
...HAPPY READING! ❤️...
...***...
..."Jangan berasumsi apapun sebelum lo tahu kebenarannya."...
...***...
"Annyeong! (Hai!) Pagi ini aku dapat kiriman martabak dari Martabak Maknyus. Ini rasanya enak dan gurih banget. Nggak cuma itu, aku juga dapat tiga saus sambal sachet yang udah satu paket sama martabaknya. Buat yang suka nonton drakor kayak aku, Martabak Maknyus ini cocok banget untuk nemenin nonton. Yang mau coba, langsung aja klik instagramnya di sini."
Send.
Nama lain hari Minggu adalah hari libur, kecuali untuk gadis bernama Beby Skyla Amanda. Bagaimana tidak? Pada akhir pekan pun ia disibukkan dengan belasan endorsment yang harus diupload hari itu juga.
Berkat bergabung dengan Fresh and Star Agency dua tahun lalu, followers Beby di semua sosial media miliknya meningkat drastis. Karena saat itu Beby merasa sangat harus menyibukkan diri, menyandang gelar sebagai mahasiswi tak membuat Beby merasa sibuk.
Beby sama sekali tak menyangka bahwa keputusannya saat itu akan sangat berdampak pada kehidupannya sekarang.
Ah! Jangan lupakan tugas kuliah yang terus menumpuk layaknya rasa rindu.
Jurusan Sastra Indonesia yang menurut pandangan orang 'santai', nyatanya kerap membuat kepala Beby terasa pening. Pada dasarnya, semua jurusan memiliki tantangan tersendiri.
Ya. Namanya juga orang kuliah.
Di samping semua kesibukan yang tak ada habisnya, Beby tak pernah menyesali keputusan apapun yang ia ambil di masa lalu.
Biasanya, ada Kiran, Lola, dan Anggi—manager Beby—yang membantu. Tapi, mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Lola sibuk dengan kafe miliknya—Lomera Cafe—yang tak pernah sepi pengunjung, Kiran sibuk kencan bersama sang tunangan—Gino, sementara Anggi yang seorang desainer sedang banjir orderan untuk wedding dress.
Notifikasi skype pada layar laptop Beby yang memang tak pernah mati membuat aktivitasnya terhenti. Tersisa 5 foto dan 2 video yang harus diupload. Beby akan mengerjakannya nanti.
"Annyeong, Beby!!!" seruan Maya—ibu Beby—menggelegar sesaat setelah Beby menekan tombol answer.
Maya ini memiliki hobi yang sama seperti Beby: nonton drama Korea. Bahkan, wanita paruh baya berparas cantik itu bisa dibilang dalang dari candunya Beby terhadap Drama Korea.
Kedua sudut bibir Beby tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman lebar begitu menangkap sosok Maya di layar laptopnya. "Assalamualaikum, Mama."
Mendengar balasan Beby, Maya tersenyum canggung. Ia merasa malu pada putri bungsunya itu. "Waalaikumsalam, Beby."
"Apa kabar, Ma?"
"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri gimana? Kuliah lancar?"
"Alhamdulillah, Beby baik di sini. Kuliah, kerjaan juga lancar."
"Mama kangen banget sama kamu."
"Uuummm ...," Beby menggumam pelan. Menampilkan ekspresi puppy eyes yang membuat Maya semakin merasa rindu. "Nado, Eomma." (Aku juga, Ma).
"Kamu kuliah sambil kerja emang nggak capek?"
Beby terkekeh. "Kalau dibilang capek sih, ya capek, Ma. Namanya juga orang kerja. Tapi Beby enjoy, kok. Masih bisa teratasi dengan baik semuanya."
"Syukurlah kalau gitu. Jangan terlalu diforsir tenaganya. Nanti kalau kamu sakit, kan bahaya."
"Siap, Ma. Beby tahu kok, kapan waktunya istirahat."
Maya tersenyum lebar. "Pintar sekali anak Mama."
"Pagi-pagi udah dandan. Mau kencan sama Arka lo?"
Suara bariton yang baru saja menyela itu adalah Miko, kakak kedua Beby yang baru beberapa hari lalu usai wisuda. Kini, Miko Algahfa menyandang gelar S.H.
"Mana sempat," cibir Beby, mengingat betapa sibuknya Arka yang merupakan mahasiswa tingkat akhir fakultas kedokteran di Universitas Bhinneka Tunggal Ika.
"Kamu lagi ngapain, By?" tanya Maya.
__ADS_1
"Biasa, Ma. Foto-foto buat endors."
"Lancar, ya, endorsnya?"
"Alhamdulillah, Ma. Lumayan buat jajan." Jeda sejenak. "Mama sendiri lagi ngapain?"
"Lagi nunggu ibu-ibu arisan datang. Hari ini jadwalnya di rumah kita."
"Papa mana?"
"Papa masih tidur. Tadi habis salat shubuh tidur lagi. Biasa, habis lembur."
"Besok jemput gue di bandara, ya."
Kata-kata Miko itu membuat kening Beby berkerut heran. "Emang Kak Miko mau ke Jakarta?"
"Yup!" jawab Miko dan sang mama secara bersamaan.
"Ngapain?"
"Kok, lo lesu gitu sih ngomongnya," protes Miko.
Beby tersenyum meringis, menunjukkan bahwa apapun asumsi di kepala Miko memang benar adanya.
"Miko ambil S2 di Universitas Pelita, By. Dia mulai nyiapin semuanya besok. Sekalian mau jagain kamu katanya," jelas Maya.
"Apa, Ma? Mau jagain aku?" Beby terbahak.
"Nggak!" tukas Miko, tak terima dengan penjelasan Maya. "Jangan percaya mama. Gue ngambil S2 di Jakarta itu karena pengin nyari suasana baru."
Lagi-lagi Beby tertawa. Suara tawanya itu lebih terdengar mengejek di telinga Miko. "Bilang aja lo kangen sama gue, Kak."
"Idih! Ngapain gue kangen sama adek rese' kayak lo? Nggak banget!"
"Hilih!" ejek Beby. "Tinggal ngaku aja susah amat."
"Tuh, kan!" Beby kembali terbahak-bahak sembari menunjuk wajah kesal Miko yang terpampang pada layar laptopnya.
Miko mendengkus kesal. Enggan terus dijadikan bahan bualan oleh ibu dan adiknya, Miko pun berseru, "Miko mau cari pacar dulu ya, Ma." Pandangannya beralih menatap Beby. "Bhay!"
"Apa? Cari pacar?!" tanya Maya sambil sedikit berteriak, dengan nada mengejek, tentu saja.
"Nyari mulu, tapi nggak dapat-dapat!" timpal Beby, menunjukkan bahwa dirinya ada di kubu sang mama.
Secara virtual saja, Beby senang bisa tertawa lepas dengan ibu dan kakaknya. Jujur, Beby sangat merindukan mereka. Mengingat libur semester 4 kemarin Beby stay di Jakarta.
"Udahan dulu ya, By. Tamu Mama udah pada datang, nih."
Beby tersenyum simpul. "Oke, Ma. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Sayang."
Dengan berakhirnya obrolan antara Beby dan Maya, maka berakhir pula waktu istirahat Beby. Gadis itu kembali berkutat dengan ponsel dan barang-barang endors yang dikirim ke apartemennya.
***
Lunas sudah semua pekerjaan Beby hari ini. Rencananya, ia akan mengerjakan beberapa tugas kuliah setelah ini. Kemudian, Beby berencana untuk rebahan seharian sembari maraton drama korea yang sedang ia tonton sejak 3 hari lalu.
Tapi sebelum itu, Beby ingin menyandarkan punggung sejenak di sofa ruang tengah apartemennya. Gadis itu meraih ponsel yang semula tergeletak di atas meja.
Beby membuka aplikasi Instagram. Entah mengapa, insta-story Lola membuatnya penasaran.
Sepanjang Beby mengamati postingan sahabatnya itu, tak ada yang aneh. Lola hanya memposting beberapa foto dan video yang menampilkan suasana Lomera Cafe.
Tapi, kedua bola mata Beby menajam saat melihat postingan terakhir insta-story Lola. Sebuah foto selfie yang menampilkan Lola dan seorang barista.
__ADS_1
Hal yang membuat Beby salah fokus adalah seorang lelaki dan perempuan yang tampak mesra di meja kasir. Laki-laki itu ... Beby tak mungkin salah.
Dia .... "Arka?"
***
Kedua bola mata Beby menjelajah ke segala sudut Lomera Cafe begitu ia memasuki kawasan indoor. Sebab tak menemukan apa yang ia cari, Beby melangkah ke ruangan Lola.
"Pagi, Mbak Beby," sapa seorang pramusaji bernama Siska yang Beby balas dengan senyuman hangat dan anggukan sopan.
"Beby?" Suara Lola terdengar bertepatan dengan Beby yang baru saja usai kembali menutup pintu. "Tumben lo ke sini." Lola beranjak menghampiri Beby. "Sampai ke ruangan gue segala lagi."
"Tadi Arka ke sini?"
"Hah?" Kedua alis Lola bertaut heran. "Arka? Arka pacar lo?"
"Iyalah! Arka siapa lagi coba?"
"Kayaknya sih, nggak."
Tak akan ada habisnya jika terus beradu mulut dengan Lola. Maka dari itu, Beby mengambil ponsel di saku hoodie warna army yang membalut tubuhnya.
"Nih." Beby menunjukkan layar ponselnya tepat di depan muka Lola. "Lo lihat, 'kan, cowok sama cewek ini? Itu Arka."
Lola membuka kedua matanya lebar-lebar. Mengamati lebih seksama obyek yang Beby maksud. "Tadi gue emang lihat cowok ini." Pandangan Lola beralih ke arah Beby. "Tapi lo yakin itu Arka? Orang pakai topi, kacamata hitam, sama masker gitu. Nggak kelihatan mukanya."
Beby menonaktifkan ponselnya. Ia menghela napas sejenak. "Gue ini pacarnya, Lol. Dari postur tubuh dan tangannya aja, gue yakin banget itu Arka."
"Kalau emang benar itu Arka, cewek yang bareng dia siapa?"
"Ya mana gue tahu!"
"Lo emang bukan tahu, Beby. Lo kan, manusia."
"LOL!" pekik Beby. "Orang lagi serius juga."
Lola meringis. "Ya maap. Habis lo serem kalau lagi serius gitu."
Daripada meladeni Lola yang kelakuannya tak pernah bisa menyesuaikan keadaan, Beby mutuskan untuk enyah.
"Dahlah. Gue cabut."
Baru tiga langkah Beby beranjak dari posisinya, suara Lola kembali terdengar.
"Eh, By!"
Beby balik badan, melayangkan tatapan kesal pada sahabatnya. "Apa lagi?"
Sebelum menjawab, Lola mengambil langkah mendekat. Telapak tangan kanannya menepuk bahu kiri Beby.
"Cari dulu kepastiannya. Tanya baik-baik ke Arka. Jangan berasumsi apapun sebelum lo tahu kebenarannya."
Kalimat yang baru saja merasuki gendang telinga Beby itu membuatnya heran. Ia tak menyangka bahwa kata-kata seperti itu keluar dari bibir Lola.
"Kayak udah pernah dapat kepastian aja lo."
"Babi kampret!"
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka!
__ADS_1
Thank you ❤️