Aku Mencintaimu

Aku Mencintaimu
Aku belum siap


__ADS_3

Selesai makan siang Via dan Ziga mengantar Reza kembali ke kamar untuk istirahat.


"Kak, Via pulang dulu ya" pamit Via pada Reza


"Besok Via datang lagi jenguk kakak" ucap Via


"Bukannya nanti malam ayah dan ibu mertuamu datang?" tanya Reza


"Iya, kalau tidak salah nanti malam mereka tiba di bandara" jawab Via sambil melirik Ziga.


"Kalau tidak ada kendala mungkin pesawat mereka akan tiba tengah malam nanti" terang Ziga.


"Ehmm..Kalau begitu besok kamu tidak usah jenguk kakak" ujar Reza


"Kamu harus menyambut dan menemani ayah serta ibu mertuamu" ucap Reza


Via terdiam sebentar, kemudian dia pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kak" ucap Via


"Kalau begitu kami pamit sekarang, jangan lupa minum obat kakak" pesan Via.


Ziga pun ikutan pamit pada Reza.


Ziga mengantar Via pulang ke mansion terlebih dahulu sebelum dia kembali ke kantor.


Sepanjang perjalanan keluar rumah sakit banyak mata yang memandang iri kepada pasangan tersebut, karna Ziga selalu menggandeng mesra Via. Sebenarnya Via merasa risih karna banyak orang yang memperhatikan mereka, tapi saat Via hendak menarik tangannya, Ziga malah mempererat genggamannya. Via pun sempat protes pada Ziga. Tapi tak di gubris oleh Ziga, malah dia dengan sengaja merangkul pinggang Via. Akhirnya Via hanya bisa pasrah menuruti keinginan Ziga..


Di dalam mobil pun Ziga tetap menggengam tangan Via dan menyetir dengan tangan sebelahnya seolah dia takut kalau Via akan kabur.


"Ziga, bisakah kau lepaskan tanganku ?" pinta Via.


"Mengapa?" tanya Ziga tanpa menjawab permintaan Via.


"Kau sedang mengemudi jadi berkonsentrasilah" ucap Via


"Lagi pula aku takkan pergi kemana mana, jadi kau tak perlu terus memegangiku" ucap Via.


Ziga tidak membalas perkataan Via, tapi dia malah menghentikan mobilnya ke tepi jalan.


"Ada apa?" tanya Via terkejut tiba tiba Ziga menepikan mobilnya.

__ADS_1


Ziga meraih genggaman tangannya kemudian mengecup punggung tangan Via.


"Aku telah sekali kehilanganmu Vi, aku tak mau hal itu terjadi lagi" ucap Ziga sungguh sungguh


"Dan jangan pernah sekalipun berfikir untuk pergi dariku, aku tak akan melepaskanmu" tambah Ziga . Matanya menatap Via mengungkapkan kesungguhan akan perkataannya.


Via hanya terdiam mendengar ucapan Ziga, dia seakan tak percaya atas apa yang di dengarnya.


"Apa kau berniat meninggalkanku? tanya Ziga tiba tiba


Via terkejut mendengar pertanyaan Ziga, dia memang tak berniat meninggalkan Ziga untuk saat ini, tapi status pernikahan mereka adalah kontrak dan sudah ada ketentuan yang mengatur perpisahan mereka, tapi mengapa kini Ziga malah berkata tak akan melepaskannya. Semua itu membuat Via bingung.


"Sebaiknya kau nyalakan kembali mobilnya, tak baik terlalu lama di sisi jalan" ucap Via berusaha mengalihkan pembicaraan dan tak menjawab pertanyaan Ziga.


"Apa kau berniat meninggalkanku?" Ziga mengulang kembali pertanyaannya karna tak kunjung mendapat jawaban dari Via


Via menghela nafas panjang.


"Sebaiknya kita jalan dulu, masalah ini kita bicarakan nanti setelah tiba di rumah" ucap Via datar


Akhirnya Ziga pun mengalah, dia menyalakan kembali mobilnya dan mengemudikannya menuju ke rumah.


Selama sisa perjalanan menuju rumah mereka hanya terdiam tak saling berbicara.


Entah mengapa dia ingin menghindari menjawab pertanyaan Ziga.


Sampai di kamar Via merasa tak tenang.


Via berdiri di balkon dan menatap langit. Entah mengapa di saat seperti ini dia merindukan ibu dan ayahnya. Jika saja mereka masih ada mungkin dia tak akan seperti ini. Dia tak perlu menjalani pernikahan kontrak yang membuatnya dalam keadaan dilema.


Via berpegang pada pagar balkon, matanya menerawang jauh. Via teringat kembali kenangan kenangan ketika ayah dan ibunya masih hidup. Mereka adalah sebuah keluarga yang bahagia, walau bukan berasal dari keluarga kaya, tapi kasih sayang dalam keluarga sangat di rasakannya. Tanpa ia sadari sebulir air mata menetes di pipi putihnya.


Ziga masuk ke kamar menyusul Via, saat dia masuk Ziga melihat Via yang sedang termenung di balkon.


Ziga pun menghampirinya kemudian memeluk Via dari belakang dan meletakkan kepalanya di ceruk leher Via dengan manja.


Via tersentak saat menyadari dirinya tiba tiba di peluk, dia merasakan kenyaman dan ketenangan saat di peluk Ziga.


"Apa yang kau fikirkan?" tanya Ziga


"Aku teringat ibu dan ayah" jawab Via jujur

__ADS_1


"Ehmm..Nanti setelah ulang tahun perusahaan kita kembali ke Indonesia dan kita akan mengunjungi makam mereka di sana" ucap Via.


"Apa kita akan menetap di sana ?" tanya Via sambil membalikkan badannya dan menatap Ziga .


"Apa kau ingin menetap di sana ?" tanya Ziga sebelum menjawab pertanyaan Via.


"Aku ingin" jawab Via


"Baiklah, nanti kita akan urus untuk kita menetap di sana " ucap Ziga


"Benarkah?" tanya Via seakan tak percaya


"Iya, benar" jawab Ziga


Via pun tersenyum lebar, matanya berbinar menatap Ziga.


Melihat senyum yang merekah di bibir merah Via membuat tubuh Ziga seperti tersengat listrik, dia merasakan gairahnya memuncak. Apa lagi kini posisi Via berada di pelukannya menempel ketat di tubuhnya.


Ziga pun tak sabar lagi kemudian dia menundukkan kepalanya dan mencium bibir Via, tangannya memegang tengkuk Via untuk memperdalam ciumannya. Ciuman Ziga lembut tapi penuh hasrat memabukkan Via.


Lidahnya menari nari di dalam mulut Via. Via yang sedari awal hanya diam kini mulai membalas ciuman Via, dan hal itu membuat Ziga bahagia sehingga dia semakin memperdalam ciumannya.


Ciuman itu berlangsung sangat lama, ketika Via hampir kehabisan nafas barulah Ziga melepas ciumannya. Dahinya masih menepel di dahi Via, deru nafasnya yang tak beraturan menerpa wajah Via yang kemerahan akibat ciuman tersebut.


"Kau tidak kembali ke kantor?" tanya Via do sela sela keheningan mereka.


"Ehmm" Ziga hanya menjawab dengan deheman lalu kemudian kembali mencium bibir Via. Kali ini ciumannya lebih menggebu gebu seolah Ziga mencurahkan segala hasratnya. kemudian dia mengangkat kaki Via dan meletakkan di pinggangnya.


"Uhh" teriak protes Via tapi kemudian langsung di tutup kembali dengan ciuman Ziga.


Ziga menggendong Via masuk ke dalam kamar tanpa melepaskan ciuman di bibir Via.


Perlahan Ziga meletakkan tubuh Via di atas ranjang kemudian ciumannya turun ke leher jenjan Via.


Via melenguh, ciuman Ziga seolah mematikan otaknya. Ciuman Ziga terus turun ke bawah sambil jari jarinya berusaha melepas satu persatu kancing kemeja Via.


Via yang belum pernah tersentuh oleh pria manapun merasakan tubuhnya bergetar saat mendapat sentuhan dari Ziga.


Saat Ziga hampir membuka seluruh kancing kemejanya, Via tersadar dan berusaha mendorong Ziga.


Ziga yang mendapat penolakan menghentikan tangan dan bibirnya yang tengah menciumi leher Via. Matanya menatap Via dengan tajam.

__ADS_1


"Aku, aku belum siap" ucap Via lirih seakan ingin menangis.


Ziga pun menghela nafas frustasi kemudian dia bangkit dari tubuh Via lalu bergegas menuju kamar mandi untuk memadamkan hasratnya.


__ADS_2