
Erik pergi dari mansion dengan hati yang bahagia. Dia merasa Via mendengarkan kata katanya, setidaknya Via memikirkan apa yang dia sampaikan tadi.
Saat ini yang jadi fikiran utamanya adalah bagaimana membuat Ziga mau pulang sehingga dapat memberikan kesempatan bicara bagi mereka berdua.
Sepanjang perjalanan Erik terus memikirkannya.
Sementara itu Ziga di kantor sedang berkutat dengan pekerjaannya. Karna hari ini Erik minta izin sakit dan memerlukan pemeriksaan ke rumah sakit, alhasil hari ini tugas Erik di bebankan kepada sekretarisnya Donna.
Donna sendiri merasa senang mendapat tugas tersebut, dia sudah lama menyukai bosnya tersebut secara diam diam. Sewaktu kantor utama masih di New york dia jarang memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Ziga. Tapi kini setelah kantor utama di pindahkan ke negara S, Donna punya banyak kesempatan melihat pujaan hatinya tersebut apalagi posisinya sebagai sekretaris utama.
Baginya Ziga adalah pangeran tampan yang berasal dari istana, maka dari itu dia berusaha sebisa mungkin untuk menarik perhatian Ziga, apalagi setelah dia mendengar kabar bahwa Ziga telah putus dengan Sarah kekasihnya.
Donna dan para karyawan Ziga tak pernah mengetahui bahwa Ziga telah menikah. Karna hanya segelintir orang yang tahu tentang pernikahan tersebut.
"Ini dokumen kerja sama dengan perusahaan T yang perlu Tuan tanda tangani" ucap Donna kepada Ziga dengan suara yang agak sedikit manja. Bahkan dia agak memcodongkan tibuhnya ketika memberikan dokumen tersebut sehingga jika dari tempat duduk Ziga dapat terlihat belahan dadanya yang sedikit menyembul keluar, karna hari ini Donna memaki kemeja ketat dengan dua kancing di atas di biarkan terbuka untuk memamerkan lekuk tubuhnya. Tapi sangat di sayangkan Ziga bahkan tak sedikitpun melirik padanya.
"Ehmm. taruh saja di meja" ucap Ziga yang tak mengalihkan pandangannya dari dokumen lain yang ada di hadapannya.
Setelah mendengar jawaban dan melihat reaksi Ziga, Donna merasa kecewa. Dia sudah berusaha untuk tampil secantik mungkin tapi Ziga tetap saja tak memperhatikannya. Selama ini dia memang sudah sering mendengar jika atasannya tersebut memiliki sifat pendiam dan sering kali bersikap dingin pada wanita. Jadi dia merasa akan memerlukan usaha ekstra untuk mendapatkan perhatian Ziga. Donna tak beranjak dari tempatnya, dia malah terus menatap Ziga tanpa berkedip.
"Apa ada yang lain?" tanya Ziga yang baru merasa ada yang terus menatapnya.
"Ah..ahh .. tidak ada Tuan" jawab Donna malu malu karna ketahuan sedang menatap atasannya tersebut.
"Jika tidak ada, mengapa kau tidak keluar dan melanjutkan pekerjaanmu" kata Ziga dengan tak senang
Muka Donna seketika memerah setelah mendengar ucapan Ziga.
__ADS_1
" Saya ingin menanyakan apakah Tuan mau secangkir kopi?" tanya Donna berusaha menutupi rasa malunya.
"Tidak perlu, cepat lanjutkan pekerjaanmu, dan jangan masuk ke ruanganku lagi jika aku tak memanggilmu" ucap Ziga setengah membentak.
Dia merasa kesal dengan tingkah Donna yang berusaha menarik perhatiannya. Walaupun Ziga adalah orang yang dingin tapi dia bukanlah orang yang tidak peka. Sejak kepindahannya ke kantor di negara S, banyak dari karyawan wanitanya yang selalu berusaha menarik perhatiannya termasuk salah satunya adalah Donna.
Ziga berusaha sebisa mungkin menghindar dari para bawahannya yang wanita. Bukannya Ziga ingin mendiskriminasi mereka karna statusnya sebagai atasan, hanya saja dia di hatinya kini tak ada tempat untuk wanita lain selain istrinya Via, walaupun dia sendiri tak tahu perasaan yang dimiliki oleh Via terhadap dirinya, apalagi setelah hampir satu bulan mereka tak bertemu, bahkan tak berkomunikasi sedikitpun. Selama kurang lebih sebulan ini Ziga selalu menghubungi Yesi untuk mengetahui keadaan Via. Dia juga menempatkan beberapa pengawal yang melindungi Via secara sembunyi sembunyi.
"Baik, baik Tuan" ucap Donna ketika mendengar ucapan Ziga yang sedikit keras. Dia merasa sedih tapi akhirnya dia memilih untuk mengundurkan diri dari hadapan Ziga.
"Apa aku kurang menarik?" gumam Donna setelah sampai ke ruangannya sembari memandangi wajahnya di kaca kecil yang di pegangnya.
Tak berapa lama dia pun pergi ke toilet untuk membetulkan riasannya.
"Apa kau sudah membeli gaun cantik untuk merayakan ulang tahun perusahaan yang ke 25 tahun? tanya seorang karyawan wanita kepada temannya di dalam toilet.
"Iya, kita harus mempersiapkan diri agar bisa tampil sebaik mungkin, karna ini adalah pertama kalinya pesta ulang tahun perusahaan di adakan di negara ini, biasanya selalu di New York" ucap wanita tersebut.
" Benar, aku dengar perusahaan juga mengadakan undian yang hadiah utamanya adalah liburan bersama Tuan muda Ziga" sahut teman wanita itu.
"Ohh sungguh luar biasa, aku harus memenangkan hadiah ini. Aku ingin sekali bisa pergi berlibur dengan pangeran tampanku, pujaan hatiku" ucap wanita itu dengan histeris.
"Jangan mimpi" ucap temannya
"Aku lah yang pantas memenangkan hadiah tersebut" tambah temannya.
"Kita lihat saja, aku pasti akan memenangkannya" ucap wanita itu sambil melangkah keluar dari toilet.
__ADS_1
Akhirnya percakapan kedua orang tersebut berakhir dengan persaingan untuk mendapatkan Ziga.
"Kalian tak akan memenangkannya, karna hanya akulah yang pantas untuk bersama Tuan Ziga" gumam Donna dengan seringai jahatnya setelah keluar dari toilet.
Ziga sendiri yang tak tahu bahwa dirinya telah menjadi perbicangan hangat para karyawannya terus saja menyibukkan diri dengan pekerjaannya di dalam ruangan kantor ketika ponselnya tiba tiba berbunyi.
"Hallo, ada apa Mah?" tanya Ziga setelah mengetahui yang menelfon adalah ibunya.
"Jemput Mamah dan Papah besok malam di bandara" jawab Ayu
"Mamah dan Papah mau datang?" tanya Ziga
"Iya Mamah dan Papah mau menjenguk menantu mamah, sudah hampir sebulan kamu selalu melarang kami untuk datang dengan alasan dapat menghambat proses penyembuhan Via" ucap Ayu sedikit marah pada Ziga, karna selama ini Ziga selalu mencari alasan agar dia tak dapat menemui menantunya tersebut.
"Bukan begitu Mah, Via memang memerlukan ketenangan untuk dapat mempercepat proses penyembuhannya" ucap Ziga berusaha menyanggah perkataan ibunya.
"Apa kedatangan kami menganggu ketenangannya, pokoknya kami akan tetap datang, apa lagi minggu depan ulang tahun perusahaan akan di adakan di sana. Jadi besok malam kau jemput saja kami di bandara" ucap Ayu yang kemudian langsung menutup telponnya .
Ziga terkejut dengan panggilan telpon yang berakhir tiba tiba bahkan sebelum dia sempat menjawabnya.
Dia teringat kata kata ibunya tentang ulang perusahaan.
"Ahh, bagaimana aku bisa melupakannya" gumam ziga
"Tapi bagaimana nanti di hadapan Mamah dan Papah, hubunganku dengan Via bahkan belum membaik" fikir Ziga.
"Ahh" Ziga pun berteriak kesal karna bingung memikirkan solusinya.
__ADS_1