Aku Mencintaimu

Aku Mencintaimu
Aku akan datang


__ADS_3

"Bukannya kakak tidak mau tinggal bersama kalian" ucap Reza


"Hanya saja kakak harus kembali ke Indonesia, kakak ingin mencoba menemukan kembali ingatan kakak" tambah Reza


"Mungkin dengan kembali ke rumah, itu akan mempercepat kakak untuk mengingat kembali semuanya" jelas Reza.


Via pun mengangguk, dia mengerti bahwa ingatan kakaknya lebih penting. Maka dari itu walau dia kecewa tapi dia tetap mendukung keputusan kakaknya tersebut.


"Kalau begitu kita pergi setelah acara ulang tahun perusahaan minggu depan" ucap Ziga.


"Kami akan ikut pulang ke Indonesia" tambah Ziga


"Benarkah?" tanya Via sambil membelalakkan matanya.


"Iya,benar" jawab Ziga


"Apa kau tak merindukan rumah?" tanya Ziga


"Tentu aku sangat merindukannya, aku fikir kau tidak mau pulang ke Indonesia karna pekerjaanmu menumpuk disini" jawab Via


"Kau terlalu banyak berfikir, di manapun pekerjaanku selalu menumpuk" ucap Ziga dengan sombong sambil mengetuk kening Via


Via mengerucutkan bibirnya dan tangannya mengusap kening yang tadi di ketuk oleh Ziga.


"Ya sudah aku ke kantor dulu" ucap Ziga.


"Hubungi aku jika kau sudah mau pulang, aku akan suruh paman Ben untuk menjemputmu" ujar Ziga


Via mengangukkan kepalanya.


"Aku pergi, jaga kesehatanmu" pamit Ziga pada Reza.


"Iya" jawab Reza


"Bekerja keraslah agar dapat membahagiakan adikku" ucap Reza


Ziga tak menjawab, dia mengacungkan ibu jarinya ke arah Reza sambil tersenyum.


Reza menggeleng gelengkan kepalanya melihat adik iparnya tersebut.


"Antar suamimu dulu" perintah Reza pada Via.


"Baik kak" jawab Via.

__ADS_1


Via pun segera keluar ruangan mengantar Ziga.


Sampai di depan pintu kamar Reza, Ziga berbalik .


"Ada apa ?" tanya Via


"Kau tak perlu mengantarku" ucap Ziga sembari menarik lengan Via dan mendaratkan ciuman lembut di keningnya.


Seketika wajah Via pun berubah menjadi merah "Bagaimana Ziga jadi tak tahu malu seperti ini sih, ini kan tempat umum" batin Via


"Ingat untuk memhubungiku jika kau akan pulang" kata Ziga


Via hanya mengangguk pelan, dia masih merasa malu setelah Ziga menciumnya di koridor rumah sakit dengan di saksikan beberapa orang yang melintas.


"Ya sudah temani saja Reza, aku pergi dulu" pamit Ziga


Lagi lagi Via hanya mengangguk, dan dia menatap punggung Ziga dengan perasaan bahagia. Kini tak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka, sikap Ziga yang kini jadi lembut membuat Via senang. Dia pun masuk kembali ke kamar Reza dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


"Ehmm...sepertinya adik kecilku sedang bahagia" ledek Reza


"Ahh kakak" ucap Via malu malu


"Iya , dari tadi kakak lihat kamu senyum senyum sendiri. Apa yang terjadi, apa kalian sudah baikkan ?" tanya Reza


Reza menghela nafas "Kakak juga senang akhirnya bisa keluar dari sini" ucap Reza


"Terima kasih selama ini kamu sudah merawat kakak" ucap Reza.


"Kakak jangan bicara seperti itu" sanggah Via


"Aku adalah adikmu satu satunya jadi sudah seharusnya aku yang merawatmu" ucap Via sambil memeluk Reza.


"Iya, walau kakak belum bisa mengingat semuanya, tapi kakak yakin bahwa kamu adalah adik yang paling kakak sayangi" kata Reza sambil menepuk punggung Via.


Via melepas pelukannya dan menatap wajah tampan kakaknya.


"Aku juga sayang kakak" ucap Via sambil tersenyum.


"Temani kakak jalan jalan di luar, bosan terus di dalam rumah sakit" ujar Reza.


Via mengangguk senang kemudian tangannya menuntun Reza keluar kamar untuk berjalan jalan di sekitar taman.


Di kantor Ziga sibuk dengan urusan perusahaan tapi dari sejak datang ke kantor senyuman tak menghilang dari sudut bibirnya.

__ADS_1


Beberapa pegawai banyak yang menatap keheranan, karna biasanya bosnya yang selalu memasang tampang menyeramkan kini datang ke kantor dengan wajah ceria dan senyum yang terus mengembang.


Di dalam ruang rapat para eksekutif manajer sedang menjelaskan proyek mereka yang terbaru saat tiba tiba terdengar suara ponsel yang berbunyi cukup keras.


Brakk..


Tiba tiba Ziga menggebrak meja dengan wajah yang menakutkan.


"Siapa yang menyalakan ponsel di saat rapat" teriak Ziga dengan marah


Mereka yang berada di dalam ruang rapat pun saling berpandangan, karna tak ada satu pun dari mereka yang membawa ponsel ke dalam ruang rapat. Memang sudah ada peraturan dari perusahaan yang melarang membawa ponsel ke ruang rapat. Aturan itu di buat oleh Ziga sendiri, karna dia tidak mau konsentrasi para pegawainya terganggu karna panggilan telpon.


Sesaat keadaan menjadi hening, mereka yang berada di dalam ruangan tersebut menunduk tak berani menatap mata elang Ziga, tapi tiba tiba Erik berbisik lirih di telinga Ziga.


"Tuan muda, itu ponsel anda yang berbunyi" ucap Erik pelan karna takut menyinggung Tuannya.


Ziga pun mengalihkan pandangannya ke Erik, kemudian meraih ponsel di dalam saku celananya. Dan memang benar itu memang suara ponselnya dan yang tertera di layar adalah nama Istriku yang berarti panggilan dari Via.


Ziga pun dengan cepat menjawab panggilan tersebut tanpa memperdulikan tatapan aneh dari para bawahannya.


"Hallo" sapa Ziga lembut


Seketika mereka yang berada di ruang rapat pun tercengang karna baru saja atasannya tersebut mengamuk bagai binatang buas kini malah suaranya lembut seperti anak kucing.


"Iya hallo" jawab Via


"Aku sebentar lagi pulang, tapi sebelum itu aku ingin makan siang dengan kakak di kantin rumah sakit" ucap Via


"Ehm" jawab Ziga singkat


Via terdiam sesaat lalu tiba tiba berkata "Apa kau mau bergabung untuk makan siang dengan kami?" tanya Via ragu ragu.


Ziga tertegun mendengar pertanyaan Via, dia tidak menyangka Via akan berinisiatif untuk mengajaknya.


" Tapi jika kau sibuk tak apa, aku akan makan berdua dengan kakak" ucap Via karna belum mendengar jawabab dari Ziga dia berfikir mungkin Ziga sedang sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat makan siang bersama.


"Aku akan datang" jawab Ziga yang segera tersadar dari keterkejutannya.


"Oh, oke kalau begitu aku akan menunggumu" ucap Via yang kemudian langsung mengakhiri panggilannya.


Ziga tersenyum menatap layar ponselnya.


"Rapat di tunda" ucap Ziga sambil berlalu keluar ruangan.

__ADS_1


Mereka yang berada di ruang rapat hanya bisa saling berpandangan. Baru kali ini mereka melihat bosnya menunda rapat, setelah bunyi ponsel yang tadi mengejutkan mereka, pemberitahuan menunda rapat juga membuat mereka syok tak berdaya. Mereka hanya bisa menebak nebak apa yang terjadi pada bosnya tersebut. Hanya Erik yang mengetahui apa yang terjadi pada tuannya tersebut, dia menggelengkan kepala melihat tingkah Ziga kemudian segera melangkah keluar mengikuti Ziga.


__ADS_2