ALDEBY

ALDEBY
|58.| Penjelasan


__ADS_3

"Poppy ...."


Aldef berdiri. Bola matanya menatap lekat pada Poppy.


"Siapa, Al?" tanya Beby, membuat Aldef menoleh sejenak ke arahnya.


"Kak ... ikut aku, ya?" lirih Poppy dengan nada suara penuh permohonan.


Aldef kembali menatap Beby yang tampak bingung. Tangan kanannya meraih jemari Beby, membawanya dalam genggaman tangan Aldef. "Ikut gue, ya."


***


Setelah perdebatan panjang nan melelahkan, Beby berhasil meyakinkan Miko untuk tak lagi mengikutinya. Dengan catatan, ponsel Beby harus selalu stand by.


Baik Aldef, Beby, maupun Poppy tak ada yang berniat mengeluarkan suara di sepanjang perjalanan. Ketiganya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Terlebih Beby. Ia harus menahan diri untuk tidak menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Entah mengapa, firasat Beby mengatakan bahwa ini semua ada hubungannya dengan Aldef yang tiba-tiba menghilang dari rooftop semalam.


Setelah mobil Aldef berjejer rapi dengan mobil-mobil lain di area parkir RS Sentosa, Aldef, Beby, dan Poppy bersama-sama menuju ruang rawat Celine. Aldef dan Beby berjalan lebih dulu, dengan tangan yang saling bertautan. Poppy yang melihat hal itu dari belakang, diam-diam tersenyum senang.


"Ngapain kita ke sini?"


Setelah sekian lama diam, akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Beby.


Aldef menatap Beby lamat-lamat. "Sabar, ya. Bentar lagi lo juga tahu."


Tak lama kemudian, mereka sampai di depan ruang rawat berplakat R. Melati 1. Kali ini, Poppy yang duluan masuk. Tentu saja, gadis itu memiliki maksud tersendiri.


Setelah Poppy masuk, giliran Aldef dan Beby. Sepasang kekasih itu saling tatap sejenak sebelum mereka bersama-sama melangkah masuk.


Kedua mata Beby membulat sempurna saat melihat seorang gadis berambut panjang duduk bersandar di atas brankar dengan tatapan kosong. Pandangannya beralih pada Aldef yang masih menggenggam erat tangannya. Sang pacar hanya mengangguk singkat saat tatapan mereka saling bertemu, seolah mengerti makna di balik tatapan Beby.


"Al? Itu kamu, 'kan?" Terdengar nada gembira di balik suara Celine.


Satu kata yang membuat Beby heran.


Kamu? Barusan Celine manggil Aldef?


"Ada kak Beby juga, Kak," ucap Poppy yang ia yakini sang kakak pasti sudah tahu.


"Celine ... kenapa?" tanya Beby seraya menatap Aldef dan Poppy secara bergilir.


"Gue buta, By," sahut Celine secara terang-terangan.


Aldef menghela napas berat. Bola matanya menatap tiga gadis di sana secara bergantian. Sejak dalam perjalanan menuju kemari, Aldef terus memantapkan hati tentang yang akan ia lakukan sekarang. Ini saatnya. Saatnya Aldef memutuskan pilihan untuk tak ada lagi yang ditutup-tutupi.


"Sky, gue tahu lo pasti bingung banget." Itu adalah kalimat yang mengawali penjelasan Aldef. "Poppy ini adiknya Celine. Dan Celine ini ... mantan gue."

__ADS_1


"Mantan?" Beby refleks membekap mulutnya sendiri.


Aldef mengangguk. "Maaf, gue baru jujur sama lo sekarang."


Alih-alih meminta penjelasan lain, Beby malah mengalihkan pembicaraan. "Terus? Celine kenapa bisa kayak gini?"


Tentu saja, respon itu di luar dugaan ketiga orang di sana. Bahkan, Aldef dan Poppy saling melempar tatapan terkejut akibat respon Beby.


Merasa pertanyaannya diabaikan, Beby menatap ke arah Poppy. "Celine kenapa, Pop?"


"Rumah kita kerampokan," sahut Celine. "Ada dua perampok. Yang satu masuk lewat depan, satu lagi masuk lewat jendela kamar gue yang nggak kekunci. Waktu itu gue lagi di kamar mandi. Pas gue keluar, tiba-tiba ada yang mukul kepala gue dari belakang."


Poppy menatap lekat ke arah manik mata Celine. Kakaknya ini ... benar-benar pandai mengarang cerita.


"Yah. Untung aja waktu itu Poppy lagi nggak ada di rumah. Nggak apa-apa beberapa perabotan dicuri, yang penting adik gue baik-baik aja."


Beby tersenyum haru mendengar kalimat itu. "Lo baik banget, Cel."


Celine tertawa getir. "Biasa aja. Nggak semua yang tampak baik itu memang baik."


"Oh, ya. Kalian udah makan belum?" tanya Beby. "Sorry, ya, tadi kita ke sini nggak bawa apa-apa. Nggak ada yang ngasih tahu gue soalnya, mau ke mana dan ngapain. Ternyata mau jenguk lo."


"Ekhem!" Aldef sengaja berdeham cukup keras. "Maksud kita ke sini bukan cuma mau jenguk, Sky."


"Oh, ya? Terus ngapain?"


Kedua alis Beby bertaut saat mendengar kalimat ambigu itu. "Maksudnya?"


"Di sini, gue cuma hidup sama Poppy. Dan dengan kondisi gue yang sekarang, nggak mungkin bisa lagi ngurus Poppy sendirian. Jadi, sebagai orang yang dekat sama gue—ya walaupun di masa lalu—gue minta tolong ke Aldef."


"Oh, nggak apa-apa, dong," sahut Beby. Gadis itu menyanggupi permintaan Celine tanpa memikirkan dampak ke depannya. Membuat Aldef dan Poppy kembali tercengang. "Kalau lo butuh apa-apa, nggak usah ragu kabari gue atau Aldef. Kita pasti bantu. Ya, kan, Al?"


Aldef yang masih mencerna kejadian di dalam ruangan itu hanya bisa mengangguk.


Ini yang sering menjadi titik lemah orang baik: dimanfaatkan.


Beby tak menyadari, bahwa pilihan yang ia ambil hari ini akan menjadi awal dari sesi-sesi makan hati di kemudian hari.


***


Waktu menunjukkan pukul 20.47 saat Aldef dan Beby sepakat untuk pulang. Itu pun karena jam kunjung di rumah sakit hampir selesai dan ponsel Beby yang terus berdering sebab panggilan dari Miko.


"Jadi, Celine itu mantan lo waktu SMA?" tanya Beby sesaat setelah mobil Aldef meninggalkan area parkir RS Sentosa.


"Iya."

__ADS_1


"Dia alasan lo tiba-tiba pergi dari rooftop semalam?"


Aldef menoleh sejenak. Membalas tatapan Beby yang tak beralih darinya. "Maaf."


Beby tertawa pelan. "Gue cuma nanya kali. Nggak usah tegang gitu mukanya."


"Gue tahu gue salah, Sky. Harusnya gue temui lo dulu. Harusnya gue jujur dari awal. Nggak main pergi gitu aja."


"Bagus kalau lo sadar." Tatapan Beby beralih lurus ke depan.


"Sky?"


"Lo emang salah karena pergi gitu aja. Nggak ngabari gue dulu." Beby kembali menoleh. "Tapi lo udah ngelakuin hal yang bener. Kalau gue ada di posisi lo, gue juga pasti panik dan langsung nyamperin Celine."


"Lo nggak marah?"


"Tadinya gue mau marah. Tapi, nggak adil rasanya kalau gue marah tanpa denger penjelasan dari lo. Dan setelah lo bawa gue ketemu Celine tadi, gue nggak cuma denger penjelasan dari lo, tapi gue lihat langsung."


"Tapi Celine mantan gue."


"Ya, terus? Emang kenapa kalau Celine itu mantan pacar lo? Mantan pacar, 'kan? Bukan mantan istri?"


"Ya, kali! Gila aja di umur segini gue udah jadi duda."


Beby tertawa. "Semua orang punya masa lalu mereka masing-masing, Al. Seperti gue dan Arka, hal yang sama berlaku untuk lo dan Celine."


Aldef diam. Lidahnya mendadak terasa kelu. Jika Aldef ada di posisi Beby sekarang, jangankan memaafkan, memaklumi saja mungkin terasa berat. Tapi lihatlah Beby, gadis itu benar-benar berhati lapang.


"Eh, mampir di depan sana dulu, ya," ucap Beby sembari menunjuk ke gerobak bertuliskan 'Martabak Manis' di depan sana. "Gue mau beli sogokan buat kak Miko."


Aldef tertawa renyah seraya menekan pedal rem. "Biar gue aja yang beli. Tadi, kan, gue yang bawa lo kabur."


"Gitu? Oke."


Keduanya saling melempar senyum manis sebelum Aldef turun dari kursi kemudi. Dalam rangka menunggu sang pacar, Beby mengaktifkan ponselnya. Membalas timbunan pesan Miko yang mirip dengan kenangan mantan: banyak dan menyakitkan.


Tiba-tiba, pintu di sisi kanan terbuka.  Senyum Beby merekah saat menyadari sang pacar telah kembali. Tak lama kemudian, mobil Aldef kembali melaju.


"Cepet banget belinya—SIAPA LO?!"


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2