
Maureen membelalakkan matanya melihat Demyan sang kekasih memeluk erat tubuh Via sahabatnya. Gadis itu sama bingungnya dengan Via, dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Demyan berbuat seperti itu.
"Akhirnya Aku menemukanmu," ucap Demyan masih dengan memeluk tubuh Via.
Via yang merasa tak nyaman, mencoba meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan pria tersebut.
"To-tolong lepaskan Aku Tuan!" pinta Via yang merasa sesak karena Demyan memeluknya begitu erat.
"Maaf ... maafkan Aku Anya," ucap Demyan yang membuat Via berserta Maureen kebingungan.
"Dem, ini bukan Anya. Dia adalah Via sahabatku." Maureen berusaha menjelaskan kembali siapa Via pada Demyan.
Demyan terpaku mendengar penjelasan Maureen, dia tidak menyangka bahwa wanita yang di peluknya bukanlah Anya adiknya yang telah menghilang tiga tahun lalu.
"Ka-kau bukan Anya?" tanya Demyan masih belum yakin dengan penjelasan Maureen.
Via mengangguk," Aku bukan Anya Tuan, namaku Via." Via menjawab dan menjelaskan siapa dirinya.
"Maaf ... maafkan aku," sesal Demyan, kemudian laki-laki itu berlalu pergi meninggalkan Via dan Maureen.
Maureen mengejar sang kekasih yang tengah berjalan keluar.
"Demy!" panggil Maureen.
Demyan tak menggubris, pria itu tetap berjalan seolah tak mendengar panggilan Maureen.
Maureen tak menyerah, gadis itu terus berlari mengejar Demyan kemudian memeluk pria itu dari belakang untuk menghentikan langkahnya.
Demyan berhenti karena kini lengan Jesica tengah memeluk pinggangnya erat.
"Jangan pergi!" pinta Maureen.
"Berbagi lah denganku agar terlepas sedikit saja dari bebanmu," ucap Maureen, gadis itu tahu kekasihnya merasakan kesakitan yang mendalam akibat kehilangan adik perempuan satu-satunya yang bernama Anya.
Demyan membalikkan tubuhnya, kemudian pria itu memeluk erat tubuh Maureen kekasihnya. Tubuh pria itu bergetar dan Sepertinya lelaki yang biasanya terlihat garang itu menitikkan air mata.
"Anya adalah adikku satu-satunya. Ia menghilang tiga tahun lalu." Demyan memulai ceritanya setelah dirinya merasa sedikit tenang.
Pria itu mengajak Maureen ke taman dan duduk di bangku yang terdapat di sana. Demyan ingin menceritakan semua kisahnya yang selama ini hanya bisa ia pendam.
Demyan menghirup nafas salam kemudian mulai bercerita tentang Anya adik perempuannya itu.
"Wajah Anya mirip sekali dengan temanmu itu, siapa namanya?" tanya Demyan sebelum memulai ceritanya.
"Via," jawab Maureen sambil menggenggam tangan Demyan seolah memberi pria itu kekuatan.
"Iya, makanya tadi aku sempat berpikir kalau itu adalah Anya adikku," ucap Demyan.
"Walau sebenarnya Anya telah di nyatakan meninggal, tapi aku tidak percaya. Aku tetap menganggap Anya masih hidup sampai sekarang," jelas Demyan memainkan jemari Maureen yang berada dalam genggamannya.
__ADS_1
Maureen pun tampak mengerti dengan apa yang di ceritakan oleh Demyan. Gadis itu berusaha menghibur sang kekasih yang terlihat begitu sedih.
"Kakak, tolong! Aunty Via pingsan!" teriak salah seorang anak panti yang berlari menuju Maureen dan Demyan.
Maureen pun segera berlari masuk ke dalam untuk melihat keadaan Via. Kemudian gadis itu meminta bantuan Demyan untuk membawa Via ke rumah sakit.
Demyan dan Maureen segera melarikan Via ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan Maureen sempat menceritakan sedikit tentang Via dan juga masalah yang di alaminya.
Demyan mengangguk mengerti, kemudian pria itu berjanji untuk membantu Via pergi menjauh dari negara ini. Sekaligus juga membawa Maureen untuk menikahi gadis itu.
Maureen bahagia mendengarnya, namun untuk masalah Via ia tidak dapat memutuskan. Gadis itu harus bertanya pendapat sahabatnya tersebut, ketika wanita itu telah siuman.
Via mengerjapkan matanya, saat ini dia berada di atas pangkuan Maureen dalam mobil Demyan yang akan membawa mereka ke rumah sakit.
Via pun mulai bangun dan duduk di samping sahabatnya itu.
"Ki-kita mau kemana?" tanya Via kebingungan, wanita itu tak menyadari kalau Maureen begitu cemas melihat keadaannya.
"Kita akan pergi ke rumah sakit, Kau harus memeriksakan keadaanmu." Maureen menjelaskan pada Via sembari memegang tangan wanita itu yang terasa lebih dingin.
"Tapi, aku tidak apa-apa." Via menjawab seolah merasa dirinya baik-baik saja.
"Kau harus memeriksakan kandunganmu Vi," jelas Maureen.
Penjelasan Maureen membuat Via terdiam, dia teringat lagi akan janin yang kini sedang tumbuh di dalam tubuhnya. Via mengelus perutnya yang masih rata dengan lembut. Wanita itu sama sekali tak menyangka jika di dalam sana ada nyawa yang merupakan bagian dari dirinya dan juga Ziga.
Selesai mendaftar, Via dan Maureen menunggu antrian. Via melihat kebanyakan yang berada di sana adalah wanita hamil yang di dampingi oleh suami mereka masing-masing. Raut wajah mereka terlihat sangat bahagia.
Via memandang iri ke arah mereka, wanita itu tidak akan dapat merasakan kebahagiaan seperti yang mereka rasakan. Namun, Via akan tetap berusaha bahagia walau tak ada Ziga di sampingnya, saat ini yang terpenting adalah buah hati yang kini tengah berada di kandungannya.
"Nyonya Alvia!" Suster memanggil Via untuk memulai pemeriksaannya.
"Iya, saya," jawab Via, kemudian dengan di temani Maureen wanita itu masuk ke dalam ruang periksa.
"Silakan duduk Nyonya," sapa seorang Dokter pria yang ada di dalam ruangan tersebut.
Via dan Maureen pun duduk di kursi berhadapan dengan sang Dokter.
"Via!" Dokter Dony terkejut setelah melihat siapa yang menjadi pasiennya.
"Kak Dony!" sahut Via tak kalah terkejutnya.
Sang Dokter yang ternyata bernama lengkap Dony Syahputra itu adalah kakak kelas Via semasa sekolah. Mereka satu sekolah dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.
Mereka juga berteman baik karena kebetulan tempat tinggal mereka berdekatan. Sebelum akhirnya Dony memutuskan untuk melanjutkan kuliah kedokterannya di USA, sedangkan Via tetap melanjutkan studinya di Indonesia.
"Apa kabarmu?" tanya Dony pada Via, dirinya begitu senang bisa bertemu dengan adik kelasnya tersebut.
"Aku baik Kak, oh ya, perkenalkan ini sahabatku Maureen," ucap Via memperkenalkan Maureen pada Dony.
__ADS_1
"Dia juga berasal dari SMA kita," jelas Via yang membuat Dony mengerutkan keningnya.
Lelaki itu memperhatikan Maureen dan dia merasa tidak mengenal gadis itu sebagai adik kelasnya.
"Dia murid pindahan saat Kak Donny telah lulus," jelas Via seakan mengerti kebingungan Dony.
Dony pun mengangguk-angguk mendengar penjelasan Via.
"Baiklah, sekarang tolong naik ke sana, Aku akan memeriksa keadaan bayimu." Dokter Dony berkata sambil menunjuk sebuah tempat tidur yang biasa ia gunakan untuk memeriksa pasiennya.
"Suamimu tidak ikut?" Dony melontarkan pertanyaan pada Via sembari mengoleskan gel di perut Via yang masih tampak rata.
Hari ini pria itu akan melakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui kondisi janin yang di kandung oleh adik kelasnya tersebut.
Via tersenyum getir mendengar pertanyaan Dony, bagaimana suaminya mau ikut bahkan ia tengah mengandung pun Ziga tidak tahu.
"Suamiku sibuk Kak," jawab Via berbohong, dia merasa tidak perlu banyak yang tahu tentang masalah pribadinya.
Dony mengangguk mendengar jawaban Via, pria itu merasa tak heran karena saat ini banyak suami yang sibuk dan tidak bisa mengantar istrinya walau hanya sekedar pemeriksaan kehamilan saja.
"Lihatlah, itu bayimu, usianya baru lima minggu," ucap Dony sambil menunjuk layar monitor yang menampilkan dua titik yang berada di dalam perut Via.
"Selamat Vi, bayimu kembar," tambah Dony dengan tersenyum.
Senyum Via merekah mendengar penjelasan Dony, Tuhan telah memberikan anugerah terindah untuknya. Wanita itu berjanji akan berusaha untuk menjaga kedua buah hatinya walau tanpa kehadiran seorang suami di sisinya.
"Kondisinya sangat sehat, tapi kau juga harus memperhatikan pola makanmu," ucap Dokter Dony.
"Karena kau mengandung anak kembar jelas nutrisi dan asupan gizi yang kau butuhkan lebih banyak," jelas Dokter Dony.
Via mengangguk mendengar penjelasan Dokter Dony. Memang saat ini ia berniat untuk menjaga tubuhnya demi dua buah hati tercintanya.
"Apa Via dapat melakukan perjalanan jauh menggunakan pesawat?" tanya Maureen yang membuat Via kebingungan.
"Tidak masalah, selama Via sehat itu tidak akan berpengaruh pada kondisi janinnya," jawab Dony.
Setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, Via dan Maureen pun pamit karena Dokter Dony masih harus memeriksa pasien lainnya.
"Apa maksudmu perjalanan jauh Reen?" tanya Via saat mereka sudah berada di luar ruangan Dokter Dony.
"Bukankah kau ingin pergi jauh?" Maureen tidak menjawab pertanyaan Via, gadis itu malah balik bertanya pada Via.
Via mengangguk menjawab pertanyaan Maureen. Wanita itu memang berencana pergi ke tempat yang jauh di mana Ziga tak akan dapat menemukannya.
"Demyan akan membantumu," ucap Maureen.
"Kita akan pergi ke Rusia bersama dengannya," tambah Maureen.
Via tersenyum bahagia mendengar ucapan sahabatnya itu. Akhirnya wanita itu mendapatkan solusi atas masalah yang selama ini di khawatirkannya.
__ADS_1