Aku Mencintaimu

Aku Mencintaimu
Sedikit kisah Maureen dan Demyan


__ADS_3

Hai, jumpa lagi dengan Ay si Author recehan.


Sekali lagi Ay kasih tahu buat kalian yang ingin Via dan Ziga bertemu kembali silakan untuk membaca TAKDIR CINTA karena mereka di pertemukan kembali di sana.


Baca dulu ceritanya sebelum kalian terus protes dengan alur cerita yang Ay buat.


Kalau kalian sudah baca TAKDIR CINTA karya Ay kalian pasti akan mengerti dan juga bahagia karena di sana Ay buat kisah mereka yang berakhir dengan bahagia.


Untuk satu bab yang sekarang ini, Ay akan menceritakan kisah Maureen karena ada beberapa pembaca yang meminta kisah cinta gadis itu juga di ceritakan. Tapi, jika nanti setelah membaca satu bab ini kalian masih merasa ingin melanjutkan tolong kasih pendapat di kolom komentar. Jika banyak yang meminta untuk lanjut Ay akan buatkan kisah Maureen dan Demyan dengan judul sendiri.


Sekali lagi terimakasih telah membaca karya Ay. Salam sayang dari ***Ay si Author recehan 😘😘😘**


Happy reading all,


******


Bali, Indonesia.


Seorang gadis berusia 20 tahun yang baru saja menamatkan sekolahnya tengah berada di sebuah gedung yang mempekerjakan para tour guide. Maureen namanya, gadis yatim piatu yang selama ini tinggal di Jakarta kini memilih Bali untuk menjadi tempat tujuannya dalam mencari pekerjaan.


Keahliannya menguasai beberapa bahasa membuat gadis itu mengajukan diri sebagai tour guide di Bali yang sebagian besar dari pengunjungnya adalah turis asing yang berasal dari luar negeri.


Maureen menghempaskan tubuhnya ke sebuah kasur kecil di rumah kontrakan yang di sewanya. Mungkin lebih layak di sebut kamar kontrakan karena memang hanya ada satu ruang untuk dia tidur dan juga satu kamar mandi di dalamnya.

__ADS_1


Hidup seorang diri di sebuah kota besar membuat gadis itu harus mengirit segala kebutuhannya, apalagi ia bukanlah berasal dari keluarga kaya. Selama di Jakarta Maureen tinggal bersama dengan Nina yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri.


Nina mengasuh gadis itu sejak kedua orang tua Maureen meninggal. Namun, karena tidak ingin terus-menerus merepotkan Nina akhirnya Maureen memilih untuk mencari pekerjaan selepas lulus SMA. Gadis itu memilih Bali karena di anggap tempat itu paling cocok dengan keahliannya menterjemahkan beberapa bahasa. Sekaligus mengenang kembali memori masa kecilnya.


Maureen merebahkan tubuhnya yang merasa lelah, gadis itu ingin beristirahat sebelum besok memulai kembali pekerjaannya dengan memandu seorang klien baru yang ingin bertamasya keliling Bali.


Kabarnya kliennya kali ini adalah seorang pengusaha sukses yang berasal dari Negeri Beruang Putih Rusia. Dan katanya lagi klien ini seorang duda yang memiliki seorang putri yang baru berusia dua tahun. Menurut pemilik agency tempat Maureen bekerja, ia hanya harus memandu bocah berusia dua tahun itu untuk tamasya. Sedangkan ayahnya biasanya selalu sibuk dengan pekerjaannya.


Maureen memejamkan mata dan mencoba untuk tidur serta berharap esok hari dapat menjadi hari yang indah untuknya.


"Dobro pozhalovat' na Bali Indoneziya!" (Selamat datang di Bali, Indonesia) sapa Maureen ramah menyambut tamu yang akan menjadi kliennya di bandara.


Pria tinggi besar yang memakai jas hitam itu hanya menganggukkan kepalanya membalas sapaan Maureen. Pria yang menurut Maureen bertampang sangar karena tidak sama sekali menampilkan senyumnya.


"Papi!" panggil seorang bocah perempuan kecil yang mengenakan gaun berwarna pink lengkap dengan bandana dengan warna yang senada.


Melihat pasangan ayah dan anak itu tertawa membuat Maureen sedikit menitikkan air matanya. Gadis itu kembali teringat pada kedua orang tuanya yang telah tiada.


"Chto s toboy ne tak, miss?" (Anda kenapa Nona) tanya pria tersebut dengan suara baritonnya begitu melihat Maureen menitikkan air mata.


"Vse v poryadke, ser ..." (Tidak apa-apa Tuan ...) jawab Maureen bingung karena ia belum mengetahui nama pria tampan yang kini ada di hadapannya tersebut.


«Prosto zovi menya Dem'yan, a eto moya doch' Yeva," (Panggil saja Aku Demyan dan ini putriku Eva) jawab pria tersebut yang ternyata bernama Demyan memperkenalkan dirinya dan sang putri yang tengah berada di dalam gendongannya.

__ADS_1


«Da, lord Dem'yan, prosto zovi menya Maureen," (Baik Tuan Demyan, panggil saja aku Maureen) jawab Maureen ramah.


"Privet, Eva, ty prekrasna, dorogaya," ( Hai Eva, kau cantik sekali sayang) puji Maureen tulus, bocah kecil itu pun tersenyum kemudian merentangkan tangannya meminta Maureen untuk menggendongnya.


Demyan sedikit terkejut melihat reaksi putrinya, selama ini bocah itu tidak pernah mau untuk berdekatan dengan orang asing apalagi orang yang baru pertama kali di temuinya. Namun, kini semua berbeda Eva putri kecilnya itu langsung tersenyum ramah pada Maureen bahkan meminta gadis itu untuk menggendongnya.


Maureen merasa sangat senang ketika Eva meminta dirinya untuk menggendong bocah kecil itu. Namun, ia juga sedikit takut kalau-kalau Demyan tidak mengizinkannya untuk menyentuh Eva.


"Papi," rengek Eva sembari menunjuk ke arah Maureen, menandakan bocah itu ingin berdekatan dengan gadis manis yang kini ada di hadapannya tersebut.


Melihat Eva yang merengek penuh harap akhirnya Demyan mengizinkan Maureen menggendong putri kecilnya tersebut.


"Sozhaleyu," (Maaf) ucap Demyan menyesal telah merepotkan Maureen untuk menggendong Eva putrinya.


Maureen menggelengkan kepalanya, untuk gadis itu tidak masalah harus menggendong Eva. Kebetulan gadis itu sangat menyukai anak-anak jadi ia merasa sangat senang bisa membawa Eva dalam gendongannya.


Mereka pun berjalan ke luar bandara menuju mobil yang telah menjemput Demyan. Di dalam mobil Demyan begitu kagum dengan interaksi antara Eva dan Maureen. Pria itu terus melirik dari arah spion gadis dan putri kecilnya yang tengah bergurau di kursi penumpang belakang.


Demyan sengaja memilih duduk di kursi penumpang samping pengemudi karena takut Maureen tidak nyaman bila berdekatan dengannya. Pria itu tersenyum bahagia tatkala mendengar dan melihat putrinya terus tertawa bersama Maureen. Sejak lahir Eva memang kurang beruntung, ia tidak pernah dapat melihat wajah ibu kandungnya yang telah meninggal saat melahirkan bocah perempuan itu.


Satu minggu Maureen terus mendampingi Demyan dan Eva untuk mengunjungi berbagai tempat yang indah di Bali. Dan satu minggu juga kedekatan Eva dan Maureen semakin menjadi. Bocah itu seakan tidak ingin di tinggalkan oleh Maureen yang mungkin telah di anggap oleh bocah tersebut sebagai ibunya.


Maureen pun demikian, ia merasa nyaman bersama dengan Demyan dan Eva. Gadis itu pun semakin mengenal pribadi Demyan yang ternyata dia dingin dan acuh, namun hangat dan perhatian di dalam. Tak jarang pria itu membuat Maureen sedikit besar kepala karena perhatian pria itu yang berlebihan.

__ADS_1


Seperti misalnya saat ini, Demyan mengajaknya untuk makan malam di sebuah restauran mewah. Demyan sengaja mengajak Maureen kesana karena ada satu hal yang ingin ia ungkapkan pada gadis itu.


"Maukah kau menjadi kekasihku?" tanya Demyan membuat Maureen menatap heran mendengar pertanyaan pria itu


__ADS_2