
Seharusnya Via memang tak merasakan hal ini, karna toh di dalam perjanjian kontrak yang mereka berdua tanda tangani di sebutkan bahwa mereka tidak dapat saling mencampuri kehidupan pribadi masing masing.Namun tetap saja, melihat foto ini hatinya merasa sakit, ia teringat kembali mantan kekasihnya yang dulu mengkhianatinya. Karna pengkhiantan itu membuat Via trauma untuk jatuh cinta atau hanya sekedar menyukai seseorang.
Tapi entah mengapa, karna perhatian dan juga kebaikan Ziga akhirnya meruntuhkan pertahanannya, walau dia sendiri belum yakin bahwa dia mencintai suami kontraknya tersebut, tapi tak dapat di pungkiri jika Via merasa sangat nyaman ketika berada di dekat Ziga dan dia benar benar merindukannya ketika mereka berpisah saat dirinya menghilang tersebut.
Tapi Via pun segera tersadar bahwa hubungan mereka hanyalah hubungan yang terikat kontrak dan tidak di landasi dengan perasaan cinta satu sama lain.
Setelah pemikiran yang berkecamuk di kepalanya Via pun merasa lelah, dan akhirnya dia pun tertidur lelap.
Ziga datang ke kamar bermaksud membangunkan Via untuk makan malam.
Ketika dia melihat Via meringkuk di tempat tidur dengan lelap, dia pun tak tega untuk membangunkannya.
Ziga membetulkan selimut yang menutupi tubuh Via, lalu mengecup keningnya. Tapi seketika ia membeku saat melihat jejak air mata di pipi Via. Hatinya terasa sakit melihat jejak tersebut, dia menatap Via tak senang, kemudian tatapannya tertuju pada ponsel yang di genggam erat oleh Via bahkan di dalam tidurnya. Ziga pun menghela nafas meredam emosi dan rasa penasarannya.
Setelah mematikan lampu kamar Via, dia pun keluar dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya di ruang belajar.
"Jangan ganggu tidur nyonya, nanti setelah dia bangun baru siapkan makan malam" ucap Ziga pada Yesi
"Baik Tuan" jawab Yesi, tadinya dia terkejut mendengar Ziga banyak bicara, karna biasanya Ziga hanya menjawab dengan anggukan atau deheman.
Ziga menelpon Erik untuk segera datang ke ruang belajar. Erik tinggal di paviliun terpisah yang terdapat di belakang mansion.
Ziga sengaja menempatkan Erik di sana karna itu akan mempermudahnya dalam mengurus pekerjaannya.
tokk...tokk..
Erik mengetuk pintu ruang belajar pelan.
"Masuk" ucap Ziga
"Cari tahu siapa yang mengambil foto ini dan mengirimkannya" kata Ziga sembari menunjukkan layar laptop yang berisi foto foto yang tadi di kirimkan ke email Via.
Sejak kemarin Ziga meretas akun sosial media Via, dia juga meretas email Via, semua itu bertujuan untuk melindungi Via dari hal hal membahayakan seperti yang pernah terjadi terakhir kali.
"Baik Tuan" jawab Erik kemudian langsung keluar untuk melaksanakan tugas yang di berikan oleh Ziga.
Hampir pukul 9 malam ketika Via terbangun dari tidurnya. Dia terbangun karna rasa lapar yang menggelitik perutnya.
Via pun melangkahkan kaki membawa tongkat kruknya menuju ruang makan.
"Anda sudah bangun Nyonya?"sapa Yesi ketika melihat Via keluar dari kamar tidurnya.
Via mengangguk sopan menjawab pertanyaan Yesi.
__ADS_1
"Saya akan menyiapkan makan malam" ucap Yesi sembari membantu Via menuruni tangga.
"Di mana Ziga ?" tanya Via
"Tuan ada di ruang belajar, saya nanti akan memanggil Tuan juga untuk makan malam" ucap Yesi
Via nampak mengernyitkan alisnya.
"Ziga belum makan?" tanya Via kemudian.
"Belum Nyonya, tadi saat Tuan memanggil nyonya untuk makan malam Nyonya sedang tidur, jadi Tuan memerintahkan kami untuk tidak mengganggu tidur Nyonya" jelas Yesi
Via pun tertunduk,
"Apa dia menungguku untuk makan ?" fikir Via.
"Yah mungkin karna status kami suami istri dimata orang maka dia harus memainkan perannya" batin Via, dia pun tersenyum getir mengingat pemikirannya tersebut.
Sebelum Via sampai di ujung tangga, terdengar suara pintu ruang belajar terbuka.
"Kau sudah bangun?" tanya Ziga yang ternyata kini sudah berada tepat di belakang Via.
Ziga pun memberi isyarat pada Yesi yang kemudian melepas pegangannya pada Via dan memohon pamit.
Ziga mengangguk, dia meraih lengan Via yang tadi di lepaskan Yesi dan membantu Via berjalan ke ruang makan.
"Aku bisa sendiri" ucap Via sambil berusaha menepis tangan Ziga yang memegang lengannya.
Ziga menatap dengan tatapan tak senang, dia tidak melepaskan pegangannya bahkan mempererat cengkramannya di lengan Via sehingga Via nampak kesakitan.
Ziga menarik kursi dan menyuruh Via duduk.
Via kesal akan sikap Ziga , seharusnya dia yang marah karna melihat foto tersebut, tapi kini mengapa Ziga yang nampak emosi.
Tapi Via berusaha tak memperdulikannya, dia pun menyendok nasi dan beberapa lauk ke atas piringnya.
Via makan dengan tenang mengacuhkan Ziga yang ada di hadapannya. Ziga sendiri tak makan, dia hanya diam menatap Via yang sedang asyik melahap makanannya.
Kemudian terdengar suara sendok di jatuhkan, Via mendongak menatap Ziga.
Ziga sendiri hanya bersikap dingin, kemudian pergi meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.
Via merasa heran akan sikap Ziga yang sepertinya sedang marah.
__ADS_1
"Tapi mengapa dia marah, memangnya aku melakukan salah apa?" fikir Via yang tak mengerti akan kemarahan Ziga.
Di dalam kamar Ziga tampak menahan emosinya, dia berdiri di atas balkon sambil menyilangkan lengan di dadanya.
Dia teringat ketika ia membaca pesan masuk di sosial media Via.
Pesan dari seorang Pria yang tak di kenalnya, dia lebih marah melihat balasan dari Via yang ternyata begitu akrab dengan pria tersebut.
Bahkan mereka mengobrol banyak dengan pria tersebut. Hingga pada akhirnya mereka janji untuk bertemu jika ada kesempatan.
Ziga pun meninju pot bunga yang ada di balkon hingga pecah berantakan, tangannya sedikit terluka dan berdarah terkena pecahan pot.
Via yang telah selesai makan dan akan kembali ke kamarnya terkejut mendengar suar ribut yang berasal dari arah kamar.
Dia pun bergegas masuk untuk melihat apa yang terjadi di sana.
Dari pintu kamar Via dapat melihat Ziga yang berdiri di atas balkon dengan pecahan pot di sekelilingnya. Ketika dia mendekat betapa terkejutnya dia saat melihat ada darah yang menetes dari jari jari Ziga.
"Apa yang terjadi?" tanya Via sambil meraih tangan Ziga yang terluka
Ziga hanya diam tak menjawab, Via pun menarik tangan Ziga yang terluka .
"Biar ku obati lukamu" ucap Via setelah membawa Ziga ke dalam dan mendudukkannya ke sofa.
Via pun bergegas mengambil tisu untuk membersihkan darah di tangan Ziga.
"Di mana kotak obatnya ?" tanya Via
Lagi lagi Ziga tak menjawab, dia hanya diam tanpa ekspresi.
Via yang tak kunjung mendapat jawaban dari Ziga hanya bisa menghela nafas.
Kemudian dia menuju ke pintu kamar untuk keluar dan mencoba mencari kotak obat.
"Ada di laci kedua" ucap Ziga tiba tiba sambil menunjuk laci yang ada di sudut kamar.
Via yang mendengar jawaban dari Ziga kemudian bergegas ke arah laci dan mengambil kotak obatnya.
Dia pun mengobati luka di jari jari Ziga dengan perlahan dan lembut.
Melihat Via merawatnya seketika Ziga melupakan amarahnya, emosinya kini telah padam akibat perhatian Via.
Dia menatap intens wanita yang tengah sibuk merawat luka lukanya dengan perasaan yang tak dapat di lukiskan.
__ADS_1