
Pesta yang meriah kini telah menjadi kacau, para tamu undangan panik berhamburan keluar dari ballroom tersebut. Ziga membawa Via yang juga ikut tak sadarkan diri ke salah satu ruangan yang berada di dalam panggung.
"Bagaimana keadaannya ?" tanya Ayu khawatir.
"kemana dokternya?" tanya Ziga dengan kesal tanpa menjawab pertanyaan ibunya tersebut.
"Aku datang, aku datang" ucap Smith dokter pribadi keluarga Ziga tergopoh gopoh.
"Cepat periksa keadaan istriku" perintah Ziga
Smith pun segera mengeluarkan peralatan dari tasnya dan mulai memeriksa keadaan Via. Sementara itu Ziga terus mengawasinya dengan seksama. Ayu dan Danu sendiri terus berdiri menatap keadaan menantunya dengan khawatir.
"Nyonya muda tidak apa apa" jelas Smith.
"Dia hanya sedikit terkejut, sebentar lagi dia akan segera siuman" ucap Smith sambil menghela nafas, dia merasa lega karna Via tidak mengalami luka serius, karna jika itu terjadi sudah pasti Ziga akan marah besar.
Ziga hanya menganggukkan kepalanya, akhinya dia merasa lega mendengar Via baik baik saja.
" Mah, tolong temani Via sebentar, ada yang perlu aku selesaikan" ucap Ziga pada Ayu ibunya.
Ayu pun mengangguk, dia mengambil kursi dan duduk di sebelah menantunya tersebut.
Ziga dan Danu keluar dari ruangan tersebut,
"Menurut Papah kejadian ini harus di selidiki !" ucap Danu
"Iya, aku juga berfikir demikian" timbal Ziga
"Rik, segera cari penyebab kecelakaan ini " perintah Ziga ketika Erik tiba.
"Baik Tuan muda" jawab Erik yang kemudian langsung pergi meninggalkan mereka.
"Tolong, cepat tolong dia" jerit Via ketika mulai sadar.
Ziga pun langsung masuk ke dalam ruangan setelah mendengar jeritan Via. Di dalam Ayu tengah berusaha menenangkan Via.
Ziga kemudian segera menarik Via ke dalam pelukannya.
"Tenanglah sayang, dia sudah di bawa ke rumah sakit" ucap Ziga berusaha menghibur Via.
Ziga mengecup puncak kepala Via lembut.
"Sebaiknya bawa Via pulang biarkan dia istirahat" saran Ayu yang tak tega melihat keadaan menantunya.
"Aku ingin melihat keadaanya " pinta Via kepada Ziga, dia ingin mengetahui bagaimana keadaan Fello saat ini.
__ADS_1
"Kau masih syok, sebaiknya tenangkan dirimu dulu" ucap Ziga.
"Aku mohon" pinta Via kembali
"Bagaimana pun dia telah menyelamatkanku, aku benar benar ingin mengetahui keadaannya sekarang" ucap Via
"Baiklah, aku akan membawamu ke rumah sakit " kata Ziga mengalah.
"Tapi kau harus tenang terlebih dahulu" tambah Ziga.
Via menarik nafas kemudian menganggukkan kepalanya. Ziga menuntun Via kemudian berpamitan pada ibunya.
"Mah, kami akan ke rumah sakit sekarang" pamit Ziga pada Ayu.
"Ehm, tapi kau harus perhatikan kesehatan istrimu " ucap Ayu sembari menggenggam tangan Via.
"Aku tidak apa apa Mah" jawab Via berusaha tak membuat ibu mertuanya khawatir.
"Baik, jaga dirimu sayang" kata Ayu.
Mereka pun segera pergi ke rumah sakit tempat Fello di bawa. Sedangkan Ayu dan Danu kembali menemui tamu yang masih tersisa di ruangan tersebut.
Sementara itu di rumah sakit T Fello masih menjalani operasi. Tangkai lampu gantung yang jatuh menimpa punggungnya menyebabkan luka yang cukup dalam, selain itu kepalanya juga terkena pecahan lampu yang cukup banyak.
Tak berapa lama Ziga dan Via pun tiba di rumah sakit.
"Bagaimana keadaannya Steve?" tanya Via yang langsung menghampiri Steve saat melihatnya berada di luar ruang operasi.
"Dokter bilang lukanya cukup parah, tangkai lampu menusuk punggungnya dan kepalanya juga terkena beberapa pecahan kaca" jelas Steve
"Ini salahku, semua ini salahku" ratap Via
Ziga langsung menarik Via ke dalam pelukannya.
"Ini bukan salahmu sayang, semua ini kecelakaan" ucap Ziga menghibur Via.
"Tapi jika dia tak menyelamatkanku, dia pasti takkan menjadi seperti ini" ucap Via sambil terisak di dalam pelukan Ziga.
Steve yang mendengar perkataan Via akhirnya bisa mengerti mengapa kejadian ini bisa menimpa Fello. Fello mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Via.
"Tenanglah sayang, dia pasti akan baik baik saja" ujar Ziga sambil membelai kepala Via.
Tak berapa lama dokter pun keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Steve dan Via berbarengan.
__ADS_1
"Mana yang keluarga pasien?" tanya dokter tersebut pada mereka.
"Saya manajernya Dok" jawab Steve.
Via sendiri tak dapat menjawab karna dia memang bukan keluarga dari Fello.
"Keluarganya masih dalam perjalanan ke sini Dok" terang Steve.
"Operasinya berhasil, dan pasien juga telah melewati masa kritisnya, tapi kita masih harus menunggu pasien sadar untuk memperjelas kondisinya" jelas Dokter tersebut.
"Terima kasih Dok"ucap Steve.
"Apa kami sudah dapat melihatnya?" tanya Steve kemudian.
"Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan,kalian bisa menjenguknya tapi usahakan tenang" terang sang dokter.
"Operasinya sudah berhasil dan Fello juga telah melewati masa kritisnya, sebaiknya kalian pulang istirahat" ujar Steve, jujur dia sedikit tak senang setelah tahu bahwa Fello mengorbankan dirinya untuk melindungi Via yang notabene sudah memiliki suami.
"Tidak, izinkan aku untuk melihatnya" pinta Via
"Aku ingin melihat keadaannya" ucap Via kemudian.
Steve menghela nafas, andai saja Via belum menikah dia pasti akan mendukung Fello tapi Via adalah wanita yang telah bersuami, Steve tak mau Fello semakin terjebak dalam perasaannya.
"Nona Tya, saat ini Fello belum sadar. Jadi tak ada gunanya nona melihat dia" ucap Steve sedikit keras.
"Kami hanya akan melihatnya sebentar, lagi pula kejadian ini terjadi di pesta perusahaan kami. Jadi kami perlu mengetahui keadaan korban" ucap Ziga yang mulai kesal karna Steve berbicara sedikit keras pada istrinya.
"Baiklah Tuan dan Nyonya dapat melihatnya" ucap Steve mengalah, dia tidak mau berdebat dengan Ziga karna pastinya Ziga yang harus bertanggung jawab atas insiden yang menimpa Fello.
"Terima kasih" ucap Via senang.
Kemudian mereka bergegas menuju ruang perawatan dengan di antar suster yang bertugas.
Via menatap Fello yang terbaring pucat di ranjang dengan perban di kepala dan juga infus di tangan kirinya.
Via meraih pergelangan tangan Fello dan menggenggamnya.
"Maafkan aku, karna menyelamatkanku membuatmu seperti ini" ucap Via.
"Sekali lagi maafkan aku" tambah Via masih dengan menggenggam tangan Fello.
Ziga berusaha menahan emosinya melihat Via menggenggam tangan pria lain di hadapannya. Andai saja pria itu bukanlah orang yang telah menyelamatkan istrinya, dia tak akan rela membiarkan Via menggenggam tangannya.
Via sendiri tak menyadari perubahan sikap Ziga, dia hanya memandangi wajah Fello dengan raut penuh penyesalan. Dia benar benar merasa bersalah telah membuat Fello menjadi seperti ini.
__ADS_1