Agatha Anderson

Agatha Anderson
Agatha Anderson


__ADS_3

Aku tidak yakin ini disebut kebetulan. Takdir?


.......


.......


.......


Pria itu duduk di balik meja kerjanya menatap sebuah potret di tangan kanannya. Potret sekumpulan anak muda dalam sebuah organisasi sosial,


Potret yang di ambil tujuh atau delapan tahun yang lalu saat dia masih menjadi seorang mahasiswa di Oxford. Jemarinya bergeser pada sosok seorang gadis yang berdiri di ujung berlawanan dengannya, gadis dengan ekspresi datar yang tengah menggenggam tangan seorang laki-laki di sampingnya yang tersenyum ke arah kamera.


Seulas senyum pahit terukir di sudut bibirnya.


"I always remember you," gumamnya begitu lirih serupa bisikan.


Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya, segera menyimpan kembali potret kecil itu ke dalam laci. Seorang pria muda tampan dengan setelan rapi yang pas membalut tubuhnya tampak membuka pintu setelah mendapat sahutan dari dalam. Seulas senyum tampak di wajahnya sekalipun setumpuk dokumen tengah memenuhi tangan kirinya sementara tangan kanannya membawa segelas kopi.


"Good morning Christ, akhirnya aku melihatmu di kantor ini," ujarnya kemudian duduk di hadapan pria satunya.


"Aku selalu ada di sini Leon, kau saja yang selalu sibuk sendiri."


"Sibuk sendiri? Lihat siapa yang bicara Tuan muda Winston! Kau mengalihkan semua pekerjaanmu padaku dan dengan seenaknya pergi entah kemana tanpa memberitahuku. Apa kau tahu betapa sibuknya aku mengerjakan semuanya sendirian? Belum lagi Arthur yang mengomel," sahut pria yang lebih muda tampak kesal.


Mendengar itu membuat Christoper tertawa kecil.


Leon Alexander adalah sepupu sekaligus pimpinan perusahaan di bawah Christoper yang terkadang merangkap sebagai pengganti Christoper jika sang tuan muda terlalu sibuk dengan perusahaan atau urusan lain. Seperti saat ini ketika Christopher sedang sibuk menangani kerjasama di rumah sakit membuatnya mengalihkan sebagian tugas kantor pusat pada Leon. Oh, jangan lupakan urusan barunya dengan Agatha Anderson.


"Jadi bagaimana? Kau berhasil?" tanya Leon yang kini meletakkan beberapa dokumen di hadapan Christoper.


Sementara yang di tanya hanya menyunggingkan senyum tipis.


"Nope, she still mad at me. Nanti juga pasti akan luluh."


"Yakin?"


"Tentu saja, apa yang tidak bisa didapatkan olehku? Kau tahu kan kalau aku tidak mudah menyerah? Aku akan membuatnya jatuh cinta."


"Mungkin Agatha sebuah pengecualian? I mean, mungkin dia satu-satunya yang tidak bisa kau dapatkan," gelak tawa Leon mengiringi setelah dia mengucapkannya.


"Tutup mulutmu Leon, atau kau tidak akan pernah bisa keluar dari kantor selama sebulan penuh," ancam Christoper yang justru membuat Leon tertawa terpingkal-pingkal mengabaikan kekesalannya.


"Tapi bukankah itu sesuatu yang istimewa? Hal yang tidak bisa kau dapatkan adalah 'another something special'. Hahaha," Leon melanjutkan tawanya.


Christoper yang mulai kesal dengan sepupunya itu memutuskan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu.

__ADS_1


"Mau kemana Christ? Astaga, jangan mudah marah begitu," Leon buru-buru meraih berkasnya dari atas meja bergegas menyusul sepupunya.


Tuan muda Winston memang mudah sekali kesal dan merajuk, untunglah ada Leon Alexander yang bisa menanganinya.


.


.


.


Wanita cantik itu tengah menyandarkan kepalanya di atas kemudi dengan frustasi. Baru 15 menit yang lalu dia meminta sahabatnya untuk pergi dan sekarang di sinilah dia sendirian di tengah perjalanan pulangnya dengan ban mobil yang kempis.


Agatha menggigiti bibirnya kesal sembari menatap ponselnya ragu, haruskah dia menghubungi Joshua yang mungkin saat ini masih dalam perjalanan pulang. Dia bisa saja memanggil beberapa orang bodyguard suruhan kakaknya tapi akan repot karena mereka akan melapor dan Gabriel akan mengomel panjang lebar.


Sial.


Agatha baru saja akan menghubungi Joshua dengan berat hati saat sorot lampu yang terang menyorotinya tepat dari depan.


"Damn! Siapa si bodoh yang berhenti dengan lampu begitu terang?" umpatnya menutupi mata dari silau cahaya yang menyorotinya meski tak lama kemudian lampu itu mati dan seseorang mengetuk kaca mobilnya dari luar.


"Sepertinya kita memang berjodoh nona Anderson."


"Kau? Apa kau membuntutiku sampai seperti ini tuan Winston?" Agatha menatap pria yang sedang tersenyum di balik kaca mobilnya dengan penuh kecurigaan.


"Buka dulu pintu mobilmu, Agatha."


"Oh ayolah Agatha, aku kesal sendiri terus menerus memanggilmu nona Anderson. Lagipula aku sudah secara resmi mengajukan lamaran padamu jadi biarkan aku memanggil calon istriku dengan namanya saja. Atau kau mau kupanggil Sayang?"


"Damn you!"


"And I Love You Agatha," kekeh Christoper mendengar umpatan Agatha.


"Apakah kau lupa bahwa aku belum menerima lamaranmu? Oh bahkan aku tidak akan menerima lamaranmu tuan Winston, jadi sebaiknya berhenti menggangguku," sembur Agatha yang kini bersiap menutup jendela mobil.


"Oh, wait! Dengar, aku tidak sedang mengganggumu, aku disini untuk menawarkan bantuan karena kulihat ban mobilmu kempes. Aku tidak sedang menguntitmu atau apapun itu."


Agatha memandang pria di depannya dengan tatapan menyelidik, lagipula bagaimana kalian bisa percaya di sepanjang jalanan kota, di jam yang hampir menunjukkan pukul 12 malam, dan dari sekian ribu orang di dunia ini Agatha harus bertemu seorang Christoper Winston? Tentu saja itu mencurigakan mengingat pria ini jugalah yang bisa memasuki apartemennya dengan privat akses.


"Jadi bagaimana? Kau mau menerima bantuanku atau aku harus meninggalkanmu sendiri disini?" tanya Christoper yang kini menyandarkan tubuhnya di sisi mobil, "Setidaknya biarkan aku bicara di dalam alih-alih membiarkanku di luar dan terlihat seperti pria hidung hidung belang yang tengah menggoda wanita."


"Hell, kau memang melakukannya bastard."


"Sayang, aku makin jatuh cinta jika kau terus menerus mengumpat padaku seperti itu," kekeh Christoper.


Dasar pria gila.

__ADS_1


Agatha menatap ponselnya lagi, jika dia memutuskan memanggil Joshua tentu sahabatnya itu akan langsung datang tapi tetap saja Agatha tidak akan setega itu di tengah malam seperti ini apalagi seharian Joshua sudah bekerja dengannya.


Agatha cukup lelah untuk sekedar mendapatkan omelan Gabriel malam ini. Dia ingin beristirahat secepatnya. Dan pria di hadapannya ini terlalu menyebalkan untuk menjadi pilihan terakhir.


"Baiklah jika kau tidak mau menerima bantuanku, aku pergi," ucap Christoper Wisnton mengetuk kembali jendela dan mengedipkan mata sekilas sebelum berbalik menuju mobilnya.


Melihat itu Agatha berpikir cepat sebelum membuka pintu mobil dan melongokkan tubuhnya. "Okay, I need your help Mr. Winston," ucapnya dengan segala keterpaksaan dalam hatinya.


Sungguh dia ingin cepat pulang meskipun pilihan terakhir dan satu-satunya sekarang adalah Winston.


Mendengar ucapan Agatha, Christoper Winston tersenyum kemudian berbalik dan mengedikkan kepalanya pada Agatha, membuat wanita itu segera mengambil tas, dan beberapa berkasnya lalu keluar lalu mengunci mobilnya, berjalan menuju Christoper Winston yang kini menunggu di samping pintu penumpang yang terbuka.


"Kurasa keputusanku pulang larut hari ini membawa keberuntungan," gumam pria itu sebelum menutup pintu.


Bisa dipastikan di sepanjang jalan tidak ada satupun dari mereka yang bersuara. Agatha hanya menatap pemandangan di luar dengan ekspresi datar dan Christoper yang fokus mengemudi meski sesekali melirik wanita cantik yang duduk diam disebelahnya.


"Agatha, kau bisa beristirahat sebentar jika mau," tawar Christopher yang beberapa kali melihat Agatha memijit keningnya.


"Tidak perlu tuan Winston, kau hanya perlu cepat agar aku segera sampai."


Mendengar itu Christoper kembali tersenyum, lalu menekan tombol pengaturan yang membuat kursi yang di duduki Agatha menjadi sedikit turun.


"Apa yang kau lakukan tuan Winston?" Agatha yang terkejut menatap pria di sampingnya itu dengan terbelalak.


"Aku hanya ingin kau beristirahat sebentar," ucap Winston, melihat ekspresi kesal dari Agatha dia menambahkan, "Jangan berpikir buruk, bahkan seorang sopir taksi akan berusaha membuat penumpangnya merasa nyaman kan?"


Agatha mendengus pelan dan mengalihkan tatapannya kembali keluar tanpa berniat sedikitpun menanggapi ucapan Christoper Winston. Tubuhnya memang lelah dan seperti keinginannya pulang larut tapi tentu saja tidak dengan kejadian seperti ini yang mengharuskannya bersama Winston sekarang.


Baru saja akan menutup matanya tiba-tiba terdengar suara tidak asing dari perutnya yang membuatnya ingin meloncat keluar dari mobil saat itu juga.


Mendengar bunyi keroncongan dari perutnya membuat Christopher Winston menoleh dan tertawa kecil menatap wanita yang kini menutup matanya berpura-pura tidur.


"Mau mampir untuk mengisi perut?" tanyanya masih dengan tawanya yang hanya ditanggapi diam oleh Agatha. "Ayolah Agatha, jangan berpura-pura tidur. Kau harus mengkhawatirkan perutmu kan?"


"Aku baik-baik saja, kenapa kau mengemudi begitu lama tuan Winston?" dengusnya kesal atau lebih tepatnya dia merasa malu karena bunyi perutnya yang tidak sopan itu. Benar sih, dia tadi melewatkan makan malamnya setelah meeting tadi.


"Baiklah karena kau memaksa sebaiknya kau kencangkan sabuk pengamanmu," tepat setelah mengatakan itu mobil yang mereka kendarai melaju dengan kecepatan dua kali lipat hingga membuat Agatha terlonjak dan memegangi seat beltnya.


Christoper Winston tampak santai dan cukup profesional mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai sepi. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Agatha sekarang, karena Winston menghentikan mobilnya di sebuah rumah bergaya tudor yang berada di area pinggiran kota.


.


.


.

__ADS_1


Riexx1323.


__ADS_2