ALDEBY

ALDEBY
|54.| Al, Lo dimana?


__ADS_3

Pagi ini adalah jadwal kemoterapi Arka. Tentu saja, ia ditemani oleh sang ibu: Chika. Sebenarnya, Arka memiliki dua orang sahabat yang kini sama-sama menjadi mahasiswa tingkat akhir. Karena itulah, sahabat Arka sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Selesai kemo, Chika langsung mengantar sang anak pulang. Karena Arka harus istirahat, dan Chika sendiri harus berangkat ke kantor.


Arka menunggu di kursi saat Chika sedang membayar biaya administrasi. Baru saja pantatnya bersentuhan dengan permukaan kursi, manik mata Arka menangkap seseorang yang ia kenal. Orang itu tampak berdiri di samping kanan Chika. Dari yang Arka duga, orang itu juga sedang membayar administrasi rumah sakit.


"Aldef?" gumam Arka pelan. Belum pernah bertemu dengan Aldef membuat Arka ragu akan pengelihatannya sendiri. Arka hanya pernah melihat Aldef di sosial media.


Karena ragu, Arka terus mengamati lelaki berkemeja itu. Dan saat si objek balik badan, Arka yakin benar bahwa dugaannya tak salah.


"Bukannya ini hari ulang tahun Beby? Ngapain Aldef di sini? Beby sakit?"


Penasaran, Arka diam-diam mengekori Aldef. Arka terus melangkah, sampai ia melihat Aldef masuk ke ruang rawat berplakat Melati 1.


Perlahan, Arka mendekat seraya meneliti sekitar. Memastikan tak ada sepasang mata yang tengah melihatnya. Lalu, Arka pelan-pelan menekan kenop pintu di mana Aldef masuk tadi.


Seorang gadis tampak tertidur pulas di atas brankar. Namun Arka sangat yakin, gadis itu bukan Beby. Di hadapan Aldef, ada gadis lain berambut lurus sebahu. Satu hal yang pasti, tak ada Beby di sana.


Lantas, siapa dua gadis yang bersama Aldef di dalam sana?


"Ar!"


Arka terkesiap merasakan seseorang tiba-tiba meraih bahunya. Lelaki itu refleks menutup pintu yang semula ia buka.


"Putri? Bikin kaget aja lo, ah!"


Putri melirik penasaran ke arah pintu yang baru saja Arka tutup. "Ngintip siapa?"


"Aldef."


Kedua alis Putri bertaut heran. "Aldef? Serius lo? Dia sakit?"


Putri hendak membuka pintu, namun Arka dengan sigap menahannya. "Bukan Aldef yang sakit."


"Terus? Beby?"


"Bukan juga."


"Siapa, dong?"


"Lihat aja sendiri. Gue cabut duluan."


"Ehhh!!!" Belum sempat Putri menjawab, Arka terlebih dahulu pergi. Meninggalkan kabut penasaran yang begitu pekat menyelimuti Putri.


Gadis berpakaian perawat itu pun diam-diam mengintip melalui celah pintu yang ia buka sedikit. Benar kata Arka, Aldef di sana, tapi bukan Aldef yang sakit. Putri pun melihat dua orang gadis.


"Nggak ada Beby, ya?"


***


Butuh usaha dan kesabaran ekstra untuk dapat menenangkan Celine. Setelah menyadari apa yang terjadi, gadis itu terus meronta dan teriak histeris. Karena hal itu pula, Aldef dan Poppy terpaksa berjaga semalaman. Terutama Aldef.


Beruntung, kata dokter, kebutaan yang dialami Celine 80% bersifat sementara.


Akibat menahan kantuk, Aldef ketiduran. Ia bangun saat diminta untuk membayar administrasi rumah sakit. Setelah itu, Aldef baru ingat bahwa dirinya belum membaca isi pesan semalam.


My Sky:

__ADS_1


Spesial banget, ya, kejutannya? :D


My Sky:


Al, lo di mana? Udah sejam gue nunggu.


My Sky:


Al, di sini dingin banget. Buruan, kek, nyiapin surprise-nya 🥺


My Sky:


Al, lo ke mana, sih?


My Sky:


Kenapa HP lo nggak aktif, Al? Gila! Bentar lagi jamuran, nih, gue.


My Sky:


Al, udah hampir jam tiga pagi.


My Sky:


Al, sorry, ya. Ternyata kak Miko tahu kalau lo ninggalin gue.


'Deg!'


Jantung Aldef seakan berhenti berdetak. Jadi, sejak tadi Beby menunggunya? Tapi, bukankah di sana ada Fahri? Seharusnya, Beby bisa pergi bersama Fahri bila memang Aldef tak datang, 'kan?


Apa yang terjadi sebenarnya?


"Ke mana, Kak?"


"Ada urusan penting."


Aldef pergi tanpa menunggu respon Poppy. Urusan Celine, bisa nanti. Kini, Aldef harus bertemu dengan sang pacar.


***


"By, ada paket, nih."


Beby yang semula duduk bersandar di atas kasur sambil membaca DM-DM ucapan selamat ulang tahun dari fans, lantas mengalihkan pandangan ke arah pintu. Gadis itu beranjak dari kasur. Sosok Miko dengan sebuah kotak warna biru dalam genggaman menyambut indra pengelihatan Beby saat gadis itu membuka pintu.


"Dari siapa?" tanya Beby.


"Nggak tahu. Fans lo kali."


"Nggak mungkin," balas Beby lebih kepada dirinya sendiri. Jika memang barang ini dari fans, pasti akan mendarat di butik Anggi.


Setelah membawa kado itu ke dalam, Beby membukanya. Sebuah hoodie warna putih dengan tulisan 'BEBY' di bagian dada. Baiklah, jika barang ini, Beby rasa semua orang tahu bahwa dirinya pecinta hoodie.


Beby mengira kotak biru itu hanya berisi hoodie, namun saat manik matanya kembali terarah ke kotak, sebuah buku berjudul 'Kumpulan Puisi dan Kata-Kata Mutiara' ada di sana. Mendapati hal itu, satu nama terlintas dalam benak Beby. Mengingat gadis itu tak pernah mempublish tentang dirinya yang hobi menulis.


Arka.


Saat menatap kembali ke dalam kotak, terdapat sebuah surat yang menempel di sana. Dan benar dugaan Beby, kado ini dari Arka. Dengan tangan sedikit gemetar, Beby mengambil alih kotak itu dalam pangkuannya, agar ia bisa lebih leluasa membaca isi surat.

__ADS_1


_Saengil chukkae, Beby-sshi


Hahaha, bener gitu, 'kan?


Maaf aku nggak bisa ngasih kadonya langsung ke kamu. Biasa, sibuk skripsian.


Kamu apa kabar? Aku harap, kamu baik-baik aja, ya. Ah! Kamu pasti baik-baik aja. Aku yakin. Secara, sekarang, kan, ada Aldef yang jagain kamu.


Aku ikut seneng waktu tahu kamu jadian sama Aldef. Sumpah. Aku emang nggak kenal dia, sih. Tapi dia pasti orang baik, 'kan?


Dia nggak akan nyakitin kamu. Seperti yang aku lakukan. Maaf juga soal itu. Maaf udah nggak setia sama kamu. Maaf udah ngelanggar janji untuk selalu ada buat kamu.


Kayaknya, aku kebanyakan ngoceh, ya? Hehe.


Terakhir, deh.


Terlepas dari semua caraku nyakitin kamu, percaya By, selama kita pacaran, aku bener-bener sayang kamu.


Meskipun telat, tapi aku mau bilang:


Maaf, dan makasih untuk semuanya.


-Your Ex-


Kedua tangan Beby terkulai lemas seketika. Otot-otot syaraf di pergelangan tangan dan jari-jarinya mendadak tak berfungsi. Kotak biru dalam genggamannya pun terjatuh ke lantai.


Rupanya, luka yang Arka torehkan di hatinya belum sepenuhnya mengering. Rasanya masih sangat perih.


"Dari siapa, sih?" Miko yang penasaran memasuki kamar Beby. Lelaki itu mengambil kotak biru yang tergeletak di lantai.


Arka


Membaca satu kata itu, tatapan Arka lantas berpindah ke Beby. Entah sadar atau tidak, gadis itu berlinang air mata.


"Lo masih cinta sama Arka?"


Beby menggeleng pelan. Jawabannya bukan tidak, tapi ..., "Nggak tahu." Beby yang semula menunduk, kini mendongak dan menatap Miko. "Rasanya masih sakit, Kak. Arka masih membekas di hati gue."


Miko menghela napas sejenak. Ia selalu ingin membunuh siapa pun yang membuat adiknya menangis. Tangannya bergerak meraih kepala Beby, membawanya ke dalam dekapan.


Baik kakak maupun adik, tak ada yang berniat mengeluarkan kata-kata. Mereka sama-sama menikmati kehangatan yang mengalir atas ikatan persaudaraan. Keduanya pun sama-sama berusaha meredam emosi yang tengah meledak-ledak. Beby dengan emosi akibat memori yang membawa rasa sakitnya kembali, sementara Miko dengan emosi yang ingin memenggal kepala Arka.


'Ding dong!'


"Biar gue aja," ucap Miko seraya melepas pelukannya.


Meninggalkan Beby di kamarnya, Miko beranjak keluar. Tangannya bergerak menekan kenop pintu untuk melihat si pemencet bel barusan.


'BUGH!'


Saat itu pula, emosi yang beberapa detik lalu sempat surut, lantas melampaui batas.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2