
"Tuan akan menemui Nyonya Via ?" tanya Erik ketika mereka tiba di ruangan Ziga.
"Ya" jawab Ziga sambil mengambil jasnya
"Mana kunci mobil?" tanya Ziga
"Aku akan menyetir sendiri " tambah Ziga.
Erik pun langsung memberikan kunci mobil pada Ziga.
"Aku akan makan siang dengan Via dan Reza setelah itu aku akan mengantar Via pulang" ucap Ziga
"Apa Tuan akan kembali ke perusahaan nanti?" tanya Erik
"Ya, setelah mengantar Via aku akan datang dan kita lanjutkan rapat lagi nanti" jawab Ziga
"Baik Tuan" kata Erik
Ziga pun melangkah keluar dengan perasaan senang. Dia tersenyum sambil terus bersenandung riang ketika meninggalkan ruangannya.
Erik tersenyum melihat kelakuan Ziga. "Sepertinya dia benar benar jatuh cinta" gumam Erik
"Tuan, ada dokumen yang perlu di tanda tangani" ucap Lidya ketika Ziga melewati ruangannya.
"Letakkan saja di ruanganku, aku akan tanda tangani setelah aku kembali" jawab Ziga singkat sambil tersenyum.
Kemudian dia meneruskan langkahnya nasih sambil terus bersenandung.
Lidya yang melihat senyuman Ziga seakan hatinya meleleh. Walau kemarin dia sempat di tegur Ziga tapi itu tak mempengaruhi rasa kagumnya pada pria tersebut, bahkan Lidya semakin berniat untuk menarik perhatian Ziga.
Erik yang keluar dari ruangan Ziga terkejut melihat Lidya yang masih berdiri mematung memandangi punggung Ziga yang telah menjauh darinya.
"Ehmm Lidya, apa yang kau lihat?" tegur Erik.
"Ah, anu maaf Tuan Erik, ini ada dokumen yang harus di tanda tangani oleh Tuan Ziga" jawab Lidya gugup.
"Biar aku yang bawa ke ruangannya" ucap Erik
"Lakukan pekerjaanmu dengan benar, jangan berfikiran macam macam" ucap Erik
Lidya pun menundukkan kepalanya kemudian segera kembali ke ruangannya. Dia tak berani menatap Erik, Erik adalah asisten pribadi Ziga dan di perusahaan kedudukannya setingkat lebih rendah dari Ziga yang merupakan Direktur utama, jadi Erik juga punya kekuasaan yang tidak kalah besar di bandingkan dengan Ziga, maka dari itu semua karyawan juga takut pada Erik.
Ziga mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit. Setelah tiba di rumah sakit dia menghubungi Via untuk menanyakan dimana wanita tersebut.
"Hallo" sapa Ziga
"Kamu di mana?" tanya Ziga
"Aku di kantin rumah sakit dengan kakak" jawab Via.
__ADS_1
"Aku akan segera kesana" ucap Ziga kemudian langsung menutup telponnya.
Via akan bertanya apakah dia sudah tiba tapi sebelum Via melontarkan pertanyaan itu Ziga telah menutup telponnya. Akhirnya dia hanya mengeryitkan alisnya.
"Dimana Ziga?" tanya Reza setelah melihat ekspresi adiknya tersebut.
"Entahlah" jawab Via asal.
"Dia hanya bilang akan segera kesini" tambah Via
Setelah Via selesai mengucapkan kata katanya ternyata Ziga telah tiba di hadapannya.
"Apa kalian sudah menunggu lama?" tanya Ziga ramah.
"Belum terlalu lama" jawab Reza
"Kami sudah memesan makan, kamu mau pesan apa?" tanya Reza
"Apa saja, aku tidak terlalu pemilih makanan" jawab Ziga.
Pelayan sudah mengantarkan makanan pesanan Reza dan Via.
"Apa yang ingin kau makan ?" tanya Via pada Ziga
"Kau saja yang pilihkan, aku akan makan apa pun yang kau pesan" jawab Ziga, dia terlalu antusias karna Via berinisiatif untuk mengajaknya makan bersama jadi dia tidak terlalu memikirkan tentang makanannya. Apa pun itu asal istrinya yang memesan dia pasti akan memakannya.
"Kalau begitu saya pesan satu porsi iga asam manis" ucap Via kepada pelayan.
"Tidak apa, itu baik" jawab Ziga, dia menatap Via dengan penuh rasa cinta "Bagaimana dia bisa tahu makanan kesukaanku" batin Ziga
"Mungkin ini yang di namakan sehati" fikir Via.
"Dan pesan satu jus jeruk lagi" tambah Via kepada pelayan tersebut.
"Baik, silahkan tunggu sebentar" ucap pelayan itu.
Lagi lagi Ziga di buat kagum dengan pilihan Via, karna jelas itu adalah makanan dan minuman favoritnya. Melihat kenyataan itu hati Ziga berbunga bunga, tanpa sadar senyum tipis mengembang di sudut bibirnya.
"Kenapa kau senyum senyum seperti itu?" tanya Reza yang membuat wajah Ziga menjadi merah seketika.
Via yang duduk di samping Ziga tak menyadari kalau dari setadi Ziga senyum senyum sendiri. Dia menoleh ketika mendengar ucapan kakaknya.
Terkejut melihat wajah Ziga yang merah merona Via pun menjadi panik.
"Ziga, apa kau demam?" tanya Via dengan khawatir
"Aku tidak apa apa" jawab Ziga malu malu yang membuat wajahnya merah padam.
"Kalau tidak apa apa kenapa wajahmu merah?" tanya Via sambil menaruh tangannya di kening Ziga untuk memeriksa suhu tubuh pria tersebut.
__ADS_1
Ziga yang terkejut melihat tindakan Via secara reflek menarik tangan Via agar menjauh dari wajahnya.
"Aku tidak apa apa" jawab Ziga
"Hanya sedikit panas saja" ucap Ziga berbohong, dia tidak mungkin mengatakan kalau dia malu karna ucapan Reza yang melihatnya senyum senyum tak jelas.
Sementara Reza yang berada di hadapan mereka tertawa terbahak bahak sampai tersedak.
"Kakak, kamu harus hati hati" ucap Via sambil menyodorkan segelas air kepada Reza.
"Memangnya apa yang kakak tertawakan?" tanya Via
"Kamu, kamu benar benar lucu" jawab Reza di sela sela tawanya.
"Kalian berdua memang pasangan yang unik" ucap Reza.
Via dan Ziga pun saling berpandangan mendengar ucapan Reza. Mereka tidak mengerti apa yang di maksud Reza dan hal apa yang membuatnya tertawa terbahak bahak hingga tersedak.
"Sudah sudah, lebih baik kita makan dulu" ujar Reza setelah menu pesanan Ziga datang.
Reza pun mulai memakan makanannya.
Walau Via masih penasaran terhadap ucapan Reza tapi dia akhirnya menyantap makanannya dengan serius.
Mereka bertiga pun makan dengan tenang.
Di madrid.
" Aku dengar kau mendapat tawaran untuk mengisi acara di ulah tahun perusahaan SUNHO? tanya Dean pada Fello ketika mereka bermain golf untuk mengisi waktu luangannya.
"Iya" jawab Fello singkat
"Apa kau sudah menerimanya?" tanya Dean kemudian
"Belum, aku masih memikirkannya" jawab Fello sambil mengayunkan tongkat golfnya.
"Kenapa?" tanya Dean.
"Bukankah bayarannya sangat besar bahkan jika sukses kau akan di kontrak untuk ikon perusahaan mereka, tawaran yang menggiurkan bukan ?" tanya Dean lagi.
"Pemilik SUNHO adalah teman baikku" ucap Dean
"Aku dengar perayaan ini juga untuk merayakan kembalinya istrinya setelah beberapa waktu menghilang" ucap Dean lagi.
Fello terdiam mendengar kata kata Dean sepupunya.
"Ternyata ini untuk merayakan kembalinya dirimu Tya" batin Fello.
"Entahlah, aku tidak tahu tentang hal tersebut" ucap Fello asal, dia tidak menceritakan pada Dean bahwa dirinyalah yang menolong Via ketika Via menghilang.
__ADS_1
"Jadi Dean adalah sahabat baik suaminya, cepat atau lambat kami pasti akan bertemu" batin Fello.
"Aku harus menghadapi kenyataan, aku tak dapat terus menghindar" fikir Fello