
Pukul 13.07, mobil Beby terparkir rapi di area parkir studio Fresh and Star. Sebelum turun dari mobil, ia harus meng-upload tiga foto dan lima video ke insta-story. Di kampus tadi, sudah tiga video yang Beby upload. Tapi, barang endorsment di dalam bagasi mobil Beby masih banyak yang antre untuk dikeluarkan. Kebanyakan, barang-barang itu adalah makanan.
Ngomong-ngomong, pemotretan hari ini akan fokus untuk menyelesaikan project yang sempat tertunda kemarin.
"Wuih! Banyak banget! Barang endors-an semua?" tanya Ana yang sedang sibuk menata pakaian di etalase.
"Iya, nih. Banyaknya kebangetan emang. Kayak cobaan hidup gue," balas Beby.
Ana tertawa. "Nanti bagi-bagi buat eike juga, lho!"
Beby memutar kedua bola mata jengah. "Buat lo semua, dah, tuh, kalau mau."
"Busettt. Makin laris aja lo." Kalimat itu terdengar saat Beby mengempaskan diri di sofa ruang make up. Kali ini, Fahri yang komentar.
"Kalau bukan karena project lo kemarin, nggak bakalan jadi begini," sarkas Beby.
"Bagus, dong! Lo jadi makin terkenal."
"Zzzzz. Serah lo, dah."
Beby keluar dari ruang make up. Gadis itu berniat untuk ke kamar mandi. Namun, seseorang yang tengah berdiri di depan pintu ruang editing membuat langkahnya terhenti.
"Daren?"
Sang pemilik nama yang semula memunggungi Beby itu memutar tubuh searah seratus delapan puluh derajat. Seulas senyum ramah terpancar dari bibir Daren saat manik matanya bersitatap dengan mata cokelat Beby. "Hai, By."
"Lo ngapain di sini?"
"Gue?" Daren menunjuk dirinya sendiri. "Lagi mau ngomongin project sama Fahri."
"Kebetulan." Tiba-tiba Fahri menyahut, membuat Daren dan Beby kompak menoleh. "Lo belum dapat pemeran ceweknya, 'kan, Ren? Beby aja."
"Ini maksudnya apa, ya?" sahut Beby.
"Jadi, gini. Gue punya naskah yang lagi nganggur. Daripada nggak diapa-apain, pengin gue buat webseries," jelas Daren. "Terus, nanti diupload ke youtube channel gue. Lumayan, subscriber-nya udah hampir lima puluh ribu."
"Wah! Menarik, nih!" komen Beby.
"Jadi gimana?" sahut Fahri. "Lo mau gabung sama kita? Followers lo, kan, banyak. Bisa sekalian promosiin youtube channel-nya Daren."
"Boleh, sih. Dulu waktu SMP gue pernah ikut ekstrakurikuler drama. Jadi, ya, tahu, lah, basic-nya acting itu gimana."
"Bagus kalau gitu," balas Fahri.
"Terus, lawan main gue siapa nanti?" Beby menatap Fahri dan Daren secara bergantian.
"Gue, lah!" jawab Daren cepat.
"Emang lo bisa acting?" Terdapat keraguan dari balik mata Beby saat melayangkan pertanyaan itu pada Daren.
"Wah! Ngeremehin gue!" seru Daren, tak terima dengan tanggapan Beby.
"Daren itu the king of acting waktu kita SMA dulu," kata Fahri.
"Oh, ya?"
Fahri dan Daren sama-sama mengangguk.
"Beby?" Suara yang datang dari belakang Beby membuat ketiga pasang mata itu kompak menoleh.
"Eh, udah datang lo, Mbak," ucap Beby melihat sosok Anggi yang kini berdiri di hadapannya.
"Lagi pada ngapain?"
"Oh, iya. Kenalin, Mbak. Ini Daren, teman sefakultas gue di kampus." Beby memperkenalkan antara Anggi dan Daren. "Ren, ini Mbak Anggi, manager gue."
Daren dan Anggi saling berjabat tangan seraya melempar senyum tanda salam kenal.
"Terus? Ada apa?" tanya Anggi, sebab merasa pertanyaannya belum terjawab.
"Jadi gini, Mbak. Daren ini punya yuotube channel. Nah, rencananya dia mau kerja sama bareng Fahri buat bikin webseries. Gue ditawarin sebagai pemeran ceweknya, gimana?"
Anggi menatap Daren dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan seksama. "Emang punya subscriber berapa?"
__ADS_1
"Hampir lima puluh ribu," jawab Daren.
Anggi manggut-manggut. "Ya, kalau Beby mau, sih, gue fine-fine aja. Tapi, ada cuannya nggak?"
"Mbak!" Beby menyikut pergelangan tangan Anggi yang tak digubris sama sekali.
"Tenang aja," balas Daren. "Gue pastikan. Kerja sama ini akan saling menguntungkan."
"Bagus kalau gitu." Anggi tersenyum lebar ke arah Beby. "Boleh, By. Ambil aja project ini. Siapa tahu lo jadi artis sinetron nanti."
Beby memutar kedua bola mata malas. "Udah, ah! Gue ke toilet dulu."
Mereka pun berpencar. Beby ke toilet, Anggi ke ruang make up untuk menyiapkan segala *****-bengek endors-mengendors, Fahri dan Daren masuk ke ruang editing.
Selangkah lagi Beby menginjak lantai toilet, sebuah suara menghentikan gerakannya.
"Beby?"
"Ya?" Beby menoleh. Bola matanya menatap seorang perempuan berambut panjang yang Beby taksir seusia dengannya. Gadis itu mengenakan dress yang mencapai lutut warna merah marun, serta dibalut kardigan rajut putih yang kancingnya dibiarkan terbuka. "Siapa, ya?"
Gadis itu mengulurkan tangan ke arah Beby. "Celine, karyawan baru di Fresh and Star Agency."
***
Beby baru bisa duduk-duduk santai sekitar pukul 19.00. Sebenarnya, sesi pemotretan yang Beby lakukan sudah selesai sejak pukul 16.00 tadi. Namun, Anggi terus membuat Beby sibuk dengan barang-barang endors.
Sebuah pesan masuk dari Fahri membuat tangan Beby meraih ponselnya yang semula tergeletak di atas meja rias.
Fahri:
By, kalau urusan lo udah beres, lo bisa ke ruang editing nggak? Kita meeting bentar soal webseries.
^^^Me:^^^
^^^Sekarang?^^^
Fahri:
Boleh, kalau lo udah selesai. Gue sama Daren tunggu di ruang editing 3.
^^^Me:^^^
Beby menghela napas sejenak. Jemarinya memilin pelipis sebab kepala Beby yang mendadak terasa pening. Beby pasti kelelahan.
Gadis berambut panjang bergelombang itu beranjak dari posisinya. Kaki jenjangnya melangkah santai menuju ruang editing 3. Dan benar, sudah ada Fahri dan Daren di sana.
"Nunggu lama, ya?" tanya Beby seraya mengambil posisi duduk di kursi tepat samping kiri Fahri. Daren berada di samping kanan Fahri.
"Lumayan," jawab Fahri seraya tersenyum meringis.
Beby terkekeh pelan menanggapi hal itu. "Jadi, kita mau bahas apa?"
"Biar gue yang jelasin, ya," sahut Daren yang dijawab anggukan oleh Fahri. Daren memindahkan kursinya tepat di hadapan Fahri dan Beby. Kini, posisi duduk mereka melingkar. Daren pun mulai menjelaskan.
"Jadi, gini. Naskah yang gue bikin ini temanya tentang friendzone. Sebenarnya, kita butuh empat tokoh di sini. Gue udah ajak Tristan, teman sefakultas kita, Beb. Tapi, kita butuh satu cewek lagi."
"Cewek, ya?" Beby terdiam sejenak. Otaknya berputar keras untuk mengingat siapa kira-kira yang bisa melengkapi mereka. Lalu, Beby teringat satu nama. "Gue punya satu orang. Dia sahabat gue, Lola namanya. Dulu dia pernah cerita kalau waktu SMA jadi pengurus ekskul drama."
"Boleh, tuh," sahut Fahri. "Coba lo hubungi dia."
"Gimana kalau kita datang ke kafenya aja buat rapat besok?" usul Beby. "Kebetulan Lola itu pemilik kafe."
"Kafe apa namanya?" tanya Daren.
"Lomera Cafe."
"Gue tahu tempatnya. Gue sama Tristan pernah nongkrong di sana."
"Oke." Kali ini, Fahri bersuara. "Besok kita ketemu di Lomera Cafe, jam ...?"
"Lo kapan ada waktu luang besok, Beb?" tanya Daren.
"Besok gue nggak ada pemotretan," jawab Beby. "Kelas juga cuma sampai jam satu siang. Gimana kalau jam empat sore?"
__ADS_1
"Deal!" sahut Fahri.
"Deal!" timpal Daren. "Jam empat sore di Lomera Cafe."
Beby mengangguk. "Ajak Tristan juga. Sekalian reading."
"Siap!"
***
"Assalamualaikum."
Poppy sedang mengerjakan tugas saat mendengar suara Celine dari luar rumah. Gadis berambut lurus sebahu itu lantas beranjak dari posisinya dan membuka pintu.
Dan memang benar, itu Celine.
"Waalaikumsalam. Kak Celine? Tumben udah pulang."
Jangan heran mengapa Popoy bertanya demikian. Mengingat setiap harinya Celine selalu pulang di atas jam sembilan malam.
Alih-alih menjawab pertanyaan adiknya, Celine hanya melempar seulas senyum manis ke arah Poppy. Gadis itu melepas flatshoes cokelat tua, meletakkan di ras sepatu, lalu memasuki rumah kontrakan yang sejak setahun itu menjadi tempatnya berlindung.
"Kakak bawa apa aja, nih?" tanya Poppy sembari mengambil posisi duduk di atas kasur lantai yang biasa menjadi tempat tidurnya. Terdapat lima buah paper bag di hadapan Poppy.
"Buka aja," ucap Celine yang tengah sibuk mengambil beberapa piring. "Itu semua buat kamu."
Poppy melotot kaget. "Buat aku?"
"Iya!" Celine meletakkan dua buah piring yang berisi cap cay dan sup iga di depan Poppy. Lalu, disusul dengan seporsi kepiting asam manis dan gurami bakar.
"Kak." Tatapan Poppy terpaku pada barang-barang di hadapannya. Tangannya yang semula bergerak lincah membuka satu per satu paper bag kini terkulai lemas. "Ini semua Kakak dapat dari mana?"
Celine tertawa. "Beli, lah!" Gadis itu sudah duduk di hadapan Poppy. Empat buah piring berisi makanan lezat menjadi pembatas. "Nih, kamu makan, ya. Dikit-dikit aja tapi."
Penyakit gagal ginjal yang bersarang dalam diri Poppy, mengharuskan gadis itu tak mengonsumsi banyak makanan atau minuman.
"Kak. Serius, deh." Poppy menatap Celine yang tengah melahap sup iga lamat-lamat. "Ini semua Kakak dapat dari mana? Kakak nggak nyuri, 'kan? Semua ini barang-barang mahal, Kak! Tas, sepatu, baju, dan makanan-makanan ini."
Celine meletakkan sendok dan garpu dalam genggamannya ke atas piring. Menciptakan suara nyaring yang memekakkan telinga. "Kakak udah dapat pekerjaan bagus. Udah, deh, kamu tenang aja. Kakak nggak akan nyuri, kok."
"Kak, ini beneran, 'kan?" Poppy masih tak percaya dengan semua yang ia lihat.
Celine yang telah kembali melahap hidangan di hadapannya hanya mengangguk. "Kakak juga lagi nyari kontrakan baru yang lebih dekat sama sekolah kamu."
Poppy menyingkirkan barang-barang di dekatnya, kecuali makanan. Gadis itu mendekatkan diri pada sang kakak. "Emang, Kakak dapat kerjaan apa?"
Celine tersenyum penuh arti ke arah adiknya.
***
Senyum Aldef merekah saat melihat orang yang sejak tadi menari dalam pikirannya tengah berdiri di depan lift.
"Hai, Sky," sapa Aldef, membuat gadis di samping kanannya menoleh.
Beby tersenyum melihat kehadiran Aldef. "Hai, Al."
Kedua alis Aldef bertaut heran. Indra pengelihatannya menajam saat melihat ada yang aneh dengan Beby. "Lo kenapa, Sky? Muka lo pucet banget."
"Hah?" Beby merasakan dentuman hebat di kepalanya. Refleks, Beby menangkup kepala menggunakan tangannya sendiri.
"Sky? Lo sakit?" tanya Aldef khawatir. Tangannya bergerak menyentuh kening Beby. Kedua matanya melebar begitu kulit mereka bersentuhan. "Sky, lo demam!"
Beby mendongak, melempar seulas senyum paksa ke arah Aldef. Sementara itu, Aldef dapat melihat kening Beby yang sudah dibanjiri keringat dingin. "Gue ... gue ... ng ...."
Belum sempat satu kalimat usai, Beby jatuh ke dalam dekapan Aldef.
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️