ALDEBY

ALDEBY
|46.| Jepit Rambut


__ADS_3

"Celine? Ngapain kamu di sini?"


"Aku ... mau ke apartemen kamu, boleh? Ada yang mau aku ceritain."


"Soal?"


"Soal kita."


***


Sejak mengetahui bahwa seorang Miko Algahfa adalah kakak kandung dari Beby Skyla Amanda, Joko dan Haris selalu mencari celah untuk menarik perhatian Miko. Seperti yang terjadi di kafetaria sore ini contohnya.


"Lo mau makan apa, Mik? Biar gue pesenin, ya?" ucap Haris seraya memasang ekspresi semringah.


"Nggak usah, Mik," sahut Joko. "Gue lebih kaya daripada Haris. Jadi, mending gue aja yang beliin. Dan karena gue lebih kaya dari Haris, hidup adik lo nanti bakal terjamin."


"Yang kaya itu orang tua lo, bego!" tukas Rama.


"Pokoknya, kalau Beby jadi bagian keluarga gue, hidupnya bakal terjamin. Jaya makmur sehat sentosa, dah!"


"Nih, ya, Mik. Kalau adik lo jadi istri gue, lo pasti punya ponakan yang cakep-cakep nanti. Secara, tampang gue jauh di atas rata-rata." Haris pun tak mau kalah.


"Bacot lo berdua," pungkas Miko yang lantas beranjak dari tempatnya.


Baru dua langkah berjalan, Miko kembali membalikkan badan. "Jangan ikutin gue!"


"Siap laksanakan, Kakak Ipar!" sahut Haris sambil tersenyum lebar.


'Plak!'


"Enak aja lo main panggil kakak ipar. Orang gue yang bakal diterima Beby," sahut Joko tak terima.


Sementara kedua lelaki itu masih berdebat, Miko yang merasa telinganya panas pun segera enyah dari sana. Pria itu memilih untuk membunuh waktu di perpustakaan.


Melihat kepergian Miko, Rama menyusul. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat, lelaki itu menatap kedua sahabatnya prihatin.


"Mau tahu nggak gimana caranya dapetin Beby?"


Pertanyaan Rama itu lantas membuat Joko dan Haris kompak membalas, "Gimana?"


"Sebenarnya, gampang, sih, syaratnya."


"Harus kaya, 'kan?" sahut Joko. "Itu, sih, gue banget!"


Rama menggeleng.


Kini, giliran Haris yang membalas. Pria itu menatap Joko sambil terbahak-bahak. "Gue bilang juga apa. Pasti harus ketampanan di atas rata-rata. Bener, kan, Ram?"


Lagi-lagi, Rama menggeleng.


Rasa percaya diri Haris yang semula berada di puncak, seolah diluluhlantakkan oleh respon Rama.


"Kalau bukan dua-duanya, terus apa, dong?" tanya Joko.


Rama menatap kedua sahabatnya lekat-lekat. "Mau tahu syaratnya?"


Haris dan Joko kompak mengangguk.


"HARUS WARAS!"


***


Butuh ribuan kali bagi Aldef memikirkan keputusan yang ia ambil sekarang. Bagaimana tidak? Celine memintanya untuk membawa gadis itu ke apartemen Aldef. Alih-alih menyetujui permintaan Celine, Aldef menawarkan tempat lain seperti rooftop, taman, atau lokasi selain apartemennya. Tapi, gadis itu menolak dengan dalih ingin melihat bagaimana suasana apartemen Aldef.


Akhirnya, di sinilah mereka berada—ruang tengah apartemen Aldef. Jujur, Aldef merasa sangat mengkhianati Beby. Ia belum pernah mengajak Beby masuk apartemennya, sedangkan kini Aldef membawa sang mantan ke sana. Parahnya lagi, Aldef masih menyembunyikan soal Celine. Bukan tak ingin terbuka, Aldef hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya. Entah kapan itu.


"Jadi, kamu mau cerita apa?" tanya Aldef sesaat setelah mereka duduk berdampingan di sofa hitam depan televisi berukuran 42 inch.


"Kenapa kamu pindah ke sini, Al? Padahal, apartemen kamu yang dulu lebih dekat jaraknya dari kampus."


"Mau cari suasana baru aja. Di sini fasilitasnya lebih lengkap."


"Mama kamu udah pernah ke sini?"

__ADS_1


Aldef menggeleng. "Aku yang lebih sering ke sana."


Celine hanya manggut-manggut. Gadis itu memang tak tahu banyak soal orang tua Aldef. Yang Celine tahu, ayah Aldef meninggal sejak Aldef masih kecil, sementara ibunya menikah lagi setelah cukup lama menyandang status janda.


"Aku nggak nyangka, Al, kita bakal ketemu lagi."


Aldef diam. Entah apa maksud Celine di balik tiap katanya. Bagi Aldef, Celine masih sama: sulit ditebak.


"Aku lihat postingan kamu hari ini," ucap Celine setelah cukup lama diam. "Aku baru tahu kalau kamu bisa romantis juga. Dulu waktu sama aku, nggak pernah, tuh, kamu kayak gitu."


Celine menoleh ke arah Aldef. "Inget nggak, masa-masa SMA kita? Kamu yang nggak pernah nyerah untuk nyoba seribu satu cara demi narik perhatianku. Kamu bahkan rela telat gara-gara nunggu aku di depan gerbang. Emang, ya, masa-masa SMA itu saat-saat paling indah. Aku aja yang bodoh, baru sadar sekarang."


"Cel, aku—"


"Al ... apa bisa, kita mulai semua dari awal, lagi?"


***


Arka tersenyum getir melihat sesuatu yang ramai di Instagram pagi ini. Tentu saja, masih sekitar Beby Skyla Amanda. Gadis yang jiwanya bertahta di hati Arka.


Kemarin, Arka sudah dibolehkan pulang. Dan kini, Arka duduk bersandar di atas kasur berukuran king size miliknya. Sungguh, Arka merasa lega bisa kembali ke dalam kamarnya yang super nyaman.


Sebuah pesan masuk dari sang mama.


Mama:


Ar, Mama udah mau pulang, nih. Ada yang mau kamu titipin nggak?


^^^Me:^^^


^^^Titip badan mama, jangan sampai kenapa-napa.^^^


Mama:


Ar ... Mama serius.


Arka terkekeh pelan melihat balasan ibunya.


^^^Me:^^^


Mama:


Ya udah kalau gitu. Obat jangan lupa diminum, ya. Jangan sampai telat. Kalau ngerasa ada yang sakit, langsung telepon ambulans.


Me:


Iya, Ma.


Beralih dari ruang obrolannya bersama sang ibu, Arka membuka aplikasi Instagram. Tujuannya masih sama, yaitu postingan seorang laki-laki yang kini menggantikan posisinya dalam hidup Beby.


Ibu jari Arka menekan kolom komentar. Dua tahu menjalin hubungan pacaran dengan Beby, mereka tak pernah sekalipun memposting foto bersama. Bahkan, hanya orang-orang terdekat yang tahu soal hubungan mereka.


Bukan tak ingin go public atau semacamnya, Arka dan Beby memang jarang sekali bertemu. Apalagi, selama Arka resmi menjadi mahasiswa tingkat akhir. Belum lagi, Arka yang harus berusaha mati-matian mengurangi intensitas pertemuan mereka sebab tak ingin Beby curiga soal perubahan fisik Arka.


Melihat komentar-komentar yang 80% mendukung, Arka tersenyum samar. Ia pun mengetik sesuatu di sana.


arka.aja_ : Langgeng ya kalian :)


***


Beby dalam perjalanan pulang saat ponselnya tiba-tiba berdering.


"Siapa, Lol?" tanya Beby pada Lola yang duduk di samping kirinya, sebab Beby sedang berada di balik kursi kemudi.


"Aldef."


"Angkat aja."


Beby memakai earphone bluetooth yang telah tersambung dengan ponselnya.


"Hallo, Sky. Lo di mana?"


"Lagi on the way pulang. Kenapa? Kangen, ya?" goda Beby seraya terkekeh geli.

__ADS_1


"Bucennn!!!" sindir Lola secara terang-terangan. Beby hanya melirik sekilas ke arah sahabatnya yang sirik itu.


Terdengar suara tawa renyah Aldef di seberang sana. "Lo pulang sama siapa, tuh?"


"Lola."


"Oh. Ya udah. Hati-hati di jalan, ya. Kalau udah sampai, lo langsung ke apartemen gue aja. Kita house tour sesuai rencana tadi pagi."


"Siap, Bos!"


Obrolan pun berakhir. Belum 30 detik berselang, ponsel Beby kembali berdering.


"Kenapa lagi, sih, Al?"


"Bagus! Pacaran aja terus lo!"


Beby melirik ke layar ponselnya. Ternyata, bukan Aldef, tapi Miko.


"Di mana lo?" Suara Miko terdengar ketus, seperti biasa.


"Di jalan."


"Pulang, Beby! Lo mau ke mana lagi malam-malam gini, hah?!"


"Ya emang ini mau pulang! Lagi di jalan, mau pulang! Ish!" Beby berdecak kesal.


"Oh. Ya udah. Langsung pulang. Jangan mampir-mampir."


"Bawel lo, ah!"


Pandangan Beby beralih pada gadis di samping kirinya. Tatapan Lola memang tak beralih dari layar ponsel, tapi jarinya tak bergerak. Sepertinya, Beby tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.


"Kak?"


"Hm?"


"Lola mau ngomong sama lo."


"OGAH!"


"APAAN, SIH, BY?! NGGAK, YA!"


Dan Beby tertawa puas dengan reaksi dua orang menyebalkan itu.


***


Sesuai rencana, begitu sampai di apartemen, Beby segera menuju unit apartemen Aldef. Tangannya bergerak menekan tombol bel begitu sudah berdiri di depan pintu.


Tak perlu menunggu lama, pintu terbuka dan keluarlah Aldef dari sana.


Mereka saling melempar senyum manis.


"Masuk, Sky," ucap Aldef.


Beby melangkah masuk. Luas apartemen Aldef dan apartemennya tak beda jauh. Nuansanya dan euforianya saja yang terasa berbeda.


"Lo duduk dulu, gue bikinin minum. Pasti capek, 'kan?" kata Aldef setelah mereka sampai di ruang tengah.


Beby mengangguk sembari tersenyum untuk membalas tawaran Aldef. Mendapat respon demikian, Aldef bergegas menuju dapur untuk mengambil 2 minuman dingin.


Sementara itu, Beby yang ditinggalkan pun duduk di sofa ruang tengah. Baru saja Beby ingin menyandarkan punggungnya yang terasa kaku, tapi niat itu terurungkan sebab bola mata Beby menangkap sesuatu yang terselip di sofa.


"Jepit rambut siapa, nih?"


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2