orang yang kita sayangi kan? Kurasa aku mengerti maksudmu sekarang."
"Dulu aku selalu kesal setiap kali kau berbuat baik pada orang lain dan mereka justru tidak menganggap kebaikanmu."
"Aku mengerti, Mikael," isakan Agatha terdengar begitu memilukan di telinga Joshua, dan pria itu sadar bahwa hati sahabatnya itu benar-benar telah dimiliki oleh Mikael.
"Banyak hal yang kau ajarkan padaku dan baru bisa kupahami. Karena itu kuharap kau bisa mengerti apa yang kulakukan sekarang."
"Maafkan aku Mikael. Kuharap kau memberiku kekuatan dan keyakinan pada pernikahan yang akan kujalani besok."
"Kuanggap izin darimu menjadi hadiah pernikahanku."
Masih dengan terisak dan air mata yang mengalir, Agatha memeluk sang sahabat yang sejak tadi menguatkan dirinya. Setelah perasaan dan tangisnya reda, Agatha melepas pelukannya dan mengusap jejak air mata di pipinya.
Meraih buket bunga lily yang tadi sempat diletakkannya di atas tempat tidur, Agatha mengambil vas kaca dan menuang air sebelum memindahkan bunga lily itu kesana di samping potret Mikael yang tersenyum.
Dear Mikael,
Terimakasih sudah hadir dalam hidupku.
Terimakasih sudah menjadi cinta pertamaku dan cinta sejatiku.
Aku meminta izinmu untuk pernikahanku.
Kuharap kau tidak kecewa dan semoga para malaikat di surga menjagamu untukku.
Selalu berbahagialah Mikael-ku.
Sampai nanti kita bertemu lagi diatas sana... sampai kita bersama lagi dalam bahagia.
Aku tidak akan pernah melupakanmu.
Kau akan selalu jadi yang pertama dan satu-satunya untukku.
With Love,
Agatha.
.
.
.
__ADS_1
Riexx1323.