
Via menyelesaikan makan malamnya dengan cepat dan meminta izin kepada ayah dan ibu mertuanya untuk segera masuk kamar.
Di dalam kamar Via tidak merasa tenang, dia terus menghubungi nomor Ziga tapi tetap tak dapat tersambung, begitu juga dengan nomor Erik.
Via benar benar merasa gelisah, perasaannya tak enak. Kemudian dia menyalakan TV untuk mengusir kegelisahan hatinya.
Dia memutar mutar program TV tak jelas, kemudian penglihatannya terhenti ketika melihat sekilas berita. Di berita di sebutkan bahwa terjadi bencana longsor di kawasan pegunungan F. Via mencoba mengingat ingat seperti ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
Via tersentak ketika mengingat ucapan Ziga tadi pagi bahwa dia akan mencari ayah Jesica di daerah pegunungan F tempat terjadinya bencana longsor. Tiba tiba Via merasa gemetar, dia tak mampu membayangkan apa yang terjadi pada suaminya.
Tak berapa lama pintu kamar Via di ketuk.
Via mencoba sekuat tenaga berdiri untuk membukakan pintu, ternyata itu adalah ibu mertuanya. Ayu telah melihat berita di TV tadi, maka dari itu dia langsung menuju ke kamar Via untuk melihat keadaan menantunya tersebut.
"Mah" ucap Via langsung memeluk ibu mertuanya.
"Kamu tenang dulu sayang !" ucap Ayu sambil menuntun Via ke dalam kamar kemudian mendudukannya di sofa.
Via menurut mengikuti ibu mertuanya.
"Mamah sudah lihat beritanya?" tanya Via dengan deraian air mata.
"Mamah sudah lihat sayang, tapi kamu tidak boleh panik terlebih dahulu " jawab Ayu
"Kita belum tahu kebenarannya, semoga Ziga dan yang lain tidak apa apa " ujar Ayu mencoba menenangkan Via
"Papah sudah meminta orang untuk mencari kabar mereka" ucap Ayu.
"Jadi sebaiknya sekarang kita tenang dan tetap terus berdoa" ucap Ayu
Via menganggukkan kepalanya, dia sadar dia tidak boleh menyerah. Ziga pasti kuat, dan dia pasti dalam keadaan baik baik saja, hibur Via pada dirinya sendiri. Walau telah mencoba untuk menghibur dirinya tetapi tetap saja air mata tak henti hentinya mengalir di pipinya.
__ADS_1
Dia sudah mulai sedikit demi sedikit membuka hatinya untuk Ziga, karna itu dia berharap dan berdoa Ziga baik baik saja.
Ziga telah berjanji untuk mengunjungi makam orang tuanya, Ziga juga telah berjanji untuk membuktikan cintanya. Dan Via berusaha mempercayai semua janji Ziga, karna itu dalam hati dan fikirannya selalu berharap Ziga baik baik saja di sana.
Orang orang yang di perintahkan danu belum dapat mencari informasi yang akurat. Karna keadaan longsor memutus jalur komunikasi sehingga sampai saat ini mereka belum mendapatkan kepastian tentang korban jiwa dalam bencana lonsor tersebut.
Di mansion, Via dan juga kedua mertuanya tidak tidur semalaman. Bahkan Yesi dan para pelayan ikut terjaga sepanjang malam menunggu kabar tentang Tuan muda mereka.
Saat pagi tiba ponsel Danu berdering, dia langsung terburu buru mengangkat panggilan tersebut karna itu pasti adalah orang yang di perintahkan untuk mencari putranya. Dan ternyata memang benar, itu orang suruhannya.
"Hallo, Tuan Danu" sapa Zhao yang di tugaskan Danu untuk mencari keberadaan Ziga dan teman temannya.
"Ya, apa ada kabar terbaru ?" tanya Danu tak sabar.
"Kami sudah mendapatkan informasi tentang daftar nama para korban dan tidak ada nama Tuan muda beserta teman temannya pada daftar tersebut" lapor Zhao pada atasannya tersebut.
"Syukurlah" ucap Danu merasa lega setidaknya masih ada harapan karna nama Ziga tak tertera di daftar para korban.
Via masih terus mencoba menghubungi ponsel Ziga dan Erik tapi tetap tak dapat tersambung.
"Kamu tenang dulu, orang orang suruhan Papah akan segera menemukan Ziga dan yang lainnya" ucap Danu mencoba menghibur Via yang terlihat gelisah.
Sementara itu di salah satu desa di daerah pegunungan F, Ziga dan yang lainnya telah menemukan Profesor Hans yang telah di tolong oleh penduduk desa.
Keadaan Profesor tidak begitu buruk karna telah mendapatkan pertolongan dari penduduk desa. Hanya saja ketika mereka akan kembali ke kota jalan yang mereka lewati terkena longsor, mobil yang di kemudikan Erik pun mengalami kecelakaan . Walau tidak begitu parah tapi karna kondisi tanah yang longsor mereka tidak dapat dapat melanjutkan perjalanan ke kota, dan harus bermalam di salah satu desa terdekat.
"Tuan muda, anda tidak apa apa ? " tanya Erik pada Ziga setelah mereka tiba di salah satu rumah warga.
"Aku tidak apa apa" jawab Ziga
"Bagaimana keadaan Jesica dan Profesor ?" tanya Ziga kemudian.
__ADS_1
"Jesica baik baik saja, Profesor mungkin sedikit terkejut" jawab Erik
"Tapi tangan anda Tuan?" tanya Erik setelah melihat tangan Ziga terluka.
"Aku tidak apa apa, cepat cari cara agar kita bisa segera keluar dari sini" ucap Ziga.
"Baik Tuan" jawab Erik yang hanya mampu mengikuti perintah Ziga walaupun dia khawatir dengan keadaan Tuannya.
Ziga membersihkan luka di tangannya di bantu salah satu warga desa.
Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya, tapi ternyata di daerah tersebut tak ada sinyal.
Besok adalah hari ulang tahun perusahaan tapi saat ini dia masih terjebak di sini, tak ada alat komunikasi dan juga transportasi yang dapat mengeluarkannya dari tempat ini.
Ziga terus berfikir bagaimana caranya bisa meminta bantuan untuk dirinya dan juga para korban yang terjebak di sini.
Ketika hari hampir gelap akhirnya Erik membawa kabar yang setidaknya lebih baik.
Mereka bisa keluar dari desa tersebut menggunakan traktor menuju kota terdekat, hanya saja itu membutuhkan waktu lebih dari 6 jam.
Tapi Ziga langsung menyetujuinya, karna ini adalah satu satunya cara untuk keluar dari tempat ini dan mencari bantuan di kota terdekat.
Akhirnya Ziga beserta Erik dan juga dua orang warga mencoba pergi ke kota terdekat dengan menggunakan traktor, sedangkan Jesica tetap tinggal karna keadaan Profesor Hans tidak memungkinkan untuk menggunakan traktor.
Di mansion, Via terus gelisah dia masih belum bisa menghubungi Ziga. Rasa khawatir terpancar di wajahnya bahkan seharian ini Via tidak makan sama sekali, walau Ayah dan ibu mertuanya memaksa.
Di hati dan fikiran Via saat ini hanya ingin mendengar kabar dari Ziga.
Dia tak ingin apa apa lagi, hanya ingin Ziga kembali ke sisinya dengan selamat.
Tak terasa sebulir air mata pun kembali mengalir di pipi putihnya.
__ADS_1