
..."Orang udah jelas-jelas jelas!"...
...***...
"Lo?! Ngapain lo di sini?!" Pandangan Beby terarah pada raganya. "Lo apain gue, hah?! Jawab!"
Sosok yang berada di samping kanannya tertawa puas. "Lo pikir, apa yang udah gue lakuin setelah lo lihat badan lo sekarang?"
Lalu, orang itu pergi begitu saja. Meninggalkan Beby yang tengah berurai air mata. Kepalanya menggeleng cepat berkali-kali, menolak apa yang telah terjadi.
"NGGAK. NGGAK. NGGAK. NGGAK MUNGKIN. NGGAK."
"ARGHHHH!!!"
"Arghhh!!!"
Beby terbangun dengan napas tersengal-sengal. Jantungnya berdetak kencang. Seolah baru saja usai melakukan lari maraton yang sangat menguras tenaga.
Mimpi itu. Mimpi buruk itu. Bagaimana mungkin mimpi itu bisa muncul kembali?
Masih dengan degub jantung yang menggila, Beby berusaha turun dari kasur. Gadis itu menyeret langkahnya yang seperti ditimpa batu besar. Berat sekali. Tangannya menggapai pintu lemari. Beby membuka laci lemari itu dengan tangan gemetar hebat. Ia mengambil botol kaca di dalamnya, lalu mengeluarkan sebutir obat dan menelannya bulat-bulat.
Tepat setelah itu, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Beby? Lo udah bangun belum?" Itu suara Miko. "Gue masuk, ya?"
Bodoh! umpat Beby pada dirinya sendiri. Mulai detik ini, ia bersumpah pada dirinya sendiri untuk selalu mengunci pintu kamar sebelum tidur.
Beby cepat-cepat memasukkan kembali botol kaca ke dalam laci, lalu menutup pintu lemarinya rapat-rapat.
"By? Lo kenapa?"
Beby tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi grahamnya yang tersusun rapi. Berharap dapat melenyapkan segala tanda tanya dalam benak Miko. "Nggak. Nggak apa-apa," ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Miko masih menatap Beby dengan heran. Bola matanya menelusuri raga Beby dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Lo ngapain berdiri di depan lemari gitu?"
Mendengar pertanyaan Miko itu, Beby lantas menjauhkan diri dari pintu lemari. Gadis itu diam sejenak, memberi ruang pada otaknya untuk memikirkan alasan yang tepat.
"Mau ambil baju. Mau mandi soalnya."
Meski masih merasa aneh, namun Miko memutuskan untuk percaya.
"Ngapain masih di situ?" tanya Beby. "Udah sana keluar."
"Iya-iya. Gue pamit ke kampus sekalian kalau gitu."
"Bawa mobil gue?"
"Nggak. Nebeng sama Rama. Dia tinggal si apartemen ini juga. Nanti lo ngampus, 'kan?"
Beby mengangguk. "Jam sepuluh gue berangkat."
"Ya udah. Jaga diri baik-baik. Jangan aneh-aneh sama Aldef!"
"Kenapa jadi bawa-bawa Aldef, sih? Nggak jelas lo!"
Miko tersenyum menggoda. "Nggak jelas gimana? Orang udah jelas-jelas jelas!" Pria itu lalu terbahak-bahak. "Dah. Gue berangkat dulu. Bye!"
***
Beby keluar dari unit apartemennya bersamaan dengan Aldef.
"Al?" panggil Beby.
Melihat gadis dengan gaya rambut dikuncir bak buntut kuda yang berdiri di hadapannya, Aldef tersenyum lebar. "Hai, Sky. Gimana semuanya? Aman?"
"Aman." Nggak juga, sih. Beby melempar seulas senyum manis yang menyihir indra pengelihatan Aldef.
__ADS_1
"Lo mau nge-gym?" Aldef menanyakan hal itu karena Beby mengenakan kaos lengan pendek warna biru langit, serta bawahan berupa legging polos warna biru dongker. Tak lupa, sebuah handuk kecil warna biru melingkar di leher belakangnya.
"Oh. Nggak," jawab Beby. "Gue mau jogging di taman. Lagi butuh lihat yang seger-seger."
"Emang lihat wajah gue nggak cukup, ya?" Aldef tertawa di akhir kalimat.
Sementara itu, Beby berdecak pelan. "Pede abis lo!" Jeda sejenak. "Lo sendiri, mau nge-gym?"
Aldef mengenakan kaos lengan pendek warna hitam polos, serta celana training warna abu-abu pekat. Sebuah handuk kecil berwarna hitam bertengger di leher belakangnya.
"Tadinya, sih, iya. Tapi, sekarang gue mau jogging aja, deh."
"Yeee!!! Bilang aja lo mau ngikut gue."
Aldef terkekeh. "Emang iya," jawabnya dengan tampang penuh percaya diri.
Beby menaikkan kedua alis secara bersamaan. Lalu, mereka berdua melangkah beriringan menuju lift untuk turun ke lantai basement.
***
"Sky! Tungguin, dong!"
Entah sudah berapa kali Aldef meneriaki kalimat itu. Pasalnya, Beby bukan seperti orang yang tengah melakukan jogging, tapi lomba lari!
"Lo, tuh, mau jogging atau lomba lari, sih?!" tanya Aldef sesaat setelah berhasil mensejajari Beby dengan napas ngos-ngosan.
Beby tertawa. "Lo aja yang payah! Gue biasa jogging, ya, begini."
"Is-istirahat dulu, bisa nggak?"
Menuruti keinginan Aldef, Beby pun berhenti lari. Gadis itu mengambil handuk biru langit dari lehernya, lalu mengusap peluh yang membanjiri kulit wajahnya. Beby melakukan hal itu sembari memejamkan mata, mengatur napas seraya menikmati semilir udara pagi yang menyejukkan.
Sebuah pemandangan yang menggelitik perut menyambut begitu Beby kembali membuka mata. Gadis itu tertawa geli melihat Aldef yang tengah duduk bersandar di pohon tepat samping kiri Beby dengan wajah pucat.
"Se-capek itu, ya?" tanya Beby sambil berjongkok di hadapan Aldef.
Beby berdiri. Manik matanya menjelajah ke sekitar. Saat menemukan apa yang ia cari, Beby kembali fokus menatap Aldef. "Gue tinggal bentar, ya, Al."
Mendengar hal itu, Aldef bertanya, "Mau ke mana? Sky! Mau ke mana?!" Sayangnya, Beby sudah melenggang pergi terlebih dahulu.
Ingin rasanya Aldef berdiri dan menyusul Beby, namun tenaganya benar-benar terkuras habis. Otot-ototnya terasa lemas tak berdaya. Aldef kembali menyandarkan diri ke batang pohon, lalu memejamkan mata.
Tak lama kemudian, sebuah sensasi dingin di pipi kiri membuat Aldef lantas membuka mata. Lelaki itu sedikit terkejut.
"Minum dulu," ucap Beby sambil menyodorkan sebotol air mineral dingin yang tadi ia beli di seberang jalan.
"Thank's," balas Aldef. Tangannya mengambil alih botol dalam genggaman Beby, lalu meneguk air di dalamnya hingga tandas.
"Gila! Lo haus atau doyan?" Kedua mata Beby melotot saat melihat air dalam botol milik Aldef tak menyisakan setetes pun.
"Menurut lo?" sinis Aldef. Lelaki itu kembali diam usai meletakkan botol kosong di hadapannya.
Beby mengambil posisi di samping kiri Aldef. Ia meraih handuk kecil yang melilit leher belakang Aldef, lalu mengusap peluh yang membanjiri pelipis lelaki itu.
Aldef yang melihat aksi Beby hanya bisa pasrah. Raganya memang tak berkutik, tapi jantungnya sedang melompat-lompat di atas trampolin.
"Al," panggil Beby.
"Hm?" Bola mata Aldef masih tak beralih dari wajah cantik Beby.
"Lo sayang, kan, sama gue?"
"Of course!" ucap Aldef tanpa ragu, membuat kedua sudut bibir Beby lantas menukik ke atas. "Gue sayang sama lo sebagai sahabat."
Dan kalimat berikutnya, sukses melenyapkan senyuman Beby. Gadis itu seketika diam seribu bahasa. Hanya tangannya yang masih bergerak mengusap peluh di wajah Aldef.
Aldef meraih pergelangan tangan Beby. Membuat gerakan gadis itu lantas terhenti. Manik mata mereka saling menyelam semakin dalam. Seolah tengah membicarakan apa yang tak mampu terlisankan.
__ADS_1
"Kalau suatu hari nanti gue sayang sama lo lebih dari ini, boleh, 'kan, Sky?" Suara Aldef terdengar pelan, namun sangat jelas di gendang telinga Beby.
Gadis di samping kiri Aldef itu hanya mengangguk. Tak tahu harus merespon dengan reaksi seperti apa.
Mendapat anggukan dari Beby, Aldef tersenyum. Ia lalu melepas genggaman tangannya di pergelangan Beby. "Hari ini lo ada kelas?"
Beby mengangguk kikuk. Hatinya masih terguncang akibat pertanyaan Aldef tadi.
"Sampai jam berapa?" lanjut Aldef.
"Jam dua belas."
"Habis itu langsung ke FS?"
Lagi-lagi, Beby hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Sebenarnya gue pengin banget berangkat ke kampus bareng lo. Tapi, nanti gue ada kelas sampai sore. Terus, ada janji juga sama temen. Nggak tahu bakal pulang jam berapa."
Beby tersenyum kecil. Detak jantungnya sudah jauh lebih tenang. "Nggak apa-apa. Kan, bisa lain kali. Lagian, sebelum ke kampus gue juga mau ambil barang dulu di butik mbak Anggi."
Aldef manggut-manggut. "Balik, yuk!"
"Yuk!"
***
Jika bola mata Beby bukan ciptaan Tuhan, mungkin keduanya telah menggelinding ke lantai.
Bagaimana tidak? Di sebuah meja besar di dalam butik Anggi, terletak begitu banyak barang yang merupakan hasil endorsment.
"Mbak, lo waras nggak, sih? Ini banyak banget!" seru Beby.
"I know," balas Anggi santai. "Tapi mau gimana lagi? Gara-gara video lo yang viral itu, banjir, deh, endors-an."
"Kan, lo bisa pilih-pilih, Mbak. Nggak semuanya harus diambil."
"Sayang cuannya, dong, Beby."
"Jinjja!" umpat Beby kesal. "Kerja, sih, kerja. Tapi, gue harus post berapa banyak video kalau kayak gini?"
"Udah, tenang aja. Nanti gue susulin lo ke FS. Gue bantu sampai beres, deh."
"Beres, sih, beres, Mbak. Tapi jam berapa beresnya? Bisa sampai malam lho ini."
"Udah, deh. Nggak usah tapi-tapi. Jalanin aja kenapa, sih?"
Beby menatap kesal pada sang manager. "Gue mau, mulai sekarang, maksimal sepuluh endorsment sehari."
"Loh, kenapa gitu?" protes Anggi.
"Ya, lo pikir aja, Mbak! Emang kerjaan gue cuma ngendors? Gue juga punya tugas kuliah kali!"
"Tapi, Beb ...."
"Kalau lo nggak mau, gue cari manager baru, nih."
Anggi berdecak kesal. "Iya-iya. Tapi, harganya gue naikin, ya?"
"Terserah lo!" seru Beby. "Heran. Gesit amat kalau sama duit."
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️