
Sinar matahari menyorot ke dalam kamar, Via menggeliat terbangun dari tidurnya. Tubuhnya benar benar lelah setelah percintaan panas dengan suaminya. Entah apa yang merasuki Ziga, semalam tenaganya luar biasa. Stamina suaminya tersebut benar benar kuat hingga Via bahkan tak sanggup mengimbanginya.
Via bangun dari tempat tidur menyingkirkan lengan Ziga yang melingkari pinggangnya.
Akhirnya walau dengan sedikit tertatih dia berhasil mencapai kamar mandi dan dengan segera merendam tubuhnya dengan air hangat di dalam bathtub.
Setelah sekitar empat puluh lima menit Via akhirnya selesai mandi dan berpakaian. Hari ini dia memakai pakaian casual sebuah tshirt lengan panjang di padu padankan dengan jeans ketat. Dia memang lebih suka memakai pakaian seperti itu untuk sehari hari ketimbang gaun yang membuat pergerakannya tidak leluasa.
"Kau mau kemana?" tanya Ziga yang telah terbangun melihat istrinya pagi ini sudah tampil cantik dan rapi.
Via mendekati Ziga menangkup kedua pipi Ziga lalu memberikan kecupan singkat di bibirnya sebelum menjawab pertanyaan suaminya tersebut.
"Aku akan menjenguk Fello" jawab Via kemudian.
"Sepagi ini?" tanya Ziga sambil menarik Via duduk di pangkuannya.
"Iya, aku ingin segera mengetahui keadaannya" jawab Via sembari mengelus rambut suaminya tersebut.
"Apa kau begitu merindukannya?" tanya Ziga sedikit kesal, dia cemburu istrinya tersebut akan menjenguk Fello di hari yang masih terbilang pagi ini.
"Apa maksud perkataanmu?" tanya Via marah kemudian dia bangkit dari pangkuan Ziga.
"Iya, apa kau begitu merindukannya sehingga di hari yang masih pagi ini kau berniat menjenguknya" tuduh Ziga.
Via memutar bola matanya malas, dia tidak tahu bagaimana cara berfikir Ziga sehingga mengucapkan kata kata seperti itu.
"Ucapanmu sungguh tidak masuk akal Ziga" ucap Via penuh penekanan. Dia berdiri menjauh dari Ziga.
Ziga bangkit dari posisi duduknya kemudian mendekati Via. Via sendiri mundur, dia merasa kesal sehingga tak mau Ziga mendekatinya. Ziga sendiri terus menghampiri Via hingga punggung Via menabrak dinding dan dia menghimpitnya.
"Apanya yang tidak masuk akal?" tanya Ziga kemudian.
"Kau lebih mementingkan pria itu dari pada bulan madu kita, bukankah itu membuktikan kau merindukannya" ucap Ziga sambil mengurung Via dengan kedua tangan di sisinya.
Via mendorong dada Ziga, hatinya di penuhi kemarahan karna tuduhan Ziga yang tak beralasan.
"Dia menyelamatkanku Ziga" tukas Via
"Dua kali dia menyelamatkan nyawaku, andai dia tidak ada tentu aku tidak akan berada di hadapanmu sekarang" ucap Via dengan kemarahannya. Matanya memerah dan bibirnya bergetar karna menahan emosi yang memuncak.
__ADS_1
Ziga meraih pinggang Via dan menahan dengan lengannya.
"Aku tahu dia menyelamatkanmu, tapi bukan berarti kau mengabaikanku dan membatalkan bulan madu kita" ucap Ziga dengan keras kepala.
"Atau kau memang menyukainya dan merindukannya, aku bisa melihat dari tatapanmu yang mengaguminya saat ia bernyanyi di atas panggung" tuduh Ziga lagi.
Via menggeleng gelengkan kepalanya, dia benar benar merasa pusing di buat Ziga. Via hanya merasa bersalah atas apa yang menimpa Fello, tak sedikit pun di hatinya membenarkan apa yang di tuduhkan Ziga.
Via mendorong tubuh Ziga dan berlalu keluar kamar, dia merasa percuma mendebat Ziga yang sedang di bakar api cemburu.
Ziga yang masih marah akhirnya meninju dinding kamar, yang menimbulkan suara dentuman keras. Via hanya menoleh tapi kemudian melanjutkan kembali turun kebawah.
Di bawah yang lain telah menunggu untuk sarapan. Via pun ikut bergabung di meja makan.
"Di mana Ziga ?" tanya Ayu pada menantunya tersebut.
"Masih di kamar Mah" jawab Via singkat, dia berusaha tersenyum menutupi kekesalannya.
Tak lama berselang Ziga pun datang.
Dia langsung duduk di sebelah Via. Via menyendokkan nasi goreng di piring Ziga.
Suasana di meja makan terasa canggung karna Ziga memasang tampang dingin. Tak ada seorang pun yang berbicara saat sarapan, bahkan Nadhya yang biasanya cerewet kini hanya diam menikmati sarapannya karna melihat tampang sepupunya yang menebarkan aura menyeramkan.
"Aku berangkat ke kantor" ucap Ziga setelah menyelesaikan sarapannya dengan cepat.
Dia langsung berdiri meninggalkan ruang makan tanpa berpamitan pada Via.
Via hanya menghela nafas melihat sikap suaminya tersebut.
"Apa kalian sedang bertengkar ?" tanya Ayu sang ibu mertua yang membuat semua yang berada di meja makan menatap ke arah Via.
Via terdiam, dia bingung harus menjawab jujur atau berbohong pertanyaan ibu mertuanya tersebut.
"Ziga keberatan aku menjenguk Fello" jawab Via jujur pada akhirnya
Reza mengernyitkan alisnya setelah mendengar jawaban dari adiknya tersebut.
"Mengapa begitu ?" tanya Reza pada akhirnya.
__ADS_1
"Entahlah " jawab Via asal, dia tak mau menjelaskan bahwa Ziga cemburu dan menuduh Via menyukai Fello pada kakaknya.
"Kapan kakak pulang ke Indonesia ?" tanya Via mengalihkan pembicaraan.
"Siang ini kakak berangkat, pesawat akan lepas landas pukul 11" jawab Reza.
"Kami akan pulang bersama" ucap Nadhya kemudian
"Kamu tidak akan menginap lebih lama lagi ?" tanya Ayu pada keponakannya tersebut.
Nadhya menggelengkan kepalanya.
"Ada beberapa pekerjaan yang perlu aku selesaikan Tante" jawab Nadhya.
Ayu mengangguk angguk tanda ia mengerti akan kesibukan Nadhya sang keponakan.
Danu sendiri tak banyak berkomentar, dia hanya makan sarapannya dengan tenang.
Selesai sarapan Via berpamitan ke rumah sakit untuk menjenguk Fello sebentar. Dia berjanji akan mengantar Reza ke bandara setelah pulang dari rumah sakit.
Tak di sangka Reza dan Nadya malah ingin mampir ke rumah sakit untuk menjenguk Fello sebelum berangkat ke bandara.
Akhirnya mereka bertiga pun pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Fello.
Sesampainya di rumah sakit ternyata sudah ada Dean dan Ayahnya yang datang menjenguk Fello. Saat ini hanya merekalah kerabat yang Fello punya.
"Hai Dean, Hai Om" sapa Nadhya pada Dean dan Ayahnya tersebut.
"Oh hai Nadh " jawab Dean sedangkan ayahnya hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi sapaan Nadhya.
Mereka memang sudah saling mengenal sejak lama. Nadhya pun memperkenalkan Via dan Reza pada Dean dan ayahnya. Via sendiri sudah pernah bertemu saat hari pernikahannya juga saat Ziga dan beberapa temannya berusaha menyelamatkan Via saat di culik. Sedangkan untuk ayahnya baru kali ini dia melihatnya.
Via pun mengulurkan tangan menyapa ramah Dean dan ayahnya. Mereka tak lama berkenalan, Via pun meminta izin untuk masuk ke dalam kamar melihat keadaan Fello.
Sampai saat ini Fello belum juga tersadar, Via menatapnya dengan penuh perasaan bersalah. Saat Via sedang memandangi wajah Fello yang terlelap tiba tiba EKG berbunyi tak normal dan menunjukkan garis berantakan. Via pun panik kemudian langsung berteriak memanggil dokter. Para dokter dan suster pun berdatangan mendengar jeritan Via. Mereka langsung memeriksa keadaan Fello yang detak jantungnya tak stabil.
Via sendiri akhirnya menangis melihat keadaan Fello seperti ini. Dia semakin merasa bersalah atas apa yang menimpa Fello. Akhirnya dia keluar ruangan untuk menangis, dia tak sanggup melihat keadaan Fello.
Dia hanya mampu berdoa dalam hati setelah melihat Fello yang kembali kritis tersebut.
__ADS_1