
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ziga pada Erik ketika mereka berada di dalam mobil menuju hotel tempat mereka menginap.
"Anda harus sabar Tuan," ucap Erik.
"Kita pasti dapat menemukan Nyonya dalam waktu dekat." Erik berusaha menghibur Ziga dengan kata-kata yang ia sendiri yakin.
Ziga memejamkan mata, pikirannya kusut. Entah mengapa ia merasa harapan yang ia miliki sedikit demi sedikit mulai hilang. Pria itu tak begitu yakin dapat menemukan Via dalam waktu dekat.
Saat ini Erik melajukan mobilnya menuju kota Bandung membawa Tuan mudanya itu untuk menemui Reza kakak Via yang saat ini tinggal di kota kembang itu.
Selama perjalanan Ziga terus mengingat Via, pria itu sama sekali tak menyangka jika Via pada akhirnya akan meninggalkan dirinya. Dia tidak mengira mabuknya semalam akan membawa bencana besar bagi rumah tangganya.
"Bodoh, sungguh sangat bodoh." Ziga bergumam sambil memukul-mukul kepalanya.
Pria itu terus merutuki diri atas kebodohan yang di lakukannya. Dia baru mengingat apa yang terjadi semalam, karena itu penyesalan menggerogoti hatinya.
Erik melihat spion dan melirik ke arah Tuan mudanya itu, dia benar-benar merasa kasihan terhadap Ziga. Pria itu tak menyangka bahwa pernikahan Ziga yang seharusnya bahagia, kini malah menjadi luka dan membuat Tuan Mudanya itu terpuruk.
Menjelang sore mereka baru memasuki kawasan kota Bandung, lalu lintas yang padat membuat perjalanan mereka lebih lambat.
Setelah melalui empat jam perjalanan akhirnya mereka tiba di Cimahi yang merupakan salah satu bagian dari kota Bandung tersebut.
Erik menepikan mobilnya dan bertanya tentang letak alamat Reza pada beberapa orang yang tengah berkumpul di warung yang terdapat di pinggir jalan.
Setelah mendapat arah yang tepat, Erik pun kembali melanjutkan perjalanannya. Ziga sendiri tetap berada di dalam mobil sambil tangannya terus menekan nomor Via mencoba memanggil wanita itu lewat ponselnya.
Ziga memijit ruang di antara alisnya, pria itu bingung karena sampai saat ini dia belum juga bisa berkomunikasi dengan Via. Nomor yang di hubunginya selalu tidak aktif.
Kini, Ziga hanya bisa berharap semoga Via berada di rumah Reza. Karena jika wanita itu tak berada di sana, Ziga tak tahu harus mencari kemana lagi.
Alamat yang di berikan Weny, hanya alamat Reza dan juga alamat Nadhya. Namun pria itu yakin kalau Via tak akan pergi menemui Nadhya, mengingat gadis yang berprofesi sebagai model itu adalah sepupunya.
Jadi menurut Ziga, istrinya itu tidak mungkin melarikan diri ke rumah sepupunya.
Setelah menambah perjalanan selama tiga puluh menit dari pusat kota, akhirnya mobil yang mereka tumpangi pun tiba di kawasan pemukiman penduduk yang tidak terlalu padat. Ziga melihat sekilas papan nama yang terpampang di gerbang, dan benar itu adalah alamat yang telah di berikan oleh Weny.
Erik melajukan mobil yang di kemudikannya dengan perlahan, matanya melirik kiri kanan untuk mencari nomor rumah yang tertera pada secarik kertas yang telah di berikan weny pada mereka.
Setelah beberapa meter mobil itu melaju, akhirnya Erik menemukan tempat tujuan mereka. Pria itu pun segera menepikan mobil tepat di depan gerbang rumah tersebut.
__ADS_1
Erik keluar dari mobil, yang kemudian di susul oleh Ziga di belakangnya. Mereka segera menuju ke depan gerbang, kemudian Erik pun membunyikan bel yang terpasang di pintu.
Ziga sendiri mencoba menenangkan hatinya, perasaan bersalah membuat pria itu begitu gugup untuk menemui Reza. Di tambah lagi kekhawatirannya jika seandainya Via tak berada di sana. Sudah tentu dia juga harus bersiap menerima makian atau bahkan pukulan dari Reza.
Dua kali Erik menekan bel, namun tak ada tanda-tanda orang- yang menyambut kedatangan mereka dari dalam rumah. Ketika Erik akan menekan untuk yang ketiga kalinya, tiba-tiba pintu gerbang terbuka.
Seorang wanita setengah baya menyambut kedatangan mereka. Erik pun menanyakan tentang keberadaan Reza. Awalnya wanita itu tidak mengizinkan mereka untuk masuk, bahkan di saat Erik berusaha meyakinkannya, wanita itu tetap tak bergeming dan melaranf mereka untuk masuk.
Ziga yang melihat asistennya sedikit kesulitan akhirnya pun maju, pria itu langsung menujukkan foto pernikahan dirinya dengan Via yang masih tersimpan di dalam ponselnya.
Melihat foto yang di tunjukkan oleh Ziga, barulah wanita itu percaya dan mempersilakan kedua tamunya itu untuk masuk. Wanita itu meminta mereka untuk menunggu di ruang tamu, sedangkan dia sendiri pergi memanggil Reza yang kini tengah berada di taman belakang rumah.
Sementara itu di tempat lain, Nina telah kembali dari apotik dengan membawa alat tes kehamilan yang akan ia berikan pada Via.
Wanita itu dapat menebak secara kasar bahwa Via kini dalam keadaan mengandung.
Namun untuk lebih meyakinkan tebakannya dan juga untuk memberitahu pada Via yang sepertinya belum pengalaman membuat Nina yakin bahwa alat tes kehamilan itu memang di perlukan.
Nina membawa alat itu, kemudian memberikannya pada Maureen. Sebenarnya ia ingin memberikannya langsung pada Via, namun kesibukannya di panti membuat wanita itu tidak dapat melakasanakan keinginannya.
Maureen menatap benda yang berada di tangannya, dia sedikit ragu untuk memberikan alat itu pada Via. Namun demi menguatkan perkiraannya Maureen pun membuang keraguannya dan bergegas menemui sahabatnya itu.
"Apa aku mengganggu?" tanya Maureen ketika telah mendekati wanita itu.
Via menoleh, kemudian tersenyum melihat kedatangan sahabat itu.
"Tentu tidak, apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Via membalik pertanyaan pada Maureen.
"Karena sepertinya kau begitu serius dengan lamunanmu," jawab Maureen yang kemudian ikut duduk di samping Via.
"Tak ada yang serius," jawab Via.
"Aku hanya sedang melihat indahnya bunga yang bermekaran di taman itu." Via berusaha menyembunyikan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Kau tidak perlu berbohong padaku, wajahmu tak dapat menyembunyikan apa yang tengah kau pikirkan," ucap Maureen.
Via tersenyum getir mendengar ucapan Maureen. Wanita itu berpikir, mengapa Maureen yang hanya seorang teman dapat mengerti apa yang ada di dalam pikirannya, tetapi mengapa Ziga yang adalah suaminya tidak dapat mengerti, bahkan pria itu menuduh Via berbohong dan menyimpan perasaan pada Fello.
Selama ini Via hanya menganggap Fello sebagai teman, tidak lebih dari itu. Semua ia lakukan karena ia memiliki hutang nyawa pada Fello. Bukan hanya sekali Fello menyelamatkan nyawanya, dua kali pria itu telah amat berjasa bagi Via.
__ADS_1
"Ada perlu apa? Bukankah tadi kau bilang akan keluar?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Via.
"A-aku ingin memberikan ini," jawab Maureen ragu-ragu sambil menyerahkan alat tes kehamilan itu pada Via.
"Apa ini?" tanya Via sambil menerima alat itu.
"Alat tes kehamilan?" Via bertanya kembali dengan menaikkan kedua alisnya.
Maureen mengangguk menjawab pertanyaan Via.
"Kami berpikir bahwa kau tengah mengandung," jawab Maureen.
"Kami?" tanya Via heran.
"Maksudku, Aku dan Ka Nina menebak kalau kau tengah hamil," jelas Maureen.
Via tertawa mendengar penjelasan Maureen, dia tidak menyangka bahwa setelah melihat ia muntah-muntah kedua orang itu akan berpikir kalau ia tengah hamil.
Namun demi menyenangkan kedua orang yang telah banyak membantunya itu, Via akhirnya mau mencoba menggunakan alat tersebut untuk membuktikan kebenaran dari omongan mereka.
Setelah membaca petunjuk penggunaannya, Via pun beranjak menuju kamar mandi. Wanita itu melakukan seperti apa yang dalam petunjuk yang tertera di sana.
Via menunggu hasil tesnya selama beberapa menit. Begitu dia mengetahui apa hasil tes tersebut, tubuh Via merosot ke lantai. Wanita itu begitu syok dengan apa yang di lihatnya.
******
Hai hai semua terimakasih telah membaca AKU MENCINTAIMU, terimakasih pula yang telah memberikan like, coment dan juga votenya. Yang belum Ay tunggu ya 😂😂😂
Jangan lupa juga untuk membaca novel Ay yang satunya, yang berjudul TAKDIR CINTA, Ay tunggu juga like, coment dan votenya di sana.
Ay juga mau rekomendasi novel dari sahabat-sahabat Ay yang tak kalah menarik.
•99 NAMA CINTA: MENIKAHI DOKTER DINGIN (Andy Ridwan)
•GUARDIANS: LEGEND OF LEO (Al Foxx)
•FOREVER WITH ME (Al Foxx)
Berikan juga like jempol dan coment kalian ya, agar kami para penulis lebih bersemangat.
__ADS_1
Salam sayang dan santuy dari Ay si Author Recehan 😘😘😘😘