Aku Mencintaimu

Aku Mencintaimu
Akhir yang menyesal


__ADS_3

Selesai mengantar Reza dan Nadhya ke bandara Via langsung menuju mansion.


Dia ingin memasak untuk makan malam nanti dengan Ziga dan membicarakan masalah mereka termasuk rencana bulan madu mereka yang sempat tertunda.


Sementara itu di kantor suasana begitu mencekam karna CEO tampan mereka sedang dalam suasana hati yang buruk, sehingga tak ada satu pun yang luput dari kemarahan sang big bos. Semua orang merasa tegang, terutama ketika sang big bos memerintahkan untuk mengadakan rapat dadakan. Rapat pun menjadi ajang Ziga untuk melampiaskan kemarahannya. Semua pekerjaan yang di laporkan selalu dianggap kurang memuaskan sehingga mengakibatkan sang CEO marah besar. Semua peserta rapat hanya dapat menundukkan kepala, mereka tak berani menatap wajah bos besar yang sedang murka.


Di mansion sendiri Via sedang sibuk di dapur, dia di bantu Yesy dan seorang pelayan lainnya sedang memasak makanan kesukaan Ziga untuk makan malam nanti.


Via begitu sibuk sehingga tak memperhatikan waktu sudah hampir malam.


Dia mencoba menghubungi nomor Ziga tapi tetap tak ada jawaban. Bahkan kini nomor ponsel Ziga dalam keadaan tidak aktif.


Via menghela nafas, tapi dia tetap berfikir positif mungkin suaminya tersebut sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Di kantor rapat yang telah berlangsung sejak siang belum juga berakhir, Ziga terus saja meminta anak buahnya untuk mengulang kembali semua pekerjaan yang dirasa belum memuaskan hatinya.


Erik hanya menghela nafas, dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan mudanya tersebut sehingga menyebabkan mereka terkena imbas dari kemarahan sang big bos.


Akhirnya setelah hampir berjalan dua belas jam Ziga pun membubarkan rapat. Masih dengan catatan besok pagi mereka harus memperbarui laporan mereka. Para direksi yang mengikuti rapat pun akhirnya bisa bernafas lega, walaupun masih ada pekerjaan rumah yang harus mereka kerjakan tapi setidaknya mereka terhindar dari amukan sang CEO. Selesai rapat Ziga langsung kembali menuju ruangan kantornya. Erik masih dengan setia membuntuti di belakang Ziga.


Di dalam ruangannya Ziga langsung berkonsentrasi pada layar komputer di hadapannya. Setelah beberapa saat menemani Ziga akhirnya Erik merasa lelah, dia pun melirik jam sudah hampir jam sepuluh malam, tapi tak ada tanda tanda Ziga ingin menyudahi pekerjaannya dan kembali ke rumah. Dengan terpaksa Erik pun memberanikan diri untuk bertanya pada Tuannya.


"Anda tidak ingin pulang Tuan?" tanya Erik pada akhirnya.


"Aku masih akan menyelesaikan pekerjaanku" jawab Ziga.


"Kau pulang saja dan istirahatlah" tukas Ziga masih tak mengalihkan pandangannya dari layar komputer yang ada di hadapannya.


"Anda juga harus istirahat Tuan, jangan terlalu lelah bekerja" ucap Erik.

__ADS_1


"Apa yang telah ku perintahkan kemarin telah kau selesaikan?" tanya Ziga mengingatkan Erik atas perintahnya kemarin untuk mencari dalang dari insiden lampu yang jatuh tersebut.


"Masih saya selidiki Tuan" jawab Erik.


"Jika kau punya waktu untuk mengingatkanku agar istirahat tentunya kau lebih punya waktu untuk menyelesaikan apa yang telah ku perintahkan secepatnya" ujar Ziga sedikit sinis.


Erik pun menyadari kesalahannya. Sebagai orang yang telah bersama Ziga bertahun tahun lamanya tentunya dia tahu bahwa Tuan mudanya itu tidak akan menerima masukan atau nasehat dari orang lain, terutama saat hatinya sedang dalam suasana yang buruk.


Erik pun segera pamit mengundurkan diri dari hadapan Ziga saat ini juga, karna dia tak mau akan menjadi sasaran kemarahan Ziga yang selanjutnya.


"Kalau begitu saya permisi Tuan" pamit Erik.


"Ehm" hanya itu jawaban Ziga yang masih saja terus berkonsentrasi pada layar monitor.


Erik pun langsung meninggalkan gedung kantor untuk segera menuju mansion.


Sampai di mansion Erik tidak masuk ke paviliun belakang tempat biasa ia tinggal. Dia memasuki mansion utama tempat tinggal Ziga dan Via. Kedatangannya adalah untuk menanyakan pada Via apa yang membuat Tuan mudanya itu marah sehingga harus menghukum semua bawahannya.


Saat memasuki ruang keluarga Erik terkejut karena melihat Via yang tertidur pulas di sofa ruang keluarga. Erik tak berani untuk mengganggu tidur Via, akhirnya dia memutuskan untuk menanyakan hal tersebut keesokan harinya. Dia pun melangkah kembali keluar mansion meninggalkan Via yang masih terlelap di atas sofa.


Sepeninggalan Erik, Ziga di kantor tidak meneruskan pekerjaannya. Dia membuka lemari penyimpanan dan mengeluarkan sebotol wisky kemudian menenggak minuman tersebut sendiri. Dia merasa marah dan cemburu atas sikap Via yang menurutnya begitu memperhatikan Fello. Sehingga dia menghibur diri dengan meminum berbotol botol minuman keras yang tersedia di ruangan kantornya. Setelah menenggak beberapa botol minuman keras Ziga pun merasakan berat di kepalanya. Dia pun memutuskan untuk memanggil taksi untuk mengantarkannya pulang karna dia tidak bisa mengendarai mobil dalam keadaan mabuk seperti itu.


Ziga kembali dalam keadaan mabuk berat, dia membuka pintu dengan kerasnya sehingga membangunkan Via dan juga seisi mansion.


Via yang tadi tengah terlelap di atas sofa langsung terjaga begitu mendengar pintu yang di tendang Ziga.


Via terkejut dengan apa yang terjadi pada Ziga, dia pun bergegas menghampiri Ziga yang berjalan dalam keadaan sempoyongan.


"Apa yang terjadi ?" tanya Via pada Ziga sambil meraih tangan Ziga dan berusaha memapah tubuh suaminya tersebut.

__ADS_1


"Mengapa kau minum begitu banyak?" tanya Via lagi.


"Apa pedulimu?" tanya Ziga dengan marah, dia lalu mendorong tubuh Via yang mencoba memapahnya sehingga Via jatuh terduduk di lantai.


"Bukankah kau lebih peduli dengan kekasih gelapmu?" teriak Ziga dengan marah.


Dia menghempaskan tubuh Via yang mencoba meraihnya.


Via tak memperdulikan omongan Ziga, dia tahu Ziga sedang mabuk jadi dia tetap berusaha untuk membawa suaminya ke kamar mereka. Lagi lagi Ziga mendorong Via sehingga dia jatuh dan kepalanya membentur meja. Yesy dan para pelayan yang menyaksikan tak dapat membantu Via karna mereka begitu takut dengan keadaan Ziga yang sedang mabuk dan juga marah besar.


"Kau harusnya bersyukur aku telah membantumu dan juga menikahimu" ucap Ziga lagi.


"Jika bukan karena bantuanku, kakakmu pasti sudah mati menyusul kedua orang tuamu" ucap Ziga sembari mencekal wajah mungil Via.


Tanpa Via sadari air matanya pun menetes setelah mendengar ucapan Ziga yang begitu menyakitkan untuknya. Dia tidak tahu Ziga bisa mengucapkan kata kata yang begitu kasar di telinganya.


"Dan harus kau tahu, menikahimu adalah suatu kesalahan, mencintaimu adalah suatu kebodohan" ucap Ziga lagi, kemudian dia pun berlalu meninggalkan Via yang menangis terisak setelah mendengar perkataan Ziga yang bagaikan ribuan jarum yang menusuk hatinya.


Ziga melenggang meninggalkan Via menuju kamarnya. Dia tak menyadari bahwa perkataannya tadi adalah gerbang kehancuran yang akan menghancurkan hati dan kehidupan mereka. Dia sama sekali tak pernah menyangka bahwa kepulangannya dalam keadaan mabuk akan membawa tragedi dan akan selalu di sesalinya seumur hidupnya.


Yesy mendekati Via yang masih menangis sambil memeluk lututnya. Dia mencoba untuk menenangkan dan menghibur Nyonya mudanya tersebut. Tapi semua tindakan dan kata kata penghiburan tak berarti bagi Via, hatinya telah hancur oleh pria yang sangat di cintanya tersebut. Pria yang tak lain adalah suaminya telah menyakiti Via begitu dalam. Sehingga dia tidak lagi mampu untuk bertahan dan memperjuangkan cintanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai..


Cerita ini masih belum tamat, masih akan ada extra chapternya.


Jadi kalian bisa terus tunggu kelanjutan kisahnya. Jangan lupa like, coment dan juga votenya ya.

__ADS_1


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘


__ADS_2