
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 6 jam, Ziga dan yang lainnya tiba di kota terdekat. Ziga langsung memerintahkan Erik untuk segera menemukan alat komunikasi agar mereka dapat menghubungi dan memberi kabar pada Via dan juga kedua orang tuanya. Setelah beberapa lama Erik akhirnya dapat meminjam telpon yang ada di kantor walikota di daerah tersebut.
Erik pun segera melaporkan hal ini pada Ziga.
Ziga pun segera menuju kantor walikota setelah mendapat kabar dari Erik.
Walaupun sudah hampir tengah malam, tapi keadaan di kantor walikota masih sangat ramai, karna tempat tersebut di jadikan tempat penampungan bahan bantuan yang akan di salurkan ke desa desa yang mengalami bencana. Bahkan walikota sendiri masih berada di sana, untuk mengatur bantuan yang akan di salurkan.
"Ah, selamat malam Tuan Ziga" sapa Robert walikota di kota M tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Robert bersemangat, karna kehadiran Ziga di kotanya adalah salah satu hal yang paling ia tunggu. Robert ingin mempromosikan kota yang di pimpinnya agar Ziga bersedia berinvestasi di kota tersebut. Sebagai raja dari segala bisnis tentunya kehadiran Ziga akan memberi dampak yang menguntungkan untuk perputaran ekonomi di kota tersebut apabila Ziga bersedia berinvestasi.
"Maaf, jika kehadiran saya mengganggu Tuan Robert" ucap Ziga basa basi.
"Oh, tidak merepotkan Tuan" jawab Robert
"Sebenarnya apa yang membuat Tuan Ziga datang ke tempat ini pada tengah malam seperti ini?" tanya Robert penasaran, karna biasanya mereka yang harus membuat janji untuk bertemu dengan Ziga, dan itu pula tidak jarang mereka harus menelan kekecewaan karna mereka tak dapat bertemu langsung dengan Ziga. Maka dari itu Robert berusaha sebisa mungkin untuk melayani Ziga agar nantinya mereka dapat bekerjasama dengan mudah.
"Aku kesini untuk meminjam telpon di kantor anda Tuan" jawab Ziga singkat.
Robert tampak tak terkejut tapi dia segera menyadari karna saluran komunikasi di putus sementara, jadi hanya di kantornya dan juga beberapa kantor pemerintahan lainnya yang dapat berfungsi.
"Mari silahkan Tuan" ucap Robert sambil membimbing Ziga menuju ruangannya.
Ziga dan Erik pun mengikuti Robert dari belakang. Mereka langsung menuju kantor Robert yang terletak di lantai 3 gedung tersebut. Setelah sampai di kantor Robert langsung mempersilahkan Ziga untuk menggunakan telpon.
Saat Ziga menekan nomor di telpon tersebut, mata Ziga menatap tajam Erik dan Robert. Mereka berdua pun mengerti tatapan tersebut, dan akhirnya mereka segera meninggalkan ruangan untuk memberi ruang pada Ziga.
Ziga ingin mengubungi ponsel Via tapi dia tidak mengingat nomornya. Ponselnya sendiri pun dalam keadaan mati daya, karna itu akhirnya Ziga pun menghubungi nomor Mansion.
__ADS_1
Setelah beberapa nada akhirnya orang yang di seberang sana mengangkat panggilan dari Ziga .
"Hallo" jawab Danu
"Hallo, Pah !" jawab Ziga masih dengan suara yang tenang.
"Ziga" panggil Danu dengan antusias, karna putra yang di tunggu tunggu kabarnya akhirnya menghubunginya. Ayu pun yang berada di sebelahnya tampak bersemangat setelah mendengar nama putranya .
"Bagaimana keadaanmu Nak?" tanya Danu sedikit khawatir.
"Aku baik baik saja, kami hanya mengalami sedikit masalah. Bisakah Papah mengirim Heli untuk menjemputku di kantor walikota di kota K ?" tanya Ziga.
"Baik, Papah akan segera mengirimkannya sekarang" jawab Danu.
"Pah, di mana istriku ?" tanya Ziga kemudian, dia penasaran apa yang di rasakan Via, setelah mendengar tentang bencana longsor tersebut.
Ada sedikit kekecewaan di mata Ziga setelah mendengar jawaban dari Ayahnya. "Ternyata Via sama sekali tak memikirkanku" benak Ziga
"Semalaman dia tidak tidur, dia sangat khawatir, dia tanpa henti menghubungi nomormu dan juga nomor Erik dan juga dia terus terusan menangis karna mengkhawatirkan dirimu" tambah Danu kemudian.
Rasa kecewa yang baru saja di rasakan oleh Ziga, kini berganti dengan rasa bahagia yang tak terkira. Dia tidak menyangka Via sampai menangis karna mengkhawatirkan dirinya. Seulas senyum pun tersungging di sudut bibirnya.
"Tapi Papah benar benar mengkhawatirkan keadaannya, seharian ini dia sama sekali tidak makan. Bahkan ketika Mamahmu membujuknya dia tetap menolak" tukas Danu dengan sedih.
Ziga sedikit marah mendengar perkataan Ayahnya, "Bagaimana mungkin wanita itu sangat bodoh hingga mengabaikan kesehatannya" gumam Ziga.
Sekarang perasaan yang di rasakan Ziga campur aduk. Ada rasa bahagia dan juga kesal yang kini di rasakannya.
"Pah, secepatnya kirim orang untuk menjemputku" tukas Ziga sedikit kesal karna mendengar Via tak mau makan seharian ini.
__ADS_1
"Baik, Papah akan hubungi Paman Zein untuk segera menjemputmu" jawab Danu yang kemudian memutuskan panggilan dari Ziga dan segera menghubungi adik sepupunya Mayor Jenderal Zein yang kebetulan bermukim di kota K.
Ziga yang telah selesai menghubungi ayahnya segera keluar dari ruang kantor walikota Robert. Di luar ruangan Erik tengah duduk di temani oleh Robert da asistennya. Setelah melihat Ziga keluar dari ruangan, mereka bertiga serempak berdiri.
"Anda sudah selesai Tuan ?" tanya Robert dengan ramah.
"Ehm" jawab Ziga sambil menganggukkan kepalanya.
"Apa ada landasan helikopter di atas gedung ini ?" tanya Ziga.
"Maaf Tuan tidak ada, tapi jika anda butuh tempat untuk mendaratkan helikopter, anda bisa mendarat di lapangan yang terletak di belakang kantor ini Tuan" terang Robert
"Baik, antar aku kesana" ucap Ziga.
"Rik, ayo kita pulang" kata Ziga
Robert pun mengantar Ziga dan Erik ke lapangan di belakang kantor walikota.
Tak berapa lama, sebuah helikopter milik tentara mendarat di lapangan tersebut.
"Terima kasih atas kebaikan anda hari ini" ucap ziga.
"Tak perlu sungkan Tuan, saya senang bisa membantu Anda " ucap Robert.
"Kirimkan proposal pengembangan kota ini ke asistenku, Aku akan membalas kebaikan anda hari ini" ucap Ziga.
"Ah, Terima kasih Tuan" jawab Robert bersemangat, dia tahu menolong seorang Raja bisnis pasti akan memberi keuntunga yang besar.
Ziga dan Erik pun berpamitan, kemudian keduanya naik helikopter yang akan segera membawa mereka ke kota A. Di atas helikopter pikiran Ziga melayang, dia membayangkan segera bertemu dengan Via, baru dua hari tidak melihat wajah istrinya membuat hatinya benar benar merindukannya.
__ADS_1