
Ziga kembali ke kantor dengan perasaan gembira. Dia telah mengungkapkan perasaanya pada Via, kini dia hanya tinggal berusaha untuk mendapatkan hati Via.
Kedatangan Ziga telah di tunggu oleh para eksekutif manajer di ruang rapat.
Setelah rapat yang sempat tertunda tadi mereka akhirnya melanjutkan agenda rapat.
Rapat kali ini membahas tentang pembukaan hotel baru di Korea, selain itu juga membahas tentang ulang tahun perusahaan yang akan di adakan seminggu kemudian.
Ketika pembahasan tentang ulang tahun perusahaan Ziga pun teringat kalau itu juga adalah pesta untuk menyambut Via atas usulan orang tuanya. Seketika senyum pun mengembang di bibirnya. Kalau dulu saat pernikahan dia tidak ingin semua orang tahu bahwa dia telah menikah dengan Via, tapi kini dia ingin semua orang tahu kalau Via adalah istrinya, dia juga ingin mengumumkan pada dunia kalau Via adalah miliknya dan hanyalah miliknya.
"Erik, perintahkan bagian humas untuk mengundang seluruh wartawan nasional dan internasional untuk meliput acara ulang tahun ini, karna akan ada pengumuman penting nanti" titah Ziga.
"Baik Tuan" jawab Erik
"Oh ya sudah berapa persen persiapan hotel baru kita di Korea" tanya Ziga pada Ken orang yang bertanggung jawab atas pembukaan hotel di Korea.
"Sudah 80 persen Tuan" jawab Ken
"Kemungkinan dua bulan lagi kita sudah bisa membukanya "jawab Ken
Ziga mengotak atik ponselnya dia nampak tidak senang, kemudian dia tiba tiba berkata
" Aku ingin acara pembukaan di adakan tanggal 19 bulan depan" ucap Ziga tegas.
"Tapi Tuan itu berarti hanya tinggal satu bulan, sedangkan untuk merampungkan hotel di butuhkan waktu dua bulan" jawab Ken
"Aku tidak mau tahu yang jelas hotel harus selesai dan pembukaan akan di adakan tanggal 19 bulan depan" tekan Ziga.
"Tapi bagaimana caranya Tuan?" tanya Ken kebingungan dia tidak tahu bagaimana caranya harus memangkas waktu pekerjaan yang harus di selesaikan dalam dua bulan menjadi satu bulan.
Semua yang di ruang rapat juga bingung memikirkan solusinya.
"Apa kau menerima gaji dariku?" tanya Ziga pada Ken
"Iya Tuan " jawab Ken yang tak mengerti dengan pertanyaan Ziga.
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa kau bertanya tentang caranya padaku" ucap Ziga
"Jika aku yang menerima gaji darimu baru kau bisa mempertanyakan hal itu padaku" ucap Ziga acuh tak acuh.
"Keputusan sudah di buat jadi rapat selesai" ucap Ziga begitu saja membubarkan rapat, kemudian dia bergegas melangkah keluar dari ruang rapat.
Ken dan mereka yang berada di ruang rapat hanya menatap dengan bingung kepergian Ziga. Bagaimana mereka tidak bingung, atasannya hanya menginginkan hasil tanpa memberikan solusi atas permasalahan yang mereka dapat. Sungguh benar benar atasan yang kejam fikir mereka.
Sementara Ziga yang tak mengetahui pemikiran para anak buahnya, melenggang masuk ke dalam ruangannya dengan hati yang riang. Dia sebenarnya ingin membuka hotel tanggal 19 bulan depan karna dia ingin mempersembahkan hotel tersebut sebagai hadiah untuk ulang tahun Via yang bertepatan dengan tanggal tersebut. Ketika memikirkan hal tersebut tiba tiba hatinya merasa gugup, dia bertanya tanya apakah Via akan menerima hadiah darinya atau malah menolaknya.
"Rik, apakah wanita akan senang jika di beri harta materi?" tanya Ziga.
Erik merasa terkejut mendengar pertanyaan Ziga yang tiba tiba.
"Itu tergantung tipe wanita itu sendiri" jawab Erik
"Ehmm" Ziga berdehem, dia seakan sedang berfikir.
"Kalau boleh saya tahu, memangnya siapa wanita yang akan Tuan beri materi?" tanya Erik penasaran.
"Tentu saja istriku" jawab Ziga
"Bukan seperti itu maksud saya" jawab Erik merasa bersalah
"Memangnya apa yang akan Tuan berikan pada Nyonya?" tanya Erik lagi
" Mungkin saja saya bisa memperkirakan apakah Nyonya akan menyukainya atau tidak" ucap Erik
"Apa sekarang kau lebih suka bergosip?" tanya Ziga
"Dan sepertinya kau mengenal istriku dengan baik" ucap Ziga dengan marah
"Maaf Tuan, saya hanya ingin memberikan saran" jawab Erik.
"Aku tidak perlu saran darimu, aku tahu apa yang harus ku lakukan untuk istriku" ucap Ziga ketus .
__ADS_1
"Maaf atas kelancangan saya Tuan" ucap Erik penuh penyesalan.
"Ehm" balas Ziga, sebenarnya dia tidak marah pada Erik, hanya saja mendengar perkataan Erik membuat hatinya merasa cemburu. Bagaimana mungkin dia membiarkan orang lain memilihkan apa yang di sukai istrinya atau tidak walaupun itu adalah asisten pribadi sekaligus sahabatnya sendiri.
"Tuan, tadi sewaktu Tuan berada di ruang rapat Nyonya besar menelpon" kata Erik
"Apa katanya?" tanya Ziga
"Nyonya bilang pesawatnya mengalami kendala kemungkinan besar akan terlambat untuk mendarat " jelas Erik
"Ehmm..Lalu kapan katanya mereka akan tiba?" tanya Ziga kemudian.
"Kemungkinan besar mereka baru akan tiba besok pagi Tuan" jawab Erik
"Baiklah, sekarang aku akan pulang" ucap Ziga
Ketika Ziga akan beranjak dari kursinya telpon di ruangannya berdering.
"Ada apa?" tanya Ziga saat menjawab telponnya.
"Maaf Tuan, nona Jesica ingin bertemu dengan Tuan" jawab Donna sekertaris Ziga
Ziga mengernyitkan alisnya, sebenarnya hari ini dia ingin cepat cepat pulang ke rumah untuk makan malam dengan Via, tapi sekarang Jesica datang untuk menemuinya, dan dia tidak bisa menolak putri dari dosennya tersebut.
"Baik, persilahkan dia masuk" jawab Ziga .
Jesica pun masuk wajahnya tampak menyedihkan, air mata menetes di pipinya yang putih.
"Ziga, kau harus menolongku" ucap Jesica
"Aku mohon, bantulah aku" pinta Jesica.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Ziga kemudian mempersilahkan Jesica duduk di sofa
Erik yang berada di sana juga menatap Jesica dengan rasa iba. Walau dia tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu, tapi dia merasakan bahwa gadis yang juga teman kuliahnya itu sedang mengalami kesulitan yang besar.
__ADS_1
Jesica belum menceritakan masalahnya, dia terus terusan menangis sehingga Ziga dan Erik kebingungan di buatnya.
Mereka berdua tidak dapat berbuat apa apa, mereka berusaha menenangkan Jesica, tapi gadis itu terus menangis terisak isak.