
"Jadi, kalian berdua pacaran?" todong Miko sedetik setelah ia, Beby, dan Aldef duduk di sofa ruang tamu unit apartemen Beby.
"Iya," jawab Aldef dan Beby kompak. Keduanya sudah menduga saat-saat ini akan terjadi.
Miko menatap tajam ke arah Aldef. "Berani lo, ya. Nggak ada izin lagi sama gue."
"Kenapa harus izin Kak Miko?" sahut Beby, sedikit tak terima dengan ucapan Miko barusan. "Mama sama papa juga setuju-setuju aja."
Kalimat terakhir Beby lantas membuat Miko menatap lurus ke arahnya. "Lo bilang sama mama papa?"
"Iyalah!"
"Terus kenapa nggak bilang gue?"
"Emang urusannya sama Kakak apa?"
"Ya, gue, kan, yang ada di sini sama lo. Yang tahu keseharian lo. Yang jagain lo. Yang—"
"Yang paling sayang sama gue?"
Miko lantas terdiam. Ekspresi wajahnya yang semula galak berubah menjadi canggung. Membuat Aldef berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyemburkan tawa.
"Ng-nggak!" bantah Miko.
Beby terbahak-bahak. "Udah, deh, Kak. Ngaku aja kenapa, sih? Sama adik sendiri juga. Ngaku aja kalau lo orang paling sayang sama gue di dunia ini."
"Males banget gue sayang sama lo. Ngapain? Ogah!"
Siapapun yang melihat bagaimana cara Miko mengucap kalimat barusan, pasti langsung memiliki keyakinan yang sama dengan Beby: Miko tentu saja berbohong. Bukan. Lebih tepatnya, gengsi.
"Terserah kalian, deh! Mau pacaran, kek. Mau nikah juga, terserah!" seru Miko seraya beranjak dari posisi duduknya.
Pria itu lantas meninggalkan ruang tengah. Namun, baru dua langkah berjalan, Miko membalikkan badan. Ia mengacungkan jari telunjuk ke arah Aldef seraya menatap tajam.
"Mati lo kalau bikin adek gue nangis!"
***
"Udah jam setengah sebelas, Al."
Aldef melirik jam dinding di ruang tengah apartemen Beby. "Eh. Iya. Nggak berasa, ya. Ya udah, lo tidur, gih. Udah malam."
"Lo juga."
Aldef tersenyum nyengir ke arah Beby. "Kayaknya gue mau namatin ini dulu, deh."
Beby tertawa. "Dasar lo."
Tanpa aba-aba, Aldef memangkas habis jarak di antara mereka dengan mengecup singkat pipi kiri Beby. "Bye, Sky."
Dan dengan kurang ajarnya, Aldef pergi begitu saja. Meninggalkan Beby yang masih terpaku di tempatnya.
Tangan Beby bergerak menyentuh permukaan pipinya. Bekas sentuhan Aldef tadi, masih terasa hangat. Apalagi, jantung Beby saat ini.
__ADS_1
"Dasar. Nggak sopan," gumam Beby sembari senyum-senyum sendiri.
Waktu menunjukkan pukul 22.35 saat Aldef enyah dari unit apartemen Beby. Sepeninggalan Miko tadi, Beby mengajak Aldef untuk nonton drama korea yang sedang ia tonton. Karena mereka mulai dari episode 6, Beby harus menceritakan 5 episode awal pada Aldef. Sesuai dugaan Beby, sang pacar pun turut hanyut dalam kisah Kim Je Ha dan Go Anna.
Tadinya, Beby berniat untuk langsung masuk ke kamarnya dan bersiap tidur. Namun, langkah Beby terhenti saat mendengar sayup-sayup suara dari kamar sebelah-kamar Miko.
Perlahan, Beby mendekat. Gadis itu menempelkan daun telinganya ke permukaan pintu kamar Miko.
"Masa gue harus diem aja tahu Beby terancam?!"
Kedua alis Beby bertaur heran saat mendengar namanya disebut. "Gue maksudnya?" gumam Beby.
Gadis itu pun melanjutkan aksi mengupingnya.
"Si brengsek itu harus dapat pelajaran karena udah macem-macem sama adik gue!"
"Beneran gue ternyata," ucap Beby, meyakinkan dirinya sendiri.
Beby masih setia mendengar suara Miko dari tempatnya berpijak. Namun, selama hampir semenit kemudian, Beby tak lagi mendengar suara Miko.
Gadis berpakaian sweeter hijau lumut itu menekan kenop pintu Miko perlahan. Sesuai dugaan Beby, Miko tidak pernah mengunci pintu kamarnya.
Begitu pintu terbuka, Beby bertambah heran dengan Miko yang duduk di meja belajarnya dengan kepala menunduk. Kedua bahu Miko naik-turun dengan cepat. Menandakan pria itu tengah mengatur napas.
"Kak?" panggil Beby pelan. Namun cukup untuk membelai gendang telinga Miko.
Pria itu lantas mendongak. Muka yang merah padam memperkuat dugaan Beby bahwa Miko sedang berada dalam gelombang amarah.
"Ngapain lo?" tanya Miko ketus.
Miko menatap Beby lamat-lamat. Pria itu menghela napas berat sebelum menjawab, "Masuk."
Beby tersenyum tipis. Ia lantas masuk ke kamar Miko dan menutup kembali pintunya. Saat Beby berbalik, Miko sudah menunggunya dengan duduk di pinggiran kasur.
"Sini," ucap Miko seraya menepuk-nepuk permukaan kasur tepat di samping kirinya. Memberi tanda untuk Beby agar duduk di sana. Sang adik pun menurut. "Kenapa?"
Melihat wajah Miko sekarang, entah mengapa membuat Beby merasa bersalah. Selama ini, Miko selalu memprioritaskan dirinya. Bahkan, pria itu rela mengambil S2 di perantauan demi menjaga sang adik. Padahal, yang Beby tahu, Miko bukanlah tipe orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.
Tanpa mengatakan apapun, Beby menghambur ke dalam pelukan Miko. Membuat pria itu lantas terkejut.
"Maaf, ya, Kak. Gue nggak cerita sama lo soal hubungan gue dan Aldef. Sebenarnya, Aldef nembak gue sejak di rumah sakit. Tapi, gue baru ngasih jawaban kemarin. Maaf karena nggak ngasih tahu lo soal itu."
Suara lirih nan manja yang membelai lembut gendang telinganya, sukses membuat amarah dalam diri Miko musnah seketika. Senyuman tulus terukir di bibirnya. Tangan Miko bergerak ke puncak kepala Beby, lalu membelainya dengan lembut.
"Adik gue udah gede, ya, sekarang. Padahal, waktu lo masih bayi dulu, gue selalu berdoa supaya lo jangan cepet gede."
Beby lantas mengurai pelukannya. Kedua bola matanya menatap Miko heran. "Kenapa gitu?"
"Karena gue mau, cuma gue di dunia ini cowok yang bisa bikin lo nangis. "
"Ish!" Beby meninju pelan bahu Miko. "Terus lo seneng gitu udah bikin gue nangis?"
"Iya, dong!" sahut Miko dengan penuh percaya diri. "Ngejailin lo itu hobi gue. Bikin lo nangis karena kejahilan gue, itu yang namanya puas."
__ADS_1
"Jahat!" pungkas Beby seraya mengerucutkan bibir.
Miko tertawa pelan. Kini, ia benar-benar sadar. Tak ada lagi Beby kecil yang selalu menangis akibat ulah jahil Miko. Tak ada lagi Beby yang teriak-teriak memanggil sang mama tiap kali Miko memulai aksi jahilnya.
Kini, adik kecilnya itu sudah tumbuh dewasa.
Miko membawa kembali Beby dalam dekapannya. "By, gue boleh nanya sesuatu nggak?"
"Nggak."
"Apa yang bikin lo yakin nerima Aldef? Bukannya lo belum move on dari Arka?"
"Aldef punya cara sendiri untuk bikin gue lupa sama Arka. Tiap dekat Aldef, gue ngerasa deg-degan. Kata mama, kalau cowok udah berani ngajak komitmen, berarti dia siap untuk nerima segala yang ada sama kita. Termasuk masa lalu. Aldef pun udah tahu tentang masa lalu gue."
"Terus, lo tahu juga tentang masa lalu Aldef?"
Beby lantas terdiam. Mengapa ia baru menyadari yang satu itu? "Belum, sih. Tapi dia udah cerita tentang keluarganya."
Miko melepas pelukannya. Pria itu menatap sang adik lamat-lamat. "Inget, ya. Kalau Aldef macem-macem, gue harus jadi orang pertama yang tahu. Dan kalau sampai itu terjadi, lo nggak usah halangi gue buat hajar dia. Jangan kayak Arka dulu!"
Gadis di sebelah Miko itu tertawa renyah. "Btw, Kak. Gue boleh nanya sesuatu?"
"Lo udah nanya barusan."
"Kenapa sampai sekarang lo masih jomlo?"
Pertanyaan itu membuat kedua mata Miko melotot seketika. Tangannya bergerak meraih bantal di atas kasur, lalu melemparnya tepat mengenai muka Beby. Tapi sayang, gadis itu sudah kabur terlebih dahulu.
"Dasar adik nggak tahu diri!"
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.15, namun Aldef masih setia nonton drama korea. Salahkan Beby yang memberi racun itu padanya.
Di tengah keasyikan Aldef nonton, tiba-tiba sebuah notifikasi muncul. Bola mata Aldef pun refleks bergerak membaca pesan itu.
Celine Anastasya:
Boleh call nggak? Aku lagi butuh teman cerita.
*
*
*
CARI ABANG MACAM MIKO DIMANA? :'(
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️