ALDEBY

ALDEBY
|13.| Milkshake Taro Extra Es Batu


__ADS_3

"Kak Aldef?"


Kedua alis Aldef bertaut heran. Dari mana gadis ini tahu namanya?


"Kakak apa kabar?" Gadis di hadapan Aldef itu kembali bertanya setelah berdiri dengan benar.


"Uuummm ... sorry," balas Aldef seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kita saling kenal, ya?"


Si gadis terdiam sejenak. Rupanya, Aldef lupa tentang dirinya.


"Ah. Maaf, Kak," ucap gadis berambut sebahu itu setelah cukup lama bungkam. "Kayaknya aku salah orang. Kakak mirip banget sama orang yang aku kenal."


Aldef tersenyum ramah. "It's okay. Oh, ya, lo nggak kenapa-kenapa, 'kan? Mau gue antar pulang? Muka lo pucet banget."


"Nggak usah, Kak. Aku baik-baik, kok. Lagian, rumahku dekat dari sini."


"Bener?"


"Iya. Makasih, ya, tadi udah nolongin."


Kedua sudut bibir Aldef kembali menukik ke atas. "Sama-sama."


"Kalau gitu, aku permisi duluan, ya."


Usai mendapat anggukan dari Aldef, gadis itu melenggang pergi. Baru tiga langkah beranjak dari tempat, Aldef membuat langkahnya terhenti.


"Tunggu!"


"Ya?" Si gadis memutar tubuh searah seratus delapan puluh derajat untuk menghadap Aldef.


"Nama lo?"


Gadis itu tersenyum penuh makna, melambaikan tangan tanpa menjawab pertanyaan Aldef. Sementara itu, Aldef yang ditinggalkan merasa ada sesuatu yang ... entahlah.


"Wajahnya familiar banget," gumam Aldef sebelum kembali ke mobil.


***


"Ya ampun, Poppy! Kamu dari mana aja, sih?!"


Baru saja Poppy akan menekan kenop pintu, namun pintu rumahnya sudah terlebih dahulu dibuka dari dalam.


"Kamu nggak apa-apa, 'kan? Kakak khawatir banget sama kamu."


Poppy tersenyum lebar, berharap senyumannya itu mampu mengenyah kekhawatiran dalam diri kakaknya. "Aku habis minjem buku catatan temenku yang rumahnya dekat sini. Aku nggak apa-apa, kok, Kak. Kak Celine tenang aja, ya."


Celine mengusap lembut permukaan pipi kiri adiknya yang menyemburkan semburat pucat pasi. "Lain kali, kalau butuh apa-apa telepon Kakak aja."


Poppy tersenyum nyengir, menunjukkan deretan gigi grahamnya yang tersusun rapi. "Pulsa habis."


Celine tertawa renyah. "Dasar," ucapnya seraya mengacak puncak kepala Poppy dengan gemas. "Kakak bawain nasi goreng buat kamu. Kita makan dulu, ya?"


"Boleh," sahut Poppy. "Kebetulan aku belum makan malam."


"Ye ... kamu, kan, emang selalu nunggu Kakak pulang kalau mau makan malam."


Kedua kakak-beradik itu memposisikan diri duduk di sebelah kasur lantai—tempat mereka tidur. Sejak insiden kebakaran yang merenggut nyawa kedua orang tua mereka, Celine berusaha sebisa mungkin untuk mencukupi kehidupan mereka.


Bagaimanapun, hanya Poppy satu-satunya keluarga yang Celine punya saat ini. Ia rela meski harus banting tulang dari pagi ke pagi demi membiayai sekolah dan pengobatan Poppy, serta kebutuhan sehari-hari mereka.


Iya. Pengobatan.


Adik perempuan Celine itu tengah mengidap gagal ginjal sejak dua tahun terakhir.

__ADS_1


Dulu, baik Celine ataupun Poppy tak perlu repot memikirkan soal biaya hidup. Tapi nyatanya, Tuhan lebih menyayangi mereka. Saat ini, Celine hanya bisa sabar dan terus berusaha.


"Ngomong-ngomong, tadi aku ketemu seseorang di jalan, Kak," ucap Poppy di sela-sela kunyahannya.


"Siapa?" balas Celine dengan ekspresi ogah-ogahan. Jujur saja, siapapun yang Poppy temui tadi, sama sekali tak menarik bagi Celine. "Cowok yang kamu taksir di sekolah?"


"Ihhh!!! Bukannn!!!" Poppy menatap sang kakak dengan kesal.


"Terus siapa? Cowok yang naksir kamu di sekolah? Dia nembak kamu? Terus, kamu terima, gitu? Aduh, Poppy! Kamu itu masih kelas dua SMP. Nggak usahlah pacaran-pacaran gitu."


"Ih! Kak Celine, mah! Mana ada cowok yang suka sama cewek penyakitan kayak aku?"


Celine diam. Sungguh. Niatnya melontarkan kalimat barusan hanya untuk mencairkan suasana. Celine tahu—sangat tahu—bahwa penyakit dalam diri Poppy membatasi segala yang bisa adiknya itu lakukan.


"Ya udah. Maaf, ya," ucap Celine. "Jadi, kamu ketemu siapa tadi?"


"Kak Aldef."


"Aldef?" Spontan, Celine meletakkan sendok yang semula berada dalam genggaman tangan kanannya. Gadis itu menatap Poppy lamat-lamat. "Maksud kamu, Aldefra Mahardika?"


***


Aldef memarkir mobilnya di halaman rumah minimalis dengan dominasi cat warna putih. Entah kapan terakhir kali Aldef menginjakkan kaki di rumah ini. Yang jelas, ia sangat membutuhkan nasihat dari orang yang sudah sepuluh tahun lebih menempati rumah ini.


Aldef mengetuk pintu rumah seraya mengucap salam. "Assalamualaikum."


Tak lama kemudian, pintu terbuka dari dalam, menampilkan seorang wanita paruh baya dalam balutan piyama motif bunga-bunga warna biru dongker.


"Aldef!" Wanita itu tampak terkejut melihat siapa yang tengah berdiri di ambang pintu rumahnya.


Tiga detik berikutnya, sebuah pelukan hangat membalut raga Aldef. Membuat lelaki itu tak segan membalas pelukan wanita berambut cokelat pekat di hadapannya seraya tersenyum manis.


"Kamu apa kabar?" tanya wanita berambut ikal itu setelah pelukan di antara mereka terlepas.


"Baik, Ma," jawab Aldef dengan senyum yang tak surut menghiasi bibirnya.


Tepatnya, lima belas tahun lalu, pria yang Aldef panggil papa meninggalkan dunia untuk selamanya. Saat itu, Aldef masih sangat kecil untuk mengerti apa yang tengah terjadi.


Ibunya—Fitri—menikah lagi dengan seorang duda beranak satu, lima tahun kemudian. Hari itu, otak Aldef masih dilabeli dengan opini 'ayah tiri \= jahat'. Padahal, baik pihak keluarga Fitri maupun Tio—mendingang ayah Aldef—menyetujui permintaan Fitri untuk menikah lagi.


Hingga pada akhirnya, Aldef memilih tinggal bersama kakek dan nenek dari ibunya di Semarang. Mereka sering membawa Aldef mengunjungi ibunya saat libur sekolah. Dan seiring berjalannya waktu, hubungan Aldef dan ayah tirinya—Farhan mulai terjalin.


Meski demikian, Aldef enggan tinggal bersama orang tuanya. Bukan apa-apa, Aldef hanya tak ingin hari-harinya terasa canggung. Terlebih, dengan anak perempuan Farhan yang tiga tahun lebih tua darinya.


Sejak duduk di bangku sekolah menengah, Aldef sudah tinggal sendiri di apartemen milik mendiang ayahnya. Dengan begitu, Aldef bisa sering-sering bertemu ibunya. Namun, akhir-akhir ini Aldef merasa kurang betah tinggal di apartemen milik mendiang ayahnya. Oleh karenanya, Aldef memutuskan untuk pindah ke Apartemen Golden.


"Ayo masuk!" Fitri meraih pergelangan tangan Aldef, lalu membawanya memasuki ruang tamu.


"Mau minum apa?" tanya Fitri saat Aldef telah duduk di sofa coklat yang di atas dindingnya terdapat foto-foto keluarga.


"Air mineral aja, Ma. Yang dingin, ya."


"Siap, Bos!" sahut Fitri seraya unjuk senyum lebar yang dibalas Aldef dengan senyuman hangat.


Tak lama kemudian, Fitri kembali dengan dua gelas air mineral dingin.


"Tumben kamu ke sini," ucap Fitri sesaat setelah mereka duduk berhadapan. "Pasti lagi butuh wejangan, ya?"


Aldef tersenyum nyengir. Memang, lelaki itu hanya akan datang mengunjungi ibunya saat ia membutuhkan sebuah nasihat.


"Mama tahu aja," balas Aldef malu-malu. "Ngomong-ngomong, Mama sendirian di rumah?"


"Iya. Papa sama kakak kamu belum pulang. Lagi pada lembur katanya."

__ADS_1


"Uuummm ... Ma ...." Aldef tampak ragu dengan apa yang ingin ia ucapkan.


"Kenapa? Ada yang mau kamu minta?"


Aldef menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ibunya ini masih saja ahli dalam menebak isi kepala Aldef.


Fitri tertawa renyah. "Bilang aja mau minta apa. Selama Mama bisa bantu, Mama akan bantu kamu."


Aldef menatap kedua bola mata ibunya lekat-lekat. Sejenak, pria itu menghela napas. Lalu, sebuah permintaan yang sejak tadi mengganjal di ujung lidah, akhirnya terlisankan.


"Aku boleh nginap sini?"


***


Beby dan Kiran memilih untuk duduk di area outdoor Lomera Cafe. Angin malam yang berembus syahdu membawa daya tarik tersendiri untuk mereka, khususnya Beby.


"Gue pesan minum dulu, ya. Sekalian manggil Lola," ucap Kiran. "Lo pesan minuman yang seperti biasa, 'kan?"


Beby tersenyum seraya mengangguk singkat. "Milkshake taro extra es batu."


"Iye. Hapal dah gue. Udah di luar kepala." Kiran tertawa renyah di ujung kalimat.


Sembari menunggu Lola dan Kiran datang, Beby mengeluarkan buku bersampul biru langit dari dalam tasnya. Lengkap dengan pena biru muda berukuran kecil yang senantiasa siap kapanpun Beby ingin menggoreskan tinta.


Segelas milkshake taro extra es batu


Selayaknya hatiku yang masih membatu


Diam di sebuah tempat bernama masa lalu


Ribuan kali logika mendorong untuk melangkah maju


Namun hati ini memilih diam di situ


Teruntuk cinta lamaku,


Masih adakah jalan untuk hati kita kembali menyatu?


B.S.A


Sepanjang huruf demi huruf, satu nama yang terlintas dalam kepala Beby: Arka. Hingga detik ini, belum ada pria lain yang membuat Beby merasa aman dan nyaman saat berada di dekatnya. Iya. Belum. Bukan tidak.


"Masih ada jalan, kok."


Beby spontan menutup bukunya saat suara bariton itu merasuki gendang telinga. Raga Beby mematung cukup lama. Menetralisir keterkejutan yang timbul akibat suara itu.


Tak lama kemudian, otak Beby mengirim sinyal bahwa suara bariton itu terdengar tak asing di indra pendengarannya.


Perlahan, Beby menoleh ke sumber suara. Kedua bola matanya membulat sempurna saat melihat siapa pemilik suara itu.


"L-lo ng-ngapain di sini?"


Pemilik suara bariton itu menunjukkan senyum misterius yang membuat ombak rasa takut menggulung hati Beby. Perlahan, pria bertopi hitam polos itu mendekatkan wajahnya ke wajah Beby.


Beby yang masih duduk di posisinya hanya bisa menjauh dengan sekujur tubuh gemetar hebat.


"Hai, Amanda."


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2