Aku Mencintaimu

Aku Mencintaimu
Mempercepat proses


__ADS_3

Setelah hampir setengah jam akhirnya Via pun menyelesaikan ritual mandinya. Via pun keluar menggunakan kimono mandinya.


"Pakaianmu ada di lemari!" tunjuk Ziga setelah melihat Via keluar dari kamar mandi.


Via pun langsung menuju tempat yang di tunjuk Ziga. Betapa terkejutnya dia setelah melihat puluhan pakaian yang berada di dalam lemari tersebut.


Di dalam lemari terdapat pakaian untuknya dan Ziga, kebanyakan adalah baju baju couple yang pas untuk mereka berdua. Baju tersebut masih baru dan semuanya adalah buatan dari desainer kenamaan.


Via merasa terharu melihat semua ini, entah kapan Ziga mempunyai waktu untuk menyiapkan semuanya di tengah tengah kesibukan pekerjaannya.


Via akhirnya mengambil gaun lengan panjang berwarna biru muda senada dengan kemeja yang di gunakan Ziga. Gaun dengan motif brukat di bagian atas tersebut sangat pas di tubuh Via. Via merias wajahnya dengan riasan yang natural tidak terlalu mencolok. Dan kalung berlian biru yang melingkar di lehernya pun menambah keanggunannya.


Via mematut dirinya di hadapan cermin ketika sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya.


"Kau cantik sekali honey," bisik Ziga di telinga Via sembari meletakkan kepalanya di cekuk Via.


Via memutar tubuhnya kemudian memeluk erat tubuh suaminya.


"Terimakasih sayang," ucap Via.


Hati Ziga berbunga mendengar panggilan sayang dari Via yang baru pertama kali di ucapkan oleh wanita tersebut.


"Katakan sekali lagi! pinta Ziga


"Apanya?" tanya Via kebingungan.


"Yang baru saja kau katakan," jawab Ziga.


"Terimakasih sayang," ucap Via sekali lagi.


"lagi, kata-katamu yang terakhir," pinta Ziga manja.


Via pun akhirnya mengerti keinginan suaminya tersebut.


"Sayang, sayang, sayang," ucap Via berulang-ulang, yang kemudian di sambut dengan ciuman Ziga.


Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari perut Via. Mendengar perut Via yang berbunyi akhirnya Ziga pun sadar dan melepaskan pagutannya pada bibir Via.


"Ayo kita makan," ajak Ziga yang kemudian menarik Via ke tempat makan.


Ziga menarik kursi untuk Via kemudian dia sendiri duduk di hadapan Via.


Melihat hidangan yang tersedia di atas meja, Via membelalakkan matanya. Dia tak menyangka jika semua ini Ziga yang memasaknya. Mungkin jika tadi dia tidak melihat Ziga yang sedang serius memasak dia pasti akan menyangka kalau Ziga memesan makanan dari sebuah restoran.


"Kenapa diam saja, cobalah !" ucap Ziga sambil menyerahkan steak yang telah di potong kecil kecil kehadapan Via.


Via menerima steak di hadapannya dengan rasa yang entah tak dapat di jelaskan.


"Ini semua kau yang memasak?" tanya Via, jujur dia masih sedikit ragu karena menurut pemikirannya, bagaimana mungkin seorang CEO sebuah perusahaan besar dan ternama bisa memasak dan menyajikan hidangan layaknya di sebuah restoran bintang lima.

__ADS_1


"Ketika aku kuliah dulu aku tinggal sendiri, Aku tidak terlalu menyukai makanan cepat saji maka dari itu aku selalu menyempatkan diri untuk memasak sendiri makananku,"jelas Ziga.


Via pun mengangguk anggukkan kepalanya. Dia mencoba steak yang ada di hadapannya.


Begitu steak tersebut masuk kedalam mulutnya, dia benar benar terperangah karna rasanya benar benar lezat. Bahkan terlalu lezat, ini adalah steak dengan rasa terlezat yang pernah ia makan.


Melihat ekspresi Via, Ziga sedikit panik.


"Apa rasanya tidak enak?" tanya Ziga


"Apa kau tidak menyukainya?" tanya Ziga lagi.


Via hampir saja menyemburkan steak yang ada di dalam mulutnya. "Bagaimana mungkin ini tidak enak dan bagaimana mungkin aku tidak menyukainya" batin Via


Via menggelengkan kepalanya.


"Ini sangat lezat, dan aku benar benar menyukainya" jawab Via jujur.


Mata Ziga berbinar mendengar jawaban Via,


"Kalau begitu makanlah yang banyak" ucap Ziga yang di jawab dengan anggukan Via.


Via pun makan dengan lahap. Selain rasa steaknya yang enak, sphageti yang di buat oleh Ziga juga tak kalah nikmat. Via serasa di manjakan lidahnya dengan masakan yang menurutnya itu adalah standar restoran bintang lima.


Saat mereka sedang makan tiba-tiba ponsel Ziga berdering. Dan itu adalah panggilan dari sang ibunda. Ziga pun segera menjawab panggilan dari ibunya tersebut.


"Halo, ada apa Mah?"tanya Ziga.


"Mengapa kalian belum tiba di butik untuk mencoba pakaian yang akan kalian kenakan di pesta nanti? tanya Ayu lagi.


Ziga menepuk keningnya, dia benar-benar lupa malam ini ada pesta ulang tahun perusahaan. Mungkin karena dia terlalu bahagia berhasil mewujudkan pengalaman pertama mereka sehingga membuatnya melupakan hal-hal yang lainnya.


"Kami akan segera kesana" jawab Ziga yang kemudian dengan cepat mematikan panggilan dari ibunya, karna dia tak mau repot repot menjelaskan berbagai macam hal pada ibunya.


Di seberang sana Ayu hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya tak berdaya setelah Ziga mematikan panggilan telpon darinya. Dia hafal betul sifat anaknya yang tak akan mau menjawab pertanyaan dengan panjang lebar.


Tapi sedikit jawaban dari ziga tadi sudah cukup membuatnya tenang. Ayu pun melanjutkan aktifitasnya menyiapkan pakaian yang akan di kenakan Danu suaminya.


"Mamah bilang apa ?"tanya Via setelah Ziga menyelesaikan panggilan telponnya.


"Mamah ingin kita ke butik untuk mencoba pakaian yang akan kita pakai nanti," jawab Ziga


"Ah ... bagaimana mungkin aku bisa lupa pesta ulang tahun perusahaan nanti malam," ucap Via panik.


"Ayo cepat habiskan makannya kita langsung ke butik,"kata Via.


"Tak usah terburu-buru, masih ada cukup waktu. Nikmati saja makanannya,"ujar Ziga.


Via pun tak memprotes lagi, dia makan makanannya dengan tenang.

__ADS_1


Selesai makan mereka pun kembali ke kota. Ziga langsung mengendarai mobilnya menuju butik yang telah di tunjuk oleh ibunya.


"Kalian dari mana saja?" tanya Ayu pada Via setelah mereka tiba di butik.


"Kami habis mempercepat proses pembuatan cucu Mamah" jawab Ziga cuek yang membuat wajah Via seketika merah padam, dia sama sekali tak menyangka kalau Ziga akan menjawab pertanyaan ibunya seperti itu.


"Oh ... benarkah sayang?" tanya Ayu lagi


"Mamah bahagia mendengarnya, semoga Mamah bisa secepatnya menggendong cucu Mamah," ucap Ayu sambil memeluk menantu kesayangannya tersebut.


Via mendelik menatap Ziga dengan wajah yang merah padam. Dia benar-benar merasa malu, ingin sekali dia mencari lubang untuk bersembunyi saat ini juga.


"Kenapa kau menatapku seperti itu sayang?" tanya Ziga dengan polos seolah tak memperdulikan rasa malu yang di rasakan Via.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, bukankah kita memang sedang dalam proses pembuatan cucu Mamah" kata Ziga lagi dengan tanpa rasa bersalah.


Ingin sekali Via menyumpal mulut suaminya tersebut dengan kulit durian agar Ziga tak lagi menyebutkan hal-hal memalukan seperti itu.


"Sudah,sudah ayo coba gaun yang sudah Mamah siapkan untukmu sayang," ucap Ayu menghentikan tingkah konyol putranya tersebut.


Via pun mengambil gaun yang telah di siapkan oleh ibu mertuannya, kemudian langsung masuk ke kamar ganti.


Tak berapa lama Via keluar dari kamar ganti, Mata Ziga membelalak melihat penampilan istrinya yang sangat cantik.


Via menggunakan gaun brukat berwarna putih. Gaun tak berlengan dan sedikit terbuka di bagian punggungnya itu membuat Via terlihat sangat cantik.


"Bagaimana sayang, cantik bukan?" tanya Ayu pada Ziga yang masih terpana pada penampilan istrinya.


"Cantik sih, tapi bagian punggungnya terlalu terbuka Mah," jawab Ziga sedikit protes, karna dia tak menginginkan seorang pun bisa melihat keindahan tubuh istrinya itu.


"Terbuka bagaimana sayang?" tanya Ayu tak mengerti dengan protes Ziga.


"Via terlihat tampak cantik, dan itu juga hanya sedikit punggungnya saja yang terlihat" ucap Ayu.


"Sudah jangan protes, sekarang kau juga coba pakaianmu, Mamah akan membawa Via untuk merias wajahnya," tukas Ayu.


Ziga pun hanya bisa menuruti kata kata ibunya, kemudian dia masuk ke kamar ganti untuk mengganti pakaiannya.


Akhirnya setelah mereka selesai, Ayu pun segera membawa putra dan menantunya ke hotel tempat di adakannya pesta.


Acara diadakan di ballroom hotel yang terletak di lantai 9. Via memasuki lift bersama dengan Ziga dan juga Ayu ibu mertuanya. Danu sendiri sudah berada di tempat acara untuk menyambut para tamu yang telah berdatangan.


Saat lift menunjuk angka lima, tiba tiba lift berhenti dan pintu lift terbuka. Dua orang pria masuk ke dalam lift, salah satunya adalah seorang pria yang menggunakan setelan jas berwarna silver.


Saat Via melihat Pria yang menggunakan jas silver tersebut Via terkejut dan memekik gembira.


"Fello"


"Tya"

__ADS_1


ucap mereka berdua berbarengan ketika mata mereka bertemu.


__ADS_2