
Ketika Via kembali ke kamar Ziga telah selesai mandi. Dia mengenakan pakaian casual, karna hari ini adalah akhir pekan jadi Ziga tak akan berangkat ke kantor.
Dia akan memulai pencarian ayah Jesica setelah menjemput kedua orang tuanya, dia tidak tahu kalau kedua orang tuanya telah tiba tadi pagi.
"Sayang, cepat siap siap kita akan segera menjemput mamah dan papah" ujar Ziga setelah melihat Via masuk ke kamar.
"Mamah dan Papah sudah tiba" ucap Via sambil berlalu menuju kamar mandi.
"Apa?" tanya Ziga tak percaya.
"Bukankah mereka akan tiba pukul 09.00 nanti?" tanya Ziga lagi.
"Mereka sudah ada di bawah, kau temui dulu" ucap Via.
"Aku akan mandi dan segera turun kebawah, mereka telah menunggu kita untuk sarapan bersama" ujar Via kemudian dia bergegas masuk ke kamar mandi.
Ziga pun langsung turun untuk memastikan perkataan istrinya tersebut. Ketika Ziga turun ke ruang makan dia melihat ayah dan ibunya sudah duduk disana.
"Mah, Pah" sapa Ziga
"Kapan kalian tiba?" tanya Ziga
"Bukankan seharusnya kalian baru akan tiba dua jam lagi ?" tanya Ziga lagi.
Ayu dan Danu tersenyum melihat anaknya yang keheranan.
"Kami tiba dua jam yang lalu" jawab Ayu santai.
"Dua jam yang lalu?" tanya Ziga
"Bagaimana bisa kalian tak memberi kabar padaku?" Ziga bertanya dengan kesal.
"Kami sengaja tak mengabarimu, karna kami takut mengganggu tidurmu dan juga mengganggu proses pembuatan cucu kami" ucap Ayu tanpa malu malu.
"Ehmm..Mah .. Pah, kenapa hanya kehadiran seorang cucu yang ada di fikiran kalian ?" tanya Ziga sedikit putus asa, karna jangan pun untuk seorang cucu dia bahkan belum mendapatkan malam pertamanya.
"Apa yang salah dengan itu?" tanya Ayu
"Kalian sudah menikah dan umur kami juga sudah tidak muda, kami berharap secepatnya bisa menggendong seorang cucu mungil yang akan mengisi hari hari tua kami" ucap Ayu dengan penuh pengharapan.
Via yang telah tiba di ruang makan agak merasa bersalah setelah mendengar perkataan ibu mertuanya tersebut.
Sementara Ziga akhirnya hanya bisa menggelengkan kepala tak berdaya setelah mendengar ucapan ibunya.
"Sudah, sekarang lebih baik kita sarapan dulu" ucap Danu berusaha menghentikan istrinya yang terus mendesak Ziga untuk segera memberikan cucu pada mereka.
Akhirnya mereka pun sarapan dengan tenang.
__ADS_1
Selesai sarapan mereka menuju ruang keluarga untuk berbincang bincang.
"Tiga hari lagi adalah ulang tahun perusahaan" ucap Ziga
"Pada kesempatan itu akan aku pergunakan untuk memperkenalkan Via sebagai istriku" tambah Ziga.
Via terkejut mendengar pernyataan Ziga, dia tidak menyangka Ziga akan mengumumkan status pernikahan mereka pada semua orang.
Sedangkan Ayu dan Danu merasa bahagia mendengar ucapan putranya tersebut.
"Itu ide yang bagus" ujar Ayu semangat, karna sebenarnya Danu dan Ayu memang berencana untuk membuat pengumuman pernikahan putra mereka pada kesempatan ini.
Danu pun menganggukkan kepalanya.
"Papah juga setuju" dukung Danu
"Itu akan mematahkan rumor dan juga spekulasi buruk untukmu" ujar Danu.
"Oh iya, setelah ulang tahun perusahaan, kalian sebaiknya berlibur" ucap Ayu
"Karna sejak pernikahan dan kejadian yang menimpa Via kalian belum berbulan madu" usul Ayu
"Iya, Sebaiknya kalian pergi bulan madu setelah acara ini" timpa Danu
"Papah akan mengurus masalah perusahaan" ucap Danu
"Aku memang berencana seperti itu" ucap Ziga
"Tapi sebelumnya aku akan ke Indonesia untuk mengunjungi makam orang tua Via dan juga untuk membantu kakaknya untuk memulihkan ingatannya" jelas Ziga
Via yang sedari tadi hanya diam saja, mendadak hatinya berbunga. Dia fikir Ziga akan lupa pada janjinya untuk pulang ke Indonesia tapi ternyata dia memikirkannya.
Mendengar hal tersebut kehangatan menjalar di dalam hatinya. Dia merasa bahagia ternyata dia tida salah memilih suami. Dia bertekad mulai saat ini dia akan perlahan lahan membuka hatinya untuk Ziga.
Mencoba sebisa mungkin membalas cinta Ziga.
"Itu juga bagus" ucap Ayu
"Bagaimana menurutmu sayang?" tanya Ayu pada Via.
Dia agak sedikit khawatir karna dari tadi Via hanya diam saja tak mengeluarkan sedikitpun suaranya.
"Aku setuju apa pun keputusan Ziga" jawab Via.
"Karna aku rasa Ziga pasti tahu yang terbaik untuk kami" tambah Via.
Ayu dan Danu pun mengangguk serempak.
__ADS_1
Di saat mereka sedang berbincang, Yesi datang memberitahu bahwa ada tamu yang datang.
"Maaf, Tuan, Nyonya, Tuan muda dan Nyonya muda, Nona Jesica datang" lapor Yesi.
Ayu dan Danu berpandangan, mereka tidak menyangka jika Jesica ada di negara S.
"Persilahkan dia masuk" kata Ziga
"Baik Tuan muda" jawab Yesi.
"Bagaimana Jesica bisa berada di sini?" tanya Ayu
"Bukankah dia menetap di New york?" tanya Ayu lagi.
"Profesor mengalami kecelakaan di sini, dan sampai sekarang beliau belum ditemukan" jawab Ziga.
Ayu dan Danu terkejut mendengarnya. Mereka telah mengenal Jesica sejak Ziga masih kuliah dulu dan mereka juga mengenal Profesor Hans, karna Profesor Hans adalah teman masa kecil Danu.
Bahkan dulu mereka sempat hendak menjodohkan kedua anak mereka, hanya saja perjodohan ini di tentang oleh keduanya.
Mereka berdua menjelaskan kalau mereka hanya berteman dan tak memiliki perasaan yang lebih. Akhirnya kedua orang tua mereka pun hanya bisa pasrah dan menerima keputusan anak anaknya.
Tak berapa lama Jesica pun datang dengan di antar Yesi.
"Selamat pagi semua" sapa Jesica
"Om, tante kalian ada di sini ?" tanya Jesica
Ayu langsung bangkit dan memeluk Jesica, dia sudah menganggap Jesica seperti anaknya sendiri.
"Tante dan Om ikut prihatin atas apa yang menimpa Papimu" ucap Ayu penuh kesedihan.
"Terima kasih Tante" jawab Jesica lemah, dia merasakan kehangatan pelukan seorang ibu yang tak di milikinya, karna ibunya telah meninggal sejak dia berumur lima tahun. Dan hingga saat ini Ayahnya tak menikah lagi. Walaupun Jesica sudah sering memaksa ayahnya untuk menikah lagi, tapi itu di tolak karna ayahnya sangat mencintai ibunya dan dia juga tak mau Jesica mempunyai ibu tiri yang belum tentu menyayangi anaknya dengan sepenuh hati.
"Mah, Pah kami akan memulai pencarian Profesor" ucap Ziga.
"Apa sudah ada petunjuk?" tanya Danu
"Erik telah menemukan beberapa petunjuk, mungkin jika kita menelusurinya sekarang akan lebih mudah untuk menemukan Profesor" jawab Ziga.
"Ya, lebih cepat lebih baik" tukas Danu.
"Aku pergi dulu ya sayang" pamit Ziga pada Via sambil mengecup kening istrinya tersebut.
Via tersentak karna saat ini ada ibu dan ayah mertuanya bahkan juga Jesica, tapi Ziga seakan tak peduli dan tetap menampilkan perlakuan romantis di hadapan mereka.
Via mengangguk mencoba menutupi rasa malunya. Sementara itu Ayu sedikit terperangah karna putranya yang selalu sedingin gunung es itu bisa bersikap romantis bahkan di hadapan orang tua dan juga sahabatnya.
__ADS_1